The Boss 14

1063 Words
Rere berdiam diri tidak jauh dari pintu lift sampai menunggu seseorang datang dan masuk ke dalam lift untuk mengikuti Lilian dan juga Varo yang sudah terlebih dahulu masuk, Rere yakin pasti saat ini Varo dan juga Lilian pasti akan ke apartemen Lilian, Rere bersyukur karena sebelumnya dia sempat beberapa kali mengunjungi apartemennya  untuk melihat keadaan Lilian ketika dirinya tidak masuk kantor tanpa kabar dan ternyata Lilian  sedang sakit saat itu sehingga membuat Rere tidak harus memata-matai Lilian tinggal di apartemen nomor berapa, Rere langsung bergerak ketika melihat seseorang masuk ke dalam lift Rere tidak ingin melewatkan sedetik pun percakapan antara Lilian juga Varo beberapa kali Rere meremas  jari-jemarinya saat dirasa pergerakan lift begitu lambat. Rere langsung berlari ketika pintu apartemen terbuka dan ternyata Rere sudah tidak melihat Lilian maupun Varo diantara lorong apartemen pasti  pada saat ini mereka sudah masuk ke dalam apartemen Lilian dan entah apa yang mereka berbuat di dalam sana Rere  kemudian berjalan dan berhenti tepat didepan pintu apartemen Lilian, Rere membayangkan apa yang akan terjadi ketika dirinya memencet bel pintu di depannya ini dan membayangkan ekspresi seperti apa yang akan Lilian berikan kepadanya ketika tiba-tiba melihat Rere berdiri di depan pintu apartemennya di saat calon suaminya berada satu ruangan bersama dirinya namun hal tersebut Rere tahan sekuat mungkin dia tidak ingin terpancing emosi dan menghancurkan semua rencana yang sudah ada dalam otaknya nanti, Rere akan membuat Lilian dan juga Varo hancur secara bersamaan kemudian, Rere menghembuskan nafas pasrah nya ketika harus kembali bersabar diri sesekali Rere mengintip melalui celah lubang pintu berharap dirinya bisa melihat sedikit gambaran tentang apa yang mereka lakukan didalam sana Namun tentu saja semuanya nihil karen dia tidak bisa dengan mudahnya mengintip melalui lubang pintu tersebut dan akhirnya yang bisa Rere lakukan hanyalah berjalan mondar-mandir di depan pintu apartemen Lilian "sialan apa yang sedang mereka lakukan di dalam sana? "Gerutu Rere saat membayangkan hal apa saja yang bisa terjadi antara sepasang kekasih itu di dalam satu ruangan yang hanya ada mereka berdua dan tentu saja pikiran kotor yang kini merasuki ke dalam otak Rere, Rere kemudian memekik tertahan sambil mengacak rambutnya frustrasi, penampilannya yang terlihat kusut semakin terlihat kacau ketika dirinya terlihat gelisah di depan Apartemen milik seseorang "jika aku tidak bersabar Aku bisa-bisa membunuh mereka saat ini juga” gerutu Rere sambil menatap tajam kearah pintu Lilian, Reee kemudian kembali mendekat ke pintu apartemennya dan menempelkan daun telinganya ke pintu tersebut Rere berharap bisa mencuri sedikit suara dari dalam Sana namun lagi-lagi usahanya tidak membuahkan hasil apapun, Rere kemudian melihat seorang kurir makanan yang berjalan mendekat ke arahnya  " Maaf apa ibu, ibu Lilian? "Tanya kurir tersebut saat melihat Rere berdiri di depan pintu kamar apartemen Lilian, Rere  kemudian menatap sekotak pizza yang berada di di tangan kurir tersebut  " apa Ini pesanan dari pemilik apartemen ini? "Tanya Rere sambil menunjuk ke arah nomor pintu apartemen di depannya, si kurir menatap ponsel yang berada di tangannya untuk memastikan kan pesan tersebut diantar ke nomor apartemen yang sama  "ya benar dengan pemesan atas nama Ibu Lilian "jawab si kurir  membuat Rere menggelengkan kepalanya “ Oh maaf saya bukan Lilian Saya hanya tetangganya” Jawab Rere membuat si kurir hanya mengangguk kemudian berjalan melewati Rere begitu saja, si kurir hendak menekan bel pintu apartemen Lilian namun Rere langsung menghentikannya dengan wajah panik "tunggu apa yang akan kau lakukan?" Tanya Rere membuat si kurir kembali menatap ke arahnya  “saya hanya akan memberikan pesanan ini"jawab si kurir membuat Rere semakin panik "Tunggu, jangan dulu menekan bel pintu itu sebelum aku pergi dari tempat ini "ucap Rere membuat Si kurir mengerutkan keningnya Rere kemudian berjalan hendak menuju lift namun langkahnya terhenti dan kembali mendekat ke arah si kurir tersebut, Rere merutuki dirinya ketika tidak berani masuk ke dalam lift seorang diri dan saat itu tidak ada satu orang pun yang akan turun melewati lift tersebut, Rere semakin bingung ketika kurir menatapnya dengan tatapan penuh curiga "tenang Aku bukan penjahat aku hanya sedang memata-matai seseorang" ucap Rere pada  si kurir yang menatapnya  “saya harus segera memberikan pesanan ini karena saya masih harus mengantarkan Pesanan yang lainnya" ucap si kurir yang mulai berbicara ketus kepada Rere  "Tunggu sebentar aku harus menunggu seseorang untuk turun melewati lift itu, Aku tidak berani untuk masuk ke dalamnya sendirian" ucap Rere sedikit memohon kepada kurir tersebut namun dia hanya menggelengkan kepalanya  "tidak bisa Bu pekerjaan saya masih banyak dan saya harus segera memberikan pizza ini" ucap sikurir setelah itu mengulurkan tangannya untuk memencet bel tersebut "tunggu-tunggu aku akan memberikan berapa pun yang kau mau asal jangan menekan bel itu "ucap Rere yang lagi-lagi menghentikan geraman si kurir  tersebut  "saya lebih menyayangi pekerjaan saya" ucap si kurir dan langsung memencet bel pintu milik Lilian membuat Rere langsung terlihat gelagapan, Rere kemudian berjalan berbalik hendak menuju lift namun dia urungkan kembali karena dirinya tidak seberani itu untuk masuk ke dalam lift seorang diri sedangkan si kurir tersebut terus menekan bel pintu Lilian Rere kemudian kembali berjalan mendekati si kurir  "Oke jika orang di dalam tersebut keluar Jangan katakan kau melihat seseorang yang aneh seperti ku berada di depan pintu mereka oke "ucapan Rere kepada kurir tersebut setelah nYa Rere  bisa mendengar pintu apartemen lilin berbunyi itu tandanya pasti sebentar lagi Lian akan keluar dari dalam apartemen dan mengambil pesanannya, Rere semakin gelagapan tidak tahu apa yang harus dilakukan setelah secara bersamaan ketika Lilian keluar dari pintu tersebut  tiba-tiba pintu di samping kiri Rere  Terbuka membuat Rere langsung tidak berpikir panjang menerobos masuk ke dalam apartemen yang entah milik siapa, Rere tidak ingin mengambil resiko ketika melihat dirinya Tengah berada di depan pintu apartemen dan mengetahui aksi memata-matai, dirinya sebisa mungkin akan berpura-pura tidak mengetahui tentang hubungan terlarang mereka dengan nafas terengah-engah Rere menopang berat tubuhnya pada kedua tangannya yang menumpu pada kedua lutut hampir saja Rere  jantungan ketika tidak memiliki cara untuk bersembunyi dari lilian Untung saja seseorang membuka pintu apartemen membuat Rere bisa bersembunyi, Rere kemudian menegakkan tubuhnya dan melihat ke arah orang yang kini menatapnya dengan tajam dan tangan terlipat “  kau? "Ucap Rere saat melihat seseorang yang sangat familiar olehnya karena beberapa hari ini Rere selalu sering melihatnya di mana pun Dirinya berada, Rere tidak menyangka kali ini pun dia akan bertemu dengan laki-laki bermanik mata Hazel di depannya yang menatapnya dengan tajam “ Siapa dia? " Tanya seseorang yang baru saja keluar dari dalam kamar ketika melihat Rere berada dalam apartemennya
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD