14. Ketahuan Dia Calon Suami

1515 Words
Bella merasa kesal. Anya benar-benar menguji kesabarannya. Bella tidak habis pikir kenapa makhluk seperti Anya harus ada di muka bumi. Gadis tak tahu diri yang bisanya terus-menerus menganggu Alden dengan embel-embel 'hanya sahabat', padahal siapa yang tahu isi hati seseorang? Sudah banyak kasus bahwa tidak ada pertemanan antara laki-laki dan perempuan. Salah satunya pasti memiliki rasa suka sehingga tidak menutup kemungkinan akan menghancurkan hubungan temannya dengan sang kekasih. Bella mendengkus keras. Dipandangnya restoran Anya dengan mata menyipit. Hari ini gadis itu harus mendapatkan kepastian bahwa ucapan Anya bukan hanya isapan jempol belaka. Anya harus mempertanggung jawabkan perkataannya yang telah memiliki calon pendamping. Bella masuk ke restoran Anya. Hani menghampiri, lalu tersenyum ramah. "Sel—" "Mana Anya?" sela Bella dengan suara keras. Senyum di bibir Hani raib. "Di mana si Anya?" tanya Bella lagi seraya menatap Hani. "Cepet kasih tahu!" Hani tergagap. "Ngomong apa sih? Nggak jelas!" sinis Bella, lalu menyingkirkan tubuh Hani. Bella masuk lebih dalam, restoran Anya sepi pengunjung. Mungkin karena belum waktunya jam makan siang. "Maaf, Bu, nggak boleh masuk ke sana," larang Hani, mengikuti Bella. Bella tak mengubris. Dia terus berjalan menuju dapur. "Maaf," kata Hani, lalu dengan keberanian setipis kertas, Hani memegang lengan Bella untuk menahan gadis itu agar berhenti. "Lepas!" seru Bella sambil menyentakkan tangan. "Mangkanya kalo nggak mau aku masuk, panggil tuh si Anya. Dasar nggak ada guna!" "Bu-buk—" "Apaan sih? Pake gagu segala. Aku ke sini bukan mau damprat kamu, tapi si Anya, gadis gila yang bisa-bisanya gangguin terus pacar orang!" kata Bella galak. Mendengar suara ribut-ribut, Pak Daffa muncul. Hani meminta pertolongan dengan isyarat mata kepada Pak Daffa. "Ada apa ini?" tanya Pak Daffa. "Anya mana?" Bella balas bertanya dengan suara tinggi. "Mbak ...." "Anya mana?" ulang Bella penuh penekanan. "Kalau tujuan Mbak bukan untuk makan dan cuman nyari ribut, mending pergi," kata Pak Daffa mencoba selembut mungkin. Bella berkacak pinggang. Gayanya terlihat sangat menyebalkan. "Oh, jadi aku harus pesen makan dulu biar bisa ketemu si Anya tukang gangguin pacar orang?" balas Bella nyolot. Sudah terlanjur basah, berenang saja sekalian. Bella akan marah-marah dengan siapa saja yang menghalangi jalannya untuk bertemu Anya. Sebab, Bella sudah datang ke rumah gadis itu. Namun, hasilnya nihil. Pengurus rumah mengatakan Anya pergi ke restoran. "Ya, udah. Aku pesen makanan yang paling mahal di restoran ini!" ucap Bella kemudian. Napasnya memburu. "Bella," panggil Anya polos. Dia baru saja kembali ke restoran karena gadis itu habis keluar untuk mengambil sisa uang di ATM yang tak seberapa. Bella menoleh, menatap Anya. "Akhirnya muncul juga." "Ngapain ke sini?" tanya Anya bodoh. "Mau ngamuk, kenapa?" Bella balas bertanya. Anya diam. Apaan sih Bella? Nggak jelas banget. Kalo mau ngamuk kenapa mesti di sini? tanya Anya dalam hati. "Mana calon kamu!" kata Bella, menghampiri Anya yang mematung. Kini jarak mereka hanya selangkah. "Cepet kasih tahu biar urusan kelar!" Anya mendesah panjang dan lelah. Pacar Alden ini benar-benar sangat gigih. Tingkahnya persis seperti deptcollector. Harus pakai bahasa planet mana agar Bella mengerti dan paham bahwa tidak mungkin dirinya memiliki hubungan spesial dengan Alden? Bella menunjuk lantai. "Hari ini juga, kamu harus ngasih tahu aku siapa calon kamu!" desisnya penuh penekanan. "Begini ...." "Nggak mau denger apa pun alasan yang sangat sangatsangatbullshit!" sela Bella malas. Anya menghela napas panjang dan mengembuskannya cepat. "Sekarang, di depan aku dan karyawan-karyawan kamu, kamu harus buktiin omongan kamu," kata Bella. Anya mengedarkan pandangan. Pak Daffa dan Hani tersentak kaget begitu pandangannya bertemu dengan pandangan Anya. Keduanya bingung dan panik, lalu membubarkan diri, meskipun harus mengintip di tempat yang tidak jauh dari Anya dan Bella. "Bella, kenapa kamu begini?" tanya Anya kemudian. Bella mendelik. "Begini apa?" "Ya, begini. Coba inget-inget kelakuan kamu sama aku, sama Alden juga. Jangan-jangan kamu nggak cinta sama Alden," terka Anya. Bella mengernyit. Tidak setuju dengan ucapan Anya. Bagian mana yang menunjukkan dia tidak cinta sama Alden? Bella cinta laki-laki itu mangkanya sangat takut kehilangan. Dia sudah terlalu sabar dan mentolelir bahwa pacarnya memiliki sahabat yang selalu menempel seperti permen karet. Akan tetapi, sabarnya juga ada batasnya. "Kalau kamu cinta Alden, kamu pasti percaya sama pacar kamu itu," kata Anya. "Aku percaya sama Alden," Jeda beberapa detik untuk Bella menggangguk, "yang nggak kupercaya itu kamu," sahut Bella seraya menunjuk Anya. "KAMU ITU HANYA PEREMPUAN PENGANGGU YANG NGGAK PUNYA ETIKA! YANG SUKA JELEK-JELEKIN PASANGAN TEMEN SENDIRI. DASAR MUKA DUA! MUNAFIK! PEREMPUAN SIALAN!" teriak Bella dengan sekuat tenaga. Karena tidak tahan lagi dan tidak tahu mau membalas apa, Anya hanya bisa menjerit sekeras dan sepanjang yang gadis itu bisa. Anya benar-benar bisa hilang kendali jika Bella mengucapkan sepatah kata lagi. "Permisi." Dengan sekali sentakan, baik Bella maupun Anya menoleh ke sumber suara. Itu Bima. Bella menatap terang-terangan laki-laki yang memakai setelan jas warna hitam dari ujung rambut sampai ujung kaki. Sedangkan Anya, entah kenapa merasa sangat lega. Napasnya yang sempat memburu karena menahan emosi, perlahan-lahan mulai normal. Hanya ada satu cara jika mau Bella tidak menerornya secara terus-menerus. Anya harus mempunyai pasangan. Pasangan pura-pura pun tak mengapa. Yang penting, ada calon yang harus bin kudu dikenalkan kepada Bella. Anya tersenyum manis. Dengan gerakan tak kentara gadis itu menyelipkan tangannya di lengan Bima. "Akhirnya Sayangku datang juga," kata Anya, lalu terkekeh sendiri yang terdengar aneh di telinga. Bima mengerutkan kening. Dia berusaha melepaskan tangan Anya yang menggenggam terlalu erat lengannya. "Kenalin, Bel. Dia calon suamiku. Namanya Bima," kata Anya lagi terdengar manis. Mendengar pengakuan Anya yang sangat mengejutkan, tak sengaja Hani menjatuhkan pot bunga hingga pecah berantakan. Tangan Pak Daffa yang memegang pintu dapur tergelincir sehingga mau tidak mau kepalanya terjedug pintu. Bima melotot. Laki-laki itu menatap Anya tak percaya. Dia datang ke restoran Anya untuk rapat bukan yang lain. Anya mencubit lengan Bima dan berkata pelan yang Bima tangkap hanya kata 'awas' dan 'mati'. Bella mengedip. Dia menatap serius Bima. "Bener, perempuan nyebelin itu calon istri Mas?" tanya Bella kepada Bima seraya menunjuk Anya. Belum sempat Bima meluruskan keadaan yang sangat merepotkan baginya, Tante Sinta datang. "Kalian sedang ngapain?" tanya Tante Sinta bingung. Wanita senja berdadan mewah itu hadir di antara Anya, Bella, dan Bima. Bella dan Anya saling berpandangan. Mereka seperti sedang sama-sama menunggu apa yang akan mereka jelaskan kepada Tante Sinta. Bella berdecak pelan, lalu tersenyum seraya menatap Tante Sinta. "Tante, apa kabar?" tanyanya ramah. "Baik. Kamu itu ...." "Bella, Tante. Pacarnya Alden," jelas Bella. "Oh, Alden," kata Tante Sinta seraya manggut-manggut. "Aldennya mana?" "Di rumah. Bella ke sini cuman mau silaturahmi dengan Anya," sahut Bella, melirik Anya penuh arti. "Terus mau ngucapin selamat. Katanya Anya mau nikah sama Mas Bima," lanjut Bella sesantai mungkin. Tante Sinta mengangguk. "Iya, mereka mau menikah." Perlahan senyum Bella tersungging. Gadis itu menatap Anya seraya mengibaskan rambut panjangnya. Sekarang, setelah mendapat konfirmasi dari seseorang yang menurutnya penting, Bella merasa beban yang ada di pundaknya terangkat. Gadis itu tidak tahu saja bahwa Anya sedang mengalami guncangan terhebat dalam hidupnya. "Menikah?" Hani membeo ketika dirinya sedang membereskan pot bunga. "Pantes mereka udahnyebar undangan pernikahan," celetuk Hani. Ada yang retak, tetapi bukan ranting. Hani memegang d**a sebelah kirinya. Hatinya hancur berserakan seperti pot bunga yang belum selesai dibereskannya. Mendengar celetukan Hani, Anya menoleh. "Undangan pernikahan apa? Nggak itu salah paham." "Kalian udahnyiapin undangan pernikahan?" tanya Tante Sinta. Anya menggeleng. "Nggak. Bukan itu." "Kayaknya kalian udahnggak sabar untuk menikah. Tante setuju aja kalau kalian mau cepat-cepat," kata Tante Sinta. "Aduh ... nggakgitu, Tante," kata Anya seraya menggeleng panik. Bima tidak membantah ucapan Tante Sinta. Namun, dalam hati laki-laki itu sangat merasa dongkol. Bima melirik sinis Anya. "Nggak apa kok dipercepat. Tante dukung seratus persen. Lebih cepat lebih baik," kata Tante Sinta. Bima mendengkus tak suka. Anya merasakan hawa dingin di sebelahnya. Gadis itu melirik Bima yang memasang wajah kaku seperti kanebo kering. "Wah, selamat ya Tante. Sebentar lagi dapet mantu ganteng," timpal Bella. "Kamu jangan salah, Bella, calon mantuku ini bukan cuma ganteng. Bima ini punya coffeeshop sendiri dari umur dua puluh lima tahun. Bisnisnya berkembang pesat melalui digital marketing. Di umurnya yang sekarang, udah punya cabang di empat kota. Hebat, kan?" puji Tante Sinta setinggi langit. "Calon mantu Tante, bibit unggul. Tante keren!" seru Bella dengan cengiran lebar. Tante Sinta tertawa bangga. Bella mengulurkan tangan kepada Bima yang mau tidak mau menerima uluran tangan itu. "Selamat. Semoga betah menjadi suaminya," kata Bella, tersenyum miring. Bima tidak menyahut. Laki-laki itu merasa tidak ada gunanya mengucapkan sepatah dua patah kata. Setelah memberi selamat kepada Bima, Bella meraih tangan Anya, memaksanya untuk bersalaman, dan menariknya agar jarak mereka lebih dekat. "Untuk sekarang aku percaya, tapi aku tetepnggak suka sama kamu," bisik Bella di telingaAnya. Anya hanya menatap Bella dengan tatapan kosong, meskipun pikiran dan hatinya sangat riuh. Sekarang, apa yang harus dia lakukan? Dia tidak ingin dengan adanya kejadian ini, pernikahannya dengan Bima dipercepat. Padahal gadis itu sempat terbesit untuk membujuk Bima supaya laki-laki itu membatalkan perjodohan. Anya tidak mau menikah muda. Gadis itu belum siap. "Kalau begitu, Bella pulang dulu ya, Tan," kata Bella seraya menunduk sopan. "Oh, kamu nggak mau makan dulu?" sahut Tante Sinta. Bella menggeleng seraya mengelus perutnya yang rata. "Masih kenyang, Tan. Kalau begitu Bella pamit ya, Tan." Tante Sinta mengangguk, lalu Bella pergi dengan hati riang dan langkah yang lebih ringan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD