Beberapa kaca masih berembun akibat hujan semalam. Bima duduk di lobi dan memesan kopi sembari menunggu Anya. Aroma kopi yang pekat dan kepulan uap dari gelas membuat paginya menyenangkan.
“Hai!”
Bima menoleh dan mendapati Renata berdiri di samping kursinya. “Hai! Maaf ganggu Minggu pagi kamu.”
Renata mengangkat bahu. “Aku sih bakal nolak kalau ini malam minggu.” Dengan santai duduk di sebelah Bima dan menaruh tas tangannya.
“Mau pesan kopi? Atau sarapan?”
“Boleh, espresso sama croissant,” pinta Renata yang dituruti Bima dengan memanggil pelayan kafe di terhubung ke teras.
Beberapa saat mereka mengobrol tentang anak-anak Renata dan kehidupan bisnis Bima, lalu setelah menghabiskan satu roti dan setengah cangkir kopi, Renata mengeluarkan tabletnya. “Sayang banget Hikam nggak bisa ikut. Ini desain yang dia minta.”
Kepala Bima mengannguk setuju melihat gambar yang diperlihatkan Renata. Namun, dia mendapati tanggapan berbeda dari wanita itu. “Apa pilihan yang menurutmu lebih bagus?”
Renata mendekat kepada Bima dan menunjukkan desain yang dia mau untuk bar di resto Anya. “Lihat! Menurutku bahan kayu yang lebih gelap akan lebih pas, dan bahan jati terkesan teralu berat dan kuno. Desain Hikam memang bagus dan bergaya, tapi yang hangat dan simpel lebih baik.”
Bima lebih mendekat untuk melihat lebih serius desain yang diberikan Renata. “Apa kamu sudah ngomong sama Hikam?”
Bibir Renata tersenyum. “Aku rasa kamu yang memberi penentuan.”
Bima terkekeh melihat kilau licik di mata temannya itu. “Sayangnya, aku nggak suka mendebat kalian berdua.”
Tiba-tiba bunyi jepretan kamera dari belakannya membuat Bima dan Renata langsung menoleh. Dia melihat Anya berdiri di sana dengan heboh berselfie ria dengan senyum lebar dan tangan peace, bergaya imut.
“Eh, Pak Bima.” Anya nyengir sungkan. “Ini, anu … saya kirim foto buat Alden. Dia nggak percaya saya lagi pergi bukan rebahan di rumah.” Anya tertawa hambar.
Bibir Bima menahan senyum. Bukan Anya kalau tidak bertingkah sepertinya. Mengabaikan apa pun yang sebenarnya dilakukan gadis itu, Bima berdiri untuk memperkenalkan teman duduknya.
“Anya, ini Renata, teman kuliah saya. Dia salah satu konsultan desain interior di sini yang akan bantu kita.”
Mulut Anya membuka, lalu meneguk ludah. Tangannya bergerak canggung menyalami tangan Renata. “Hai, senang ketemu Bu Renata.”
Genggaman tangan Renata tegas dan mantap. Sikap nyata orang yang biasa membuat kesepakatan bisnis. “Saya juga senang ketemu Bu Anya. Beberapa hari lalu saya pernah diajak Pak Bima makan di restoran ibu.” Senyum Renata mengembang dan tatapannya jujur saat memberi penilaian, “Tempatnya nyaman dan makanannya enak.”
Anya menatap Bima sebelum membalas perkataan Renata, “Makasih.”
Melihat kebingungan Anya, Bima mendekat dan berkata pelan, “Kami datang buat makan siang pas kamu uring-uringan masalah undangan pernikahan.” Pipi Anya yang mendadak merona membuat hiburan tersendiri untuk Bima. Minggu pagi ini benar-benar menyenangkan.
Setelah cukup lama memilih desain dan meminta persetujuan Hikam melalui chat, akhirnya mereka memesan desain minimalis yang dipilihkan Renata dan mereka juga memesan perabotan bar yang diperlukan.
Pertemuan mereka berakhir setelah makan siang di salah satu restauran di teras gedung lantai bawah. Renata dijemput suaminya saat pulang dan Anya menolak saat Bima menawarinya tumpangan. Anya beralasan ingin pergi dengan Alden dan tempatnya tidak jauh dari tempat mereka.
***
Diam-diam Bima melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Sudah pukul satu siang. Saat ini laki-laki itu sedang bertemu dengan kolega bisnisnya bernama Pak Brata dan istrinya. Mereka membicarakan rencana pesta ulang tahun anaknya Pak Brata yang ke tujuh belas.
"Karena kondisinya seperti ini, terpaksa tamu undangan dibatasi, Pak," timpal Bima ketika Pak Brata dan istrinya sedang berdiskusi akan mengundang seratus lima puluh orang.
Pak Brata dan istrinya saling memandang.
"Maksimal lima puluh orang," kata Bima.
"Ya, sudah nggak apa-apa. Untuk teman-teman Anin aja," sahut Bu Julia, istri Pak Brata.
"Ibu mau pesta ulang tahun seperti apa?" tanya Bima kemudian.
Senyum manis tersungging pada bibir Bu Julia, meskipun usianya sudah tua, tetapi jejak kecantikannya masih terlihat nyata.
"Yang anak muda banget. Di sini udah cocok. Tempatnya juga nyaman," jawab Bu Julia.
Bima bergumam seraya berpikir keras. Kening laki-laki itu sampai mengerut dalam.
"Kenapa Pak Bima?" tanya Bu Julia.
"Begini Bu, saya punya rekomendasi tempat untuk pesta ulang tahun anak ibu. Masih dibawah naungan saya. Jadi, tempatnya ini tidak terlalu banyak sekat. Jadi, menurut saya akan aman-aman aja untuk bisa jaga jarak," kata Bima dengan hati-hati.
"Di mana itu Pak Bima?" tanya Pak Brata.
"Douillet Resto," jawab Bima mantap.
Pak Brata dan Bu Julia saling memandang.
"Jadi, nanti bapak dan ibu tinggal duduk manis saja. Saya dan tim siapkan konsep ulang tahun seremaja mungkin. Setelah saya dan tim berdiskusi, saya akan bagi hasilnya kepada bapak dan ibu. Tentunya juga akan ada potongan harga kalau bapak dan ibu setuju. Bagaimana?" tawar Bima.
"Gimana, Pak?" tanya Bu Julia kepada suaminya.
"Kita coba saja, Bu. Bapak percaya sama Pak Bima," jawab Pak Brata.
"Ya, sudah," kata Bu Julia.
Bima tersenyum manis.
"Kami boleh lihat restorannya?" tanya Bu Julia.
"Boleh banget, bu. Dengan senang hati saya akan menemani bapak dan ibu. Nanti infokan saja kapan ada waktu senggangnya," jawab Bima.
"Ya, sudah. Kami pamit dulu," kata Pak Brata, lalu menyalami Bima.
Bima mengangguk dan mengantar kliennya sampai di depan kafe. Setelah kliennya pergi, Bima merogoh saku dalam jasnya untuk mengambil ponsel. Laki-laki itu masuk ke kafe seraya menghubungi seseorang.
***
Bima membelokkan mobilnya ke restoran Anya. Tempat parkir restoran itu sepi, tanda bahwa restoran ini belum bangkit dari keterpurukan dan itu menjadi PR buat Bima. Laki-laki itu turun dan langsung berjalan menuju ruang meeting. Sampai di sana, Bima melihat Anya, Pak Daffa, dan Pak Azka sudah duduk rapi seperti sedang menunggu dirinya.
"Sori telat. Tadi macet," kata Bima seraya duduk.
"Nggak apa-apa, Pak," sahut Pak Azka.
"Jadi, ada apa pak?" tanya Pak Daffa.
"Begini ... saya dapet klien. Mereka mau mengadakan pesta ultah buat anaknya yang ke tujuh belas. Tadinya mereka ingin merayakannya di tempat saya, tapi saya pikir lebih baik diadakan di sini sebagai bentuk promosi juga," jelas Bima seraya menatap yang ada di ruang meeting satu per satu.
"Wah, pesta," komentar Pak Daffa.
"Mereka ingin pestanya ala remaja gitu. Ada ide mau bikin pestanya kayak gimana?" tanya Bima.
"Ya, pesta remaja, kan?" Anya yang dari tadi diam angkat bicara. Merasa bingung dengan pertanyaan Bima. "Mau kombinasi warna apa?"
Bima hanya bergumam sambil berpikir. Sebenarnya laki-laki itu tidak mempunyai ide sama sekali.
"Hitam, putih, dan gold," jawab Pak Azka.
"Atau emas kecokelatan," sahut Pak Daffa.
"Bisa juga pink kalau mau yang lebih feminim atau girly gitu," celetuk Anya.
Bima manggut-manggut. "Boleh, biar nanti klien yang memilih. Kita susun aja dulu."
"Jangan lupa bikin lembaran kain besar yang menutup dinding, kemudian diberi pencahayaan lampu hias. Cocok banget sih buat spot selfie," kata Anya kemudian.
"Untuk kuenya bisa ditaruh di meja segi panjang yang ditutup taplak berwarna. Warnanya menyesuaikan aja nanti. Sebagai pendamping kue ulang tahun biar nggak ngerasa kosong, kasih beberapa hiasan khas ulang tahun anak remaja," kata Anya lagi.
Anya menatap ke dinding seperti sedang membayangkan sesuatu. "Di dinding belakang meja bisa ditempel balon kumpulan huruf. Nama si ultah dan hiasan kata-kata 'happy birthday' atau bisa juga 'happy sweet seventeen' dan beberapa balon untuk mempercantik tampilan aja."
"Kayaknya kamu lebih ngerti," ucap Bima seraya menatap Anya yang kini tersenyum kepada tembok.
Anya memutar bola mata, menatap Bima dengan sorot malas. "Kan pernah muda. Bapak juga pernah, harusnya tahu sih," katanya.
"Saya nggak terlalu mikirin hal kekanakkan begitu. Jadi, nggak harus tahu," kata Bima datar.
Anya mendesis pelan.
"Untuk menu, Pak Daffa ada gambaran nggak?" tanya Bima.
Pak Daffa sudah membuka mulut untuk berbicara. Namun, urung.
"Di sesuaikan aja sama lidah orang Indonesia. Bisalah nanti cari referensi." Bima menjawab pertanyaannya sendiri.
Pak Daffa mengangguk.
"Untuk kue ultahnya ...." Bima tidak meneruskan kalimatnya. Keningnya mengerut dalam.
"Bapak bisa serahkan masalah kue dan yang manis-manis ke Bu Anya aja. Dia jago lho, Pak," kata Pak Azka.
Bima menatap Anya serius, membuat Anya sedikit salah tingkah.
"Oke," kata Bima sambil mengangguk. "Saya percaya kamu nggak akan bikin kecewa. Jurusan tata boga harusnya sih lebih dari jago."
Anya melakukan gerak hormat. "Siap. Akan kukerahkan seluruh jiwa raga agar nggak ada yang kecewa setelah nyicip my pastry."
"Untuk sekarang, itu saja dulu. Susunan acaranya, saya belum dapat kepastian," tandas Bima.
"Itu ... anu ... mau undang berapa tamu?" tanya Anya kemudian.
"Lima puluh dan ya paling ditambah beberapa staf," sahut Bima.
Anya mengangguk.
"Nanti bikin makanannya jangan dipas," pesan Bima.
"Iya."
***
"Enaknya bikin apa, ya?"
Yang diajak ngobrol tidak menyahut. Anya menoleh, melihat sahabatnya yang sedang membaca buku entah apa.
"Dih, budek," ejek Anya. "Baca apa sih?"
Anya merebut buku yang ada di tangan Alden, membuat cowok itu mendesis tak suka.
"Rese banget. Untung nggak sobek," dumel Alden.
"Habisnya kamu diajak tukar pikiran malah asyik sendiri," kata Anya, lalu cemberut.
Alden mendengkus.
"Aku ajak ke toko buku ini buat kamu kasih aku dukungan," jelas Anya.
"Heh?"
"Iya, dukungan apa yang akan aku buat nanti," imbuh Anya, lalu mengambil buku bergambar kue ulang tahun.
Alden melirik buku yang Anya ambil. "Mau bikin kue ultah, kan? Kayak biasanya aja kenapa sih?"
"Nggak, nggak. Ini tuh harus spesial. Usia tujuh belas tahun itu tuh pencapaian istimewa," sahut Anya antusias.
Alden mencibir.
"Pokoknya, semuanya harus dirancang sedemikian rupa. Dari dekor sampai ke t***k bengek kue ultah," kata Anya, lalu tersenyum kepada Anya.
Alden mendesah panjang. "Terserahlah."
Anya membuka buku hanya untuk melihat gambar-gambarnya saja.
"Lagian, zaman udah canggih gini ngapain sih ke toko buku? Tinggal selancar lewat google juga banyak," kata Alden. Cowok itu mengambil buku sembarang, lalu membuka-bukanya tanpa minat.
"Bawel," ucap Anya. "Biar ada alasan pergi keluar tahu."
Alden tidak menanggapi.
Anya menatap Alden, lalu bertanya, "Emangnya kamu nggak sumpek apa di rumah terus?"
Alden menggeleng.
"Atau kayak aku, biar kelihatan kek pergi ke tempat kerja, tapi nggak kerja," kata Anya.
Alden hanya melirik seraya mengangkat bahu acuh tak acuh.
"Masih sepi restoranku. Nggak banyak kegiatan yang berarti," keluh Anya, lalu mendesah panjang.
Alden mengembalikan buku yang dipegangnya ke rak.
"Tapi, sekarang ada kegiatan. Ada kliennya Bima mau adain pesta di resto. Itu buatku semangat," kata Anya.
"Pesta apa?" tanya Alden. Mendengar kata pesta, membuat cowok itu penasaran.
"Ulang tahun," jawab Anya.
"Anak-anak dong," kata Alden.
Anya meringis. "Tujuh belas tahun bukan anak-anak lagi sih."
"Aku boleh dong datang. Ajak Bella juga ah," ucap Alden seenaknya.
Anya menggeleng. "Nggak. Siapa bilang kamu diundang?"
"Di sana kan pasti banyak makanan. Kok tega-teganya nggak ngundang aku dan Bella," ucap Alden dengan raut wajah penuh kekecewaan.
"Kalo itu pestaku ya bakal diundang. Ini kan pesta orang yang nggak dikenal," sahut Anya memberi alasan yang masuk akal.
"Tapi, kan aku kenal pemilik restorannya," kekeh Alden.
Anya menggeleng tegas. "Nggak boleh. Pokoknya kamu dan Bella jangan dateng. Titik."
"Pelit," ejek Alden. "Nggak asyik."
Anya hanya berdecak.
"Mau mampir ke kedai es krim biasa nggak?" tanya Alden kemudian.
"Mau," jawab Anya
"Ya, udah sih buruan mau beli buku yang mana," kata Alden
Anya menggeleng, lalu menyengir tanpa dosa. "Nggak ada."
"a***y ... Anya ngerjain orang doang," dumel Alden, lalu berjalan keluar toko.
"Dibilangin cuman buat alasan biar bisa keluar," kata Anya seraya menyusul Alden.
Alden berdecak, lalu keduanya pergi ke tempat tujuan selanjutnya. Lima belas menit berlalu, akhirnya mereka sampai. Saat keduanya masuk ke dalam kedai es krim, bunyi 'cring' terdengar nyaring. Alden dan Anya duduk di samping jendela besar. Terlihat kendaraan berlalu-lalang di jalan raya.
"Mau pesan apa?" tanya seorang pelayan dengan ramah.
Anya dan Alden saling memandang sebentar.
"Classic banana split," jawab Alden seraya tersenyum kepada pelayan.
"Kalo aku ... apa, ya?" Anya tampak berpikir sejenak. "Itu deh Mbak, blueberry ice cream."
"Baik. Mohon ditunggu sebentar," ucap si pelayan, lalu pamit undur diri.
Anya dan Alden mengangguk.
"Kamu sama Bella gimana?" tanya Anya basa-basi.
Alden mengangguk. "Baik."
"Dia ada cerita nggak sama kamu?" tanya Anya.
"Soal?" Alden balik bertanya.
"Tentang aku barangkali," jawab Anya seraya mengangkat bahu acuh tak acuh.
Alden menggeleng. "Nggak tuh."
"Serius?" tanya Anya.
Alden mengangguk. "Serius. Emang mau cerita apa coba?"
"Aneh," ucap Anya pelankepada diri sendiri. Gadis itu pikir, Bella akan menceritakan soal calon suaminya kepada Alden dengan heboh. Mengetahui bahwa gadis itu tidak cerita kepada sahabatnya, membuat Anya tak habis pikir. Namun, sedetik kemudian Anya merasa masa bodoh. Bella tidak rewel lagi, tandanya dia aman bersahabat dengan Alden.
"Ngomong apa sih?" tanya Alden.
Anya menggeleng. "Nggak. Nggak apa-apa kok."
"Silakan dan selamat menikmati," ucap si pelayan begitu pesanan Anya dan Alden datang.
"Terima kasih," ucap Anya dan Alden hampir bersamaan.
Ketika pelayan pergi, dengan seenaknya Alden menyendok milik Anya dan memakannya.
"Heh! Cari mati?" ancam Anya tak terima.
Alden hanya tertawa, lalu menelan es krim yang ada di mulutnya. "Lumer dimulut," katanya sengak.
Anya tidak terima. Dia melakukan serangan balik, tetapi sendoknya ditepis balik oleh sendok Alden.
"Heh! Balikin!" seru Anya.
Alden hanya menggeleng. Kemudian terjadi perang sendok di antara keduanya. Anya kesal karena Alden tidak mau mengalah, sementara Alden tertawa dengan senang.
Anya cemberut. Gadis itu menyerah. Alden menukar es krim miliknya yang masih utuh dengan milik Anya yang tinggal separuh, membuat Anya kegirangan. Siapa pun yang melihat pasti mengira mereka adalah sepasang kekasih. Nyatanya tidak.
Setelah puas makan es krim, Anya meminta Alden untuk menemaninya bertemu jasa vendor dekorasi ulang tahun. Cowok itu menyanggupi. Mereka keluar dari kedai sambil tertawa-tawa karena tidak sengaja ketika di kasir mendengar sepasang remaja yang rebutan untuk membayar. Alden yang gemas akhirnya menyeletuk, "Dari pada kalian ribut siapa yang mau bayar, kenapa kalian nggak bayarin es krim Kakak aja? Itung-itung sedekah."
"Pak Bima," panggil Anya ketika melihat Bima baru saja keluar dari gedung sebelah kedai es krim.
Bima yang mendengar namanya disebut, menoleh.
Anya menyeret Alden untuk menghampiri Bima.
"Bapak ngapain di sini?" tanya Anya.
"Ketemu klien," jawab Bima.
"Oh, ya. Kenalin, Pak, ini sahabat saya. Alden," kata Anya. Gadis itu menyikut Alden. "Al, dia yang namanya Pak Bima."
Alden menatap Bima dari atas sampai bawah dengan terang-terangnya, lalu tersenyum lebar. "Akhirnya bisa ketemu juga dengan kaleng biskuit," katanya seraya mengulurkan tangan.
Anya memelotot mendengar ucapan Alden. Gadis itu langsung menginjak kaki cowok itu sampai mengaduh kesakitan, sementara Bima hanya menatap Anya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Kaca jendela mobil Bima terbuka. "Bim, ayo. Udah jam berapa nih."
Suara wanita yang sangat dikenal Anya, membuat gadis itu menoleh. Anya melihat Ratu duduk di kursi penumpang samping pengemudi. Wanita itu menatap Anya dengan senyum yang mengusik hati gadis itu. Ada yang tidak biasa pada cara Ratu menatapnya.
"Kalau begitu, saya pergi dulu, Pak," pamit Anya seraya menyeret Alden tanpa menunggu tanggapan dari Bima.
***
Anya sibuk mondar-mandir. Gadis itu seperti kelinci yang bisa melompat ke sana-kemari. Tadi pagi orang-orang dari jasa vendor dekorasi yang Anya sewa mengecek lokasi restoran gadis itu. Mereka mengukur ruangan dan bertanya segala t***k bengek yang diperlukan. Salah satunya, apakah temboknya boleh dipaku? Anya menyetujui. Gadis itu tidak mempermasalahkan.
"Ini ujan kapan berhentinya, ya?" tanya Anya lebih kepada diri sendiri.
"Mudah-mudahan besok nggak ujan." Anya menjawab pertanyaannya sendiri.
Anya berjalan menuju dapur seraya matanya menatap orang-orang dari jasa vendor yang sedang sibuk membuat bunga dari kain berwarna pink.
"Bu Anya berhenti!" panggil Hani ketika bos mudanya itu hampir saja menabrak tembok.
Anya menyengir dengan wajah tanpa dosa kepada Hani yang mengembuskan napas lega. Gadis itu meneruskan langkahnya, masuk ke dapur.
"Pak Daffa, gimana kue ultahnya? Udah ada gambaran mau tingkat berapa?" tanya Anya, lalu duduk di salah sat kursi
"Kalau bisa sih seratus Bu, biar dapet rekor muri," jawab Pak Daffa, lalu terkekeh sendiri.
"Untuk menu besok aman?" tanya Anya lagi.
"Aman."
"Bahan-bahannya udah dibeli?" tanya Anya.
"Udah dong, Bu," jawab Pak Daffa.
Anya menggigit bibir bawahnya.
"Ibu gugup, ya?" Kali ini yang bertanya Pak Daffa.
Anya mengangguk. "He'eh."
"Tenang, Bu. Santai. Besok acaranya pasti sukses," kata Pak Daffa.
Dalam hati Anya mengamini ucapan Pak Daffa beberapa kali. Anya juga berharap setelah besok acaranya lancar dan sukses, restorannya bisa kembali pulih seperti sebelum pandemi.