“Wuidiiihh, bawa bekal dari rumah, Pak? Kok kayak enak.” Hani menyeletuk. Spontan pak Daffa menaruh sendok ke kotak bekal makanan. Mulutnya masih aktif mengunyah perlahan sambil meraih botol air mineral.
“Iya, nih. Semalam ada acara keluarga di rumah. Jadi, masak banyak. Karena masih ada sisa, ya saya bawa kerja aja. Daripada sayang dan mubazir,” jawab Pak Daffa setelah meneguk air mineral yang dia bawa.
“Hani boleh rasain nggak sih, Pak? Sudah lama nggak makan makanan khas indonesia begini. Karena kerja di restoran eropa, lidah Hani jadi mendadak bule juga sekarang.” Hani tertawa. Lalu meraih sendok setelah mendapat lampu hijau berupa anggukan dari Pak Daffa.
Dengan mata berbinar, gadis itu menyendok makanan serta nasi yang berada di kotak berbeda. Melahapnya dengan satu kali suapan.
“Enak banget, Pak. Ini ikannya enak banget. Aku baru rasain makanan ini. Namanya apa, Pak?”
“Yang ini ikan Nainura. Makanan khas dari kampung halaman istri saya. Di Medan. Sumatera Utara. Wajar aja kalau baru pertama kali kamu rasain.”
“Oh, gitu.” Hani manggut-manggut lalu beralih ke kotak selanjutnya. “Heeemm ... ini juga enak banget, Pak,” ucap Hani dengan mulut penuh dengan makanan.
“Kunyah dan telan dulu. Hati-hati tersedak.” Pak Daffa menyodorkan gelas berisi air putih untuk Hani. “Kalau yang ini krengseng daging. Makanan khas jawa timur. Pasti kamu pernah rasa dong. Tapi, saya buatnya dengan bumbu rahasia. Turun temurun. Jadi, tetap aja rasanya sedikit beda dari krengseng daging yang biasa,” terang Pak Daffa tanpa ditanya. Sementara Hani malah fokus menyuap makanan pak Daffa dengan santai dan tak ada rasa berdosa.
“Pak ... Hani tambah nasi, ya! Ini bumbu ikannya enak banget. Tambah bawang goreng sama nasi anget lagi pasti makin enak nih pasti!” seru Hani sembari terus mengunyah. Pak Daffa hanya tertawa menyaksikannya.
“Hani ... meja kasir kosong, tuh. Dicariin ke mana-mana, eh malah nongkrong di dapur. Mana sambil ngunyah lagi. Baru juga jam setengah dua belas siang. Belum waktunya istirahat!” tegur Anya sambil bersedekap.
“Maaf, deh, Bu. Habisnya Hani laper banget. Dari kemarin nggak nafsu makan. Karena ada mbak-mbak garing yang marah-marah di sini.”
“Ya udah sih, lupain aja. Anggep aja orang gila,” jawab Anya tak ingin ambil pusing dengan peristiwa kemarin. Semalaman hati dan otaknya sudah tak karuan mengingat hal itu. Seperti ada pertolongan dari Tuhan, Bima datang di saat yang tepat. Seketika membungkam mulut Bella yang tak mau diam.
“Bener jugaya, Bu. Eh, Bu, cobain deh bekalnya Pak Daffa, nih. Enak loh, Bu,” tawar Hani sembari menyodorkan kotak bekal yang berisikan makanan menggiurkan.
Sejenak, Anya ingin menolak. Namun, mulut Hani yang tak berhenti mengunyah membuat perutnya goyah. Anya mendekat. Mengambil sendok, lalu mencicipinya dengan satu suapan kecil.
“Enakkan, Bu?” tanya Hani bersemangat.
“Ini ikan mentah, ya, Pak?” tanya Anya sambil menyantap suapan kedua.
Pak Daffa mengangguk tanpa menjawab. Mata Hani memelotot.
“Hah? Mentah? Kok bisa enak?” cerocos Hani lagi meski dengan mulut penuh. Pak Daffa melirik kotak bekalnya yang mulai kosong, lalu tersenyum kecil. Maklum dengan tingkah Hani.
“Iya, ikan Nainura ini bisa dibilang Shasimi khas Tapanuli, Sumatera Utara,” terang Pak Daffa.
“Cara masaknya gimana, Pak?” Anya menarik kursi. Duduk mendekat di antara Hani dan Pak Daffa yang mulai serius menjelaskan.
“Iya pertama, bersihkan dulu ikan mas. Setelah itu, ikan dimatangkan dengan cara direndam dalam air jeruk purut sehingga rasa dan aroma amisnya hilang. Melalui proses ini, kualitas protein di ikan mas menjadi lebih utuh karena tidak terkena api sama sekali.”
“Terus terus, Pak?” Kini giliran Hani yang bertanya antusias.
“Lalu, untuk bumbu siramnya terdiri dari gabungan sepuluh macam bumbu termasuk andaliman, yang merupakan bumbu khas suku Batak dan kecombrang yang memiliki cita rasa gurih yang kuat, harum, dan khas. Paduan bumbu ini bisa membuat selera makan kita meningkat dan tergoda untuk segera mencicipi. Ya, seperti Hani.” Pak Daffa menoleh ke Hani saat gadis itu menyuap suapan terakhir. Tiga kotak bekal yang kosong menjadi bukti bahwa makanan itu benar-benar lezat dan perut Hani yang benar-benar lapar.
“Tekstur kenyal dari ikan yang sudah meresap asam jeruk purut menghadirkan sensasi tersendiri, Bu,” tambah Pak Daffa lagi. Anya manggut-manggut antusias. “Rasa dari ikan Naniura ini sangat ketir di mulut. Nano-nano. Bumbunya terasa pedas dan hangat pada bibir. Apalagi jika Naniura dinikmati dengan sedikit minuman bersoda“
“Hah? Siapa yang berdosa?” tanya Hani.
“Kamu yang berdosa! Karena ngabisin makanan pak Daffa!” sembur Anya kesal. Pak Daffa tertawa.
“Ibu juga berdosa. Udah tunangan nggak bilang-bilang,” balas Hani. Sementara ekspresi Anya seperti siap mau menerkam.
“Tadi saya bilang bersoda,” jawab Pak Daffa menengahi.
“Udah udah! Kamu kembali ke depan. Nggak usah sok cantik begitu. Sudah kenyang ‘kan? Balik kerja lagi gih sana!” titah Anya. Hani langsung berdiri saat mendengarnya.
“Hemm, PakDaffa ... kalau makanan ini dimasukin ke menu resto gimana?” tanya Anya sambil mengetuk ngetuk meja dengan ujung kuku.
“Kalau saya, sih, oke aja, Bu. Tapi takutnya kalau jadi menggeser citra resto di mata pelanggan. Kan ini resto khas prancis. Masa ada menu kreseng daging dan ikan Nainura,” jawab Pak Daffa sambil terkekeh pelan.
“Heeem ....” Anya tampak sedang berpikir. “Gini aja, deh, gimana kalau besok bapak masak lagi yang persis seperti ini. Kebetulan, besok Pak Bima juga mau ke sini lagi. Maksudnya, biar minta tanggapan sama yang lain termasuk pak Bima juga,” usul Anya.
“Pak Bima mau ke sini lagi, Bu? Mau kencan, ya?”
“Yang serius dong, Pak. Jangan bahas itu lagi deh. Malu saya.” Anya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Pak Daffa terkekeh pelan.
“Boleh, Bu. Boleh,” jawab Pak Daffa setelah berhasil menggoda Anya. “Saya setuju aja. Besok saya bawain makanan yang sama persis dengan sekarang, Bu.”
“Oke, Pak. Tapi inget. Jangan sampai Hani lihat. Nanti makanannya dihabisin lagi sama dia sebelum pak Bima datang. Kecil-kecil tapi perut karet tuh. Lambungnya muat banyak,” canda Anya.
***
“Nenek sihir kemarin beneran nggak ada ke sini lagi, ‘kan?” Bima bertanya saat mulai memasuki ruangan bertuliskan Administration Office. Laki-laki itu benar-benar tepat waktu. Dua hari lalu, Bima berjanji ingin mampir ke restoran setengah jam sebelum waktu makan siang. Membahas kelanjutan bisnis sekalian mengisi perut. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Begitu pikirnya.
“Nenek sihir siapa?” Anya bertanya balik. Sembari membuka pintu ruangannya.
“Itu, pacarteman kamu,” jawab Bima sambil mengangguk canggung ketika bertemu pak Azka di area managerial. Karena hanya memiliki satu pintu utama sebagai akses masuk dan keluar, otomatis ruangan Anya bisa diakses setelah melewati ruangan Pak Azka.
Anya tertawa bersemangat. “Bella maksudnya? Wah bener juga. Emang nenek sihir dia tuh. Cerewet banget. Sukanya nuduh-nuduh. Curigaan terus. Nggak percayaan. Pikirannya negatif mulu kalau sama orang,” cerocos Anya, bersemangat.
“Terus bedanya sama kamu apa?” tanya Bima. Membuat Anya terdiam.
“Maksud Bapak?”
Anya berbalik. Mempersilakan Bima duduk dengan gerakan tangan. Pintu ruangannya langsung ditutup rapat. Jangan sampai pak Azka mendengar hal yang tidak-tidak.
“Ya kamu bilang Bella cerewet. Kamu juga cerewet. Kamu bilang, Bella suka nuduh-nuduh. Kamu juga sama. Suka nuduh saya yang enggak-enggak. Terus kamu bilang, Bella curigaan. Kamu juga nggak ada beda. Buktinya kemarin kamu ngira saya nyebar undangan per—“
“Udah stop stop! Cukup deh,” potong Anya. Spontan mulut Bima kembali mengatup.
“Kan bilangnya ke sini mau bahas urusan bisnis. Mau bantu mikirin yang terbaik untuk resto. Kenapa malah bahas Bella terus, sih.”
Bima mengembuskan napas. “Oke. Kembali ke topik. Makanya jangan suka nuduh-nuduh jadi orang.” Sindiran Bima masih berlanjut. Anya mendengkus kesal.
“Eh, Pak Bima, ngomong-ngomong belum makan siang, ‘kan? Cobain masakannya Pak Daffa, ya?” Anya kembali bersemangat saat mendapat topik pengalih pembicaraan.
“Masakan Pak Daffa? Menu baru?” tanya Bima yang hanya dibalas dengan anggukan oleh Anya.“Boleh, deh.”
Anya menepuk tangan satu kali sambil berkata‘yes’ lalu melangkah ke dapur. Memanggil Pak Daffa serta karyawan lainnya. Pak Daffa datang dengan nampan berisikan dua piring makanan yang menunya sama dengan kemarin. Sementara Anya membawa dua piring kosong serta beberapa sendok dan garpu.
“Taraaaa ...,” ucap Anya bersemangat saat menyajikan makanan di hadapan Bima.
“Wuih ... makan besar lagi, nih, kita.” Hani ikut menghampiri.
“Mending kamu standby di luar aja, Han,” saran Pak Azka.
Hani meringis. “He he. Hani mau ikut di sini sebentar ya, Pak. Di depan juga lagi kosong, kok,” tawar Hani sambil mengatupkan kedua telapak tangan.
“Rasain deh, Pak,” bujuk Anya.
Bima mengangguk. Kebetulan, perutnya memang masih kosong. Secangkir kopi yang dia nikmati tadi pagi sudah berubah menjadi air seni.
“Duh, Bu Anya udah kayak istri yang lagi nyuguhin makanan ke suaminya,” celetuk Hani. Anya memelotot dibuatnya.
"Gimana, Pak? Enak 'kan?" Tak memedulikan ucapan Hani, Anya menatap Bima penuh semangat. Begitupun dengan pak Daffa, yang masih setia berdiri sembari memeluk nampan. Harap-harap cemas juga dirasakan Pak Azka. Lelaki yang sudah mengabdi selama hampir 5 tahundi Doulliet Resto itu menaruh harapan besar akan perkataan yang keluar dari mulut Bima.
Biar bagaimanapun, Pak Azka ingin yang terbaik untuk restoran.
Bima mulai mengunyah perlahan. Sejenak rahangnya terdiam. Bola matanya bergerak, menatap setiap sudut restoran Anya. Seperti mencari kalimat yang pas untuk menafsirkan rasa yang singgah di lidah.
"Ini pakai andaliman, ya, Pak?" tanya Bima beberapa saat kemudian.
Dengan cepat, Pak Daffa mengangguk. Masih mendekap nampan sembari maju selangkah, dia berkata, "Benar, Pak. Wah, Pak Bima benar-benar hebat. Bisa menebak rempah—"
"Enak 'kan, Pak?" Anya memotong segera. Pak Daffa kembali diam dan mundur satu langkah. "Cobain yang ini juga, Pak," titah Anya sambil menyodorkan satu piring kreseng daging lengkap dengan sendok di sisinya. Hal itu membuat Hani berdeham sambil cekikikan. Pak Azka juga terlihat menahan senyum. Menutup mulut dengan kepalan tangan.
"Wah, kreseng daging, ya," ucap Bima ketika mengambil sendok dan mengaduk-aduk makanan itu. Bima mengangguk-angguk pelan sebelum mulai menyantap makanan.
"Saya suka keduanya. Beberapa tahun lalu, saya pernah disuguhkan Ikan Nainura saat berkunjung ke Medan karena perjalanan bisnis. Rasanya tidak jauh berbeda. Masakan pak Daffa seperti membawa saya ke momen beberapa tahun lalu. Saya jadi ingat masa-masa itu.”
"Sama pacar ya, Pak?" Hani menyeletuk.
"Maksudnya?" Bima menatap aneh.
Tanpa aba-aba, Anya menyikut lengan Hani. Gadis itu terhuyung dua langkah ke kiri. Menyentuh lengan pak Azka yang spontan langsung menjauh.
"Jangan tanya aneh-aneh, deh." Anya memelotot. Bima tersenyum kecil sembari mengelap bibir dengan tisu.
"Iii ... Bu Anya cemburu, ya?” sindir Hani lagi.
"Bisa serius dikit nggak, sih?" Anya mulai emosi. Iya menggebrak meja satu kali tanda protes. Bahu Pak Azka sampai terangkat karena kaget.
"Hem ... oke, kembali ke topik utama.” Bima menarik napas panjang, lalu melanjutkan, “intinya, saya suka kedua makanan ini. Ikan Nainuranya enak. Kreseng dagingnya juga enak. Sepertinya, Pak Daffa memakai bumbu tambahan untuk kreseng dagingnya. Jujur, saya baru rasa yang seperti ini. Benar pak Daffa?" tanya Bima lagi.
"Benar, Pak. Benar. Saya pakai bumbu rahasia turun temurun dari keluarga saya."
"Bumbunya apa, Pak?" Hani menyeletuk lagi.
"Ya, rahasia. Namanya juga bumbu rahasia." Pak Daffa membalas cuek lalu kembali menatap Bima.
"Jadi intinya ... kalau misalkan dua makanan ini dimasukkan ke list menu restoran bagaimana?” Anya mencondongkan kepala mendekati Bima. Gadis itu sudah tak sabaran menanti keputusan yang keluar dari mulut Bima. Bayang-bayang lampu hijau sudah terlihat. Hilal sudah tampak.
"Saya sih setujukalau dua masakan ini ditambahkan ke dalam menu restoran kamu."
"Yes!!!" Anya berdiri.Sorak-sorai Anya beserta karyawan Douillet Resto yang lain terdengar.
"Tapi ...." Bima mengantung ucapannya. Seketika Anya bungkam. Kembali duduk dengan perasaan cemas.
"Tapi ...." Anya mengulang ucapan Bima.
"Tapi, ini tergantung dari Pak Daffa. Apa pak Daffa memperbolehkan menu ini masuk dalam menu restoran? Apalagi pak Daffa bilang, salah satu menu memakai bumbu rahasia turun temurun milik keluarga."
Serempak, Anya, Pak Azka dan Hani menatap pak Daffa. Napas Anya nyaris tak terdengar. Degup jantungnya seakan memenuhi suara di ruangan.
"Boleh, Pak. Saya setuju." Pak Daffa mengangguk bersemangat diiringi tarikan napas lega dari tiga orang yang sedari tadi menatapnya dengan cemas.
"Huuh, lega deh." Anya langsung bersandar pada kursi. "Semoga aja dengan adanya menu baru ini, restoran kita bisa bangkit lagi, ya."
"Aamiin ...." Pak Daffa, Hani serta Pak Azka menjawab serentak.
"Ntar kalau restoran kita bisa bangkit lagi, gaji Pak Daffa aku tambahin deh," ucap Anya.
"Gaji Hani juga ya, Bu," imbuh Hani tak mau kalah.
"Hemm, kamu bakal aku kasih bonus juga kalau omset penjualan kita naik 10 kali lipat perbulan."
"Mending Ibu bunuh Hani aja!"
Pak Daffa, Pak Azka tak terkecuali Bima tertawa mendengar Hani yang kecewa sambil memberengut. Anya hanya bisa menggeleng.
“Maaf, Pak. Tapi saya mau bertanya ... kalau menu ini dimasukan ke menu restoran, apa nggak merusak citra restoran di mata pelanggan, Pak? Kan ini restoran khas Prancis.”
“Menurut saya sih, nggak masalah. Nanti, buku menunya bisa dibedakan saja. Jadi tugas Hani akan bertambah. Pertama tawarkan dulu list menu restoran yang utama. Lalu, promosikan juga bahwa resto menyediakan menu makanan khas Indonesia yang tak kalah sedapnya,” jelas Bima. Hani manggut-manggut sok mengerti.
"Satu lagi." Bima menautkan kesepuluh jarinya di atas meja. Laki-laki itu menatap satu persatu wajah karyawan Anya. "Menurut saya, sebaiknya kamu juga menambah seorang Barista untuk resto kamu."
"Barista?" tanya Anya, ingin kejelasan.
Bima mengangguk. "Heem. Benar. Barista. Coba kamu bayangkan. Kalau resto kamu hanya menyediakan menu berat khas makan siang atau makan malam, kemungkinan di masa pandemi seperti sekarang, pengunjung yang datang memang akan berkurang. Tapi, kalau kamu menyediakan kopi dan minuman lainnya serta camilan, pasti akan ada pengunjung yang bisa datang setiap jam. Sekadar menyantap kopi atau cemilan. Di luar jam makan siang atau makan malam," jelas Bima.
"Apa menambah barista akan cukup? Kalau harus menyediakan cemilan, pasti kita juga harus menambah cheff khusus pastry atau dessert," tanya Anya. Gadis itu kembali bersandar sambil bersedekap.
"Benar juga,Bu. Karena saya kurang ahli untuk membuat menu camilan." Pak Daffa menanggapi.
"Tapi kalau menambah karyawan lagi selain barista, takutnya kita bakal defisit, Bu. Toh, kita juga belum tahu, cara ini efektif atau nggak," tambah Pak Azka.
"Menurut saya, satu barista saja cukup." Bima menengahi.
"Terus yang ngurusin camilannya siapa?" Anya kembali bertanya.
"Kamu." Singkat, Bima menjawab. Spontan, karyawan Anya manggut-manggut dan menatap Anya.
"Wah, bener tuh. Bu Anya kan lulusan tata boga." Hani ikut berbicara. “Tapi kok, dari tadi Hani perhatiin, Bu Anya sama Pak Bima manggilnya aku-kamu aku-kamu terus sih. Nggak manggil sayang, beb, atau honey gitu?”
Seketika Bima tersedak. Begitupun dengan Anya. Gadis itu langsung memberi isyarat lewat mata. Melontarkan tatapan memilih diam atau mati.Pak Azka juga memberi teguran. Meminta Hani kembali ke depan. Jam makan siang sudah tiba.
"Daripada kamu cuma bolak-balik mantau resto, mending ikut andil di dalamnya. Ya, itung-itungan investasi tenaga dan bakat untuk resto sendiri. Masakan buatan kamu juga lumayan enak."
"Cuma lumayan?" Anya mendelik.
"Iya, iya. Enak, kok," balas Bima.
Setelah itu, mereka kembali menyantap masakan pak Daffa dengan suka cita.Namun, ucapan Hani beberapa saat lalu masih membuat Anya gerah. Pipinya memerah. Anya berdiri menuju meja kerja. Mengambil karet rambut dan menggelung rambutnya. Tanpa sadar, hal itu membuat seseorang tak berkedip menatapnya.