7 Proposal

1831 Words
Bima keluar dari mobilnya. Dia berjalan cepat memasuki kafe dan disambut oleh Rani, salah satu karyawannya yang cerewet dan serba ingin tahu. “Pagi, Bos!” “Dia udah nunggu di atas?” “Udah, Bos. Hikam lagi buatin kopi.” Bima menghampiri meja bar dan mengambil kopi pesanan. “Biar aku yang bawa.” Bima naik ke lantai dua dan masuk ke ruangannya. “Hai, sorry, nunggu lama?” Dia memberikan kopi yang dibawanya sembari tersenyum. “Nggak juga. Jalanan pasti macet.” Ratu tersenyum dan menyeruput sedikit kopi panas, lalu menaruh cangkir di meja. “Waktu ngobrol santaiku cuman jam segini. Siang udah harus meeting dan ketemu orang bank.” “Orang sibuk nggak bisa disalahkan,” balas Bima santai. “Mau sekalian sarapan di bawah. Kafe masih tutup, tapi chef udah prepare.” Ratu menggeleng dan mengeluarkan tab. “Entaran aja, masih jam tujuh. Pemberian modal di restoran sea food kemarin tinggal survey tim  untuk lihat kelayakan usaha dan diskusi jaminannya.” “Jujur, aku mau tanda tangan kontrak itu diundur. Aku kurang suka ownernya, dia persis seperti anjing pelit yang nggak mau berbagi tulang santapannya. Minta orang lebih teliti mencari tracking bank-nya.” Senyum Ratu mengembang. “Oke, selagi mengurus yang ini, kita masih membuka peluang baru pada usaha perseorangan. Karena insting kamu tajam, mau kan jadi user? Lagipula kamu investor terbesar di perusahaan.” Bima tampak mempertimbangkan, kesibukannya akan bertambah, pada aspek lain memilih mitra untuk dialiri uangnya bukan hal yang bisa diremehkan. Banyak penipu dengan wajah polos atau orang-orang bodoh yang mengaku andal. “Oke. Jadwalkan saja kapan harinya,” ucap Bima. Setengah jam setelah mereka membicarakan bisnis, topik beralih menjadi obrolan santai. Bima memperhatikan wanita di hadapannya itu. Rambut yang dicat cokelat itu ditata rapi dengan ikal menggantung di bawahnya. Kulit wajahnya yang halus dihiasi perona merah muda. Tubuhnya tinggi semampai dibalut pakaian merek kenamaan, tetapi tidak berlebihan. Ratu wanita yang cantik, mencerminkan kedewasaan sekaligus pesona yang menarik lawan jenis. Dari perhiasan yang dipakai wanita itu, anting panjang dengan ukiran rumit yang paling mencolok. Bagi Bima itu mirip kipas gunungan wayang. Untung saja laki-laki tidak perlu ribet dalam urusan berpakaian. Ratu berdiri dan duduk ke sebelahnya. Tatapannya serius ketika menunjukkan catalog gaun dari tabnya, meminta pendapatnya tentang warna pakaian mana yang harus dibeli. Dia menilai dirinya memiliki selera yang bagus, tetapi Bima sengaja berkomentar, “Tali gaun itu tidak lebih besar dari sehelai kwetiau.” Suara tawa Ratu terdengar. “Aku lebih suka dengan istilah fettucine. Serius, Bima, pilih yang warna krem atau hitam?” “Tambah carbonara, kamu akan jadi pasta fettucine.” Bima menghindar ketika tangan Ratu berusaha mencubit perutnya. “Aww!” Tak sengaja salah satu anting Ratu tersangkut di kancing kemeja Bima. “Sudah kuduga anting itu bikin ribet.” Bima tertawa, membiarkan Ratu berusaha sendiri melepaskan kaitan antingnya. “Ya ampun, kamu ini malah ngeledekin,” gerutu Ratu. “Lain kali aku nggak mau tanya kamu soal mode.”   Sebelah tangan Ratu menyentuh bahu Bima, sementara tangan satunya lagi sibuk memutar-mutar antingnya yang nyangkut. “Aduh, sakit!” Bima berhenti tertawa. Kepalanya menunduk, sebelah tangannya menahan kepala Ratu di d**a agar tidak bergerak. Ratu duduk di bahu sofa, posisi mereka terasa canggung dan sedikit memalukan. “Sebentar,” ucap Bima, dengan hati-hati meloloskan kaitan anting dari telinga Ratu. Ratu bernapas lega begitu antingnya terlepas. “Sorry dan makasih.” Bima menunduk memeriksa telinga Ratu. “Untung nggak luka.” Lalu sentakan di pintu membuat mereka kaget. Bima dan Ratu menoleh dan melihat seseorang sedang berusaha menyeimbangkan tubuh agar tidak tersungkur. Ketika tamu tak diundang atau si penguntit itu mengangkat wajah, Bima bertatapan dengan Anya. Bima melihat ekspresi Anya berubah, jelas menangkap tuduhan tersirat dari kernyitan itu. Dia perlu meluruskan kesalahpahaman yang nanti bisa jadi biang gosip. Keheningan dipecahkan oleh langkah Anya yang langsung berlari menuruni tangga. Bima mengejar gadis itu dan menemukannya di pinggir jalan, berusaha menyetop taksi, untungnya dia berhasil mencegahnya. Setelah menyelesaikan kesalahpahaman dan mengantar Anya kembali ke restorannya, Bima masih diam tidak melajukan mobil. Dia meresapi kejadian tali tas tersangkut sebelum Anya keluar dari mobil tadi. Bima tertawa, lucu sekali pagi ini.  *** “Monyet apa yang nyebelin?” Anya yang sedang serius mengetik menghela napas. “Monyet kayak kamu.” “Enak aja! Salah.” Alden melempari Anya dengan sukro. “Monye-tel musik nggak bisa. Monyetel video youtube nggak boleh.” Anya dan Alden sedang duduk di gazebo kampus mereka dulu. Setelah tahu kalau perempuan yang ditemuinya pagi ini di kantor Bima itu pemilik Aurora Investama, Anya langsung membuat rencana untuk proposal bisnisnya. Ini bisa menjadi jalan keluar lain dibanding minta bantuan om-om nyebelin. Jadi dia menelepon Alden dan meminjam laptopnya. “Hih! Udah buruan bantuin bikin proposal!” Tangan Anya merampas sebungkus sukro yang masih dipegang Alden. Selain koneksi wifi gratis yang lumayan cepat, gazebo kampus mereka itu emang paling nyaman buat nugas dan nongkrong ala mahasiswa kere. “Kamu jadi temen mesti ada gunanya.” “Iya-iya ini juga lagi searching panduan proposal bisnis pengajuan dana yang lolos approval.” Alden membaca hasil pencariannya di laman web. “Udah nulis profil usahanya?” “Udah, terus apalagi?” “Visi dan misi usaha.” Anya merebut ponsel Alden dan mulai membaca. “Ribet banget mesti pakai visi misi, sekalian aja ada latar belakang, bab pembuka kayak skripsi,” komentar Anya. “Emang ada.” Sebelum Anya bicara, Alden langsung mengatakan, “Tadi aku udah baca sampai bawah, coba scrol aja.” Alden menikmati wajah Anya yang mengernyit. Beberapa menit berlalu, posisi duduk Anya sudah berubah-ubah, memaksa diri untuk tekun menyusun proposal bisnis yang sempurna. Charger laptop bahkan sudah dicabut lagi karena batrai-nya sudah penuh. “Oke, mesti masukin apa lagi?” Alden yang duduk di sebelah Anya ikut memeriksa. “Analisa kelamahan dan keunggulan usaha belum?” jawab Alden. “Duh, kalau kelemahan banyak,” kata Anya sambil tetap mengetik. “Penampilan restoran tua, menunya nggak bisa dinikmati semua kalangan karena ala-ala Eropa, kemarin-kemarin juga baru dapat komentar jelek dari pelayanan dan makanannya.” Anya mengusap wajah dan mengembuskan napas keras. “Kalau keunggulan restoran aku apa?” Alden ikut berpikir, menggaruk telinga, memejamkan mata, mencoba berpikir keras, lalu berkata, “Nggak tahu, Nya.” Kampret! “Kalau nggak tahu, nggak usah pura-pura mikir. Bikin orang ngarep aja.” Alden tertawa, gemas dengan usaha Anya yang serius menunggu masukan darinya. “Tulis aja resto kamu punya interior rumahan tempo dulu yang bikin nyaman itu jadi keunggulan, tambahin pernah peringkat satu Tripadvisor dua kali, tahun berapa, ya?” “Itu kan lima tahun lalu, udah nggak relevan,” sanggah Anya dan menyedot es lemon tea yang sudah mencair. “Nggak apa, itu juga prestasi. Tulis aja, dari pada nggak ada. Atau tulis aja udah berapa tahun restoran kamu berdiri, dari zaman kakek kamu kan dan sempat punya beberapa cabang.” Melihat Anya masih diam mempertimbangkan, Alden menambahkan. “Percaya deh, kapan aku pernah nyesatin kamu?” “Sering.” Jawabannya ditanggapi kekehan oleh Alden, lalu laki-laki itu sibuk mengangkat telepon dari pacar nomor satunya. Suara Bella yang meneror keberadaan Alden sampai terdengar meski panggilan tidak di-loadspeak. Alden berdiri dan berjalan sedikit menjauh agar dapat ngobrol lebih leluasa. “Bulat, besar, kenyal, empuk, kalau dipencet keras-keras keluar air apa hayo?” celutuk Alden begitu duduk lagi. Anya mengangkat wajah dari layar laptop, mengikuti arah pandangan Alden melihat perempuan berdada besar sedang menuruni tangga. Perlahan tangan Anya bersedekap, matanya menyipit. “Dasar Monyet m***m!” ucapnya galak sambil menoyor kepala Alden. Alden tertawa keras, balas menoyor kepala Anya. “Kamu tuh yang mikir ke mana. Balon air, woy!” Dengan jengkel Anya memelototinya, lalu mereka tertawa terbahak-bahak bersama. Kerja kelompok alias memaksa Alden membantu membuat proposal bisnis berakhir setelah mengirimkan berkas ke email resmi perusahaan Aurora Investama. *** Sudah seminggu sejak mengirimkan proposal bisnisnya. Namun, teleponnya tidak berdering, sama sekali tidak ada email masuk dari perusahaan itu. Bukan ini yang dia bayangkan saat berani memilih rencana lain. Kerja kerasnya yang menguras pikiran seperti sia-sia. Rasanya hanya membuang waktu, bahkan tantenya terus saja menanyakan kapan minta bantuan si kaleng biskuit. Memikirkannya saja sudah membuat malu karena menelan perkataannya sendiri. Anya berbaring di kasur, menatap langit-langit kamar. Sebelah tangannya menutupi mata. Dia berusaha menghadapi kesedihan dan berusaha mengatasi bisnis keluarga yang terbelit utang. Di depan orang-orang Anya biasa bersikap tanpa beban, dia ahli membohongi diri sendiri, tetapi hidupnya yang berubah drastis terasa menyakitkan. Mobilnya sudah dijual, bahkan cabang resto terakhirnya yang di Bogor sudah dijual juga. Bunyi notifikasi membuyarkan suasana. Anya meraih ponsel sembari mendekap bantal. Pesan baru yang masuk ke email-nya mengejutkan hingga dia menjatuhkan bantal. Mata Anya memelotot. Proposalnya diterima. “Diterima?” ucap Anya tidak percaya. Dia langsung berdiri, melompat-lompat sendiri, mengambil bantal, menutup mulut, dan membungkam teriakan di bantal. Buru-buru Anya menyambar ponselnya dan menghubungi Alden. “Aaaaaa!!! Aku keterima!” Alden memaki ketika kupingnya sakit karena suara teriakan Anya. “Buset, udah kayak toa! Diterima apaan? Jadi pemuja pesugihan?” “Proposal bisnis aku lolos. Besok aku diundang wawancara buat ketemu user penanam modalnya,” ucap Anya penuh antusiasme, nada suaranya hampir menangis. Alden yang mendengar ikut senang. “Aaaaaa!!” Alden berteriak mengikuti gaya Anya dan tertawa saat respons Anya juga memaki. “Syukur deh, aku ikut seneng. Semoga besok lancar, ya! Eh, udah dulu Bella udah keluar dari pintu rumah, entar dia marah-marah kalau tahu kamu nelepon. Bye!” *** Keesokan paginya Anya sudah siap di depan cermin. Blus putih dipadu rok warna biru muda yang dikenakannya memberi nuansa cerah seperti suasana hatinya. Sekali lagi Anya menata poninya. Lalu menyampirkan blazer di sebelah lengan dan memakai masker. Semalaman Anya tidak bisa tidur dan sibuk mempersiapkan diri untuk presentasi hari ini. Selama perjalanan ke kantor pusat, Anya merasa gugup. Ini pengalaman pertama sekaligus kesempatan emas untuk menyelamatkan restorannya. Sementara di dalam ruang meeting gedung Aurora Investama, Bima, sebagai salah satu investor yang melakukan wawancara terhadap calon mitra diam ketika di tangannya ada proposal bisnis milik Anya. Dia sendiri baru tahu saat memeriksa berkas pagi ini. Secara keseluruhan screening dilakukan manajemen perusahaan ini. Apa Anya berpikir dirinya tidak tahu? Menurut kabar yang bisa dipercaya, keluarga Anya baru ditipu, perhiasan mereka raib, dan orang tua asuhnya menganggap kalau gadis itu yang harus menyelesaikan masalah ekonomi keluarga mereka. Bima memutar kursinya menghadap jendela, memandang kota Jakarta. Anehnya dia hanya orang asing, bukan anggota keluarga, tetapi sanggup membaca dan mengetahui apa yang membuat gadis itu resah. Lalu, kenapa Anya tidak datang langsung kepadanya meminta bantuan? Bima tahu bukan hanya sikap mandiri yang mencegah Anya meminta bantuannya, alasan lain karena pernah menolak tawarannya waktu itu. Meskipun sikap blakblakan, saling sindir, atau cekcok sering mewarnai interaksi mereka, Anya tetap orang yang mudah ditebak. Seperti lembaran buku yang terbuka. Pintu ruangan diketuk pelan dan bergerak terbuka. Suara sepatu hak terdengar mendekat mengetuk lantai. Bima memutar lagi kursinya dan berhadapan dengan gadis itu. “Sela ….” Wajah Anya yang berseri-seri langsung dipenuhi keterkejutan. Matanya terbelalak hingga tidak sadar kalau mulutnya sudah menganga.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD