Bunyi dari alat Elektrokardiogram memenuhi ruangan dengan fasilitas VVIP dengan nuansa tembok berwarna Gold dan juga coklat, jauh dari kesan rumah sakit pada umumnya yang berbau obat dengan keseluruhan tembok berwarna putih. Di kamar ini fasilitas lengkap seperti menyewa satu rumah beserta isinya.
Rere yang sejak semalam dirawat di Rumah sakit perlahan mulai membuka matanya, kesadarannya mulai kembali sepenuhnya dan rasa sakit di bagian kepala mulai menghinggapinya, seluruh memori semalam yang dia alami pun ikut memenuhi kepalanya dan membuatnya semakin berdenyut hebat. Refleks Rere pun langsung memegang kepalanya yang kini di lilit sebuah perban.
Rere hampir saja mengumpat dengan keras saat orang yang pertama kali dia lihat adalah orang yang ikut andil besar dalam kecelakaan tunggal yang dia alami semalam.
"Re apa kau baik baik saja” tanya Varo dengan wajah khawatirnya,
Cih munafik batin Rere
Jika saja Rere belum tahu kebusukan pacar sekaligus calon suaminya ini semalam mungkin saat ini Rere akan terharu dan langsung bermanja manja kepada Varo tapi berbanding terbalik malah Rere saat ini ingin memukul wajah nya yang memang terlihat selalu tampan dalam keadaan apa pun dan Rere selalu kalah untuk hal itu, tapi untuk kali ini Rere tidak akan mentolerir sikap Varo yang sangat menjijikkan di mata Rere, apalagi dia berselingkuh bersama teman baik sekaligus manager divisi dikantornya yaitu Liliana.
"Sugar katakan sesuatu" Ucap Varo kembali membuat Rere senyum mengejek pada dirinya. Kata kata manis yang dia ucapkan terdengar sangat beracun di telinga Rere dan membuatnya muak. Saking muaknya Rere bahkan ingin memuntahkan seluruh gombalan yang selama ini Varo katakan pada dirinya tepat langsung di wajahnya itu.
"Rere, apa ada yang kau rasakan saat ini,? " Kali ini Rere beralih menatap wanita paruh baya yang wajahnya mirip seperti dirinya ah atau dirinya yang terlihat mirip seperti wanita itu, tentu saja karena dia adalah Camila ibu dari Rere yang kini berusia 52 tahun tapi masih terlihat seperti baru memasuki usia empat puluh tahunan.
"Katakan sesuatu Re jangan membuat kami khawatir" Ucap Camila kembali dengan raut wajah khawatir yang nyata berbeda dengan orang munafik di sebelah tempat tidurnya kini yang juga tengsh menatap ke arahnya
Rere kemudian mencoba mendudukkan dirinya dengan sedikit usaha karena tubuhnya yang terasa begitu lemas membuat Varo langsung memegang bahunya dan membantu Rere untuk duduk bersandar.
"I'm Fine Ma" Ucap Rere membuat Camila dan juga Varo bernafas lega, pasalnya mereka sudah berpikiran buruk dengan keadaan Rere yang tidak kunjung merespons ucapan mereka, di tambah melihat mobil Yang Rere gunakan semalam yang terlihat hancur di bagian depan membuat Camila dan Ben langsung di buat panik mendengar anak bungsunya itu mengalami kecelakaan tunggal.
Rere memang anak kedua dari keluarga kamil dia mempunyai kakak lelaki yang terpaut lima tahun usia mereka.
Reynaldy kamil yang kini mulai mengambil alih sebagian Hotel yang keluarga merek miliki.
" No, you're not doing well" Ucap Camila sedikit kesal karena Rere selalu kurang memperhatikan kondisi tubuhnya sendiri dengan segudang kesibukannya sebagai CEO RV style
"Sudah berapa kali Mama katakan untuk tidak menyetir seorang diri Re"lanjut Camila membuat Rere menghembuskan nafas kasarnya.
" Untung saja kau hanya luka ringan di bagian kepala dan hanya mobil mu saja yang terluka berat dan harus di buang"
"Apa, mobil ku__" Seru Rere yang harus menerima mobil kesayangannya di buang begitu saja dan itu gara gara lelaki yang kini menatapnya dengan tatapan iba.
Rere tidak akan terima begitu saja semua kejadian buruk yang menimpanya dan Rere menyalahkan semua kesialannya itu pada Varo dan juga Lilian
Rere berjanji akan membalas keduanya dengan cara yang lebih menyakitkan.
Lihat saja batin Rere
Rere kemudian mengalihkan pandangannya je seluruh ruangan inap dirinya yang luas dan nyaman namun tidak melihat papanya (Ben) dan juga kakaknya (Rey) atau pun kakak ipar nya(Kanza)
"Di mana papa dan Rey,? " Tanya Rere
"Mereka sedang keluar kota sejak kemarin" Jawab Camila sambil berjalan ke arah meja pantry untuk mengambil buah buahan segar yang sudah u potong sebelumnya kemudian Membawanya ke hadapan Rere.
"Makan ini" Lanjut Camila sambil meyodorkan mangkuk berisi buah buahan tersebut.
"Biar Varo yang menyuapi Rere" Sela Varo sambil meraih mangkok tersebut kemudian mulai menyuapi Rere namun Rere tidak langsung membuka mulutnya dengan mudah sejenak Rere melihat buah yang di tusuk menggunakan garpu itu didepan matanya rasanya Rere ingin sekali memakan buah itu dan menggunakan garpunya untuk menikam jantung lelaki sialan kini.
"Ayo aaaa" Ucap Varo yang melihat Rere hanya terdiam setelah itu barulah Rere menerima suapan dari Varo dan mengunyahnya perlahan.
Rere Mengalihkan kembali pandangannya pada Camila yang tengang membereskan tas tangan dan ponselnya.
"Lalu Kanza,? " Tanya Rere
"Dia sudah pukang, tadi dia datang sebentar melihat kondisimu karena Rey tidak mengizinkannya terlalu lama di luar rumah" Jawab Camila membuat Rere berdecak karena tingkah over protektifnya itu kepada Kanza dan hak tersebut tidak luput dari perhatian Camila
"Kau juga akan merasakannya nanti jika kau tengah hamil tua, Varo pasti akan over protektif dua kali lipat padamu" Ucap Camila seakan mengerti dari ejekan yang Rere tampilkan dan perkataan Camila tersebut membuat Varo tersenyum lain dengan Rere yang terlihatbGeram bercampur muak.
"Ah ya mama lupa menyampaikan pesan dari papa mu, papamu berencana mempercepat acara pernikahan kalian" Ucap Camila membuat keduanya terkejut, Rere menyipitkan matanya melihat karah Varo, tentu saja dia tidak akan setuju karena mempertimbangkan selingkuhannya itu batin Rere namun di luar dugaan Rere, ternyata Varo malah menyambut perkataan Camila dengan ekspresi bahagia berbeda dari ekspresi yang dia tampilkan sebelumnya,
Ternyata dia bukan hanya berbakat menjadi model tapi juga seorang aktor batin Rere.
"Bagaimana menurut mu Varo,? " Tanya Camila membuat Varo langsung mengangguk kan kepalannya” tentu saja ini keputusan yang tepat Tante, dan aku tidak sabar menantikannya sejak kama" Jawab Varo membuat Camila tersenyum bahagia namun tidak dengan Rere.
Rere menarik nafas dalamnya dan sedetik kemudian membuat senyum dari keduanya sirna
"Rere menolak pernikahan ini" Ucap Rere
***
Sehari sebelumnya
Dia merogoh ponselnya dan membaca sebuah pesan dari seorang bernama Sandra " Semangat kau pasti bisa" Tulisnya dalam pesan singkat tersebut membuat si penerima pesan menarik sudut bibirnya sangat tipis, dia hendak membalas pesan tersebut namun seseorang terlebih dahulu memanggil namanya
"Hazel Malano" Serus seseorang membuat Laki laki berperawakan tinggi itu pun berdiri dan masuk kesalah satu ruangan yang sebelumnya sudah ditunjuk oleh wanita yang memanggilnya tadi.
"silakan duduk" Ucap seorang Wanita yang menjabat sebagai manager divisi bernama Liliana yang tengah membolaku balikkan kertas di tangannya yang merupakan data diri dari Hazel beserta riwayat pekerjaan dan prestasi yang dia raih sebelum melamar di RV style ini.
"Selamat kau sudah di terima di Rv ini, jadi sekarang aku akan memberitahu tugas mu disni, sebelumnya perkenalkan aku Lilian manager divisi dan kau akan bertugas sebagai Features Editor, Bagaimana,? Apa menurutmu kau bisa menjadi peranmu itu,? Atau kau merasa tidak cocok dengan tugas- tugas yang aku berikan,? " Tanya Lilian dengan nada tegasnya namun masih menyelipkan senyum ramah di bibirnya, persis seperti seorang pemimpin Wanita yang berwibawa di mata bawahannya menurut Hazel.
"Tidak, tentu saja saya menerimanya dengan senang hati” jawab Hazel, tentu saja dirinya tidak akan menolak pekerjaan barunya ini setelah sebelumnya dia gagal melamar di beberapa perusahaan lainnya.
" Benarkah,? Kau yakin sebelum aku menandatangani surat kontrak kerjamu" Tanya Lilian kembali membuat Hazel menganggukkan kepalanya.
"Baiklah kalau begitu selamat bergabung di Rv style dan selamat bergabung di divis ku, " Ucap Lilian sambil mengulurkan tangannya dan di sambut baik oleh Hazel.
Hazel Malano berusia 23 tahun yang selalu bermasalah dengan wajah tampannya itu, terkadang Hazel sehari hari menggunakan masker karena tidak ingin terlalu mencolok di mata publik,
Dia mempunyai wajah yang kecil namun garis rahang yang tegas, hidungnya yang tinggi dan kecil membuat kedua matanya jauh terlihat lebih menonjol dengan warna Hazel yang indah seperti nama depannya.
Dia sempurna tentu saja tidak karena dia tipe lelaki yang sulit di dekati seseorang baik wanita maupun pria,
Hazel mempunyai sifat dingin tidak tersentuh dan sifat kurang pekanya terhadap lawan jenis Yang kadang membuat para wanita yang mengejarnya akan menyerah begitu saja untuk mereka yang tidak mempunyai mental yang kuat karena tidak tahan dengan sifatnya itu. Salah satu yang bertahan dan termasuk yang bermental Kuat itu adalah Sandra.
Dia teman satu SMA dengan Hazel dan sejak saat itu Sandra menaruh hati pada Hazel yang mempunyai wajah perpaduan antara timur tengah dan Amerika Tengah itu namun saat ini Hazel tinggal diIndonesia menemani kakeknya yang tinggal seorang diri semenjak kepergian neneknya tujuh tahun yang lalu, dan semenjak itu Hazel pindah ke Indonesia berpisah dari kedua orang tuanya dan kedua adiknya yang tinggal di Amerika.
Sandra tersenyum lebar sambil melambaikan tangannya pada Hazel saat dirinya datang bersama Lilian membuat para karyawan berdiri dari kubikel kerja mereka untuk melihat karyawan baru yang katanya sangat tampan itu. Dan benar saja bisik bisik sudah terdengar di antara mereka saat Hazel dan Lilian berdiri di hadapan mereka
"Baiklah teman teman ini Hazel mangsa baru kalian" Ucap Lilian membuat para karyawan wanita langsung bersorak riuh menanggapi ucapan Lilian
"Dia Hazel yang akan menjadi Features editor di divisi kita, dia berusia 23 tahun dan single" Lanjut Lilian yang kembali di tanggapi heboh oleh karyawan wanita
"San kau mengenalnya,? " Tanya Flora saat sebelumnya melihat Sandra melambaikan tangannya pada Hazel.
"Tentu saja di teman baikku" Jawab Sandra dengan bangganya membuat Flora berdecak melihatnya.
"Perkenalkan saya Hazel dan saya mohon kerja samanya___" Ucap hazel yang di tanggapi berbagai reaksi dari teman divisinya
Ada yang menyahut
"Tentu saja aku dengan senang hati akan membantumu"
"Aku padamu Hazel"
"Jangan sungkan untuk menelepon ku Hazel" Riuh tanggapan dari para teman wanita divisinya namun ucapan Hazel berikutnya membuat seisi kantor kembali semakin riuh.
"Untuk tidak mengganggu saya" Lanjut Hazel membuat semua bersorak "huuuuuuuuu...... " Namun Hazel hanya menanggapinya acuh tanpa ekspresi karena yang dia katakan memang benar dia hanya ingin bekerja dengan tenang tanpa ada gangguan apa pun.
"Apa dia memang seperti itu" Tanya Flora kembali pada Sandra membuat Sandra tersenyum ke arahnya.
"Itulah seorang Hazel" Jawab Sandra
Di hari pertamanya bekerja Hazel memang sedikit kewalahan dengan pertanyaan yang teman teman divisinya lontarkan bahkan dari mereka ada yang terang terangan untuk mentraktirnya makan siang. Namun sepeti biasa dia akan mengabaikannya dan menolak mereka secara tegas.
Hazel membuka penutup botol air mineral dengan sekali putaran dan meneguknya membuat jakun yang terlihat menonjol di lehernya naik turun mengikuti aliran air minum yang masuk ke dalam tenggorokannya.
Namun tiba tiba saja dia dikejutkan saat sebuah Mobil menabrak pembatas Jalan yang tidak jauh dari tempatnya berdiri membuat kepulan asap keluar dari depan mobil dan saat itu Hazel langsung berlari menghampiri mobil tersebut dan langsung membuka sisi pintu mobil tepat pada bagian kemudi.
Hazel melihat Seorang wanita dengan kondisinya yang sudah setengah sadar bersandar pada setir mobil, tidak menunggu lama Hazel langsung membuka seatbelt yang menahan tubuh wanita itu dan segera membopongnya keluar mobil setelahnya barulah banyak orang yang membantunya dan berkerumun di sekitar mobil.