Lagi-lagi kembali ke tempat yang selama ini ingin sekali di hindari. Tapi Alby selalu datang karena masalah serius. Dokter mengatakan Shafa mengidap anemia sejak beberapa tahun lalu. Wajahnya sangat pucat dan tubuhnya lebih panas dari suhu normal. Tangan Alby terus menggenggam jemari Shafa yang putih bersih. Sesekali dia menciumnya sambil berdoa. "Shafa?" Memang dokter sudah mengatakan sebelumnya kalau Shafa akan sadar dengan cepat. Mata sayupnya terbuka dan langsung melihat ke suaminya yang duduk disampingnya. "Mas, aku mau pulang." "Mamu harus dirawat di sini sampai sembuh." "Aku enggak suka di sini, Mas." Tidak lama dokter datang dengan seorang perawat. Dia kembali mengecek kondisi Shafa setelah sadar. "Apa yang Mbak rasakan sekarang? Apa masih pusing?" "Udah mendingan, Dok. Apa

