Aku mengaduk makan siangku dengan tampang bodoh. Tersenyum tanpa henti karena terus mengingat hadiah spesial pagi hari dari Mike tadi.
Semalam ia tidur di kamarku. Memelukku. Sepertinya ia sudah mulai membuka diri. Ah, senang rasanya melihat ada sedikit kemajuan dalam hubungan kami.
Tapi dalam hal berteman tampaknya aku masih harus seorang diri. Tak ada seorang pelayan pun yang bisa kuminta untuk menjadi teman. Mereka semua tampak segan dan menolak secara halus. Menyedihkan sekali nasibku.
Selepas makan siang, aku menyempatkan diri pergi ke ruang pelayan untuk mencari gadis yang bernama Annabelle kemarin. Tapi rupanya tak satu pun dari mereka yang mengenali atau pun memiliki nama serupa. Pupus sudah harapanku untuk mendapatkan teman.
Aku berjalan menaiki tangga sayap timur dengan lesu. Deru nafas yang kuhela dengan keras terdengar di lorong yang sepi ini. Hidupku benar-benar membosankan. Jika dibuat dalam diagram, bagian yang berisi makan, tidur, dan “kunjungan malam Mike” pasti akan memiliki persentase paling besar. Hanya itu saja, tidak ada hal menarik lainnya. Yang membuat sedikit perbedaan hanyalah saat mengganggu acara memasak di dapur dan bertamu ke pondok tuan Carter.
Ketika akhirnya mencapai belokan yang mengarahkan ke kamar, tiba-tiba di ujung sana kulihat seseorang dengan gaun putih berbelok menuju bagian ujung sayap timur ini.
Annabelle!
Aku tidak mungkin salah lihat, itu pasti Anna. Kupercepat langkah untuk menyusulnya. Tapi setibanya di sana ternyata tidak ada siapa-siapa. Sepanjang lorong sangatlah sepi. Aku yakin sekali tadi melihatnya. Kemana perginya gadis itu?
Aku terus berjalan menyusuri lorong, mencari-cari tempat menghilangnya Anna. Setelah kamar Mike dan kamarku, terdapat beberapa kamar lainnya pada lorong berikutnya. Kamar yang tidak pernah digunakan dan dibiarkan saja kosong. Apa mungkin gadis itu masuk ke dalamnya?
Dengan penasaran aku memeriksa satu persatu kamar tersebut. Tapi semuanya terkunci. Tentu saja, Jane pernah mengatakannya padaku saat kami melakukan tur keliling mansion saat itu. Kamar ini hanya akan dibuka bila ada tamu, atau jika aku dan Mike akhirnya nanti memiliki anak.
Anak?
Buru-buru kualihkan pikiran dan fokus pada Annabelle. Karena tidak mungkin jika gadis itu masuk ke salah satu kamar ini, kulanjutkan pencarian hingga mencapai ujung sayap timur.
Setelah sebuah belokan, aku menemukan sebuah pintu ruangan lainnya. Dengan penuh penasaran aku segera memutar knop hingga pintunya terbuka.
Tempat ini ternyata adalah sebuah ruangan yang penuh dengan barang-barang yang sepertinya telah lama tak terpakai. Mungkin ini adalah gudang. Kuedarkan pandangan ke sekeliling dan mendapati sebuah grand piano hitam yang bagian atasnya tertutup dengan kain putih di sisi kiri ruangan. Di hadapanku ada beberapa perabot lama yang sudah berdebu seperti meja dan kursi kayu tinggi berukir, beberapa gelas piala dan tempat lilin, tumpukan lukisan yang menempel di dinding dan di tutup dengan kain putih yang hanya menunjukkan bagian bawahnya saja, juga sebuah rak berisi peralatan makan dari perak di sebelah kanan.
Di ujung ruangan, ada sebuah pintu kecil yang sedikit terbuka. Kulangkahkan kaki menuju pintu tersebut dan menemukan sebuah tangga kayu berdiri kokoh di baliknya. Dengan penasaran aku berjalan menuju tangga tersebut. Melihat ke ujungnya, kurasa ini adalah jalan menuju loteng.
Perlahan aku mulai menaiki tangga satu persatu, dengan sangat hati-hati dan tidak menimbulkan bunyi. Ketika tiba di puncak tangga, kulihat pintu loteng berada tepat di atas kepalaku. Aku pun mengulurkan tangan untuk menggeser pintu tersebut.
Kutekankan kedua telapak tangan pada pintu kayu di atasku, membuatnya sedikit terangkat, lalu menggesernya. Pintu ini sedikit berat. Tapi setalah bersusah payah, akhirnya aku berhasil menggeser pintu tersebut untuk memberiku jalan memasuki loteng.
Di sini kosong. Tidak seperti ruangan di bawahku tadi yang penuh dengan perabot, tempat ini sangatlah bersih. Kusapukan pandangan ke sekitar dan langsung menangkap sosok Annabelle yang sedang duduk di dekat jendela kaca berbentuk bundar yang menempel di dinding. Aku yakin sekali bila tidak ada kaca tersebut loteng ini pastilah sangat gelap.
“Hai,” sapaku seraya berjalan mendekat.
Anna menoleh lalu tersenyum. Rambut panjang bergelombangnya tergerai indah di belakang punggungnya. Gadis itu masih mengenakan pakaian senada dengan yang kulihat kemarin, sebuah dress putih di bawah lutut.
“Halo, Nyonya,” balasnya tersenyum.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyaku lalu memilih untuk duduk di lantai kayu tepat di hadapannya.
“Menikmati makan siangku,” katanya menunjuk keranjang rotan yang ada di hadapan kami. Keranjang itu berisi beberapa roti dan sebotol s**u. “Apa Anda ingin mencobanya?” Ia menawarkan sebuah roti sebesar tomat yang ditaburi gula halus di atasnya. “Saya membuatnya sendiri.”
“Aku baru saja makan siang. Kurasa aku masih sangat kenyang,” tolakku sopan.
“Oh ayolah. Aku membuatnya sendiri. Aku bahkan tidak tahu apakah telah berhasil membuatnya atau tidak. Hanya satu gigitan saja kalau begitu,” katanya memohon. Roti tersebut terlihat sangat lezat. Dengan penasaran aku pun akhirnya menerima tawarannya.
Kugigit roti tersebut sedikit. “Ini enak,” pujiku saat merasakan kelezatan roti itu di mulutku. Ternyata gadis ini mengisi bagian dalamnya dengan selai berry. Rasanya sungguh nikmat.
“Senang mendengar Anda menyukainya, Nyonya,” katanya sambil tersenyum.
“Bagaimana kau membuatnya? Bisa ajari aku?” tanyaku yang mendadak antusias.
Ia tersenyum, manis sekali. “Dengan senang hati. Kapan pun Anda mau.”
“Baiklah, bagaimana kalau besok?”
“Tentu.”
“Oke, kalau begitu aku akan menunggumu di dapur besok pagi setalah sarapan,” janjiku.
“Baiklah,” ia mengangguk sekali lagi sambil tersenyum.
“Omong-omong, saat kita pertama kali bertemu kau sedang terluka. Bagaimana dengan lukamu?” Kulirik bagian kakinya yang dulu terlihat berdarah.
“Sudah sembuh, Nyonya.”
“Syukurlah,” kataku lalu tiba-tiba teringat sesuatu. “Ehm… mengapa saat itu kau pergi masuk ke dalam hutan? Bukankah seharusnya kau kembali ke dalam mansion?”
Ia tersenyum dan tampak salah tingkah. “Saat itu saya ingin kembali ke danau untuk berenang sebentar. Rasanya menyegarkan sekali berenang di sana sore hari.”
“Aku dengar dari salah satu pelayan, jalan menuju danau tersebut sangatlah berbahaya.” Aku bergidik ngeri membayangkan gadis ini melewati tebing-tebing yang curam itu untuk tiba di danau.
“Hanya sedikit,” jawabnya. “Kita harus melewati bagian dalam hutan terlebih dahulu, lalu melewati beberapa jalan kecil yang bila terpeleset akan segera mengantarkan kita pada bebatuan di bawah tebing dari ketinggian tiga puluh delapan kaki.”
Aku menelan ludah. “Tapi… kau baik-baik saja. Maksudku, kau tidak celaka karena hal tersebut.”
“Saya hanya telah terbiasa saja, Nyonya. Sebenarnya tidak terlalu berbahaya juga. Mungkin cerita yang pernah muncul di sana saja yang membuat para pelayan sedikit berlebihan.”
“Cerita tentang apa?” tanyaku penasaran.
Anna menatapku serius. “Dulu, tepatnya enam belas tahun yang lalu, seorang gadis kecil berusia lima tahun ditemukan mati mengapung di danau tersebut.” Aku mendengarkan ceritanya dengan hati berdebar-debar.
“Seperti yang saya katakan sebelumnya mengenai jalan menuju danau itu, tentu saja seorang gadis kecil tidak mungkin bisa mencapainya sendirian, bukan?” tanyanya yang membuatku mengangguk setuju.
“Mungkin karena hal tersebutlah para pelayan di mansion ini beranggapan bahwa ada penunggu hutan yang menculik gadis kecil itu lalu menenggelamkannya di danau. Sehingga mereka berkesimpulan bahwa jalan menuju danau tersebut sangatlah berbahaya untuk dilalui. Anda tahu, cerita yang terjadi dari mulut ke mulut pasti akan sangat berlebihan nantinya.”
Aku mengangguk setuju. “Lalu, siapa gadis kecil itu? Yang kutahu di sekitar sini tidak ada pemukiman penduduk.”
Gadis itu tersenyum samar. Ada rasa sedih yang terpancar di matanya. “Gadis kecil itu adalah adik master Michael.”
“Apa?!” Hatiku seperti diremas mendengarnya. “Apa tidak ada yang menjaganya saat itu?”
“Saya tidak tahu, Nyonya,” jawabnya lirih. “Saya tiba di sini satu tahun setelah kejadian tersebut.”
Aku menghitung-hitung usia adik perempuan Mike tersebut bila ia hidup sampai sekarang. Dua puluh satu tahun. Lebih muda satu tahun dariku.
“Yang saya tahu hanyalah saat itu si gadis kecil menghilang dari mansion dan semua orang mencarinya. Hingga pada suatu sore, salah satu dari pelayan masuk ke hutan dan mengikuti jejak kaki kecil hingga ke danau lalu menemukan mayatnya.”
“Oh, gadis kecil yang malang,” kataku sedih membayangkan kejadian itu. Aku yakin Mike pastilah sangat terpukul saat itu. Mungkin bila ia hidup hingga saat ini, aku pasti akan memiliki adik ipar yang sangat cantik.
Kepalaku mendadak terasa sedikit pusing karena memikirkan kejadian yang diceritakan Anna barusan. Kejadian ini pasti menimbulkan trauma mendalam bagi seisi mansion.
“Omong-omong, kenapa kau tidak makan di ruang khusus bersama yang lainnya?” tanyaku. Pandanganku terasa agak sedikit kabur. Kugelengkan kepala untuk menghilangkan pusing dan kabut dari mataku.
“Karena saya berbeda dengan mereka, Nyonya,” jawabnya sambil tersenyum.
Pandanganku semakin menggelap. “Maksudmu?” tanyaku sambil memegangi kepala.
“Ya, karena saya berbeda dengan mereka.” Hanya kata-kata itu yang kuingat sebelum akhirnya jatuh ditelan kegelapan.
***
Aku merasakan hawa dingin menyentuh kulit dan saat membuka mata kulihat kegelapan menyelimutiku. Seberkas cahaya masuk melewati jendela kaca yang ada di dinding sebelah kiri. Aku pun segera bangkit dari tidurku dan duduk sejenak memikirkan apa yang telah terjadi.
Aku tadi berkunjung ke pondok tuan Carter, makan siang, dan... ANNA!!!
Kuedarkan pandangan sekeliling. Aku berada di ruang kosong yang dingin dan gelap. Seorang diri. Tidak ada sosok Annabelle. Aku pun langsung berdiri dan melihat keluar jendela. Di luar sangat gelap, memberitahuku bahwa malam telah datang. Hanya cahaya bulan kini yang menjadi penerangku.
Aku memutar tubuh dan mencoba melihat ke dalam kegelapan. Ruangan ini terlihat sedikit lebih menyeramkan dari pada siang tadi.
Ya Tuhan, berapa lama aku tertidur di sini?
Kulihat pintu loteng tempatku muncul tadi tersorot cahaya bulan. Segera aku melangkah menuju pintu itu. Lantai kayu berderak ketika aku menginjakkan kaki dengan terburu-buru di atasnya.
Ternyata di bawah sangat gelap, tidak ada cahaya sedikit pun. Dengan sangat hati-hati aku melangkah turun dan memosisikan kaki dengan benar pada anak tangga. Kujulurkan kedua lengan ke depan agar aku tidak menabrak sambil menuruni tangga satu per satu dengan hati-hati.
Ketika akhirnya berhasil menginjakkan kaki di lantai, aku terus melangkah maju. Meraba-raba dalam gelap, sampai akhirnya kurasakan tanganku menyentuh pintu kayu yang tadi berada di depan tangga.
Kuingat-ingat caraku tiba disini tadi. Pintu masuk berada tepat di depan pintu kayu ini. Jika aku berjalan lurus, aku akan mencapai pintu dan keluar dari sini. Dengan langkah hati-hati aku melangkah terus ke depan, mencari-cari pintu masuk tadi.
Tanganku menyentuh kain putih penutup lukisan yang disandarkan di dinding yang kulihat tadi siang, membuat bulu kudukku merinding. Tapi aku memberanikan diri dan terus melangkah maju.
Tiba-tiba kakiku menendang sesuatu yang kutebak adalah tempat lilin, yang akhirnya menimbulkan bunyi berisik di lantai.
Karena bunyi yang kutimbulkan, kudengar langkah kaki diluar sana yang berjalan mendekat. Lalu tiba-tiba saja pintu di depanku mendadak terbuka. Cahaya terang dari lorong masuk ke dalam ruangan, membuat mataku seketika terasa sakit. Di depanku, berdiri Mike dengan raut wajah yang tidak bisa k****a. Di belakangnya ada Jane yang berwajah pucat dan beberapa pelayan lainnya.
“Ya Tuhan, Nyonya!” pekiknya dari arah pintu. “Syukurlah Anda baik-baik saja.”
Mike melangkah mendekatiku, menggenggam pergelangan tanganku lalu menarikku keluar dari ruangan itu. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya, tapi ia terlihat sangat marah. Ia bahkan tidak sadar jika tangannya mencengkeram lenganku dengan sangat kuat, meninggalkan rasa perih dan panas di sana. Beberapa pelayan berjalan di belakang kami dengan takut-takut.
“M-mike… ta-tanganku sakit.” Sedikit meringis, kumohon agar ia melepaskannya.
Mike tidak mendengarkan dan terus saja menarikku dengan paksa. Ia membawaku kembali ke kamar dan menghempaskanku hingga terduduk di ujung ranjang.
“Dari mana saja kau?” Nada bicaranya kali ini tidak sekeras saat ia marah seperti saat aku masuk ke kamarnya dulu, tapi bisa kurasakan ini jauh lebih mengerikan dari amarahnya saat itu.
“A-aku tadi siang hanya mengobrol dengan seorang pelayan di loteng,” jawabku jujur sambil mengusap pergelangan tangan yang terasa sakit akibat genggamannya tadi. Mike masih menatapku dengan sangat mengerikan.
“Namanya Annabelle. Aku pernah bertemu dengannya saat berjalan di sekitar mansion pada sore hari. Tapi saat itu ia sangat terburu-buru ingin pergi,” sambungku sambil menelan ludah. “Tadi, saat ingin kembali ke kamar aku melihatnya berjalan di lorong dan langsung mengejarnya. Kami hanya mengobrol sebentar lalu aku merasa pusing dan tertidur.” Mike masih saja diam dan menatapku marah.
“A-aku makan sebuah roti yang ia bilang adalah buatannya. Lalu tak lama setelah itu merasa pusing dan-“ Sebelum aku selesai menjelaskan, Mike berbalik dan berjalan menuju pintu. Ketika ia membukanya, kulihat beberapa pelayan berdiri di sana bersama Jane.
“Jangan pernah biarkan dia keluar dari kamarnya!” Perintahnya dengan nada tinggi lalu berjalan keluar.
Aku hanya diam menatap kepergiannya yang tidak mengatakan apa-apa lagi selain pertanyaan pertamanya tadi. Ia bahkan tidak memberi kesempatan padaku untuk menjelaskan semuanya. Mike yang barusan sangat berbeda dengan Mike yang tadi pagi. Ia bisa berubah dengan sangat mengerikan kurang dari dua puluh empat jam.
Jane dan beberapa pelayan masuk, membawakan makanan untukku. “Ini makan malam Anda, Nyonya.”
“Aku tidak lapar.” Apa yang terjadi barusan membuatku kehilangan selera makan.
Apa yang membuat Mike begitu marah? Dan apa itu barusan? Aku dilarang keluar kamar?
“Nyonya…,” bujuk Jane. “Saya senang Anda baik-baik saja. Tahukah Anda master Michael benar-benar sangat mengerikan tadi saat tahu Anda menghilang.”
“Aku apa? Menghilang?”
“Ya, kami semua mencari Anda sepanjang hari. Semua sudah berkeliling hingga masuk ke hutan,” terang Jane sambil meletakkan makanan di sebelahku. “Semua panik, Nyonya. Kami mencari dimanapun tapi tidak menemukan Anda, bahkan di gudang tadi sekali pun. Tapi syukurlah, ternyata Anda baik-baik saja.”
“Aku ada di loteng gudang itu, apakah kalian mencari sampai kesana?” tanyaku.
“Sayangnya tidak, Nyonya. Dan itu merupakan kebodohan kami. Tidak ada yang berpikir bahwa Anda akan memanjat naik kesana.”
“Aku minta maaf karena telah membuat kalian semua panik.” Aku yakin mereka semua pastilah menerima amarah Mike hari ini. “Tapi apa kau tahu mengapa Mike melarangku keluar kamar? Aku sama sekali tidak mengerti, apakah dia takut jika aku akan kabur?”
“Menurut saya master Michael hanya khawatir saja, Nyonya,” jawab Jane menenangkanku.
“Khawatir dengan marah dan mengurungku?” tanyaku sebal. “Bawa saja makanan itu keluar, aku benar-benar tidak lapar.”
“Apa Anda ingin mandi, Nyonya?” tanya salah seorang pelayan lainnya.
“Sebaiknya jangan, ini sudah malam,” sela Jane.
Aku melirik jam dan rupanya sekarang sudah pukul sepuluh malam. Wajar saja mereka semua mengaggapku menghilang. Aku telah tertidur selama lebih kurang sepuluh jam.
“Baiklah, kalau begitu saya akan membersihkan tubuh Anda saja,” ujarnya lalu membawakan sebuah baskom kecil berisi air hangat dan handuk.
“Silakan buka pakaian Anda, Nyonya, saya akan membersihkan tubuh Anda yang penuh debu,” ucap pelayan itu.
Kulirik tanganku. Benar-benar kotor. Dengan patuh aku lalu membuka pakaian dan membiarkan pelayan itu membersihkan tubuhku.