Banyak orang yang membenci Senin pagi. Apalagi jika hari liburnya dihabiskan dengan hal-hal tidak berguna seperti Anya. Doa-doa penutup tahun yang dia lontarkan beberapa minggu lalu kini tampak sia-sia. Baru juga minggu ketiga di awal tahun baru, tapi kesialan sudah bertubi-tubi menimpanya.
Masih jelas dalam ingatannya tentang kejadian semalam. Wajah nenek lampir si Ratu Drama sudah berputar di ingatannya sejak Anya membuka mata. Lekuk bibir dengan polesan lipstik merah semakin menaikkan tensi darahnya.
“Amit-amit!!! Ngapain juga aku mikirin nenek lampir itu pagi-pagi. Bikin badmood aja!” keluhnya di depan cermin kamar mandi.
Anya membasuh wajahnya dengan kasar. Begitupun dengan menyikat gigi. Pasta giginya sampai berceceran karena dia berusaha mengeluarkannya dengan emosi. Masih dengan mata penuh kesal, Anya menatap dirinya di depan cermin.
“Sadar Anya!!! Sadar! Nggak perlu mikirin nenek lampir itu. Mending mikirin cara promosikan restoran. Naikin omzet, kembalikan kejayaan Doillet Resto. Jadi kaya raya, hidup bahagia, sejahterah, damai sentosa!
Setelah 30 menit menghabiskan waktu di kamar mandi, Anya menghabiskan puluhan menit juga untuk memilah baju. Pikiran bahwa Ratu akan ke restorannya hari ini membuatnya tak tenang. Sederet kekhawatiran timbul. Anya tidak ingin diremehkan lagi. Dia harus menunjukkan cakarnya hari ini.
“Tumben kamu pakai dress. Ada acara?” tanya Tante Shinta setelah melihat Anya menuruni tangga. Dia sengaja mengenakan dress selutut berwarna merah hati dengan kerah berbentuk U.
“Mau kencandengan Bima?” selidik tante Shinta.
Anya mencebik. “Ini salah satu strategi demi perkembangan restoran, Tan. Anya sebagai pemilik ‘kan harus ngikutintrend. Biar modis,” ucap Anya sambil manyun. Tanpa duduk di kursi makan, dia menyambar segelas s**u yang telah disiapkan di atas meja.
“Baguslah kalau sudah sadar,” jawab Tante Shinta sebelum menghela napas lalu melanjutkan, “etikanya juga diperbaiki! Makan minum itu duduk. Bukan berdiri!”peringatnya sembari memelotot.
Anya menyunggingkan bibir setelah menghabiskan segelas s**u. “Nggak sempat, Tan. Anya pergi sekarang, ya. Takut kena macet,” ucapnya sambil menyambar tas tangan yang dia letakkan di atas meja.
Dengan tergesa, dia membuka aplikasi ojek online di ponselnya. “Naik ojek motor ajalah. Lebih cepet nyampe, minim kena macet dan pastinya lebih ekonomis murah meriah.”
Sadar dirinya bukan Nagita Slavina, Anya harus memperhitungkan pengeluarannya dengan ketat. Biaya transportasi yang harus dia keluarkan setiap hari setelah mobilnya dijual, lumayan membuat pundi-pundi rupiahnya menyusut.
***
“Pagi, Bu,” ucap Hani berbinar, “cantik bener hari ini, Bu,” lanjutnya.
Anya mengibas rambut dengan tangan kiri. “Ya masa ganteng? Ya, jelas cantiklah!” pujinya dengan bangga.
“Hari ini bakal ada tamu penting ya, Bu?” Hani mengikuti langkah Anya.
“Tamu nggak penting sih, lebih tepatnya.” Bibir Anya berkerut. Wajah Ratu berputar lagi dalam ingatannya.
Anya mengenyahkan kekhawatirannya dengan bekerja. Langsung menuju ruangannya lalu menyalakan komputer. Menghitnung margin laba bersih dalam satu minggu terakhir. Hasilnya tidak terlalu memuaskan. Namun, cukup mengalami kenaikan.
Setelah berjam-jam berkutat dengan angka, Anya mengahampiri Hani di meja kasir. Jam makan siang sudah tiba. Beberapa pengunjung restoran sudah mengisi meja. Ada yang sudah memesan makanan, ada pula yang masih fokus menilik menu restoran.
Lonceng pintu Douillet Resto berdenting. Anya mendongak dari balik meja kasir. Senyumnya spontan lindap saat mendapati wajah yang dia kenal.
“Siang,” ucap Ratu sambil tersenyum basa-basi saat membuka maskernya.
“Siang, Bu.” Anya menghampiri.
Masih dengan senyum penuh kepalsuan, Ratu berkata, “Kemarin saya sudah bilang ‘kan, mau meeting dengan kolega di sini.” Sambil bersedekap, Ratu menuju meja yang berisi 6 kursi di tengah ruangan restoran. Asisten Ratu, Arin, yang dulu sempat menimbulkan keributan, mengekor di belakang.
Anya hanya mengangguk tanpa komentar. Sedangkan Hani sudah wara-wiri mengantarkan buku menu restoran.
“Pesannya nanti aja, ya. Saya masih nunggu kolega saya,” jawab Ratu. “Ada Bima juga,” lanjutnya lagi sambil melirik Anya.
Setelah jenuh mendengar ocehan Ratu, Anya berjalan menuju ruang kerjanya. Apa pedulinya jika Bima juga hadir? Itu kan urusan mereka sebagai rekan bisnis. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan Anya.
“Layanin pelanggan di depan dengan baik, ya, Pak. Kasih menu yang paling enak. Biar lambungnya puas. Nggak banyak ngoceh lagi,” pesan Anya pada Pak Daffa saat melewati jendela dapur.
Tidak sampai 5 menit, dua kolega Ratu yang sedari tadi ditunggu akhirnya datang. Bima juga terlihat di antara mereka. Mengenakan linen shirt biru muda, Bima tersenyum menyapa Ratu yang duduk tepat di hadapannya.
Ratu sigap berdiri. Tidak ada sesi jabat tangan, hanya anggukan yang mewakili ucapan selamat datang yang dia lakukan.
“Duduk di sini, Bim,” tawar Ratu sambil menarik kursi kosong di sebelahnya.
Bima mengangguk. “Thanks, ya.”
“Your welcome,” bisik Ratu. “Gimana punggung dan lenganmu?” bisiknya lagi.
“Sudah lumayan enakan. Thanks juga atas perawatannya kemarin.”
Ratu tersenyum lebar di balik maskernya,lalu menyapa kedua koleganya. “Sebelum lanjut, enaknya isi perut dulu kali, ya. Tepat jam makan siang, nih.” Ratu menilik jam di pergelangan tangannya.
Cukup lama, Hani berdiri di sisi mereka. Mencatat pesanan menu yang berkali-kali diganti Ratu dengan sengaja. Setelah sepakat dan membaca ulang pesanan, Hani berbalik. Dia tampak menarik napas dalam beberapa kali demi menetralisir emosi.
Dua puluh menit berlalu. Hani kembali dengan troli makanan berisikan beberapa piring saji dengan beberapa macam menu hidangan.
“Permisi, Pak, Bu. Ini pesanannya,” ucap Hani ramah sembari menata makanan di atas meja. Semangkuk Sup Ikan Bouillabaisse, dua porsi tenderloinsteak, caesar salad untuk Ratu, satu porsi smoked salmonpesanan Bima serta beberapa gelas mocktail sudah tersedia di atas meja.
“Waw, Arin, kamu pesan sup Bouillabaisse, ya. Duh, saya hampir lupa. Ini super enak, lho. Iya, ‘kan Pak Bima?” tanya Ratu.
Bima mengangguk. “Oh, iya. Inisalah satu menu andalan juga.”
“Pak Doni dan Pak Haris juga harus coba, ya.” Ratu mengangguk dua kali, mencoba meyakinkan koleganya. Setelah dapat persetujuan, Ratu memanggil Hani lagi.
“Kami pesan 3 supIkan Bouillabaisselagi ya,” titah Ratu pada Hani. “Pak Bima mau juga?” Saat bertanya, tangan kanan Ratu menyentuh pergelangan tangan Bima. Hani sampai mendelik saat melihatnya.
“Nggak perlu. Saya sudah cukup dengan ini saja,” tolak Bima, halus.
Setelah mengantongi catatan pesanan tambahan, Hani pergi menuju dapur. Sementara Ratu langsung memangku tasnya. Seperti sibuk mencari sesuatu yang membuatnya mengabaikan Bima dan dua koleganya.
“Oh, ya, saya dengar kabar, beberapa bulan lalu, cabang kafe Pak Bima dapat musibah kebakaran ya, Pak,” tanya Pak Haris.
Bima tersenyum. “Karena konsleting listrik, Pak. Bukan masalah yang terlalu besar.” Bima antusias menjelaskan, sedangkan Ratu masih sibuk dengan tas di pangkuan.
“Jujur, saya merasa beruntung bisa menjalin kerja sama bisnis dengan Bu Ratu dan Pak Bima.”
Ratu tersenyum bangga. “Itu sudah jadi bagian dari pekerjaan saya, Pak. Selama itu menguntungkan, kenapa tidak?” Alis kiri Ratu terangkat. Setelah menebar senyum, dia melirik Arin yang tampak mengaduk-aduk mangkuk sup.
“Awalnya saya nggak percaya, Bu Ratu mau menyetujui permohonan kerja sama dengan perusahaan saya. Dibanding dengan bisnis Pak Bima, bisa dibilang perusahaan saya masih perusahaan kemarin sore,” ucap Pak Doni, rendah diri.
Hani kembali dengan nampan di tangan. Tiga mangkuk sup pesanan Ratu ditata di atas meja.
“Kalau dilihat-lihat, Pak Bima dan Bu Ratu ini sangat serasi, ya. Sama-sama pebisnis sukses di usia yang tergolong muda.”
Hani spontan tersedak kecil saat mendengar kata serasi. Dari balik masker, dia mencebik. Mengejek Ratu dengan memajukan bibir.
“Duh, malah jadi sesi pujian, nih. Mari dicoba makanannya, Pak. Supnya juga. Menu rekomendasi, lho.”
Selang beberapa menit, Arin menjerit lalu berdiri. Suara kursi yang berderit nyaring membuatnya jadi pusat perhatian beberapa pengunjung restoran yang lain.
“Kenapa? Ada apa?” tanya Ratu.
“Duh, itu, Bu. Itu ...” Telunjuk Arin tak henti mengarah ke mangkuk sup. Sambil bergidik, dia berkata, “Ada lalat besar, Bu. Ih, jijik!!!”
Hani berdiri dari balik meja kasir. Buru-buru dia menelepon ruangan Pak Azka dan Anya.
Sementara Pak Doni dan Pak Haris tampak tercengang. Mereka saling pandang sebelum mengeluarkan tatapan jijik pada mangkuk sup di hadapannya.
“Ini yang dibilang menu rekomendasi?” Pak Doni angkat bicara sambil berkacak pinggang.
“Maaf, Pak, Bu. Sepertinya obrolan bisnis kita nggak bisa lanjut dulu. Jujur, saya jadi mual.” Pak Haris ikut berdiri.
“Loh, Pak. Ini nggak seperti yang Bapak pikirkan kok. Ini pasti kesalahan. Restoran ini selalu menomorsatukan kebersihan, Pak.” Ratu membela. “Nah, ini pemilik restoran dan manajernya, Pak.” Ratu menunjuk Anya dan Pak Azka yang baru datang dengan tergesa.
Bima dapat menangkap kepanikan memenuhi raut wajah Anya. Dengan bahu yang masih terasa nyeri, Bima mengaduk mangkuk sup milik Arin.
“Ini ada apa, ya?” tanya Anya, cemas.
“Itu tuh, ada lalat gede banget di dalam sup. Ih, geli.” Arin bergidik lagi.
Beberapa pelanggan restoran yang menyaksikan ikut berbisik satu sama lain. Ada yang langsung berhenti makan, ada juga yang kembali merekam kejadian memalukan ini. Sama seperti dulu. Anya menatap keadaan restoran dengan was-was.
“Sabar, dulu, Mbak. Ini pasti kesalahan.”
“Kesalahan dari mana, sih, Pak. Itu tuh lalat. Gede banget pula. Masa nggak bisa lihat?”
“Sssst. Kecilkan suara kamu. Ini pasti salah paham aja.” Ratu menarik lengan Arin. “Sebelumnya saya minta maaf, ya, Pak Doni dan Pak Haris. Saya juga tidak menyangka ada kejadian tidak mengenakkan seperti ini. Mari kita lanjut obrolan bisnisnya, Pak. Atau mau ganti restoran saja?” tawar Ratu.
Pak Doni menggeleng. “Maaf sekali lagi, Bu. Lebih baik, kita atur janji temu di lain hari. Saya permisi dulu.” Pak Doni berbegas pergi, Pak Haris mengikuti.
Anya tercengang melihatnya. Tak bisa berkata-kata, air matanya terlihat menumpuk di pelupuk mata.
“Duh, saya juga jadi nggak habis pikir, nih. Kenapa restoran ini selalu ada aja masalahnya.”
“Ratu!” tentang Bima.
“Ya mau bagaimana, Bim? Aku tuh sengaja, lho, ngajak meeting di sini, untuk mengenalkan restoran ini juga. Biar bagaimanapun Pak Haris dan Pak Doni kan kolega penting. Bisnis resort dan Weding Organizernya juga pasti menguntungkan restoran ini, ‘kan. Tapi apa coba hasilnya? Malah begini. Bisa-bisanya ada lalat besar di dalam makanan.” Ratu mengomel sambil bersedekap. Mulut manisnya yang sedari tadi dia pertahankan kini berubah jadi pedas.
Anya melihat Hani kelimpungan melayani pelanggan yang ingin membayar. Ada yang protes minta diskon, bahkan ada juga yang enggan membayar alias memaksa dapat gratisan. Pak Azka beralih mendekati Hani yang menatapnya seperti meminta bantuan.
“Nggak perlu teriak-teriak juga, ‘kan. Tuh lihat, pelanggan lain jadi pergi semua.” Bima memijat kepala yang mendadak pening.
Pak Daffa datang sambil melepas apron. “Maaf, Pak, Bu. Tapi saya selalu berkali-kali memeriksa hidangan sebelum menyajikan. Tidak mungkin sampai ada benda lain apalagi binatang,” elak Pak Daffa.
“Buktinya sudah ada, Pak. Ini benar-benar lalat loh. Bisa lihat sendiri ‘kan?” Ratu kembali menyendok sup. Lalat besar terlihat tergeletak di atas sendok.
Pak Daffa menggelengkan kepala dengan pelan saat Anya menatapnya.
“Ya, sudah. Kejadian ini kita keep dulu. Pak Azka tolong pantau media sosial atau laman review restoran. Jangan sampai ada komentar negatif dengan berita yang menjatuhkan Douillet Resto,” titah Bima.
“Sekarang kamu pulang dulu. Tolong jangan terlalu membesar-besarkan masalah ini. Kerugian restoran Anya adalah kerugian kita juga sebagai investor. Kamu paham, ‘kan?”
“Terus kamu ngapain masih di sini, Bim?” tanya Ratu. “Jaga kesehatan kamu. Biar bagaimana pun kamu masih sakit. Kesehatan kamu lebih utama daripada kerugian kita.”
Anya mendesah kesal saat mendengar Ratu berbicara. Benar-benar nenek sihir bermuka dua, lidah beracun! Anya yakin, Ratu layak menerima oscar karena ekspresi wajahnya yang dapat berubah-ubah dengan cepat layaknya artis peran propesional.
“Saya belum bisa pulang. Masih ada yang harus saya lakukan,” tolak Bima lalu meninggalkan Ratu, menuju kantor Anya.Anya spontan mengikuti. Begitupun dengan Pak Azka dan Pak Daffa.
Sementara di ruangannya, Anya langsung merebahkan punggung ke sofa. Dia mengusap wajahnya dengan kasar. Rambutnya sudah berantakan. “Ya Tuhan!!! Cobaan apa lagi sih, ini!”
Bima menghela napas sambil memikirkan jalan keluar. “Pak Daffa, tolong siapkan minuman dan camilan manis untuk Bu Anya,” pinta Bima. Pak Daffa mengangguk lalu berbalik menuju dapur.
“Kamu yang tenang dulu, ya. Istirahat dulu di sini. Ada yang mau saya bicarakan dengan Pak Azka.” Bima mengusap bahu Anya tiga kali lalu mengangguk ke arah Pak Azka.
Tanpa menunggu respons Anya yang masih menutup wajah dengan telapak tangan, Bima keluar dari ruangan. Pak Azka ikut tepat di sampingnya. Setelah pintu menutup rapat, Bima bergumam, “Tadi saya perhatikan ada satu CCTV yang menyorot langsung ke arah meja kami. Mungkin kita bisa cari tahu kebenarannya dari sana, Pak.”
Pak Azka mengangguk optimis. “Ah, benar, Pak. Mari saya perlihatkan rekaman CCTVnya.
Pak Azka menyalakan komputer di atas meja kerjanya. Dia menyalin rekaman CCTV pada DVR lalu menyimpannya pada komputer. Dengan saksama, Bima memperhatikan. Dia menarik 1 kursi ke sisi Pak Azka yang fokus menatap layar komputernya.
“Ini, Pak. Rekaman dari jam 12 siang,” ucap Pak Azka. Bima langsung antusias.
“Dipercepat sampai makanan disajikan aja, Pak. Untuk menyingkat waktu.”
Pak Azka mengangguk. Empat mata seakan tidak berkedip sama sekali. Sampai ketika mereka tercengang saat catatan waktu di rekaman CCTV menunjukan pukul 12.40 siang. Waktu di saat Hani menyajikan makanan untuk pesanan pertama. Terlihat jelas, Ratu tampak meraih tasnya dan mengeluarkan bungkusan kecil. Dengan cepat tangannya menaruh benda aneh ke dalam mangkuk sup Arin. Kemudian sigap, Arin mengaduk sup seolah tidak terjadi apa-apa.
Bima menghela napas sambil menyandarkan bahu. Di satu sisi dia cukup lega, karena dia tahu hal itu bukan kesalahan restoran Anya. Namun, dia sisi lain, Bima juga menyimpan kecewa. Tak menyangka, Ratu melakukan hal kekanak-kanakan seperti ini. Entah apa motifnya. Yang jelas, perbuatannya tidak dapat ditolerir karena sangat merugikan.
“Sekarang bagaimana, Pak?”
“Pak Azka tenang aja. Tolong simpan dulu hal ini. Jaga dulu dari Anya. Biar saya usaha cari solusinya.” Bima berdiri. Sambil menepuk bahu Pak Azka dia berkata, “Saya pamit ya, Pak. Ada yang mau saya kerjakan.”
Pak Azka mengangguk. Dia kembali menatap layar komputer dengan saksama. Memperhatikan rekaman CCTV untuk yang kesekian kalinya.