Ika menggenggam erat tangan Bara yang ia letakkan diatas pahanya. Dihadapan mereka duduk Ezra yang menatap lekat pada Ika dengan beraninya, seakan tidak peduli dengan wajah Bara yang memerah seperti namanya. Ika menyadari perubahan emosi dimuka Bara, sejak pertama bertemu dengan Ezra tapi tetap mengajak Bara untuk berbicara dengan Ezra karena bagaimanapun mereka memang perlu berbicara. Ika yang harus berbicara dengan Ezra. Ika harus meminta maaf dengan apa yang telah terjadi. Ika maklum jika Bara melarangnya untuk bertemu dengan Ezra berdua saja, tapi tentu tidak akan jadi masalah kalau bertemu dengan ditemani oleh Bara sendiri.
Sekilas saja, Ika sudah bisa mengetahui ada masalah diantara dua lelaki yang ada didekatnya. Ika mencoba abai dengan kecurigaan sebelumnya, biarlah menjadi urusan mereka saja.
" Ika mau minta maaf karena tidak jadi bekerja di kantor kakak " ucap Ika memulai pembicaraan.
" Ika juga berterima kasih atas bantuan kakak"
" Apa suamimu melarang ? " tanya Ezra mengalihkan pandangannya pada Bara. Tersenyum mencemooh, memancing emosi Bara.
" Bukan seperti itu, setelah difikir - fikir aku belum mau bekerja dulu ... masih ingin mengurus rumah tangga saja " jawab Ika.
Ezra jelas tidak percaya dengan jawaban Ika. Ezra tahu, Ika cuma sedang melindungi suaminya.
" Sepertinya suamimu tidak menjadikanmu sebagai isterinya tapi asisten rumah tangga " ucap Ezra menuduh.
Ucapan kurang ajar Ezra membuat Ika dan Bara terkejut dengan alasan yang berbeda.
Ika tidak menyangka Ezra bisa sekurang ajar itu pada Bara dan dirinya.
Bara sendiri tahu Ezra sedang menguji kesabarannya. Pasti Ezra sedang mencari gara - gara agar Bara terpancing meladeni sikap tidak terpujinya.
" Apa kamu kurang kerjaan sampai masih punya waktu untuk mengurusi rumah tangga orang lain " tanya Bara tajam.
Ezra tersenyum mendengar pertanyaan Bara. ia akan melihat sejauh mana Bara akan bisa berpura tidak terpengaruh dengan provokasi yang ia lemparkan.
" Ika bukanlah orang lain bagiku " balas Ezra masih dengan senyum dibibirnya. Jenis senyuman yang membuat orang berang melihatnya. Ika tidak pernah tahu kalau Ezra bisa tersenyum seperti itu padanya.
" Tentu saja, aku bisa melihatnya " kata Bara menyindir.
Diangkatnya tangan mereka yang sejak tadi saling menggenggam dibawah meja. Diletakkan diatas meja dengan posisi seperti semula.
Sambil mengelus punggung tangan Ika, Bara kembali berkata ," Bagimu mungkin Ika bukan orang lain, tapi bagi Ika kamu hanyalah seorang kakak kelas biasa "
Ezra masih berusaha tetap tersenyum walaupun pertautan tangan Bara dan Ika mengganggu pemandangannya, ditambah lagi dengan kata - kata Bara yang mengusik harga dirinya.
" Apa kamu sudah menjelaskan pada Ika siapa Karin sebenarnya ? "
Ezra sudah mulai melempar senjata pamungkasnya.
" Dan aku rasa, Ika juga perlu tahu seberapa lama waktu kebersamaan kalian. Bara yang aku kenal tidak akan mungkin menggantikan Karin dengan wanita lainkan? " tanya Ezra berhasil mengusik rasa optimisme Ika pada Bara ,"Kamu bukan tipe lelaki yang membuang wanita seperti barang bekaskan ? "
Ini sudah tidak benar, kenapa juga Ezra ingin membuka aib Bara ditempat umum begini?
" Ika, kamu harus mencari tahu, orang seperti apa yang sudah kamu nikahi ini "
Ada hubungan apa antara Ezra, Bara dan Karin? kenapa Ezra bisa seberani ini ikut campur ?
Ika tidak bisa lagi bersikap tidak peduli dengan hubungan dan persoalan pribadi ketiganya.
Ezra memandang Bara dan Ika dengan tatapan puas. Mungkin Bara tidak terlalu terpengaruh dengan ucapannya tapi setidaknya Ika menunjukkan wajah penasaran yang pasti akan menyulitkan Bara nantinya.
" Kamu terlalu lama menjomblo karena selalu mengharapkan pasangan orang lain. jadi saranku, sebaiknya kamu obati dulu kelainan mentalmu itu baru kemudian bisa mendapatkan pasangan yang tepat " kata Bara membuat Ezra mengeraskan rahangnya. Ika menatap Bara dan Ezra bergantian.
" Aku memang bukan orang baik tapi aku belum pernah merebut pasangan orang lain"
Senjata yang dilempar oleh Ezra berbalik menyerang dirinya sendiri. Bukannya Bara yang terpancing tapi justru dirinya yang merasa tertampar omongan Bara.
Dengan menahan amarah Ezra berdiri dan segera berlalu dari hadapan Bara dan Ika.
Ika masih terdiam meski Ezra sudah berlalu beberapa saat. Tautan tangannya sudah sejak tadi ia lepaskan.
Bara menghembuskan nafasnya kasar. Ia sadar kalau Ika lah yang sedari tadi disasar oleh Ezra, dan Ezra telah berhasil .Terbukti dari perubahan rona wajah Ika.
Ika mungkin memang mau menerima masa lalunya tapi bukan berarti akan biasa saja saat ada yang membicarakan aib Bara di depannya. apalagi sampai membawa - bawa kekasih suaminya kedalam pembicaraan mereka.
Bara mencoba menyadarkan Ika dari lamunan panjangnya dengan menyentuh tangannya, tapi langsung ditepisnya dengan menarik tangannya. Ika tampaknya tidak sadar dengan apa yang ia lakukan, sampai ia juga tidak menyadari tatapan terluka diwajah Bara karena penolakannya.
" Yang kamu disini ? "
Ika tersadar begitu mendengar nada lembut dari seseorang yang berdiri dibelakangnya.
Refleks Ika membalikkan badannya.
wanita ini ...
Kemudian Ika kembali memutar tubuhnya kedepan. Tepat kearah suaminya.
Bara seakan mati kutu dihadapkan pada situasi yang tidak disangka - sangkanya. Berada diantara dua wanita yang sama - sama menatapnya penuh penghakiman.
" Aku juga ingin makan, jadi bolehkan aku gabung sama kalian ? "
Karin bukannya ingin meminta izin tapi cuma sekedar memberitahu saja. Dengan percaya diri ia langsung duduk didepan Bara. Karin mengabaikan tatapan membunuh yang dilayangkan oleh Bara padanya.
Ika tidak tahu perasaan apa yang sedang ia rasakan saat ini, marahkah atau kecewa. Terlalu sulit baginya untuk memahaminya.
Ika memakan makanannya yang sejak tadi ia abaikan karena sibuk dengan Ezra. Rasa spagetti yang ia makan sudah tidak enak lagi. terlalu dingin dan hambar. Namun Ika terus memakannya.
" Aku malas buat pesan. aku makan punya kamu saja ya " ucap Karin seraya meraih piring makanan Bara.
" Pesan saja yang baru " ucap Ika tanpa menoleh.
Bara menatap Ika tak percaya dengan apa yang ia dengar. Apa Ika serius mau makan bersama dengan Karin.
" Ngapain pesan lagi, selera kami sama kok ..." jawab Karin.
" Itu sisa, lebih baik kamu pesan yang baru " Ika kembali berkata dengan nada kelewat datar.
" Aku nggak mau. kenapa kamu maksa sih ?!" balas Karin ketus yang tentu saja dapat pelototan dari Bara.
Ika meletakkan garpu yang sejak tadi ia pegang. Ditatapnya Karin dan Bara bergantian. Karin membalasnya menantang, sedangkan Bara langsung gentar mendapat tatapan tajam untuk pertama kali nya dari sang isteri. Baru juga mau senang - senang dengan Ika sudah banyak yang mengganggu.
" Ternyata kalian sedang menguji kesabaran saya " ucapnya menjeda ," Kamu! " tunjuk Ika pada Karin ,"kenapa suka sekali dengan barang orang lain ?"
Karin syok mendengar pertanyaan Ika yang terdengar seperti sebuah sindiran.
" Bukannya kebalik ya? diantara kita berdua kamulah yang sedang menanti barang bekasku "
" Karin, hentikan !" sergah Bara setengah berbisik ," apa kamu tidak malu dilihatin oleh orang - orang ? "
" Isteri kamu yang mulai duluan " sebut Karin berani.
" Harusnya kamu tidak duduk disini " ucap Bara tertahan.
" Harusnya itu kamu tidak nikahin dia! " tunjuk Karin pada Ika.
Ika jadi tak berdaya mendengar ucapan Karin. Alih - alih membalas, Ika sudah kehilangan tenaga duluan. Badannya bergetar menahan gejolak emosi.
Dengan sisa kekuatan yang ia miliki, Ika melangkah meninggalkan Bara dan Karin.
" Kamu sudah melampaui batas kesabaran yang aku kasih selama ini " kata Bara sambil berdiri ," Hubungan kita cukup sampai disini saja! " putusnya meninggalkan Karin.
Bara mengabaikan panggilan dari Karin yang tidak terima dengan keputusannya. Bara berjalan dengan tergesa mengejar Ika yang berjalan menjauh darinya.
Air mata mengalir tanpa bisa Ika tahan. kenapa sesakit ini rasanya. Bara sudah jujur padanya kalau ia masih menjalin hubungan dengan wanita itu tapi tetap saja Ika tidak bisa menerimanya dengan lapang d**a.
Ika merasa telah memiliki Bara seutuhnya.
Perasaan memiliki lah yang telah melukai hatinya sendiri.
Tbc
antique : " tolong terus dimaklumi segala macam typo, kesalahan tanda baca dll ya, perangkat sering ngadat ...
cerita lain yang sudah ditulis beberapa Bab juga tiba - tiba hilang, padahal sebelumnya sudah disimpan "