The Boss 05

1085 Words
Rere menatap sahabatnya tidak percaya, dia benar benar datang dengan penampilan yang sesuai dengan yang dia bayangkan sebelumnya, sweter kebesarannya dengan di padukan celana olahraga yang tidak kalah buruk dengan keadaanya, rambutnya di cepol asal sambil menenteng papan kerjanya kemana pun dia pergi maksudnya Laptop. "Kau benar benar keluar rumah dalam keadaan seperti itu" Ucap Rere sambil menatap Via yang dengan santainya berjalan ke arah sofa yang berada di tengah ruangan kemudian meletakan laptopnya di atas meja sebelum dia kembali berbalik menatapnya. "Memangnya kenapa dengan keadaanku,? " Tanya via acuh, respons yang sudah bisa Rere tebak jika dia berkomentar tentang penampilannya. "Lupakanlah, tidak akan ada pengaruhnya jika akun berkomentar" Jawab Rere akhirnya merasa lelah karena sudah sering kali dia menyarankan via untuk memperbaiki gaya berpakaiannya itu, ya setidaknya jika via ingin pergi keluar rumah seperti sekarang. pantas saja sampai saat ini sahabatnya itu masih betah melajang karena lebih memperhatikan tulisannya ketimbang penampilannya, tapi mungkin menjadi seorang via tidak lah buruk jika Rere pikir pikir, dia tidak harus menjadi korban lelaki sialan seperti Varo, hah membayangkan nya saja membuat Rere kembali naik darah, "Kau tidak menyuruhku datang hanya untuk melihatmu melamun bukan" Ucap via membuat Rere kembali tersadar dalam lamunannya, kemudian beranjak dari tempat tidur dan menghampiri via yang kini sudah mulai membuka layar laptopnya, "Hei setidaknya tanyakan dulu keadaanku sebelum kau membuka laptop sialan itu" Protes Rere membuat via langsung menoleh kearahnya. "Berhentilah memaki laptop kesayanganku ini, kau tahu berkat benda ini aku bisa hidup nyaman di apartemen mewahku dan juga tabunganku yang menggunung" Jawab via membanggakan hasil dari laptop yang selama ini dia gunakan sebagai sarana menulisnya. " Jika tabunganmu sudah menggunung setidaknya ganti laptop ketinggalan zaman itu dengan laptop masa kini, lihatlah bentuknya saja seperti kau menulis pada lipatan papan tebal” lagi lagi Rere mengejek laptop kesayangan sahabatnya itu. "Jika aku menggantinya aku rasa akan kehilangan keberuntunganku dalam menulis, kau tahu Kitty ini sumber inspirasi terbesarku dan sahabatku sejak aku masih menjadi penulis recehan" Kitty itu adalah panggilan laptop kesayangan yang via banggakan membuat Rere hanya menatapnya dengan malas. Jangan salah meskipun penampilan via jauh dari kata modis ataupun rapi dan terlihat seperti seorang pengangguran jalanan dia itu salah datu penulis terkenal dengan jumlah pembaca yang bisa di bilang tidak sedikit, dia itu terkenal di dunia maya tentunya karena via tidak pernah memunculkan identitas aslinya dia menggunakan nama samaran untuk penname nya dan foto animasi untuk foto profilnya, dan Rere tahu alasannya kenapa Via seperti itu karena dia tidak ingin di buat repot harus berdandan jika ingin keluar rumah jika dia terkenal. "Setidaknya carilah Kitty cadangan jika suatu saat Kitty mu itu rusak, lihatlah dia sudah tua renta bisa bisa besok atau lusa riwayatnya sudah tamat" Ejek Rere kembali yang selalu berhasil membuat via marah hanya karena masalah laptop ketinggalan zamannya itu. "Berhentilah menghina kittyku dan cepat  ceritakan ide yang kau sebutkan ditelepon padaku" Ucap via membuat Rere mendengus. "Jadi kau benar benar datang hanya untuk mendengarkan ide cerita ku,? " Tanya Rere tidak habis pikir yang hanya ditanggapi acuh oleh via. "Itu salah satunya, lagi pula aku sudah melihatmu dalam keadaan baik baik saja" Jawab Via membuat Rere rasanya ingin sekali mencekiknya saat ini juga "Kau tidak lihat perban yang masih melilit di kepalaku, lalu ini dan ini kau tidak lihat" Ucap Rere kesal sambil melihatkan beberapa luka lebam di bagian d**a dan kakinya "Kau masih sehat Re buktinya kau masih kuat untuk marah marah saat ini dan menghina Kitty ku tadi" Jawab via acuh membuat Rere mendengus. "Baiklah lupakan, kau selalu berhasil membuatku ingin membuang kittymu saat ini juga" Kesal Rere "Lalu di mulai dari mana kisah romance yang kau ceritakan itu" Tanya Via antusias "Hah kau terlalu, kau benar benar akan menulisnya" "Tentu saja jika ceritamu menarik" "Menarik bagimu tapi tidak untukku" "Baiklah nanti endingnya bisa kita ubah jika kau menginginkannya agar terlihat menarik” jawab via sambil tersenyum lebar dan menampilkan deretan giginya. "Hei kau saja belum mendengar prolognya kenapa langsung ingin mengubah endingnya, penulis macam apa kau ini" "Berhentilah menggerutu dan ceritakan" Ucap via yang kini meraih kitty dari atas meja dan meletakannya di pangkuannya sambil berbalik menatap kearah via, jari jarinya sudah siap mengetikkan cerita yang akan Rere katakan padanya. "Ini kisah cinta antara Varo dan Lilian" Ucap Rere membuat gerakan jari via terhenti kemudian menatap ke arah sahabatnya itu yang kini menampilkan raut wajah sedih bercampur kesal. "Rasanya kedua nama itu familiar" Ucap via sambil mencoba mengingat ngingat nama yang Rere sebutkan. "Bukankah itu nama calon suamimu" Tebak Via membuat rasa kesal Rere bertambah berkali kali lipat. "Berhenti memanggil b******n itu calon suamiku" Geram Rere membuat Via akhirnya meletakkan kembali kittynya ke atas meja dan kini perhatiannya sepenuhnya pada Rere. "Aku rasa untuk kisah yang satu ini aku harus benar benar menyimaknya dengan seksama" Ucap via dengan raut wajah yang menantikan kelanjutan cerita sahabatnya itu. "Mereka berselingkuh" "What the f " Via hampir saja mengumpat mendengar perselingkuhan itu, dia memang tipe wanita yang paling anti dengan cowok semacam Varo ya mungkin semua wanita bukan hanya Rere dan via, untuk itulah via memilih masih sendiri sekarang ketimbang harus memelihara makhluk batangan seperti mereka pikir via. "Kau sedang bercanda" "No I'm serious" "Oke baiklah aku mendengarkanmu" "Aku baru tahu mereka selingkuh beberapa hari yang lalu saat sebelum kecelakaan terjadi" "Jangan katakan kau kecelakaan karena memikirkan mereka" Tanya via "Bisa di bilang begitu" "Hah kau menyedihkan sekali" Ejek via "Hei aku tidak sengaja menabrak pembatas jalan dan itu murni kecelakaan yang tidak disengaja jangan pikir kau menganggapku ingi menghabisi hidupku hanya karena mereka" "Tapi tetap saja kau berakhir menyedihkan dengan perban itu" Ucap via sambil menatap perban di kepala Rere. "Lupakanlah aku sudah tidak berminat menceritakannya padamu, kau menyebalkan" Kesal Rere kemudian beranjak dari duduknya dan berjalan kembali ke tempat tidur "Hei itu salahmu, bukankah dari awal aku sudah memberitahumu bahwa lelaki semacam Varo itu tidak akan cocok denganmu tapi kau bersikeras" "Tapi awalnya hubungan kami berhasil bukan sampai 3 tahun lamanya" Protes Rere yang tidak terima jika via seolah menyalahkannya membuat via menghembuskan nafas panjangnya. "Dengar baik baik nona kamil, kau mungkin tidak tahu sudah berapa lama mereka bermain main di belakangmu, atau lebih parahnya lagi kau mungkin tidak tahu berapa wanita yang sudah menjadi rivalmu sejak awal hubungan kalian, Varo itu tipe lelaki yang tidak akan pernah puas hanya bertahan dengan satu wanita dalam waktu yang mama, " Ucap via membuat Rere terdiam sambil memikirkan semua perkataannya yang menurut Rere ada benarnya, tidak menutup kemungkinan semua tuduhannya kepada Varo itu benar dan Rere baru menyadarinya. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD