Hikam bukan orang yang suka memperhatikan orang lain, apalagi saat sedang menggambar sketsa. Dia lebih tertarik pada dekorasi interior sebuah kafe atau restoran, tetapi apabila orang tersebut mondar-mandir di sekitarnya sibuk sendirian dengan nampan di tangan yang terlihat berat, Hikam terpaksa memperhatikan.
Rambut yang dicat cokelat itu diikat praktis di bawah tengkuk, meski hanya dapat melihat matanya saja yang diberi maskara kerena sebagian wajah wanita itu tertutup masker, Hikam tahu hidungnya cukup mancung. Postur tubuhnya tinggi langsing, tepat sekali dengan memakai kemeja yang pas di badan itu.
Mungkin merasa diperhatikan, wanita itu menoleh dan menghampiri dari satu meja di depannya. Dari name tag yang dipakainya, Hikam akhirnya tahu namanya Hani.
“Mau pesan menunya sekarang, Mas?”
Hikam berpikir sejenak. “Belum. Masih nunggu teman.”
Hani memeluk nampan ke dadanya, matanya tidak bisa tidak memperhatikan sketsa yang sedang dibuat tamu itu, terutama bibirnya yang langsung bertanya, “Masnya gambar restoran ini ya?”
Hikam menunduk ke sketch book-nya yang terbuka, lalu mendongak lagi. Namun, sebelum menanggapi pertanyaan Hani, seseorang datang ke mejanya.
“Sorry, udah lama?” Bima menaruh tas tangannya di meja. “Oh, ya kalian udah kenalan?”
Hikam balas menggeleng. “Han, ini Hikam Head Bar saya. Ini Hani, server di sini.” Bima memperkenalkan mereka berdua.
“Oh, iya Pak, salam kenal.” Hani membungkuk malu-malu. “Mau sekalian pesan makan?”
Bima menatap Hikam yang menggeleng pasti. “Nanti aja, kamu bisa kerja lagi,” ucap Bima.
Setelah Hani meninggalkan mereka, Bima dan Hikam duduk kembali. “Gimana menurut kamu restoran ini?”
Douillet Resto sudah pasti bukan restoran kekinian. Itulah yang dipikirkan Hikam saat memasuki resto. Sebagai perancang interior amatir, dia cukup terkesan dengan lantai kayu yang dipernis, beberapa kursi berlengan ala Eropa, dan dekorasi klasik yang terlihat berkelas.
Hikam mencondongkan badan ke arah Bima, suaranya nyaris berbisik, “Mirip warteg mewah.”
Mendengar pengakuan Hikam membuat Bima penasaran. “Alasannya?”
“Menunya cenderung ke makanan dan pilihan minumannya sedikit. Restoran ini hanya fokus membuat perut orang kenyang bukan memanjakan mereka berlama-lama.” Bima mengangguk setuju, Hikam melanjutkan lagi, “Aku nggak akan milih habisin waktu libur ke sini.”
Bima terkekeh. “Karena itu aku minta kamu ke sini pas libur.”
Hikam mendelik kesal. “Parah!”
“Dulu makan di sini sampai antre, jadi pemiliknya lebih fokus ke makanan. Orang lapar cari makan ke sini. Perut kenyang, beres, besok datang lagi, tapi sekarang di sini sepi.” Bima menelepon Anya dan meminta bergabung.
Tak lama kemudian Anya datang dan menyapa mereka. “Halo, saya Anya. Senang banget ketemu Pak Hikam"
Senyum Hikam mengembang ramah. “Saya akan berusaha membantu.”
Anya menatap lesung pipi Hikam yang menyembul. Wajahnya menarik dengan senyum super manis, kacamata bulat membingkai mata gelapnya, dan warna kulitnya sawo matang. “Makasih udah mau direpotin.” Anya tersenyum malu-malu, tetapi matanya penuh semangat.
Hikam yang dipersilakan Bima langsung menjelaskan konsep bar yang dia rancang. Dengan serius Anya memperhatikan sketsa gambar itu. Hikam melirik kepada Bima menanyakan dengan isyarat apakah dia orangnya? Bima hanya balas mengangguk satu kali.
“Di dekat pintu masuk ada space yang bisa dijadikan bar, itu sisi paling pas menurut saya. Saat orang-orang masuk, yang pertama diinginkannya adalah secangkir kopi hangat atau teh. Sisi jendela itu juga menarik untuk berduduk santai.”
Anya menatap sudut ruangan yang ditunjuk Hikam, membayangkan akan ada pantry bar di sana. Seorang barista akan berdiri di balik meja, suara mesin kopi, mesin pengaduk, bongkohan es yang dimasukkan ke gelas, uap hangat yang mengepul, juga orang-orang yang dapat menonton pekerjaan barista.
Hikam berdeham pelan. “Karena konsepnya klasik, meja bagian luar akan dilapisi kayu mahoni. Dekorasinya dari bunga kering, figura, dan keranjang rotan. Bagaimana?”
Anya menatap Hikam, lalu kepada Bima. “Itu pasti cantik banget. Kapan mulai pengerjaan barnya?”
“Kita hanya perlu belanja, dan menaruhnya di sini,” jawab Bima ringan. “Hikam akan bertanggung jawab di sini untuk sementara, setelah melihat progresnya selama sebulan baru akan merekrut orang.”
Hikam menahan napas agar tidak mengeluh, sementara Bima menatapnya dengan seringai singkat. “Semua konsep dan peralatan yang ada di kafe, pilihan Hikam. Jadi kamu bisa percaya sama dia.”
Anya mengangguk dan tersenyum lebar. “Pasti. Makasih banyak.”
“Sudah print bahan-bahan untuk menu dessert besok?”
Anya menyerahkan selembar kertas kepada Bima. “Ini, rencananya semua bahan mau dibeli nanti sore.”
Bima memeriksa daftar belanja. “Saya akan minta pastry chef periksa daftar ini. Bahan yang nggak ada baru kamu beli.” Bima melirik jam tangannya. “Saya ada janji ketemu orang. Jadi kalian bisa lanjut berdua.”
Anya melambaikan tangan ketika Bima berjalan pergi. Beberapa lama dia mengobrol dengan Hikam hingga makan siang bersama.
***
Besoknya Anya membawa beberapa belanjaan untuk membuat menu dessert hari ini. Dia berjalan lewat samping menuju dapur kafe milik Bima, karena di dapurnya tidak ada peralatan membat pastry yang memadai, jadi Bima memintanya untuk membuat menu di sini.
Pastry chef menyapanya dan mempersilakan Anya melihat bagian dalam dapur. Ada dua orang staf lagi yang sedang membersihkan ruangan. Satu mengelap meja yang penuh tepung dan satu lagi mengelap kering loyang yang baru saja dicuci.
“Kami sudah selesai produksi, Bu Anya bisa pakai ruangan.”
Anya mengangguk kepada pastry chef dan menaruh barang belanjaannya di meja. Suara mesin pengaduk, oven besar yang berjajar, dan aroma cokelat membuat Anya teringat suasana akrab ini. Dia dulu magang di salah satu toko kue ketika praktek kerja kuliah.
Sempurna, pikir Anya takjub. Dapur ini sangat lengkap. Pastry di sini hanya berproduksi sampai jam 2 siang jika Sabtu seperti ini. Dari ruangan ini semua kebutuhan roti dan dessert diantar ke beberapa kafe milik Bima. Hebat sekali!
Tanpa menunda banyak waktu, Anya langsung membuat menu barunya. Dia dibantu pastry chef untuk menjalankan mesin, sampai mengatur suhu oven. Saat- saat seperti ini yang membuat Anya penuh antusiasme.
Aroma jamur truffle yang dicampur telur, s**u, dan bawang menguar di udara. Belum lagi aroma manis dari kopi, karamel, dan cokelat yang dilelehkan. Pekerjaannya sudah hampir selesai. Setelah mengelap piring saji, Anya melangkah untuk memeriksa oven.
Anya masih mengamati bayangan dirinya di pintu oven ketika Bima muncul di ambang pintu dapur dan berkata, “Apa yang kamu buat?”
Senyum Anya mengembang ketika berbalik menghadap Bima. “Quihes dan éclairs. Ada beberapa yang udah jadi, sisanya untuk pegawai resto.”
Bima melihat presentasi dari menu yang dibuat Anya. Kepalanya mengguk melihat kue lonjong yang diberi topping warna-warni dari lelehan cokelat, kopi, karamel. Dia juga melihat quiches dengan warna yang kuning keemasan yang bagus. “Apa rasanya enak?”
Anya menjawab tanpa ragu, “Pasti dong!”
Bima mengambil satu kue dan menggigitnya. Raut wajahnya berubah dan mengakui rasanya enak, tidak terlalu manis dan renyah. Setelah itu dia menggigit sepotong quiches yang bentuknya mirip kue tart, tetapi isiannya seperti martabak telur. Ini jenis pastry asin, rasanya gurih, tidak terlalu berminyak karena dipanggang dan kulitnya renyah.
“Ini enak,” komentar Bima tanpa ragu, senang melihat mata Anya yang berbinar.
Namun, tiba-tiba saja Anya menanyakan hal yang dari tadi mengganggu pikirannya, “Kenapa Pak Bima nggak suplay menu dessert dari sini aja ke resto saya?”
Dengan enteng Bima menunjuk ke arah pastry chefnya dan berkata dengan nada bercanda, “Dia akan kasih tagihan yang besar.”
Pastry chef ikut terkekeh dan mengedipkan sebelah mata kepada Anya. “Pekerjaan saya udah terlalu banyak hanya dengan 2 staf,” elaknya. “Pak Bima mau Bu Anya bikin usahanya sendiri dari bakat yang dipunya.”
Pernyataan itu membuat Anya kaget, tidak menyangka kalau Bima memikirkan sampai sejauh itu. “Makasih, Pak.”
Bima mengangkat sebelah tangan. “Bukan apa-apa, dia hanya melebih-lebihkan.”
“Besok kamu bisa ikut kan?”
Alis Anya terangkat bingung. “Ikut ke mana?” Matanya langsung menyipit, curiga Bima akan mengajaknya ke taman bermain lagi.
Bima mengirimkan lokasi toko ke w******p Anya. “Ke toko furniture untuk bar yang mau kita buat di resto kamu.”
“Oh, bisa.” Anya bernapas lega. “Jam berapa?”
“Jam sepuluh aja.”
***
Semalam hujan deras yang membuat jalanan pagi ini becek. Anya melangkah hati-hati agar sepatunya tidak mencipratkan air ke belakang celananya. Dia berdiri dipinggir halte menunggu bus. Ternyata naik kendaraan umum sudah menjadi kebiasaan. Meski awalnya merasa terpaksa harus beramai-beramai dibanding sebelumnya duduk sendiri dibalik kemudi mobil pribadinya.
Selagi dalam perjalanan, Anya melirik lagi jam tangannya. Masih banyak waktu, dia tidak akan terlambat. Memikirkan hari-harinya belakangan ini, Anya sangat lega bisnis keluarganya bisa diselamatkan. Manajemen restorannya juga semakin baik, dan tamu yang datang sedikit meningkat. Anya bersyukur bertemu orang-orang yang baik.
Anya turun dari bus, di seberang jalan ada nama toko yang ditulis Bima. Melihat dari luas bangunannya, dia yakin Minggu pagi ini kakinya akan pegal. Sepertinya bukan Bima kalau tidak belanja dari toko terbaik. Ini juga pertama kali dia berbelanja dengan laki-laki itu.
Perlahan Anya melepas jaketnya sembari berjalan melewati area parkir, jendela kaca yang memantulkan dirinya membuat Anya berhenti sejenak dan merapikan poninya. Di lantai bawah gedung ini ada beberapa kafe dan tempat makan yang mengelilingi teras.
Setelah melewati pintu utama, lobi dipenuhi sofa-sofa dengan berbagai desain dan warna. Ruangannya berbentuk lingkaran, membuat siapa saja yang masuk kemari ingin menyusuri tempat ini. Empat pilar besar yang menopang ruangan diberi tempat duduk yang nyaman. Beberapa lukisan dinding besar, hiasan meja, dan gaya arsitektur menjadi penegas tempat ini.
Anya memeriksa ponselnya lagi, belum ada balasan di mana laki-laki itu. Kepalanya menjulur dan menengok sana-sini mencari Bima, dengan menahan kakinya agar berjalan santai, Anya melangkah untuk mengelilingi ruangan.
Pada barisan kaca yang menghadap kafe, Anya bisa mengenali kepala Bima yang duduk membelakanginya. Namun, suaranya tertahan begitu melihat laki-laki duduk berdampingan dengan seorang wanita.
Mata Anya semakin memelotot begitu si wanita duduk berdempetan dengan Bima. Bahunya menekan sisi lengan Bima, dan kepalanya hampir bersandar ke bahu si Kaleng Biskuit.
Astaga! Dasar om-om m***m! Memangnya enggak ada tempat lain?
Kepala Anya menggeleng ngeri. “Deket perempuan dikit aja, langsung nempel,” desisnya. Dengan gemas Anya menekan tombol kameranya untuk memoto barang bukti kegatelan si remah-remah kerupuk.
CEKREK!
Kepala Bima langsung berbalik begitu mendengar suara kemera yang keras.
Oh, sial! Ternyata rana bunyi kameranya tidak dimatikan.