"Ada sedikit saja celah untuk kamu membohongiku, maka aku akan selalu merasakannya. Merasakan sinyal kebohonganmu. Percayalah. Aku sangat peka dengan perubahan hubungan kita yang terjadi saat ini." -Akilla Ainina Gardiawan- °°°°°°°°°° Killa mengernyit bingung saat Barra dan Heksa masuk ke dalam rumah secara bersamaan. Heksa memang perginya tadi disuruh oleh dirinya, tapi Barra? Suaminya itu tadi mengirim sebuah pesan singkat yang menjelaskan akan ada meeting dadakan di kantor. Jadi, akan pulang terlambat dari waktu biasanya. Di tangan Heksa sudah ada rantang yang berisi soto panas. Ia menyerahkannya pada Killa. "Kok udah pulang, Pa? Katanya lembur." Barra memaksakan senyumnya. "Nggak jadi." "Yey! Papa puyang. Yeye bisa main inih sama Papah!" Rere membawa tinggi-tinggi Uno miliknya.

