Sejak pagi Bima duduk di ruang kerjanya. Dia duduk bersama tim marketing, membahas menu dan triwulan berisikan rancangan promo kafe untuk tiga bulan ke depan. Meskipun tempo lalu sudah dirancang sedemikian rupa, tetapi dalam kondisi yang tidak menentu seperti sekarang lebih menyesuaikan dengan keadaan.
"Kenapa coffe blend raspberry ini penjualannya sangat rendah?"
"Untuk bahannya mulai jarang tersedia dari supplier, Pak."
Bima mengentukkan ujung telunjuknya ke meja. "Sudah hubungi bagian purchasing? Saya minta laporan lengkap barang-barang yang stocknya mulai jarang tersedia dari supplier lagi." Bima memeriksa daftar menu, lalu bralih ke penjualan bakery. "Kenapa hazelnut brownies kita paling banyak spoilernya?"
"Beberapa dari yang komentar karena rasanya terlalu pahit, jadi hanya yang suka kopi hitam dan dark chocolate."
Bima menuliskan note di kertas laporan itu. "Bawakan saya Moccacino, Cappucino, dan Hazelnut Brownies. Saya mau coba mana yang lebih ngeblend rasanya untuk kita buat bandling package bulan depan. Minta Rani bawakan."
"Baik, Pak," ucap ketua tim marketing.
“Bagaimana dengan penjualan online?”
“Semuanya terbilang konsisten. Promo yang masih berjalan ada diskon dan cashback,” jawab tim marketingnya. “Pak, salah satu e-comerse ada penawaran prioritas, di mana jika kita ikut, kefe kita masuk ke beranda laman depan di aplikasi mereka.”
Bima tampak berpikir sejenak. “Pelajari lebih dalam keuntungannya, jika perlu kamu bertemu saja dengan penanggung jawabnya dan tanya detailnya seperti apa.”
“Siap, Pak,” tanggap tim marketingnya. “Saya akan hubungi penanggung jawabnya.”
Fokus Bima kini kepada program promo bulan Februari, Maret, dan April. Ada menu spesial imlek, diskon double meat, dan yang lainnya. Namun, perhatiannya tersita pada event Valentine Romantice Dinner. Dia membaca semua syarat dan ketentuan dan menyetujuinya.
"Apa ada kafe atau restoran lain yang buat event valentine begini?"
"Eh?" Rupanya pertanyaan Bima yang tiba-tiba dan jarang sekali ditanyakan membuat semuaya kaget.
Bima menatap sekilas ekspresi karyawannya. "Jangan sampai mengecewakan. Pastikan ada live akustik dan dekorasi meja. Karena ini pasti long dinner, pilih area teras atas saja."
"Baik, Pak."
Telepon kantornya berdering. "Ya?" Bima mendengarkan pemberitahuan Pak Azka sudah datang. "Suruh dia masuk."
Bima mengakhiri meeting hari ini, tim marketing meninggalkan ruangan, kecuali ketua marketing yang diminta tetap tinggal. Pak Azka merapikan kemejanya saat masuk ruangan, sejenak mengamati interior ruangan dan jelas merasakan perbandingan antara ruang kantor Douillet Resto yang sempit.
Pak Azka duduk di sofa dengan canggung. Bima memperkenalkan mereka, tetapi auranya berbeda dari biasanya. Dia selalu terkesan santai dan ramah saat datanya ke restoran Anya. Hari ini tampak serius dan tidak ada garis humor sedikit pun.
Pertama yang dilakukan Bima yaitu menghela napas ketika membuka layar tab-nya. Membacakan beberapa komentar tuduhan dan komentar buruk lainnya mengenai Douillet Resto. "Apa yang akan kalian lakukan sekarang?"
"Untuk komentar di laman review itu, kami sudah mengklarifikasinya satu-satu," jawab Pak Azka.
Bima mengerucutkan bibir sembari mengangguk. "Apa itu cukup? Masalahnya selesai?" Pak Azka tampak ragu. "Gara-gara kejadian kemarin berapa persentase tamu yang datang hari ini?"
"Hanya dua puluh lima persen, Pak."
"Apa langkah selanjutnya untuk membereskan masalah ini?" Bima melirik Pak Azka tanpa mengangkat wajahnya dari layar tab-nya. "Mau menyebarkan rekaman cctv ini untuk membuktikkan pihak kalian tidak salah?"
Tubuh Pak Azka berubah kaku, meneguk ludah dengan susah payah. Mereka saling menatap dalam keheningan yang menegangkan. "Masalahnya akan panjang dan lebih rumit. Saya tidak akan melakukan itu. Bu Anya juga tidak tahu soal Pak Bima yang minta rekaman cctv waktu kejadian itu."
Pak Azka mengusap wajahnya. "Kami akan mengundang tamu dari data base untuk makan sembari melihat demo masak secara langsung. Hal ini akan memangkas gosip miring jika sekaligus membayar blogger untuk mereview,"
Bima menilai raut Pak Azka, lalu menautkan kedua tangan dan meremaskan kuat. "Undang lima blogger dengan followers paling banyak," ucap Bima kepada ketua marketingnya. "Kirim undangan juga kepada teman-teman saya untuk datang."
Satu amplop cokelat diserahkan kepada Pak Azka. "Tolong Pak Azka diskusikan dengan Anya mengenai akuisisi perusahaan. Saya mau mengumumkan Douillet Resto termasuk properti kami, restoran di bawah naungan kami."
Ketukan di pintu memberi jeda pada diskusi mereka. Rani masuk sembari membawa dua cangkir kopi dan sepotong brownies. Bima menanyai Pak Azka ingin pesan minum apa yang dijawab dengan penolakan halus bahwa air putih yang ada di meja sudah cukup.
"Pak Azka coba pelajari dulu berkas kerja sama itu." Selagi Pak Azka membaca detail berkas yang diberikan, Bima mencicipi kopi dan browniesnya, menilai mana yang lebih cocok dipadukan, lalu memberitahu kepada marketingnya.
Pak Azka mengangkat wajah dari berkas yang telah dibacanya, tampak tercengang sekaligus senang. "Ini kerjasama yang lebih memberi jaminan kuat. Pandangan buruk publik akan hillang dengan mudah saat tahu perusahaan sekelas Pak Bima saja percaya kualitas resto kami dan bekerja sama."
Bima mengangguk. "Saya rasa pertemuan kita selesai hari ini." Bima melihat arlojinya. "Keputusan kalian saya tunggu. Dan maaf, ada meeting lagi di luar, jadi saya harus pergi sekarang."
Pak Azka langsung berdiri dan menyalami Bima.
***
Bima memarkikan mobilnya di depan gedung Aurora Investama. Setelah menutup pintu, dia masih berdiri di sisi mobil menatap gedung perkantoran di depannya. Rasanya sulit melalui hari ini. Panas yang menyengat kulit seolah memberi tahu tidak ada hal mudah yang akan dilalui.
Dengan langkah tenang Bima memasuki ruang rapat yang sudah dimulai. Dia mengangguk sekilas kepada orang-orang yang menoleh atas kedatangannya, memberi isyarat permohonan maaf sekaligus mempersilakan melanjutkan meeting. Bima duduk di bangku sebelah kiri paling ujung dari meja berbentuk U ini.
Keterlambatan hari ini benar-benar disengaja, selain alasan banyaknya perkerjaan kafe. Bima melirik arlojinya dan menatap si pembicara di depan. Wanita berkelas yang cerdas dengan kecantikan dan keanggunan. Lama Bima hanya menatap Ratu tanpa mendengarkan presentasinya. Seolah sadar diperhatikan, wanita itu menatap kepadanya, Bima tidak mengalihkan pandangan, hanya mengangkat alis dan menggerakkan kepalanya sedikit.
Ratu tersenyum, mata besarnya menatap cerah kepada Bima. Dia menyelipkan rambutnya ke belakang telinga, memperlihatkan anting mahal yang berkilau. Ratu menghadap layar monitor lagi, melanjutkan pembahasannya mengenai pergerakan harga market komoditas perkebunann dan prediksi peluang ke depannya.
Jari telunjuk Bima mengetuk-ngetuk ringan meja. Data statistic dan berita fundamental sama sekali tidak menarik pikirannya. Satu-satunya yang menarik pikirinnya bahwa kecantikan seseorang bisa menutupi keburuka hati, pakaian mahal dapat menutupi sikap yang miskin, kecerdasan membalut manipulasi.
Kali ini Bima tersenyum saat Ratu menatapnya lagi, tetapi senyum itu tidak sampai ke matanya. Ratu tidak menyadari badai yang akan segera datang. Jelas semuanya akan selalu terasa sesuai rencana dan prediksinya.
Rapat selesai setelah pembahasan panjang. Di ruangan hanya tersisa Bima dan Ratu. “Harga pasar komoditas akan naik. Oh, ya, ada properti dengan potensi bagus di daerah Kelapa Gading.” Ratu duduk di meja di samping Bima. “Semuanya menarik bukan?”
Bima mengangguk dan menepuk tangannya tiga kali. “Kamu udah kerja keras.” Bima berdiri dan membuka tab-nya. “Aku juga punya sesuatu yang menarik. Kamu mau lihat?” Dia memberikan tabnya dan membiarkan Ratu menonton rekaman cctv kejadian di resto kemarin.
Rasanya bagai disambar petir. Tangannya mencengkeram kuat tab itu untuk menahan gemetar. Ratu terdiam kaku ketika dengan jelas melihat dirinya dalam rekaman itu yang memberikan bungkusan kepada asistennya. Ratu mendongak kepada Bima dengan tatapan terkejut. Tatapan dingin Bima membuat jantung Ratu memompa begitu cepat.
“Aku nggak nyangka kamu bisa ngelakuin itu,” suara Bima tenang. “Kenapa?”
“Apa maksudmu?” tanya Ratu masih seolah-olah tidak tahu apa-apa. “Aku lupa masih ada kerjaan.”
Tangan Bima menahan lengan Ratu dan menariknya agar menghadapnya lagi. “Kenapa kamu lakuin hal memalukan seperti itu?” Bima menikamnya dengan tatapan menusuk
Ratu memekik. “Apa sih, Bim? Aku lakuin hal apa?” Ratu menaruh tab ke meja. “Itu hanya acara meeting kita kemarin. Aku hanya kasih tisu ke Arin. Kamu mau nuduh aku?” Ratu menatap tidak percaya. Niat ingin menyentuh lengan Bima, tetapi nihil. Bima menepisnya dengan keras.
“Kamu nggak perlu berkilah lagi!” Nada suara Bima sedikit meninggi. Dia tidak pernah semarah ini sebelumnya, bahkan ini pertama kalinya mereka bertengkar. Amarahnya benar-benar memuncak. Terlebih karena melihat raut wajah Ratu tidak menunjukan rasa bersalah sama sekali.
“Rekaman CCTV kejadian kemarin di Douillet Resto itu sudah sangat jelas.” Bima menunjuk ke arah tabnya. “Aku benar-benar kecewa sama kamu. Aku nggak nyangka ya, kamu ternyata begitu kekanak-kanakan! Yang kamu lakuin itu sangat merugikan!”
Jantung Ratu berdebar keras di dadanya, tetapi dagunya terangkat tinggi.“Iya! Aku memang kekanak-kanakan! Bukan masalah mau rugi berapa pun! Lagian berapa sih, omset restoran yang hampir bangkrut itu? Asal kamu tahu, ya, Bim,” Ratu mengacungkan telunjuknya di depan wajah Bima. “Kalau bukan karena kamu yang minta, aku juga ogah kerja sama bisnis dengan Anya!”
Bima mencengkeram jari Ratu dan menurunkannya. “Kamu ada masalah apa dengan Anya?” Nada suaranya mendesak. “Sebegitu nggak sukanya kamu sama dia. Ini bukan kali pertama, ya. Beberapa bulan lalu, kamu juga sampai pura-pura keracunan di restorannya. Padahal karena mengonsumsi kafein berlebihan dan sakit magh!”
“Oh, jelas bermasalah, Bim! Kamu tahu alasannya,” desis Ratu. “Puncak masalahnya tuh karena kamu!” balas Ratu, tak kalah nyaring sembari menunjuk ke wajah Bima.
“Karena aku?” Kekecewaan yang besar seperti dipaksa untuk ditelannya. Bima menatap tidak percaya
“Ya! Karena kamu! Aku suka sama kamu Bima! Aku cinta sama kamu! Enam tahun kita saling kenal. Saling dekat satu sama lain.” Ratu menjerit frustrasi. “Papaku juga berharap banyak sama kamu karena setiap hari aku selalu membanggakan kamu di depan Papa! Kamu harus ingat, Bim! Kamu nggak akan bisa jadi sebesar ini tanpa bantuanku dan Papaku!”
Bima menggeleng, setengah tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. “Kamu tahu kesepakatan kita hanya hubungan bisnis! Nggak lebih dari itu!” tentang Bima terus terang.
Tak terbayangkan olehnya bahwa angannya dapat sirna dalam sedetik, Hanya hubungan propesional. Dan karena dia mengenal laki-laki itu, Ratu tidak terkejut ketika Bima mengucapkannya. Mata Ratu memerah, setetes air mata jatuh menuruni pipinya. “Karena Anya?” lirihnya. “Karena perempuan kemarin sore itu, kamu nolak aku? Setelah apa yang aku lakuin buat kamu?”
“Hubungan bisnis kita sepenuhnya saling menguntungkan.” Bima mengeraskan rahang. “Untuk sampai ke titik ini, aku selalu membalas budi dan utang-utangku. Mengerti?” Bima berpaling dan berjalan menuju arah pintu.
“Kenapa Anya? Jawab Bima!” hardik Ratu tak terima. “Kamu terima perjodohan bullshit itu? Kamu mau jadi suami gadis ingusan yang nggak tahu apa-apa tentang bisnis, yang selalu nyusahin kamu? Kamu setuju gadis kayak dia jadi istri kamu?” Kepala Ratu menggeleng keras. “Dia nggak pantas buatmu, Bim! Dia nggak pantas buatmu! Aku lebih baik berpuluh-puluh kali lipat dari dia!”
Ratu berteriak histeris. Dia melemparkan gelas untuk menghentikan langkah Bima. Gelas itu melewati sisi tubuh Bima, dan hancur berkeping-keping ketika membentur dinding di sebelah pintu dengan suara pecah keras.
Langkah Bima terhenti. Tangannnya terkepal erat di sisi tubuh, berusaha mengendalikan diri. Dia setengah berbalik menatap Ratu yang sedang gusar. “Setidaknya, Anya nggak akan pernah mungkin melakukan hal memalukan seperti apa yang kamu lakukan! Bahkan dia lebih dewasa dari kamu berkali-kali lipat.”
Tubuh Bima menghadap Ratu. “Sampai aku memutuskan langkah selanjutnya, segala keperluan urusan bisnis ini akan melalui pihak ketiga. Surat kuasanya akan segera kamu terima.” Bima berbalik, saat menyentuh gagang pintu, dia kembali berkata, “Aku nggak mau ketemu kamu lagi dalam hal apa pun itu.”
“Bima!” Ratu berteriak ketika pintu ditutup. Mukanya sudah semerah warna baju yang dikenakannya. Tangannya mengibas semua barang di meja sembari berteriak frustrasi.
***
Bima keluar dari ruangan Ratu dengan langkah tegas. Tangannya menarik lepas dasi yang terasa mencekik lehernya. Kancing teratas juga dilepas agar dirinya bisa menghirup udara. Dia butuh bernapas, sementara napasnya saling berkejaran.
Dia melewati resepsionis dengan raut muka marah. Langkahnya cepat menuruni undakan untuk segera sampai ke mobilnya. Bima membanting pintu mobil dan duduk bersandar sembari menutup mata dengan punggung lengan.
Rasanya kepalanya baru saja ditimpa benda berat. Kekacauan ini dimulai dari dirinya. Lagi. Anya dijadikan objek balas dendam atas semua kesalahannya. Gadis itu ditimpa kekacauan dalam hidupnya dan dipaksa menelan musibah. Bima tahu bagaimana kerja keras Anya dan sulitnya bangkit dari kondisi terpuruk. Dia berjalan masuk ke dunia bisnis dengan setumpuk tanggung jawab yang genting tanpa arah dan persiapan.
Bima mengusap wajahnya. Menghela napas sebelum mengangkat telepon yang berusaha keras membuatnya lebih gusar. Panggilan telepon dari kolega bisnis dan kliennya terpaksa membuat dirinya harus tetap bekerja hari ini, meski pikirannya sedang kacau. Untuk beberapa urusan yang bisa ditangani manajernya, Bima menyerahkan urusan itu kepada Pak Ryan.
Sore hari Bima kembali ke kafenya dan duduk di ruang kerja tanpa mau diganggu. Dia menandatangani berkas yang menunggu persetujuannya, lalu memutar kursinya menghadap langit jingga keunguan. Helaan napas lelah keluar dari mulutnya ketika mendengar ketukan pintu.
“Hari yang berat?” Hikam masuk dengan membawa secangkir kopi yang mengepulkan uap. “Masalah kerjaan?”
Bima tidak menjawab, hanya memperhatikan langkah Hikam.
“Ah, rupanya masalah wanita,” tebak Hikam setelah memperhatikan kusutnya wajah bos sekaligus sahabatnya ini.
Bima hanya memijat pelipisnya. “Aku nggak butuh nasehat.” Tangannya terangkat membuat isyarat mengusir. “Jangan ngomong apa pun.”
Bukan Hikam namanya kalau langsung nurut atau ciut. “Apa masalahnya gawat banget?” Setelah menaruh kopi di depan Bima, dia menarik kursi dan duduk di depan meja. “Ada hubungannya dengan kejadian kemarin?”
Bima menyipitkan mata kepada Hikam. Jika orang-orang memilih mundur diam-diam, tetapi Hikam malah siap bernyanyi di depan Bima saat ini. “Minta maaf akan memperbaiki segalanya. Dia pantas mendapatkannya.”
Bima berdiri tanpa menyentuh kopinya. Mengambil jas dan kunci mobilnya. “Aku mau pulang. Thanks kopinya.”
Hikam tidak menghentikan Bima. “Hati-hati di jalan.” Tangannya melambai dengan gerakan santai. “Kalau cari Bu Anya, dia udah pulang dari restoran. Aku baru aja dari sana. Mungkin Bu Anya udah sampai rumah.”
Bima tidak menoleh, berpura-pura tidak mendengar informasi meskipun telinganya mendadak terasa panas saat mendengar kata-kata penyemangat dari Hikam.