Chapter 5

1297 Words
Tanpa terasa sudah lebih dari satu minggu berlalu. Aku hanya menghabiskan waktu dengan membaca buku-buku, berjalan di sekitar mansion pada sore hari seperti biasa, dan berkunjung ke pondok kecil milik tuan Carter si tukang kebun. Membantunya memberi makan beberapa peliharaan yang ia rawat, juga menyiram serta menanam beberapa tanaman lain bersamanya. Setelah malam tiba, Mike seperti biasa akan muncul di kamarku dan kembali ke kamarnya sendiri bila merasa telah selesai dengan “kunjungannya.” Hampir setiap malam aku mendengar suara jeritan itu, dan Mike masih tetap tidak mengijinkanku untuk bertanya banyak padanya. Ia masih bertahan dengan apa yang ia katakan sebelumnya, bahwa hal itu hanyalah halusinasiku saja karena terlalu banyak membaca buku dan beraktifitas. Karena hanya melalui hari dengan aktifitas monoton setiap harinya, aku mulai merasa bosan. Seharusnya aku bisa membiasakan diri karena nanti akan menghabiskan sisa hidup di mansion ini, tapi aku merasa tidak nyaman dengan hal itu. Karena itulah akhirnya hari ini kuputuskan untuk mengacau di dapur. Beruntungnya para koki menyambutku dengan ramah dan mengizinkanku membantu mereka untuk memasak makan malam kesukaan Mike. Hingga pada akhirnya saat yang menegangkan pun tiba. Jantungku berdebar-debar melihat para pelayan menyajikan makan malam di hadapan kami sementara Mike duduk di ujung meja sebelah kiri. Bagaimana bila ia tidak menyukainya? Kulihat Mike mulai mengangkat garpu dan menatap sajian yang ada di hadapannya. Jantungku berdetak semakin kencang. Ia menyuap sebuah daging ke dalam mulut lalu mengunyahnya pelan. Apakah baik-baik saja? Apakah baik-baik saja? Mike tiba-tiba berhenti mengunyah. Ia menatap ke dalam piringnya lekat-lekat seperti baru saja menelan gumpalan kaus kaki bau dari piring tersebut. Jantungku serasa berhenti berdetak melihat reaksinya itu. Matilah aku yang dengan nekat memasak makan malam untuknya kali ini. “Gloria!” panggil Mike lantang. Suaranya menggelegar bagaikan petir di tengah hujan badai. Aku tidak sanggup lagi melihat semua ini. Oh lantai, telan saja aku.  Menundukkan kepala, aku berharap bisa segera menghilang dari ruang makan ini karena terhisap lantai di bawahku. Tapi tentu saja hal itu mustahil. Akhirnya, demi menepis rasa takut, aku pun mulai sibuk mengisi mulut dengan makananku sendiri. Berusaha secepat mungkin menyelesaikan makanku dan segera undur diri dari ruang mengerikan ini. “Kenapa rasanya berbeda kali ini?” tanya Mike saat koki paruh baya itu menghampirinya. Pertanyaan Mike membuatku menelan bulat-bulat daging yang belum selesai kukunyah. “Tentu saja berbeda, Sir. Nyonya memasaknya sendiri untuk Anda,” jawab Gloria dengan senyum lebar. Seolah aku adalah murid kebanggaannya yang telah berhasil menghidangkan sebuah masakan untuk disantap oleh presiden. Berdebar, aku pun menunduk di atas piringku untuk menantikan Mike melempar hidangan yang ada di hadapannya ke wajahku. Ia pastilah terbiasa mendapat masakan kelas atas dari kokinya, dan masakanku itu tentu saja telah merusak nafsu makannya malam ini. Aku sungguh menyesal dan berjanji tidak akan mengacau ke dapur lagi. Namun setelah mempersiapkan diri menerima makian, lama aku menunggu tapi tidak ada respon apa pun dari Mike. “Saya permisi dulu.” ucap Gloria lalu pergi menghilang ke arah dapur. Hening. Tidak ada suara lagi. Akhirnya sisa waktu makan malam kami habiskan dalam diam. Aku terus saja menunduk sambil menyantap makananku dengan tak berselera. Ketika pelayan muncul dan menghidangkan makanan pencuci mulut, kulirik Mike sekilas dan ternyata ia telah menghabiskan semua makanan yang ada di piringnya. Membuatku sedikit terkejut karena ia bisa menghabiskan masakan yang disebutnya “berbeda” tadi. Setelah menghabiskan pencuci mulut dengan terburu-buru, aku segera bangkit dan kembali ke kamar. Aku benar-benar ingin menghilang saja. Aku membenci diriku yang telah dengan percaya diri memasakkan sebuah hidangan untuk seseorang yang memiliki koki handal di kediamannya. Benar-benar bodoh. Aku harus segera mempersiapkan diri mendengar cercaan Mike karena masakan buatanku itu. Oh andai aku dapat membalik waktu. ***   Pagi harinya aku terbangun karena embusan nafas hangat yang menyentuh belakang leherku. Perlahan kubalikkan tubuh dan mendapati Mike tertidur di belakangku dengan sebelah lengan yang memeluk pinggangku erat. Tubuh bagian atasnya sama sekali tidak tertutup apa pun. Membuatku seketika langsung melirik diri sendiri. Apa semalam kami melakukannya lagi? Tapi rupanya pakaian tidurku masih tetap utuh, membuatku akhirnya mengembuskan nafas lega karena dugaanku sebelumnya tidak benar. Kulirik Mike sekali lagi dan ternyata ia juga masih mengenakan celana piamanya. Merasa lega kutatap kembali wajahnya. Saat ini wajahnya tidurnya sangat berbeda dengan apa yang ia perlihatkan sehari-hari. Wajahnya sangat damai dan terlihat polos tanpa dosa seperti anak kecil. Aku tersenyum geli mengingat pembicaraanku bersama Gloria dan Rosie di dapur kemarin sore. Pembenci bayam dan paprika. Sungguh menggelikan, memangnya berapa usianya saat ini? Pria ini sungguh tampan. Alis tebal yang membingkai matanya, hidung mancung, rahang yang seakan dipahat, serta bibir yang begitu menggoda. Yang mana rasanya... Kugelengkan kepala saat pikiran kotor tiba-tiba terlintas. Mengapa sekarang aku jadi seperti ini? Memalukan. Sebaiknya aku segera bangun agar berhenti berpikiran m***m. Tapi lengan Mike masih memelukku dengan erat. Aku pasti membangunkannya jika memaksa untuk bangkit. Tidak ingin membangunkannya, akhirnya aku memutuskan untuk terus diam dan sibuk dalam pikiran sendiri sambil menatap wajah tampannya. Apa yang menyebabkan Mike tidur di sebelahku semalam? Ini tidak seperti biasanya. Apakah besok ia akan tidur bersamaku juga? Jika demikian, mungkin sebentar lagi aku akan jatuh cinta padanya. Bila ia terus berbuat manis seperti ini sisa hidupku pasti akan sedikit menyenangkan. Kuamati wajah damainya yang tertidur dengan pulas. Rambut coklatnya berantakan. Rambut yang akhir-akhir ini sering berada di sela-sela jariku saat dirinya berada di atasku. Sial! Apa yang kau pikirkan, Ailee? Kukutuk diriku sendiri. Merasa malu, kuputar kembali posisi tidurku membelakangi Mike dan melirik tirai. Di luar sepertinya sudah sangat terang. Aku menimbang-nimbang apakah harus membangunkan Mike segera atau terus saja berdiam diri hingga ia terbangun. Ketika akhirnya kuputuskan untuk membangunkannya, sebuah kecupan mendarat di pundakku. “Kenapa kau tidak membangunkanku?” tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur lalu menarik tubuhku hingga terlentang dengan dirinya di atasku. “T-tidurmu sangat nyenyak, aku tidak ingin membangunkanmu,” jawabku terbata. “Tapi kau membangunkan bagian tubuhku yang lain dengan bokongmu,” ujarnya lalu mengecup bibirku. “A-aku t-tidak bermaksud begitu.” Gugup, aku berusaha membela diri. “Kau tahu, tidak rasanya akan sakit sekali bila apa yang diinginkan bagian tubuhku ini tidak segera dipenuhi.” Ia kembali mencium bibirku. Kudorong bahunya menjauh. “Kau harus segera bersiap-siap untuk berangkat kerja.” “Tidak akan menjadi masalah bila aku datang terlambat.” Ia menunduk dan menciumiku lagi. Aku berusaha untuk mengelak dengan menghindari ciumannya. Mike menjauhkan wajah kami, lalu tiba-tiba bangkit dan menarikku ke dalam gendongannya. “M-mau kemana kita?” tanyaku saat Mike membawaku turun dari tempat tidur. “Walaupun tidak menjadi masalah bila aku datang terlambat untuk bekerja, aku tidak suka memberikan kesan itu pada bawahanku. Jadi untuk menghemat waktu kita akan melakukannya sambil mandi.” Mike membuka pintu kamar mandi, menendangnya lagi hingga menutup lalu menurunkanku ketika kami telah berada di bilik shower. Ia langsung menghidupkan tuas, membuat air segera mengguyur tubuh kami hingga basah. Pakaian tipisku menjadi transparan dan mencetak jelas apa yang ada di baliknya. Mike langsung mendorongku ke dinding kemudian kembali memuja tubuhku dengan rayuan yang sulit untuk ditolak. Yang mana pada akhirnya membawaku pada klimaks yang terasa jauh lebih nikmat dari yang pernah kurasakan sebelumnya. Setelah selesai dan berhasil pulih dari kenikmatan yang baru saja kami peroleh, Mike melepaskan diri lalu mulai menyabuni tubuhnya. “Apa kau juga ingin disabuni?” tanyanya melihatku yang hanya berdiri diam. Tersentak, aku pun segera bergerak menuju dispenser sabun. “A-aku bisa sendiri.” Mike menyabuni seluruh tubuhnya dan membersihkan diri dengan cepat. Setelah selesai, ia keluar lebih dulu lalu berjalan menuju rak yang berisikan handuk bersih yang masih terlipat. Tak lama kemudian ia kembali muncul dengan sebuah handuk dan bathrobe, menungguiku selesai membilas tubuh. Mike mengenakan jubah mandi yang ia bawa ke tubuhku saat aku mematikan tuas air, lalu mengusap kepalaku yang basah dengan handuk kering yang dibawanya. “Jika rambutmu terus basah seperti ini kau akan jatuh sakit,” ucapnya sambil mengusap-usap rambutku dengan handuk. “Aku harus pergi, kau harus keringkan sendiri rambutmu.” Ditariknya wajahku mendekat. Masih dengan tangan yang mengusap kepalaku dengan handuk, Mike mencium bibirku lagi. Kali ini lebih lembut, dalam, dan juga lama. “Itu hadiah untuk sajian makan malam yang telah kau buat semalam,” ujarnya lalu berbalik dan langsung keluar dari kamar mandi. Meningkalkan aku yang terdiam di belakangnya dengan pipi merona dan handuk yang masih menggantung di kepala.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD