18 Keracunan

2033 Words
Dekorasi manis telah terpasang sejak semalam. Rangkaian bunga, pita bernuansa pastel, balon keemasan yang menggantung di langit-langit restoran serta beberapa banner ucapan selamat ulang tahun ditata sedemikian rupa. Sweet seventeen, memang salah satu hal yang indah. Anya sangat bersemangat. A-line dress berwarna nude dengan potongan yang sempit di bagian atas dan melebar di bagian bawahmembuatnya terlihat anggun.Rambut disanggul. Beberapa helainya dibiarkan menjuntai, menyelinap di antara pipi dan telinga. Sepatu hak tinggi juga dia kenakan. Berpenampilan sebaik mungkin demi menaikan citra restoran. Anya tersenyum puas. Beberapa tamu undangan yang didominasi remaja serta beberapa kolega dan rekan kerja pak Brata telah datang. Anya mengusap-usap lengan sambil sesekali melirik jam di pergelangan kanan. Ada satu hal yang membuatnya gelisah. Bima. "Acara sudah mau mulai. Kok om-om itu belum dateng, ya?" tanya Anya pada diri sendiri. "Ciee, Ibu .... Nungguin calon suami ya?" goda Hani. Make up yang lebih tebal dari biasanya memenuhi wajah gadis itu. Lipstik dengan warna merah menyala membuat Anya menarik kepala. "Kamu masih betah kerja di sini nggak, sih?" ketus Anya lalu berbalik. Hani menggigit bibir. “Hapus tuh merah-merah di bibir. Menor banget!” titah Anya. “Iya, Bu. Nanti saya hapus,” jawab Hani, sambil mencebikkan bibir. “Ini tuh acara ulang tahun anak muda! Bukan acara dangdutan!” sambung Anya lalu pergi ke tengah ruangan. "Pak Bima ... selamat datang, Pak!" Hani berseru. Spontan, Anya memutar langkah. Senyum yang baru saja mengembang kini berangsur hilang. Bima datang bersama Bu Ratu. Tapi, apa yang salah dengan hal itu? "Syukur deh Pak Bima sudah dateng. Dari tadi ada yang gelisah tuh, nungguin Bapak di depan pintu masuk." Hani mengedipkan mata. Anya memelototinya. "Gelisah? Siapa?" Bima bertanya. Penasaran. Hani melirik Anya terang-terangan. Sambil memajukan bibir dia berkata, "Tuh calon istri Bapak, Bu Anya. Dari tadi gelisaaaah terus. Nungguin bapak pastinya." Wajah Anya memerah. Raut wajah Ratu juga berubah. Dari yang semula tampak elegan, kini memasang wajah murka. "Calon istri? Siapa? Dia?" tanya Ratu tak percaya. "Eh, ayo, Pak Bima dan Bu Ratu. Kita masuk aja. Mohon maaf ya. Jangan dengarkan omongan karyawan saya. Emang rada aneh orangnya. Kalau ngomong suka asal." Anya berusaha mencairkan suasana. Mengalihkan pembicaraan. Membawa tamu pentingnya ke tengah-tengah ruangan. Kehadiran Bima menarik atensi tamu undangan. Terutama kaum wanita. Dari remaja sampai paruh baya. Dalam hitungan menit, acara dimulai. Sambutan oleh Pak Azka selaku MC acara. Riuh tepuk tangan menyertainya.Tiup lilin sampai pemotongan kue juga tak kalah meriah. Balon bernuansa pink-putih berterbangan keluar dari kotak yang dibuka. Ucapan “Happy Sweet Seventeen Anindya” terpampang di depan mata. Tamu undangan menyaksikan dengan antusias dan bertepuk tangan. Karyawan Anya tak henti melempar senyuman. Doa-doa baik juga dipanjatkan. Anindya tak henti mengucap terima kasih, begitupun dengan pak Brata dan sang Istri. Pasangan suami istri paruh baya itu terlihat seperti pengantin baru. Namun, ada satu yang tak terlihat senang. Ratu. Wajahnya datar sejak tadi. Terlebih saat melihat Bima dan Anya duduk di meja yang sama. Sambil menyantaphidangan pestamereka tertawa. Hikam juga ada di antara mereka. Ratu mengepal tangan erat-erat. Buku-buku jemarinya memutih.Gelas yang berisikan mocktail dientakkan di atas meja. Namun, tidak ada yang memperhatikannya. Ratu melangkah gusar. Tas tangan kecilnya dia bawa dengan asal. Beberapa tamu undangan mulai menatap heran. Ratu menabrak Hani saat ingin memasuki kamar mandi. Bukannya minta maaf, Ratu malah menerobos pergi. Mengetahui fakta Bima dan Anya akan menikah membuatnya emosi. “Sial! Apa bagusnya sih cewek itu? Sukses enggak, cantik juga enggak. Masih bau kencur pula. Baru juga lulus kuliah. Belum bisa apa-apa!” Ratu meraung. Menatap wajahnya pada kaca wastafel. Bola matanya tampak tak tenang. Cukup lama dia berada di sana. Merapikan dress dan menata ulang rambutnya. “Kamu ... nggak boleh kalah, Ratu. Apalagi sama cewek itu. Anak kecil kayak dia bisa apa?” Ratu bermonolog. Senyumnya kembali mengembang walau dengan paksaan.  Baru beberapa langkah keluar dari kamar mandi, dia bertemu Anya. Anya tersenyum canggung sedangkan Ratu tampak menatap Anya jijik. Menyepelekan. “Kamu beneran bakal nikah sama Bima?” “Maaf. Tapi kenapa, ya, Bu. Kok tiba-tiba nanya gitu?” Anya tampak kaget. “Yakin?” tanya Ratu lagi. Anya semakin tak mengerti. “Maksudnya yakin apa, Bu?” “Nggak apa-apa, sih, kalau kamu mau nikah sama Bima. Tapi emang kamu yakin, dia mau nikah sama kamu?” Setelah mengucapkan itu, Ratu mengelus bahu Anya dua kali. Lalu berbisik, “Kamu itu bukan tipenya Bima.” Ratu melangkah pergi. Entakkan sepatu hak tinggi membuat Anya bergidik. “Siapa juga sih yang mau nikah sama tuh om-om! Kalau aja bu Ratu bukan bagian dari investor restoran, pasti udah aku jambak tuh rambutnya. Enak banget ngomong sembarangan. Pake bilang aku bukan tipenya pula! Jelas-jelas waktu itu Pak Bima pernah bilang aku cantik,” omel Anya panjang lebar dengan suara sepelan mungkin. Cari aman. Sementara itu, kemeriahan pesta juga dinikmati oleh Alden. Sebenernya Anya malu. Alden bukan siapa-siapa di sini. Kenal dengan empunya pesta saja tidak. Percuma, kemarin Anyamati-matian melarang Alden datang. Harusnya dia tahu perangai sahabatnya itu. Isi perut nomor satu, rasa malu belakangan. Dan konyolnya lagi, Alden dengan tingkat kepercayaan diri 1000 persen malah membawa Bella. Tak tahu malu dan tebal muka. “Alden ...,” sapa Anya setelah keluar dari kamar mandi. Alden melambaikan kedua tangannya. Bella terlihat menarik lengan Alden. Mengajaknya menjauhi Anya. Namun, dasar Alden tak peka. Dia malah menarik Bella untuk menghampiri Anya. “Anyaa ... selamat, ya. Restoran kamu jadi rame lagi,” ucap Alden. Anya mencebik. “Eh, kaleng sarden! Ini rame kan karena lagi pesta! Gimana sih? Lagian ngapain sih kamu beneran ke sini. Nggak ada yang ngundang juga,” protes Anya. “Pake bawa algojo segala pula,” imbuhnya sambil berbisik. “Ih, apaan sih bisik-bisik! Aku denger tau! Enak aja algojo-algojo! Kita ini soulmate. S O U L M A T E. Di mana ada Alden, di situ ada Bella.” “Jadi pas Alden buang hajat, kamu juga ikut?” tanya Anya cenderung mengejek. Bella manyun dibuatnya. Sedangkan Alden sigap mengusap-usap tangan Bella. Menenangkan hatinya. “Au ... Au. Sakit banget.” Suara di sudut ruangan menggema. Alden, Anya dan juga Bella bergegas menoleh dan mendatangi sumber suara. “Ratu, kamu kenapa?” Bima berlari duluan melewati Anya. Laki-laki berjas biru tua itu menghampiri ratu yang memegang perut kesakitan. “Aku juga nggak tau. Tapi perutku sakit banget, Bim,” jawab Ratu. Lemah dan meringis. “Tolong jangan berkerumun. Jaga jarak, jaga jarak!” Pak Azka menyibak kerumunan tamu undangan. Meminta mereka agar tetap tenang dan mengikuti protokol kesehatan. “Kamu kenapa, Ratu?” Bima masih bertanya dengan nada khawatir. Sedangkan Anya masih termangu di samping tubuh Ratu yang jatuh ke lantai. “Pak Azka, tolong telepon ambulans. Kita bawa bu Ratu ke rumah sakit!” seru Bima pada pak Azka. Laki-laki itu mengangguk menyanggupi. Mengambil ponsel di saku celana, menekan nomor rumah sakit lalu meneleponnya. “Kayaknya bu Ratu keracunandeh, Pak,” celetuk salah satu tamu undangan. Airin. Asisten pribadi Ratu. “Maksud kamu apa, Rin?” Bima bertanya, mencoba untuk tak panik. “Dari tadi, Bu Ratu baik-baik aja. Tapi setelah makan dessert box yang di meja sana, bu Ratu langsung kesakitan. Tuh, tuh, lihat. Dahinya sampai keringetan gitu.” Spontan, Bima langsung menatap Anya. Dessert box yang dimaksud adalah buatan Anya. Belum ada orang yang mencicipinya sebelum Ratu. Karena terfokus pada menu hidangan utama dan beberapa jenis mocktail yang tersaji di meja. Anya mundur beberapa langkah sambil menggelengkan kepala, beberapa kali mengatakan ‘tidak mungkin dan tidak benar’. Pak Daffa dan Hani bergegas menenangkan Anya. “Jangan asal berbicara! Nggak ada bukti jelas kalau bu Ratu keracunan.” Pak Daffa membela. “Bener! Apalagi keracunan dessert buatan bu Anya. Nggak masuk akal!” Hani menambahi. “Kenapa nggak kamu aja yang makan dessert-nya biar buktiin kalau nggak ada racun di sana!” tantang Airin. Hani terdiam. Sedangkan beberapa tamu undangan sibuk berbisik satu sama lain. Kata ‘racun’ menyapa telinga Anya beberapa kali. Semua orang yang hadir mulai membicarakannya. Anya berlari. Menghampiri meja dessert yang dimaksud Airin. Mengambil sekotak dessert lalu memakannya. Membuktikan bahwa tak ada racun di sana.Sigap, tangan Bima menahan. “Jangan gila!” maki Bima. Anya tersentak. “Itu nggak bener, Pak. Bapak percaya ‘kan sama saya? Saya nggak mungkin naruh racun di kue buatan saya. Apalagi ini di restoran saya sendiri yang mati-matian saya perjuangkan.” “Aduuh ... ya Tuhan ... sakit sekali. Aduh ....” Ratu mengaduh lagi. Bulir keringat di dahinya semakin banyak. Airin mengusap-usap punggung dan tengkuk bosnya. “Terus kamu pikir Ratu ngeracunin dirinya sendiri? Itu lebih nggak masuk akal, Nya!” bentak Bima. Tangis Anya keluar. Terlebih saat dia melihat restoran mulai sepi. Tamu undangan sudah berangsur pergi.Pak Brata beserta keluarga sudah menepi, Pak Azka sigap menenangkan mereka. Anya menarik napas panjang guna mengatasi gemetar yang menjalar di tangan. Sirine ambulans semakin membuatnya deg-degan. Pak Daffa bergegas keluar. Membuka pintu masuk lebar-lebar. Dua orang petugas ambulans serta satu perawat menghampiri Ratu dengan sigap. Anya merosot, duduk tersimpuh. Pesta yang mereka susun matang-matang kini mendadak ricuh. Karena racun? Yang benar saja! Hani berusaha membantu Anya berdiri. Menegakkan tubuhnya lagi. Mengantar kepergian perawat yang membawa Ratu. Bima terlihat terus menggenggam tangan wanita itu. Anya menyatukan kedua telapak tangan. Telunjuknya menempel pada kening. Merapal doa, berharap Ratu baik-baik saja. * * * ‘Ratu Aurora Bagaskara. Putri tunggal Adibayu Bagaskara CEO perusahaan future terbesar di Indonesia diduga keracunan dan dilarikan ke rumah sakit.” Anya menatap jengah artikel yang dia baca. Ditaruhnya kembali ponsel ke atas nakas. Kakinya diselunjurkan. Sedangkan punggungnya bersandar dengan tumpukan bantal. “Cih! Nggak ada kabar pasti kalau dia keracunan, tapi wartawan sudah merilis berita seenak jidat! Dengan berlebihan pula. Buat apa bawa-bawa nama ayahnya? Kayak dia doang yang punya ayah.” Anya menutup wajahnya dengan selimut. Sudah dua hari sejak kejadian itu dirinya tak terkena air. Mencuci muka pun enggan. Apalagi mandi. Kemarin restoran tutup guna penyelidikan polisi. Namun, hari ini sudah dibuka kembali. Ada yang merekam kejadian itu, terutama saat asisten Ratu mengucapkan racun dan keracunan. Rekaman jadi viral karena diunggah ke media sosial. Akhirnya, polisi harus turun tangan. Anya mendesah. Citra restorannya hancur dalam sekejap mata. Selang sehari setelah penyelidikan polisi, keterangan dokter bahwa Ratu tidak keracunan dirilis.Hal itu membuatnya cukup lega. Hanya maag yang kambuh karena terlalu banyak mengonsumsi kopi. Namun, artikel yang menjatuhkan restorannya sudah dirilis di mana mana. Bahkan video itu sudah ribuan kali dibagikan pengguna media sosial lainnya. Anya tak punya cukup uang serta koneksi untuk meminta semua artikel itu dihapus. Karena itu, dia memilih mengurung diri. Tak tahu apa yang harus dilakukannya lagi. Anya mengakui. Dirinya belum cukup dewasa untuk menghadapi kerasnya dunia bisnis. Namun, nasib karyawan dan restoran warisan keluarga kini ada di tangannya. Dering ponselnya berbunyi. Panggilan dari Bima. Anya tak peduli. Karena laki-laki itu juga tak percaya dengannya. Untuk apa sekarang menghubungi? Selang beberapa menit, ponselnya berdering lagi. Kali ini dari Pak Azka. Anya menjawab panggilan telepon dengan hati-hati. “Halo, iya, Pak. Ada apa?” tanya Anya lesu. “Bu Anya kapan datang ke resto? Kan masalah sudah selesai. Kita bisa mulai buka resto lagi,” jawab Pak Azka. Anya tersenyum mendengarnya. “Iya, Pak. Nanti. Sekarang istirahat aja dulu. Anggap aja lagi liburan.” Sambungan telepon dia matikan. Kembali memfokuskan diri dengan selimut dan bantal. Anya rebahan lagi. Baru juga hendak memejamkan mata, ponselnya berdering lagi. Dengan kesal Anya mengangkatnya. “Apa lagi, sih, Pak? Kan saya bilang libur aja dulu. Udah, deh. Saya mau tidur!” “Anya ....” Jantung Anya mendadak berdebar kencang. Dia menjauhkan layar ponselnya dari telinga. Membaca nama penelepon yang terpampang di sana. ‘Om-om alay (Pak Bima)’ Anya memelotot. Mengutuk dirinya yang asal menyeletuk. Percuma sudah usahanya menghindar dalam dua hari terakhir ini. “Maaf, Pak. Aku kira tadi Pak Azka.”. “Oh, kalau pak Azka yang telepon, kamu baru angkat, ya? Kalau saya yang telepon, kamu abaikan?” “Nggak usah drama deh, Pak. To the point aja, ada perlu apa nelpon aku?” “Saya mau ketemu kamu,” jawab Bima. “Buat apa lagi, sih? Mau nuduh-nuduh aku lagi? Apa penyelidikan polisi di restoran belum cukup? Mau apa lagi, Pak?” tanya Anya, ketus. Bima terdengar menghela napas berat. “Saya ... mau minta maaf.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD