The Boss 03

1077 Words
"Erina tadi datang" Ucap seseorang dari arah pintu masuk saat Hazel meletakan tas kerjanya dan mulai membuka kancing bajunya satu persatu, Hazel terdiam sejenak mengingat Nama Erina yang kakeknya sebutkan. "Jangan bilang kau tidak mengingat namanya,? " Tebak si kakek yang kini sudah melipat kedua tangannya dan menatap lelah ke arah cucu laki lakinya itu. Sedangkan Hazel hanya mengangkat bahunya acuh saat Kakeknya mendesah lelah oleh sikap acuhnya. "Sudah aku katakan, setidaknya kau pilih salah satu dari mereka agar aku hanya meladeni satu dari ketiga wanita yang kerap datang kemari hanya untuk mencuri hatiku agar bisa memiliki nomor ponsel mu saja" Ucap Faisal terlihat frustrasi. "Kakek hanya perlu mengabaikan mereka" Jawab Hazel Acuh yang kini terlihat berjalan ke arah lemari dan mengambil kaos oblong dan meloloskannya melewati kepala untuk membungkus tubuhnya yang terlihat sangat sempurna di mata para wanita yang melihatnya, tubuhnya tidak terlihat sangat besar namun beberapa otot melekat sempurna pada tubuhnya seperti mengetahui posisi mereka yang akan menyempurnakan wajah tampannya yang selalu membuat kita kaum wanita berdosa hanya karena terus mengumpati wajah tampannya itu. "Bagaimana bisa aku mengabaikan mereka jika mereka datang dengan buah tangan" Ucap Faisal kembali membuat Hazel tersenyum renyah, senyum yang hanya akan dia tampilkan di depan Faisal saja, "Kakek mata Duitan" Ejek Hazel kemudian merebahkan tubuhnya di atas single bad sambil menghidupkan kembali ponselnya yang beberapa jam yang lalu dia matikan, Meskipun Hazel tidak pernah sembarangan mengobral nomor ponselnya kepada siapa pun namun entah dari mana para penguntit itu bisa mendapatkan nomor barunya dan selalu memenuhi kotak masuk pesan di ponselnya, seperti saat ini baru saja Hazel meng aktifkan kembali ponselnya, nada dari benda tersebut tidak berhenti berbunyi saking banyaknya notifikasi yang masuk, membuat Hazel berdecak kesal karena harus kembali menghapus satu persatu pesan tidak penting dari mereka yang akan memenuhi inboknya. "Apa salah satunya ada dari Erina,? " Tanya Faisal membuat gerakan tangan Hazel terhenti dan langsung menatap ke arah kakeknya tersebut. "Kakek memberikan nomor ponselku padanya,?" Tanya Hazel membuat Faisal mengangkat bahunya acuh. "Aku terpaksa memberikannya karena tidak enak hati, dari tiga wanita yang terakhir terus mengunjungiku dia yang selalu paling royal dan itu membuatku berdosa karena selalu menolak memberikan nomor ponselmu" Ucap Faisal membuat Hazel malah berdecak kesal bagaimana bisa kakeknya itu kalah dengan barang barang yang selalu mereka bawakan untuknya, tidak salah jika Hazel mengejek kakeknya dengan sebutan mata duitan bukan. "Ya dan kakek membuatku terus merasa menjadi seorang cucu yang di jual oleh kakeknya sendiri" Gerutu Hazel yang kembali menatap benda pipih ditangannya . "Hei aku hanya memberikan nomor ponselmu  saja, Bagaimana bisa kau mengatakan ku seolah olah aku menjualmu ke rumah bordir" Ucap Faisal tidak terima dengan perumpamaan yang Hazel berikan padanya. "Ya ya kakek menang, setidaknya besok kakek hanya akan meladeni 2 dari wanita yang biasa mengunjungi kakek bukan" Ucap Hazel acuh menanggapi wajah suram dari kakeknya, Faisal Kemudian menghembuskan nafas panjangnya sambil menatap ke arah Hazel. Cucunya itu, Faisal kadang merasa bingung dengan sikap dingin yang cucunya miliki, padahal seingatnya dia dulu adalah lelaki yang ramah pada setiap wanita yang mendekatinya, kalian jangan salah wajah Faisal Dan Hazel tidak jauh berbeda saat Faisal se umuran dengannya, hanya saja wajah Hazel terlihat sedikit lebih tampan karena memiliki campuran timur tengah, membuatnya terlihat lebih mengagumkan di mata para wanita. "Apa aku menikahkan mu saja agar mereka tidak lagi mengganggumu" Gumam Faisal merasa idenya adalah ide terbaik agar cucunya itu menghilangkan sifat dinginnya. "Maksud kakek menggangguku" Ucap Hazel "Hei kau hanya menanggapi mereka dengan sangat biasa dan memberikan tatapan tajam matamu itu membuat mereka hanya akan merengek padaku setelahnya, bagaimana bisa kau menyebut mereka mengganggumu, lebih tepatnya mereka mengusikku" Sanggah Faisal kembali merasa tidak setuju dengan yang di katakan Hazel. "Bukankah kakek menyambut mereka dengan sangat ramah dan dengan senang hati membawa mereka mengelilingi kebun kakek dan berbincang hangat sambil menikmati secangkir teh di beranda rumah" Ucap Hazel tidak setuju dengan kata mengganggu yang diucapkan kakeknya itu, padahal Kakeknya itu terlihat sangat menikmati waktu nya saat mereka datang karena membuat Faisal terlihat mempunyai teman mengobrol selain dirinya, "Hei itu karena memang pembawaanku yang ramah, aku tidak tega membiarkan tamu begitu saja" Sanggah Faisal kembali tidak setuju dengan tuduhan yang Hazel berikan padanya, Rumah mereka memang sedikit berjarak dari rumah rumah lainnya, membuat Faisal kadang jarang sekali terlihat berbaur dengan warga sekitar kecuali ada dua sahabatnya yang kadang mengunjunginya sambil melihat kebun Faisal. Dan sepertinya Faisal menikmati kedatangan para tamu wanita wanita yang hanya sengaja datang untuk mendekatinya karena ada motif tertentu yaitu tentu saja agar mereka bisa dekat dengan Hazel dengan cara mengambil Hati Faisal terlebih dahulu dan kakeknya itu menyambut mereka dengan senyum ramah dan tangan terbuka. Hazel mendengus saat nomor baru yang memperkenalkan namanya dengan nama Erina masuk dalam inboknya, ternya benar kakeknya itu memberikan nomor ponselnya setelah menerima berjuang selama beberapa bulan ini mendekati kakeknya itu, "Kenapa Kau menatapku seperti itu" Ucap Faisal yang masih berdiri di ambang pintu saat Hazel menatapnya dengan tatapan tidak suka. "Apa kakek tidak ada pekerjaan lain" Tanya Hazel yang heran karena Faisal masih belum beranjak dari pintu kamarnya. "Tidak" Jawab Faisal kesal "Kakek sudah memberi makan itik itik kakek,? "tanya Hazel kembali. " Mereka bisa makan sendiri dan tidak perlu aku suapi" Jawab ketus Faisal membuat Hazel mengangkat sebelah alisnya, jangan katakan jika kakeknya itu kembali merajuk padanya karena akan sangat sulit membujuknya membuat Hazel menghembuskan nafas lelahnya "Lalu aku harus bagaimana,? " Tanya Hazel akhirnya karena mengetahui alasan kekeknya kembali bertingkah kekanakan dan lihatlah akhirnya Faisal kembali menatap ke arahnya meskipun masih dengan tatapan kesal. "Setidaknya pilih dari sekian banyak wanita yang katamu mengganggu itu untuk kau pacari, agar mereka berhenti berharap dan mengejarmu, apa kau tidak kasihan selalu membuat mereka menerima harapan palsu" Ucap Faisal membuat Hazel berdecak, selalu perkataan seperti ini yang Faisal katakan padanya. "Aku bahkan tidak meladeni mereka bagaimana bis kakek mengatakan aku memberikan harapan palsu" "Dengan kau masih berstatus lajang saja  itu sudah membuat mereka berharap bodoh” kesal Faisal setelah itu pergi meninggalkan Hazel yang masih menatap punggung kakeknya itu menjauh dari kamarnya membuat Hazel mengembuskan nafas panjangnya, kenapa juga kakeknya bersusah payah memikirkan para wanita itu pikir Hazel, dirinya saja menganggap mereka hanya sekelompok pengganggu yang akan terus terlihat bodoh jika sudah menatap wajahnya. Gerakan tangan Hazel berhenti saat membaca sebuah pesan dari nomor baru yang lainnya. " Apa kau yang menolongku saat kecelakaan itu" Isi pesan tersebut membuat Hazel terdiam sejenak kemudian mulai mengetik balasan pesan yang hanya satu satunya dia balas dari sekian banyak pesan yang masuk. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD