Bab 16

1119 Words
Sejak awal mengetahui anaknya menjalin hubungan dengan seorang wanita, Wirama langsung mencari tahu latar belakang wanita tersebut. Bukan tanpa alasan yang kuat kenapa ia melakukannya. Wirama tidak mau anaknya memiliki banyak masalah saat berumah tangga nantinya. Cukuplah Bara berjuang untuk keluarganya saja, jangan sampai Bara harus berkorban banyak untuk orang lain. Apalagi sampai dimanfaatkan oleh keluarga pasangannya nanti. Berumah tangga tidak pernah menjadi mudah bagi siapapun, begitu juga dengan pengalaman Wirama selama ini. Dimanfaatkan oleh orang lain sudah pernah ia rasakan. Semua yang ia lakukan menjadi tidak ada artinya dimata keluarga isterinya. Sangat menyakitkan untuk dikenang. Lukanya membekas seumur hidupnya. Oleh karena itu Wirama akan memastikan anaknya tidak jatuh ke lubang yang sama dengannya. Bara tidak boleh merasakan apa yang pernah ia alami. Perbedaan budaya adalah hal serius yang bisa mengancam kelangsungan rumah tangga semua orang. Sesuatu yang awalnya disepelekan berubah menjadi duri dalam daging yang lambat laun akan mengganggu kenyamanan dan kesehatan. Apapun bentuk perbedaan dari awal harus sudah ada solusinya untuk masa mendatang, karena kita tidak jatuh cinta setiap hari. Perasaan saat jatuh cinta tidak pernah abadi makanya Wirama ingin anaknya yakin dulu dengan dirinya sebelum jauh melangkah. Dan, memastikan jalan yang akan dilalui anaknya baik - baik saja adalah tugasnya sebagai orangtua. Bara tidak boleh nantinya sampai menyesal karena memilih orang yang salah. Belajar dari pengalamannya juga, Wirama tahu bahwa penilaian saat sedang jatuh cinta tidak pernah benar - benar objektif. Wirama tidak menyalahkan saat anaknya jatuh cinta. Tidak juga salah mencintai seseorang. Cinta tidak pernah salah. Namun untuk menjalani komitmen tidak cukup dengan modal jatuh cinta saja. Cinta hanya bisa teruji dengan waktu dan masa. Wirama bukannya langsung menolak saat Bara membawa Karin kehadapannya. Wirama menerimanya sambil mencari tahu latar belakang gadis itu dan juga keluarganya. Tapi seakan membenarkan firasatnya sebagai seorang ayah, informasi yang ia dapatkan dari orang - orang suruhannya, memaksanya untuk mencoret Karin dari daftar calon menantu dan pewaris kekayaannya. Bukan hanya masalah umur yang mengganggunya tapi juga sederet kebiasaan buruk orangtua Karin. Sepak terjang orangtua Karin sangat mengkhawatirkan Wirama. Ibu Karin pernah menikah tiga kali. Tidak diketahui siapa ayah kandung wanita yang dipacari oleh anaknya tersebut. Bapak Karin pun tidak lebih baik, dia masih suka berjudi dan mabuk - mabukan meski sudah berusia menjelang senja. Yang paling tidak bisa ditolerir oleh Wirama adalah sifat matre dan pergaulan bebas Karin. Anak itu masih labil dan terlihat liar diwaktu yang bersamaan. Tentu sangat wajar mengingat latar belakang keluarga yang membesarkannya. Bara tidak pernah mencari tahu kondisi keluarga Karin yang sebenarnya.Yang ia tahu, Karin adalah anak petani biasa yang hidup bersahaja di Pedesaan. Datang ke kota untuk mengejar cita - citanya. Bara tidak masalah dengan asal usul Karin yang berbeda dengannya. Bara malah bangga dengan perjuangan pacarnya yang masih giat meraih cita - cita ditengah keterbatasan biaya. Wirama juga tidak akan mempermasalahkan jika kondisi Karin memang begitu adanya. Sebelum sukses seperti sekarang Wirama juga berasal dari kampung. Karena masih melekat dengan jiwa kampunglah sehingga Wirama masih memperhitungkan latar belakang calon menantunya. Merasa memiliki hak dalam menentukan langkah besar dalam kehidupan sang anak. Sama seperti orang tua yang lain, Wirama juga ingin anaknya mendapatkan pasangan yang tepat. Wirama sudah pernah menduga kalau wanita yang dipacari anaknya akan membawa masalah padanya. Terbukti dengan apa yang terjadi hari ini. Wanita itu mengaku hamil setelah sekian lama tidak bertemu karena Wirama menganggap urusan diantara mereka sudah selesai. Wirama juga sudah mengeluarkan uang yang sangat banyak agar wanita itu mau meninggalkan anaknya. Wirama melakukannya setelah ia menemukan calon yang tepat buat anaknya, iaitu puteri dari sahabatnya sendiri. " Papa malu dengan kelakuanmu. Orang seperti apa yang bisa berciuman dengan isterinya sementara diluar sana malah meniduri wanita lain! " bentaknya tertahan. Wirama sengaja berbicara empat mata dengan Bara. Tidak mungkin ia memberi tahu sang menantu tentang apa yang sedang terjadi. " Kami sudah putus seperti permintaan Papa " jawab Bara sengit. Meski bukan itu alasan yang sebenarnya tapi tetap saja Bara masih belum bisa menerima sikap otoriter Wirama sepenuhnya. Wirama tersenyum sumbang. " Putus setelah kamu puas menikmati tubuhnya, begitu ?! " Bara menatap Papanya heran. Kenapa Papanya masih marah setelah ia melakukan apa yang selama ini ia pinta. " Wanita itu mendatangi Papa, katanya ia sedang mengandung anakmu ! " sergah Wirama. Terlalu marah pada perbuatan b***t anaknya. Bara menatap Papanya tak percaya. " Tidak mungkin ... " ucapnya tercekat. Wirama mendelik pada Bara ," Apanya yang tidak mungkin jika selama ini kamu sudah menidurinya. Menjijikkan !" Wirama sampai menggebrak meja kerja Bara. Suaranya sampai ketelinga Ika yang sedang berada di dapur. Meski sangat penasaran dengan apa yang terjadi di dalam ruang kerja Bara, tapi Ika menahan diri untuk tidak ikut campur kedalam persoalan Bara dan Papanya. Yang Ika tahu Papa Bara sedang memarahi Bara, tanpa tahu persoalan yang memicunya. Bara mendadak pusing mendengar perkataan papanya. Ia akui sudah tidur dengan Karin beberapa kali. Tapi ia masih ingat untuk selalu memakai pengaman setiap melakukannya. " Wanita itu minta pertanggung jawaban kamu, apa yang akan kamu lakukan ? " " Tidak mungkin dia hamil Pa" Jawab Bara ragu. Bukan ragu pada dirinya yang pernah kebablasan tapi ... Bara tambah pusing memikirkannya. Kenapa jadi misteri begini. " Untuk sementara Papa sudah mengurusnya " kata Wirama mengundang kecurigaan Bara. " Nanti jika bayi itu lahir dan terbukti anak kamu, Kamu harus bertemu dengan Papa dahulu sebelum membuat keputusan. karena apapun keputusan kamu nanti akan ada konsekuensi yang akan menyertainya" " Maksud Papa apa ? " tanya Bara. " Papa tidak akan mengatakannya sekarang, kita tunggu saja sampai anak itu lahir " Wirama meninggalkan Bara yang sedang berkecamuk dengan pikirannya sendiri. Sesungguhnya, Wirama sendiri masih ragu dengan keputusan yang akan ia ambil nantinya. Meski sedikit kemungkinannya, Wirama masih berharap kalau wanita itu tidak benar - benar sedang mengandung cucunya. *** Ika menunggu penjelasan dari Bara tentang apa yang terjadi dan kenapa Papa mertuanya buru - buru pulang tanpa sempat makan malam bersama terlebih dahulu. Kenapa juga Wirama tampak enggan menatapnya. Tatapan Wirama yang sekilas padanya tidak mengandung amarah tapi lebih seperti merasa bersalah. Apa yang telah terjadi sehingga seorang Wirama sampai kehilangan wibawa ? Tapi sampai mereka selesai makan dan beranjak kekamar tidak ada penjelasan dari Bara. Mulut Bara seakan terkunci rapat untuk bicara. Yang lebih mengganggu Ika adalah Bara tidak masuk kekamar yang sama dengannya. Bara seperti orang linglung memilih masuk ke kamarnya sendiri. Bara abai dengan kehadiran Ika disampingnya. Ika menahan sesak yang datang tanpa ia harapkan. Perasaan bertanya - tanya dan prasangka buruk membuat Ika berkesimpulan bahwa Bara telah menyesali keputusannya melepaskan Karin. Ika yakin karena alasan itulah yang membuat Bara menjaga jarak dengannya. kehangatan yang Bara berikan cuma sebentar saja. Rasanya Ika tidak rela harus kehilangan secepat ini. Jika Bara kembali kepada Karin, apa yang harus Ia lakukan? Tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD