“Hei, apa kau baik-baik saja?” tanyanya melihatku yang sedikit limbung. “Kau terlihat pucat.” Kupijat pelipisku tanpa menjawabnya. “Kau bisa duduk di sini kalau kau mau,” katanya menunjuk ujung tempat tidur besarnya. Karena takut akan terjatuh saat itu juga, dengan menurut aku pun duduk di tempat itu. “Kurasa aku hanya sedikit pusing. Terlalu kaget karena bertemu dengan seorang adik ipar,” ucapku sambil terkekeh, mencoba mencairkan suasana. “Kalau begitu aku juga akan mati terkena serangan jantung karena memiliki seorang kakak ipar yang cantik,” balasnya dengan senyum ramah. “Bisakah kau berhenti memujiku?” Aku tidak terbiasa dipuji. Itu membuatku bersemu merah. “Hahaha… aku hanya mencoba jujur,” ia tertawa seperti anak kecil. Pria ini cukup tampan bila tidak terlalu pucat. “Berapa u

