Bab 21

1376 Words
Sebuah pesan masuk memecah konsentrasi Bara yang sedang fokus pada pekerjaannya. Ada pesan penting yang sedang dinantinya. Pesan dari orang kepercayaannya yang ia tugasi untuk mengawasi seseorang. Bara tidak mau gegabah dalam menyelesaikan masalahnya dengan Karin. Bara harus memastikan kecurigaannya terlebih dahulu sebelum bertindak yang pastinya akan sangat berpengaruh pada masa depannya. Perasaan Bara mengatakan bahwa anak yang dikandung oleh Karin bukan darah dagingnya, dan Bara tidak bisa mengabaikan begitu saja kecurigaannya. Setelah membaca pesan yang ternyata dari Papanya, Bara kembali melanjutkan pekerjaannya. Papanya hanya bisa menambah bebannya saja. Bara kesal karena Papanya terus mendesaknya agar segera membuat keputusan. Tidak semudah itu untuk memutuskannya. Alternatif untuk melakukan tes DNA juga tidak bisa Bara lakukan mengingat usia kehamilan Karin yang masih baru dan juga resiko yang mungkin akan menyertainya jika dilakukan saat bayi masih didalam kandungan. Yang paling aman dilakukan tentu saja setelah bayi tersebut lahir. Menjelang jam makan siang Bara keluar dari ruangannya. Saat Bara baru saja keluar dari ruangannya, ia melihat kedatangan Karin. Wanita ini benar - benar tidak mendengarkan perkataannya. Sudah berulang kali dilarang tapi tetap saja datang ke kantornya. " Sayang kebetulan sekali kamu keluar, kamu mau makan siangkan ?" sapanya seperti biasa. Bara menatap Karin datar, terlalu sayang dengan energinya jika harus digunakan untuk marah - marah. " Aku juga ingin makan, kita makan sushi aja ya ?" Karin terus berbicara meski Bara tidak merespon. " Makan saja sendiri, aku akan pulang kerumah. Isteriku pasti sudah masak enak ." jawab Bara sambil berlalu. Karin tidak menyangka akan dilewati begitu saja oleh Bara. Dan apa katanya tadi ? Bara mau pulang untuk makan siang dengan isterinya ? Karin tidak akan membiarkannya, enak sekali isterinya bisa memonopoli Bara sedemikian rupa. Dari tiga kali waktu makan dalam sehari, Karin hanya meminta satu kali saja. Selebihnya wanita itu bisa memilikinya. " Berhenti disitu !" teriak Karin tiba - tiba. Bara terus saja berjalan meski sempat terkejut mendengar teriakan Karin. Karin semakin marah melihat Bara yang mengabaikannya. " Berhenti sekarang atau aku akan bilang pada semua orang disini kalau aku sedang hamil anakmu !" Langkah kaki Bara langsung terhenti demi mendengar ancaman yang diucapkan oleh Karin. Wajah Bara menggelap menahan amarah. Berbanding terbalik dengan Karin yang tersenyum bahagia penuh kemenangan. Karin tidak akan segila itu sampai mengumbar aibnya sendiri didepan orang lain. Karin masih punya rasa malu dan sedikit harga diri. " Ternyata kamu sangat menjaga nama baikmu juga " ucap Karin mencemooh. " Begitukah menurutmu ?" Bara balas bertanya dengan nada berbeda. Karin mengangguk sambil tersenyum. " Kamu salah, aku cuma menjaga perasaan isteriku saja ". jawab Bara menohok perasaan Karin, " suatu saat nanti akan ada masa isteriku datang kesini sebagai nyonya besar keluarga Wirama. Jangan sampai orang - orang menggunjingnya dibelakang karena perbuatanmu ". Wajah Karin berubah masam. Kentara sekali terganggu dengan ucapan Bara yang sangat peduli dengan perasaan sang isteri. Secepat inikah perasaan Bara berpaling darinya. " Kamu mau makankan ?" tanya Bara mengusik Karin yang terdiam. Karin mengangguk. " Ayo aku antar ". ajak Bara disambut oleh Karin dengan anggukan senang. Bara tidak jadi pulang kerumah. Ia mengajak Karin makan ketempat yang wanita itu inginkan. Senyum manis tidak pernah hilang dari wajah Karin begitu mereka tiba di Restorant sampai ia selesai makan. Bara yang kehilangan selera makan memilih meminum jusnya saja. Lumayan sebagai pengganjal rasa laparnya sampai pulang nanti. " Karin, bisakah kita bicara serius ?" Karin mengangguk. " Aku tahu permintaan maafku tidak akan bisa kamu terima, tapi aku mau jujur dengan perasaanku saja. Aku jatuh cinta pada isteriku " Karin menyunggingkan senyum miringnya, penuh kesinisan. Orang bodoh juga tahu kalau Bara sedang jatuh cinta. " Aku sudah menduganya akan berakhir seperti ini, tapi aku masih mencoba percaya pada kata - katamu." sindir Karin memainkan peran. Bara merasa bersalah karena sudah berjanji pada Karin namun ternyata tidak bisa ia tepati. " Kau meniduriku sampai aku hamil tapi sekarang kau malah bilang jatuh cinta pada isterimu. Apa kamu saja yang punya perasaan ? " Bara tertegun mendengar ucapan Karin. " Seandainya aku tidak hamil aku mungkin tidak terlalu berat melepasmu ". Karin melanjutkan peran sebagai korban yang ia mainkan membuat Bara mulai bersimpati padanya. " Aku tidak meminta lebih padamu, cukup untuk melindungi aku dan anakmu saja ". " Tapi Ika tidak mau dipoligami, dia minta cerai saja ". Karin tersenyum dalam hati mendengarnya. Selangkah lebih dekat dari yang ia rencanakan. " Oleh karena itu aku menyarankan untuk kita menikah diam - diam saja " Bara mengangguk. untuk sekarang memang hanya itu jalan terbaik yang bisa ia tempuh. *** Bara telah memilih berbohong daripada jujur padanya. Ika cuma bisa tersenyum pedih melihat foto pernikahan Bara yang dikirim oleh seseorang tak dikenal ke ponselnya. Ika sudah memutuskan jalan hidupnya setelah apa yang dilakukan oleh Bara. Pergi menjauh adalah jalan yang harus ia pilih. Dengan menguatkan hati Ika mulai mengemasi barang - barangnya. Ika harus cepat pergi sebelum Bara kembali. Ika sebenarnya ragu Bara akan pulang. Hari ini adalah hari pernikahannya, kecil kemungkinan Bara akan kembali. Lebih besar kemungkinannya Bara akan tidur ditempat Karin. Mengingatnya seakan menyadarkan Ika bahwa apa yang dilakukan oleh Bara seolah perantau yang sedang pulang kampung. Rasanya tepat sekali jika Bara kembali ke tempat Ika, karena dari sanalah sebelumnya Bara berasal. Bara bisa pulang kerumah setelah mengalami perdebatan cukup sengit dengan Karin. Bara tidak mungkin menginap di tempat Karin. Ika pasti akan curiga padanya. Sedapat mungkin, sejak perdebatan terakhir mereka yang membuat Bara menyadari kalau Ika ingin meninggalkannya, Bara selalu pulang tepat waktu. Hatinya tidak tenang berada diluar rumah sepulang kantor. Lagipula sejak tadi Bara tidak bisa berpikir jernih sedikitpun karena kepikiran pada Ika. Ijab kabul ia lakukan dengan setengah hati dan harus diulang sekali lagi sebelum disahkan oleh para saksi. Para tamu yang tak lebih dari sepuluh orang itu langsung pamit karena menyadari atmosfer yang tidak mengenakan dari kedua mempelai. Tiba dirumah Bara langsung berteriak mencari isterinya. Perasaannya semakin tak menentu melihat kondisi rumah yang gelap gulita. Setelah berkeliling, Bara tahu bahwa Ika sudah meninggalkannya. Berulang kali ia hubungi namun nomor ponselnya tidak aktif. Anulika ... Bagaimana dia bisa menghilang dihari yang sama dengan hari ia menikahi Karin ? Kenapa Bara sangat yakin kalau kepergian Ika karena dia sudah tahu kalau Bara sudah menikahi Karin. Bara memegang meja rias Ika yang sudah kosong, dilemparkannya sepenuh tenaga kearah dinding. Dalam sekejap pecahan kaca sudah bertebaran dilantai kamar yang selama ini menjadi saksi bisu penyatuan jiwa dan raga mereka. Jika harus kehilangan Ika juga, lebih baik Bara pergi menjauh saja tanpa perlu menikahi wanita yang sudah tidak diinginkannya lagi, bahkan sangat dibencinya. Bara menelfon nomor seseorang yang bisa membantunya mencari Ika. Dalam hati Bara masih percaya bisa menemukan Ika secepatnya. Hingga tiga hari pencariannya Ika belum juga ditemukan. Bara bahkan sudah menambahkan tim lain dalam pencariannya. Sengaja tidak melibatkan polisi karena kepergian Ika atas inisiatifnya sendiri jadi tidak bisa dilaporkan sebagai orang hilang. Siapa yang telah membantu Ika sehingga ia bisa menutupi jejaknya dengan sangat rapi. Pasti seseorang yang sangat berpengalaman dalam mencari maupun menutupi sebuah jejak. dan orang itu pastiya ...? Mata Bara melotot tajam pada Karin yang berdiri di ruang tamu rumahnya dengan sebuah koper besar bersamanya. " Apa yang kamu lakukan disini ?" sergahnya. " Aku mau pindah kesini saja, setidaknya ada yang menemaniku saat kamu sedang bekerja " jawab Karin sambil memandang ke seluruh penjuru rumah. " Keluar kamu !" bentak Bara tidak menurunkan sedikipun volume suaranya. " Nggak mau! " tolak Karin ," Enak saja kamu menyuruh aku pergi setelah kamu ninggalin aku begitu saja dihari pernikahan kita." Karin berjalan semakin masuk kedalam rumah. "Ika ...! Ika... !" panggilnya dengan lantang. Bara menarik koper Karin dan mendorongnya kasar." Dia tidak ada disini ". " Kemana dia ?" tanya Karin berpura - pura. Karin bahkan sangat tahu kalau Ika sudah pergi meninggalkan Bara makanya ia berani datang menemui Bara langsung kerumahnya. Karin berencana untuk mengambil alih peranan Ika dalam rumah Bara. Jika masih berdiam diapartmentnya hubungan mereka tidak akan mengalami kemajuan. Karin meyakinkan diri untuk terus maju selangkah demi selangkah menuju singgasana yang ia impikan selama ini. Rumah akan menjadi tempat yang tepat baginya untuk diakui. Bara menatap Karin jijik, jangan kira ia tidak tahu apa yang sudah Karin lakukan untuk mengusir Ika dari sisinya. TBC antique : Perpindahannya cukup rapat ya ... Semoga feelnya masih kerasa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD