Rere menggosok telinganya yang memerah akibat mendengarkan ceramah panjang dari mama nya sebelum Camila meninggalkannya seorang diri di ruang rawat inap super VVIP itu, lalu Varo jangan tanyakan lelaki b******k itu, Rere bahkan ingin sekali mengusirnya saat pertama kali melihat wajahnya saja jadi kepergiannya tidak jadi masalah bagi Rere,
Ya kepergian Camila dan juga Varo dikarenakan mereka tidak setuju dengan penolakan Rere terhadap rencana pernikahan nya dengan Varo, Rere yakin saat ini calon suaminya itu pasti sangat bingung karena tiba tiba Rere menolak pernikahan mereka, tentu saja karena sebelum sebelumnya Rerelah yang terlihat antusias dengan rencana pernikahan mereka berbanding terbalik dengan penolakan yang dia lontarkan beberapa saat yang lalu.
Rere tidak peduli apa yang akan Varo pikirkan tentangnya yang jelas Rere menjadi muak dengan sikap ke pura puraan nya yang terlihat seperti lelaki tampan yang sempurna padahal sangat busuk, lihat saja Rere akan membongkar permainan busuk antara Calon suaminya dan bawahannya itu, Rere kembali geram saat membayangkan mereka yang sedang b******u di dalam mobil.
"Apa mereka terlalu miskin hanya untuk menyewa kamar hotel, dan malah melakukannya di dalam mobil" Gumam Rere merasa jengkel karena gara gara mereka Rere harus mengingat ngingat kejadian menjijikkan tersebut.
Rere kemudian mengelus pelipisny yang masih terlilit perban di kepalanya, untung saja kecelakaan yang menimpanya hanya mampu memberikan sedikit luka di pelipisnya dan beberapa lebam di tangan dan lututnya, Rere kemudian mencoba untuk turun dari tempat tidur dengan susah payah seorang diri karena mama tercinta nya tidak memberikannya seorang perawat khusus untuk membantu kegiatannya, alasannya Karena Rere di hukum akibat sikap konyolnya menurut Camila, padahal Rere menolak pernikahan tersebut dalam Keadaan sadar dan waras.
Rere kemudian berjalan perlahan sambil memegang infusannya hendak ke kamar mandi namun langkahnya terhenti saat sekelebat bayangan seseorang melintas di pikirannya, Rere memiringkan kepalanya dan mencoba mengingat ngingat orang tersebut.
"Siapa dia" Gumam Rere sambil perlahan kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi sambil terus menggali ingatannya dan detik berikutnya Rere teringat seseorang tersebut dan berbalik dengan cepat membuatnya meringis karena pergelangan kakinya yang masih terasa ngilu jika dibawa berjalan cepat.
"s**t" Umpat Rere kemudian kembali berjalan perlahan menuju telepon yang berada di atas meja tidak jauh darinya, Rere mencoba menanyakan kepada perawat jaga siapa yang sudah mengantarkannya ke rumah Sakit.
"Sus apa Anda tahu siapa yang sudah membawa saya ke rumah sakit ini,? " Tanya Rere melalui sambungan tteleponny.
"Anda dari kamar mana,? " Tanya suster membuat Rere melihat kamar yang dia tempati saat ini sambil mengerutkan keningnya.
"Entahlah aku tidak tahu, yang jelas aku menempati kamar super VVIP" Jawab Rere asal karena melihat kemewahan ruang inapnya ini
"Nama Anda? " Tanya suster tersebut
"Revanza kamil" Jawab Rere kemudian hening sesaat, mungkin si suster sedang memeriksa data dari Rere dan ternyata benar.
"Anda di antar oleh seorang pria” jawab si suster.
" Pria" Gumam Rere
"Betul"
"Boleh saya minta nomor ponselnya atau datanya maybe" Ucap Rere, suster tersebut pasti memiliki salah satu dari yang dia minta bukan karena biasanya seperti itu untuk kasus kecelakaan, mereka tidak mungkin untuk tidak meminta data orang yang mengantar korban, dan tebakan Rere benar si suster menyebutkan rangkaian angka yang langsung Rere tulis, dan mematikan sambungan teleponnya setelah mengucapkan terima kasih pada si suster.
Rere kemudian kembali berjalan ke arah tempat tidur dan mencari benda pipih dan juga barang barangnya sebelumnya yg dia bawa saat kecelakaan,
Ternyata benar orang tersebut juga mengemssi barang berharga Rere yang berada di dalam tas seperti dompet dan juga yang lainnya,
Rere langsung mengaktifkan ponselnya dan mencoba untuk langsung menghubungi nomor yang suster tadi berikan, mengabaikan notifikasi notifikasi yang terus memenuhi layar ponselnya.
Rere hendak langsung menelepon pria tersebut namun langsung Rere urungkan
"Apa sebaiknya aku mengirim pesan terlebih dahulu" Gumam rere mencoba memikirkan langkah yang harus dia ambil setelahnya Rere membatalkan niatnya untuk menelepon dan memilih untuk mengirimi pria tersebut pesan singkat
"Apa kau yang menolong aku pas saat kecelakaan itu" Ketik Rere kemudian langsung mengirimkannya pada nomor yang saat ini belum memiliki nama tersebut,
Rere kemudian memilih untuk beranjak dari tempat tidur dan duduk santai di sofa sambil menunggu balasan dari nomor tersebut,
Semenit kemudian ponsel Rere kembali berbunyi dan melihat balasan dari pesan yang dia kirim
"Iya" Balasnya singkat padat.
Membuat Rere kembali menjawab pesan nya tersebut
" terima kasih sudah menolongku" Jawab Rere
"sama sama" Jawabnya kembali singkat dan padat membuat Rere mengerutkan keningnya.
" Sebagai ucapan terima kasih bagaimana jika kita bertemu, saya harus berterima kasih secara langsung kepada Anda” balas Rere
" Tidak perlu, saya menerima ucapan terima kasih Anda" Jawabnya membuat Rere mendengus.
"Aku hanya berusaha bersikap sopan kenapa dia merespons berlebihan seperti itu, " Dengus Rere merasa sedikit kesal karena sikap dari si penolongnya itu yang terkesan angkuh. Rere pun memilih untuk menghidupkan televisi di depannya dan mencoba mencari chanel yang menarik namun detik berikutnya Rere kembali menatap kesal kearah ponsel yang tergeletak di atas meja di depannya, entah kenapa jawaban dari pria yang membalas pesannya tersebut meninggalkan kekesalan yang luar biasa di hatinya.
"Memangnya aku hendak membawanya kencan apa, kenapa dia menolakku mentah mentah seperti itu" Gerutu Rere kembali pada ponselnya setelah itu melemparkannya kembali ke sofa di pinggirnya.
Dering ponsel selanjutnya membuat Rere kembali meraihnya dan melihat beberapa notifikasi pada ponselnya ada beberapa email dari kliennya dan juga Lilian, Rere mendengus saat melihat email dari Lilian dan melewatkannya, setelah itu Rere melihat pesan masuk dari kakaknya dan kakak iparnya setelah itu dari papa tercintanya kemudian dari orang yang membuatnya berakhir di rumah sakit selanjutnya selain lilian yaitu Varo,
Rere kemudian membaca pesan dari calon suaminya itu..
"Sugar apa keadaanmu sudah membaik, aku harap kita bisa berbicara empat mata tentang masalah sebelumnya" Isi pesan dari Varo membuat Rere mendengus kemudian menutup pesannya tanpa berniat untuk membalasnya, Rere kembali menscroll layar ponselnya dan berhenti pada pesan masuk dari sahabat tercintanya Via,
"aku dengar kau kecelakaan, kau baik baik saja bukan"tulis via membuat Rere langsung membalas pesannya tersebut.
" Ya kau sudah tahu beritanya tapi kau masih belum menjengukku sampai sekarang" Balas Rere.
" Ah sorry aku masih sibuk, kau tau bukan aku wanita karier dengan segudang kesibukan, jadi aku akan mencari cari waktu luang untuk menjengukmu" Jawa via membuat Rere tersenyum meremehkan sambil membalas pesan dari sahabat tercintanya itu
" Kesibukan apa, paling dia sedang menatap layar laptopnya menggunakan suiter kebesaran dan rambut di cepolnya tidak lupa camilan segunung untuk menemaninya" Tebak Rere yang kini sedang membayangkan sahabatnya itu yang seorang penulis di salah satu aplikasi ternama di Indonesia,
" Baiklah apapun kesibukan mu sebaiknya kau menyempatkan untuk datang karena aku punya ide cerita untuk cerita romance mu" Tulis Rere setelah itu mengirimnya dan kembali meletakkan ponselnya di sofa di sampingnya dan menikmati waktu santainya sambil menonton drama Korea kesukaannya.