The Boss 10

1310 Words
Rere langsung berjalan keluar kantor saat melihat jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan jam 9 malam, ternyata gara gara ingin melupakan amarahnya kepada Varo dan Lilian membuat rere harus banyak melakukan pekerjaan agar dirinya tidak kalap dan langsung menarik rambut Lilian saat itu juga dan terus terusan bekerja juga membuat Rere lupa waktu, pasti mama nya akan menceramahinya kembali karena pulang malam, Camila memang sedikit protektif terhadap Rere apalagi semenjak kejadian kecelakaan tunggalnya membuat Camila lebih ekstra memperhatikan Rere. Rere menekan tombol lift khusus miliknya namun entah apa yang terjadi sepertinya ada gangguan teknis pada lift tersebut " Aku harus ingat agar vera memanggil teknisi" Gumam Rere kemudian berjalan ke arah lift satunya yang di khususkan untuk para karyawan sebelum masuk Rere melihat sekitar yang memang sudah tidak ada siapa pun membuar Rere sedikit enggan untuk masuk lift seorang diri, Rere memang sedikit mempunyai masalah dengan rasa takutnya ketika berada dalam lift seorang diri, Rere akan sedikit lebih gelisah dan juga mulai panik karena kejadian masa kecil di mana Rere pernah terkurung selama dua jam dalam lift yang berada di hotel milik keluarga kamil, dan ternyata hal tersebut membekas dalam ingatan Rere sampai Rere sudah beranjak dewasa, apa itu bisa di sebut fobia Entahlah Rere tidak tahu, dia berani untuk berada dalam lift seorang diri hanya saja perubahan dirinya akan selalu gelisah dan panik. Rere kemudian menghembuskan nafas panjangnya sebelum melangkahkan kaki masuk ke dalam lift, pintu lift tertutup membuat degup jantung Rere langsung meningkat drastis,  " Its okey Re liftnya terus berjalan" Gumam Rere mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri yang mulai dilanda rasa cemas, Ting Rere langsung tersentak saat tiba tiba lift berhenti dan pintu lift terbuka yang langsung menampilkan seorang karyawan pria yang kini tengah menatap Rere dengan alis terangkat. "Syukurlah" Ucap Rere sambil menghembuskan nafas leganya, Rere kira lift akan kembali berhenti seperti yang dulu dia alami, Sekarang Rere bisa sedikit bernafas lega ketika ada seseorang yang kini berada di sampingnya. Rere kemudian menatap ke arah sampingnya dan menyipitkan matanya. "Kau" Ucap Rere saat menyadari wajah tampan yang kini ada di dekatnya sangatlah familiar. Sedangkan Hazel hanya menatap Rere dengan wajah datarnya "Kau lelaki yang tadi pagi bukan" Ucap Rere yang kini berjalan mendekat dan berdiri di hadapan Hazel kemudian menatap wajahnya lekat lekat. "Ya aku benar, kau memang lelaki tampan itu" Ucap Rere membuat Hazel mengerutkan keningnya "Ternyata kau bekerja  di sini" Ucap Rere "Ya saya karyawan baru" Jawab datar Hazel membuat Rere menganggukkan kepalanya "Pantas saja wajahmu tidak asing" Gumam Rere "Kau lembur,?" Tanya Rere membuat Hazel hanya mengangguk "Seorang diri,? " Dan di jawab dengan anggukan lagi "Kenapa, ke mana rekan kerja mu yang lain" "Tugas mereka sudah selesai jadi mereka tidak harus mengambil waktu kembur" Jawab Hazel "Lalu kau sendiri, kenapa lembur kau membuat kesalahan,? " Tanya Rere pasalnya Rere tidak mewajibkan karyawannya bekerja sampai larut malam jika bukan urusan mendesak, karena bagi Rere karyawannya berhak mempunyai waktu luang untuk mereka bukan hanya bergelut dengan pekerjaan mereka sepanjang hari. "Tidak, saya hanya mendapatkan tugas tambahan karena tiba tiba atasan saya menyuruh saya untuk merubah tulisan saya tentang haig heels yang akan kita luncurkan musim ini karena tiba tiba seseorang yang mengenakannya bermasalah dengan haknya ketika sedang berjalan di trotoar" Jelas Hazel dengan wajah tanpa ekspresi membuat Rere langsung menatap ke arah haigh heels yang kini sedang dia kenakan, Rere tahu betul yang Hazel katakan tadi adalah mengenai heels yang saat ini sedang dia kenakan, Rere memang langsung menyuruh Lilian untuk merubah artikel tentang heels yang akan mereka luncurkan musim ini gara gara kejadian memalukan pagi tadi dan Rere tidak tahu jika yang menghendle tugas itu adalah lelaki dengan mata coklat tajam yang selalu membuat Rere betah berlama lama hanya untuk menatap matanya saja. Rere baru saja u mulutnya hendak memprotes ucapan Hazel namun tiba tiba lift berhenti dan semua gelap, membuat Rere yang refleks langsung memeluk Hazel dengan degup jantung yang berpacu dengan cepat, Rere mencengkeram kemeja belakang Hazel dengan kuat sambil menutup matanya sekuat yang dia bisa. Hazel baru saja hendak mendorong bahu Rere untuk menjauh namun Rere langsung memeluknya dengan lebih erat " Aku mohon tetaplah seperti ini, aku mohon, please please" Lirih Rere membuat Hazel mengurungkan niatnya, Hazel bisa merasakan tubuh rere yang gemetar "Apa uy baik 766 saja,? " Tanya hazelu6 "Entahlah" Jawab Rere dengan nafas tersengal dan Hazel rasa Rere mungkin memang sedikit mempunyai masalah entah itu dengan kegelapan atau dengan liftnya, Hazel kemudian meraih ponselnya dan menyalakan senter di ponselnya . "Sekarang sudah sedikit terang Anda bisa  membuka mata Anda" Ucap Hazel sambil sedikit menunduk menatap wajah Rere yang sudah di basahi peluh, perlahan Rere membuka matanya dan melihat cahaya yang cukup menerangi mereka dalam kotak kecil ini namun entah kenapa Rere masih merasa sesak. "A aku sulit bernafas" Ucap Rere dengan suara bergetar membuat Hazel mulai menyadari bahwa Rere memang tidak dalam keadaan baik, "Jangan panik oke, sekarang bernafaslah perlahan" Ucap Hazel tanpa melepaskan pelukan mereka, Rere menuruti instruksi Hazel mulai mengambil nafas perlahan dan membuangnya, Rere ulangi beberapa kali sampai dirinya sedikit lebih bisa mengatur nafasnya "Sudah lebih baik" Tanya Hazel membuat Rere mengangguk, lagi lagi Rere bisa mencium aroma chytrus seperti pagi sebelumnya ketika dirinya memeluk Hazel, entah kenapa rasanya Rere merasa mulai nyaman dengan pelukan mereka meskipun sebenarnya Hazel tidak membalas pelukan Rere tapi Rere rasa dirinya menyukai hal ini "Jika aku memelukmu seperti ini aku baik baik saja" Ucap rere yang kembali menyandarkan kepalanya pada d**a bidang Hazel, sedangkan Hazel hanya terdiam sambil melihat jam di ponselnya "Kenapa lampunya tiba tiba mati" Ucap Hazel "Entahlah" Jawab Rere dengan mata terpejam sambil menikmati aroma Hazel namun detik berikutnya Rere membuka matanya dan mendongak menatap ke arah Hazel "Tanggal berapa sekarang,? " Tanya Rere "23" Jawab Hazel "Astaga aku melupakan hari ini" Ucap Rere yang kembali mulai gelisah "Apa ada hal buruk yang terjadi" Tanya Hazel "Ya tentu saja kita sedang mengalaminya, aku lupa jika hari ini ada pemadaman listrik. Di gedung kita sampai besok pagi" Ucap Rere membuat Hazel membulatkan matanya tidak percaya "Apa,? " Tanya Hazel membuat Rere hanya bisa menganggukkan kepalanya, "Apa tidak pemberitahuan untuk para karyawan" Ucap Hazel dengan  nada sedikit tinggi "Memang ada, apa kau tidak membaca nya di lobi" Ucap Rere membuat Hazel hanya berdecih dirinya tidak punya waktu hanya untuk membaca kertas yang tertempel. Di lobi "Lalu apa yang harus kita lakukan,? " Tanya Rere yang mulai panik, Hazel Kemudian mencoba untuk melepaskan pelukan Rere namun Rere sepertinya enggan. " Kita tidak bisa terus berdiri dengan Anda yang terus memeluk saya sampai besok pagi bukan" Ucap Hazel membuat Rere akhirnya melepaskan pelukannya, Hazel kemudian duduk di ikuti Rere yang menempel di sampingnya. Hazel. Kemudian melihat ponselnya yang tidak ada sinyal dan baterai ponselnya yang tinggal 5%, "Apa Anda bisa mengecek ponsel Anda dan menghubungi seseorang" Ucap Hazel membuat Rere akhirnya merogoh tas nya dan mengambil ponsel nya yang ternyata sudah off membuat Hazel menghembuskan nafas kasarnya "Ponselku tidak akan bisa menerangi sampai besok pagi, mungkin hanya untuk tiga puluh menit ke depan" Ucap Hazel membuat Rere langsung diserang kepanikan "Lalu apa. Yang harus kita lakukan" Ucap. Rere dengan raut wajah cemas nya dan Hazel kembali menyadari hal tersebut, "Tidak apa, Anda tidak sendiri di dalam. Lift ini, meskipun gelap ada saya di samping Anda" Ucap hazel menenangkan sambil menatao langsung manik mata Rere "Anda hanya perlu bernafas dengan teratur dan jangan panik, Anda bisa" Ucap Hazel membuat Rere mengangguk dan mulai mengatur kembali nafasnya Seperti perkiraan Hazel setelah tiga puluh menit ponselnya mati dan membuat mereka diam dalam legelapan "Bernafaslah" Bisik Hazel sambil menarik Rere dalam pelukannya" Hazel bisa merasakan nafas Rere yang memberat dan Hazel tahu jika Rere pasti dalam Keadaan cemas " Anda bisa menutup mata Anda dan bayangkan saja Anda hany sendang tertidur di kamar Anda" Ucap Hazel kembali sambil terus memeluk Rere memberikan ketenangan dan akhirnya berhasil membuat Rere terlelap di pelukannya. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD