Rere baru saja hendak memasuki lobi kantor sesaat sebelum melihat Lilian terlihat berlari dari arah parkiran dengan wajah yang gelisah membuat rasa penasaran Rere langsung mengirimkan sinyal pada kakinya untuk mengikuti Lilian,
Saat ini memang masih sangat pagi sebelum jam masuk kantor yaitu jam delapan pagi, Rere berangkat dari rumah sekitar jam enam pagi karena dia harus cepat cepat menyelesaikan pekerjaannya yang belum sempat dia sentuh untuk itu Rere berencana datang sepagi mungkin namun ternyata niatnya itu malah membawanya menjadi seorang penguntit yang kali ini terus berjalan perlahan mengikuti langkah Lilian yang berjalan ke samping kantor, sesekali Lilian terlihat berhenti dan menengok ke arah belakannya membuat Rere pun dengan sigap menyembunyikan dirinya sebisa mungkin agar Lilian tidak melihatnya hingga akhirnya Rere memberhentikan langkahnya saat melihat siapa orang yang kini tengah berpelukan tidak jauh darinya, Lilian ternyata menemui Varo dengan wajah gelisahnya namun setelah itu Rere bisa melihat senyum bahagia dati keduanya , mereka saling berpelukan erat dan akhirnya membagi ciuman demi ciuman membuat Rere tidak bisa lagi untuk tidak menghampiri mereka, Rere berjala dengan cepat kemudian menarik bahu Varo dengan sekuat tenaga membuat ciuman keduanya berhenti setelah itu melayangkan satu tamparan keras pada wajah tampan Varo yang akhirnya memberikan bekas memerah pada sisi wajahnya belum puas dengan Varo Rere kemudian beralih pada Lilian yang tengah menatapnya dengan rasa terkejutnya, lihatlah bibirnya yang memerah sisa dari ciuman mereka membuat amarah Rere kian tersulut, sama halnya dengan tamparan yang dia layangkan pada Varo, Lilian pun sama harus menerima tamparan dari Rere yang begitu menyakitkan, belum puas dengan itu Rere menarik rambut Lilian sekuat tenaga berharap semua rambutnya bisa rontok dari kulit kepalanya, Rere mendorong Lilian dan memberikan tamparan kiri dan kanan, semua Amarahnya Rere tuntaskan saat memukuli Lilian dengan membabi buta, Rere rasa wanita pelakor seperti Lilian pantas mendapatkan amukan yang saat ini dia terima namun semua itu hanya ada di dalam isi kepala Rere.
Rere mengerjapkan matanya beberapa kali saat dirinya kembali tertarik pada kenyataan di mana di depannya Lilian dan Varo masih saling berpelukan dengan mesra dan dirinya masih berdiri dengan tangan mengepal tanpa bisa berbuat apa pun untuk saat ini, a menahan segala emosinya hanya untuk membalas dendam pada mereka di waktu yang tepat. Rere langsung tersentak saat Lilian dan Varo mengakhiri pertemuan manis mereka, melepaskan pelukan mereka dan Rere harus segara enyah dari tempatnya agar Lilian dan Varo tidak tahu jika Rere tengah mengintai mereka, dengan panik Rere langsung kembali berlari kembali melalui jalan tepat di samping kantor mereka namun entah kesialan apa yang selalu menimpa Rere di saat memergoki mereka saat ini haigh heelsnya malah tersangkut pada besi trotoar dan membuatnya tidak bisa melanjutkan langkahnya, dengan bertambah panik Rere melihat kearah belakang nya yang melihat jika Lilian sudah akan mengakhiri percakapannya dengan Varo membuatnya semakin mengerahkan tenaganya untuk menarik kakinya yang tersangkut
"Sepatu sialan kenapa harus tersangkut" Maki Rere sambil terus menggoyang goyangkan heelsnya,
"jika kau tidak mau lepas aku berjanji tidak akan meluncurkan mu di musim depan" Ucap Rere kembali seolah berbicara pada heels yang sedang dia kenakan, pasalnya heels tersebut adalah rancangan terbaru RV style untuk musim depan dan sepertinya peluncurannya akan di batalkan karena sudah membuat sang penciptanya tersangkut pada besi penutup gorong2 yang berada di trotoar,
"Apa Anda butuh bantuan" Suara seseorang laki laki mengejutkan Rere membuatnya langsung menatap kearah sumber suara.
"God, kau mengaggetkanku"seru Rere sambil melihat seorang lelaki tampan dengan penampilan rapi yang kini berada di depannya
" Maaf" Ucapnya datar,
Rere melihat kembali kearah belakang saat Lilian sudah hendak berjalan kembali membuat Rere semakin panik karena kakinya yang tidak kunjung terlepas
"Bisa tolong kau bantu aku melepaskan sepatu sialan ini" Ucap Rere dengan wajah panik nya membuat si lelaki menatap ke arah kaki Rere.
"Anda bisa melepaskan sepatumu terlebih dahulu" Ucapnya membuat Rere terdiam sejenak.
"Apa,? " Tanya Rere dengan wajah polosnya
"Anda bisa melepaskan sepatu Anda terlebih dahulu, atau Anda mau saya memegang kaki Anda untuk melepaskannya" Ucapnya dengan nada datar tanpa ritme sama sekali tapi mampu membuat Rere semakin terpaku padanya dan juga ketampanannya.
"Anda bisa melepaskannya sekarang" Ucapnya lagi saat melihat Rere hanya terdiam
"Oh ya baiklah" Jawab Rere kemudian sedikit membungkuk untuk melepaskan heels yang dia gunakan kemudian sedikit menyingkir dan membiarkan lelaki tersebut mencoba untuk mengeluarkan hak yang tersangkut, sedangkan Rere sambil memperhatikannya Rere sesekali melihat ke arah belakangnya untuk melihat Lilian yang semakin mendekat ke arahnya
" Apa bisa cepat sedikit" Ucap Rere membuat si lelaki sedikit memakai tenaganya untuk menarik heels tersebut dan berhasil
"Ini heels___" Namun belum juga lelaki berparas tampan tersebut menyelesaikan perkataannya Rere langsung menarik jaketnya dan memeluknya setelah itu menyudutkan dirinya ke arah tembok
"Apa yang Anda____"
"Diam lah sejenak, aku hanya butuh kau menutupi ku sebentar saja" Ucap Rere yang lagi lagi memotong ucapan lelaki tersebut bertepatan dengan itu Lilian berjalan melewati mereka, Lilian sempat melihat kearah mereka namun kembali melanjutkan langkahnya karena merasa tidak ingin mengganggu pasangan yang tengah b******u, itu yang Lilian pikirkan,
Sedangkan kenyataannya Rere tengah mencengkeram jaket lelaki yang menutupi tubuhnya dengan kuat, dengan jarak yang begitu dekat Rere bisa mendengarkan degup jantungnya dan juga lelaki tersebut saling berpacu dengan cepat selain itu aroma cytrus yang melingkupinya membuat Rere merasa betah hanya untuk berlama lama diam seperti sekarang ini,
"Sampai berapa lama Anda akan seperti ini" Suara berat yang selalu datar lagi lagi menarik Rere dari lamunannya, Rere kemudian mendongak dan langsung bertemu dengan mata Hazel yang menatapnya dengan dingin
"Hem" Gumam Rere sambil terus terpaku pada mata tersebut
"Apa Anda sudah bisa melepaskan jaketnya" Ucapnya lagi membuat Rere akhirnya kembali tersadar dan melepaskan cengkeramannya setelah itu melihat kearah sisi kirinya saat Lilian sudah berjalan menjauh dan kembali ke kantor,
"Maaf sudah menahan mu terlalu lama" Ucap Rere dengan senyum canggungnya
"Ini ambillah" Ucapnya yang malah memberikan heels Rere yang sedari tadi masih dia pegang
"Oh ya dan terima kasih juga" Ucap Rere sambil mengambil heels miliknya dan mengenakkannya kembali
Sedangkan lelaki tersebut hanya bergumam setelah itu pergi begitu saja meninggalkan Rere yang sebenarnya ingin kembali berterima kasih pada nya
"Apa apaan sikapnya itu" Gerutu Rere saat mendapatkan perlakuannya yang seolah mengabaikan Rere, padahal jika di lihat dari fisik yang Rere miliki seakan sulit bagi para lelaki untuk mengabaikannya sedikit pun dan Rere tahu alasannya mungkin karena dia memiliki wajah tampan dan mempunyai selera tinggi juga pikir Rere sambil terus memperhatikan punggung tegapnya yang berjala terus menjauh.