Bab 15

1079 Words
Tidak seperti saat berangkat tadi yang dipenuhi dengan canda tawa, saat pulang hening tanpa suara. Mereka larut dengan pikiran masing - masing. Bara masih menyimpan kekesalan pada sang mantan yang dianggapnya terlalu lancang pada Ika. Karena hal itu lah Bara semakin yakin telah memilih jalan yang benar dengan mengakhiri hubungannya dengan Karin. Perasaan ragu yang sempat ia rasakan sebelumnya menghilang begitu saja seiring dengan kenyataan yang baru terjadi. Didepannya saja Karin bisa bersikap kurang ajar pada Ika apalagi dibelakangnya. Kecemburuan mampu merubah watak seseorang yang selama ini ia kenal lemah lembut. Baginya, Meski sedikit ... setidaknya Karin memiliki perasaan segan pada Ika yang merupakan isteri sahnya. Memang salahnya yang memberi jalan pada Karin untuk tetap berada disampingnya. Tapi apa memang tidak ada lagi rasa malu didiri Karin saat menjadi yang kedua? Setahunya, para wanita akan menghindar saat bertemu dengan pasangan resmi dari selingkuhannya. Kenapa Karin begitu berani menemuinya saat ia bersama Ika. Pastinya Karin merasa diatas angin pada Ika. Merasa lebih memiliki dirinya dibanding isterinya sendiri. Dan itu terjadi karena ulahnya sendiri. Bara menyesal dengan perbuatannya yang seolah merendahkan Ika didepan wanita lain. Tidak ada niat sebelumnya akan menjadi seperti sekarang ini. sikap egoisnya yang memaksanya jadi seperti ini. Pertama menolak pernikahannya, kedua tidak segera mengakhiri hubungannya dengan Karin sebelum memulai hubungan yang baru dengan Ika. Bara bersalah pada keduanya. " Maaf ... " ucap Bara memecah kebisuan panjang mereka. " Maafin aku karena belum mengakhiri hubungan kami " kata Bara dengan suara tercekat. Ika menggeser duduknya. Selain karena pegal berada diposisi yang sama dalam waktu lama, juga karena ingin memberikan perhatiannya pada apa yang akan diucapkan oleh Bara. Keduanya bertatapan sampai Bara harus mengalihkannya karena ia sedang menyetir. " Aku tidak menyangka dia seberani itu sama kamu " Ika tersenyum miris mendengarnya. Rupanya Bara tidak terlalu mengenal wanita yang dipacarinya padahal mereka sudah lama bersama. " Dia merasa berhak melakukannya " jawab Ika menanggapi. Bagaimana pun Ika berpikir, Ia tetap pada satu kesimpulan bahwa Karin masih berstatus pacar Bara. Bagi wanita itu pasti Ika yang menjadi selingkuhan Bara. " Sekarang tidak lagi " Ika masih menatap Bara. Merasa terus ditatap, Bara kembali balas memandang Ika setelah sebelumnya memastikan lalu lintas lengang dan aman. " Tadi aku sudah mengakhirinya, Sekarang kami tidak punya hubungan apa - apa lagi " Ika tidak tahu harus merasa senang atau tidak atas tindakan impulsif Bara. Pertengkaran jadi pemicu Bara memutuskan hubungannya dengan Karin. Sangat mungkin bagi Karin untuk menolak pemutusan sepihak dari Bara. Atau juga sebaliknya, keputusan saat sedang marah beresiko disesali oleh Bara dikemudian hari. " Jangan memikirkan hal yang tidak - tidak, ini hanya soal waktu saja. Keputusanku telah bulat sebelumnya " Bara menjawab keraguan yang terlihat diwajah Ika. " Kita punya ikatan yang kuat jangan sampai kita lepas begitu saja " Ika tidak bisa tidak mencibir mendengar ucapan Bara. Siapa orang yang baru berbicara padanya ini ? Kenapa seakan ia adalah orang yang berbeda dengan pria yang menikahinya. " Jangan mengolokku begitu " Peringat Bara setelah memarkir mobilnya digarasi. Tanpa sadar mereka sudah sampai dirumah. Ika menantang Bara dengan tatapannya. " Sebelumnya kita adalah orang yang sama dalam memandang pernikahan ini " Ika terdiam mendengar tuduhan Bara yang memang benar adanya. Ika juga tidak menganggap serius hubungan mereka sebelumnya. Sampai ia merasa tidak baik - baik saja saat Bara keluar rumah menemui kekasihnya. Ika menjadi orang pertama yang mencintai Bara dan berharap lebih pada pernikahan mereka. Bara tersenyum memandangi wajah Ika yang memerah menahan malu. " Tidak perlu malu, aku cuma mengingatkan saja " ucapnya dengan kerling menggoda. Bisa - bisanya Bara menggodanya saat sedang badmood begini. " Aku tidak malu tapi sedang marah sama pacarmu itu! " " Mantan " balas Bara mengkoreksi. " Baru jadi mantan kalau dia tidak pernah lagi muncul dihadapanku " " Apa dia tidak boleh muncul dihadapanmu saja ? bagaimana kalau dia muncul didepanku ? " Godaan yang dilontarkan Bara langsung mental begitu Ika membalasnya dengan pelototan marah. " Bercanda ... " bisiknya. Ika tidak menurunkan kadar intimidasinya. Apa yang diucapkan oleh Bara sebelumnya memang sempat mengganggu fikirannya. Tidak mungkin Karin menerima begitu saja. Bara yang gemas bercampur geli melihat tatapan Ika segera memegang kedua pipi sang isteri dan langsung menghadiahinya sebuah ciuman mesra. Ika tidak bisa menolaknya karena tubuhnya selalu menerima sentuhan dari sang suami. Aktifitas panas mereka terpaksa terhenti karena ketukan dari luar jendela mobil. Sopir pribadi Papa Bara yang melakukannya. Tentu saja atas perintah Papa Bara yang sedang duduk diteras rumah mereka. Menatap tajam kearah Bara. sejak kapan Papanya ada dirumah mereka? Ika gelagapan begitu menyadari sedang dipergoki oleh sopir mertuanya dan ... Mertuanya sendiri sedang apa disana?Kenapa mereka tidak menyadari kedatangannya. Ika buru - buru keluar dari mobil menghampiri Papa mertuanya. Bara membuang nafasnya kasar. Papanya pasti sedang marah padanya. Terlihat jelas dari raut wajahnya. Entah masalah apa yang membuatnya berkunjung tanpa pemberitahuan sebelumnya. Sebenarnya Bara tidak takut dengan kemarahan Papanya, yang ia khawatirkan adalah cara Papanya marah. Cara marah seorang Wirama tidak pernah bisa ia prediksi sebelumnya. *** Karin memandangi rumah megah milik Wirama dengan perasaan malu bercampur marah. Ia baru saja dipermalukan dengan cara yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ternyata Ayah dan anak sama saja. Keduanya telah merendahkan harga dirinya hingga ketitik terendah. Setelah tadi Bara memutuskan hubungan mereka secara sepihak, Karin segera menemui orang yang sudah cukup lama tidak ia temui. Karin akan meminta pertanggung jawaban pada Wirama atas apa yang telah Bara perbuat padanya. Karin datang dengan sebuah kejutan yang akan membuat Wirama tidak bisa berkutik padanya. Jika selama ini, Wirama yang selalu menekannya kali ini akan Karin pastikan seorang Wirama akan kehilangan taringnya! Namun, Karin seolah dianggap lalat terbang saja olehnya. Wirama tidak bergeming dengan ancaman yang ia berikan. Bagaimana mungkin pria tua itu bisa bersikap biasa saja saat ia membawa kebenaran yang bisa merusak citra nya selama ini. Nama baiknya sedang dipertaruhkan tapi seorang Wirama masih bisa menunjukkan tajinya dihadapan Karin. Kehamilannya tidak hanya diragukan oleh Wirama tapi juga tidak dianggap sedikitpun. Tidak seperti dugaan Karin, dimana Wirama akan menawarinya sejumlah uang seperti yang sudah - sudah agar mau meninggalkan Bara, kali ini bisa jadi agar Karin mau menggugurkan kandungannyakan? Wirama malah menginginkan Karin untuk melahirkan bayinya saja. Wirama berjanji akan mengakui bayi Karin sebagai darah daging keturunannya setelah dibuktikan dengan hasil tes DNA. Dan sampai saat itu tiba dia melarang Karin untuk menemuinya ataupun Bara. Wirama juga mengancam akan melakukan sesuatu pada keluarga Karin dikampung jika masih nekat melanggar perjanjian mereka. Karin kembali mengumpat untuk kesekian kalinya. ia telah salah langkah. Tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD