"Bom waktu itu mulai berjalan mundur, menghitung waktu untuk siap diledakkan." -Barrabas Mahesa- °°°°°°°°°° Empat tahun kemudian... "AAAAAARGH. HIKS." Suara tangisan manja itu menggema di seluruh ruangan bernuansa putih. Tembok-tembok rumah seakan ikut memantulkan suara itu. Seorang gadis yang rambutnya terurai berantakan itu menangis tersedu-sedu. "PAPAH! AKAK JAHAAAAAT." "Maap. Nggak sengaja." Mendengar ada keributan di lantai atas kamar anak-anaknya, Barra langsung menaiki anak tangga ke atas dengan bertelanjang d**a. Ia baru saja bangun tidur. Satu jam yang lalu, Barra baru saja menyelesaikan olahraga ranjangnya dengan Killa. Rere menatap Al penuh kebencian seraya memegang bandonya yang patah, sedangkan Al bersikap biasa saja. Seperti tak berdosa sama sekali. "Ini ada apa? Masi

