36 Permintaan Maaf Bima

1736 Words
Tidak ada yang bagus, tidak ada yang tepat, semua-semuanya salah. Perjalanan satu hari ini atau bahkan mungkin hari-hari kemarinnya lagi, tidak ada yang benar. Anya merasa semua orang hanya bisa menyalahkannya dan peristiwa-peristiwa yang terjadi di seputarnya, hanya makin memperburuk keadaannya. Anya sampai bertanya pada diri sendiri, kutukan apa yang sedang berjalan ke arahnya? Anya bukanlah seorang yang lemah, hanya saja kali ini langkahnya lambat dan gontai. Tubuhnya juga agak membungkuk dengan bahu lemas terbawa gravitasi; gontai. Beberapa kali helaan napas keluar dari bibir mungilnya yang berisi. Sedikit lagi, Anya sudah sampai ke rumahnya. Namun, perasaannya masih sangat kacau. Tekanan dari Tante dan omnya, hanya membuat hidupnya terasa semakin sesak. Anya butuh ruang untuk menenangkan diri. Ia melihat taman dan Anya memutuskan mengistirahatkan diri dan pikiran di sana. Taman di dekat rumahnya adalah taman yang terawat dan cukup ramai di hari-hari tertentu. Di akhir pekan, biasanya taman akan banyak di isi oleh mereka-mereka yang berusia ranum. Datang berkelompok besar atau cuma berdua saja. Jarang mereka yang muda berani datang sendiri. Namun, malam ini bukan akhir pekan. Tak terlalu ramai, tetapi juga tidak bisa dikatakan sepi. Lebih banyak mereka-mereka yang berolahraga dengan lari-lari kecil, sebagiannya mengobrol bergerombol. Ada satu bangku taman yang kebetulan kosong. Anya cepat-cepat duduk sebelum ada yang menempati. Begitu bokongnya menyentuh bangku, embusan napas panjang keluar dari bibirnya. Anya selonjorkan kakinya agar rasa lega lebih lengkap. Tak banyak yang Anya lihat dan lagi tak ada yang benar-benar ingin dia lihat. Anya hanya mengedarkan pandangan, tetapi menyikapinya dengan datar. Siuran angin lembut, membuat Anya memejamkan mata. Mengirimkan segala kesah yang terpendam agar dibawa pergi angin. "Ada gitu, ya lelaki ganteng ..., eh, nggak, bukan ..., cukup laki-laki paling baik, datang ke sini, terus pegang pipiku, terus bilang ..., 'Anya kamu nggak apa-apa?'" *** Di waktu yang hampir bersamaan, di sisi lain kota Jakarta yang padat, mobil Bima meluncur tenang menuju area perumahan Anya. Berbelok ke arah gang dari alamat tujuannya. Setelah pertemuannya dengan Ratu, Bima tidak bisa benar-benar tenang menunggu esok. Benar juga yang dikatakan Hikam. Dirinya tidak mau menunda untuk meluruskan salah paham dengan Anya. Sedikitnya, Bima merasa bersalah setelah apa yang dia lakukan terhadap gadis itu. Saat memasuki wilayah perumahan Anya, sebenarnya Bima sudah melihat Anya, tetapi dia merasa tak perlu menghentikan mobilnya. Bima memutuskan untuk duluan saja sampai di rumah Anya. Bima merasa kurang tepat membicarakan maaf di pinggir jalan atau di dalam mobil dalam keadaan dirinya yang pasti menyetir. Rasanya kurang sopan. Namun, sebenarnya ada alasan lainnya selain perihal kesopanan dan adab meminta maaf. Bima sebenarnya belum siap berhadapan dengan Anya dan mengakui kesalahannya. Meskipun kenyataannya itu bukanlah kesalahannya yang mutlak. Itu adalah perbuatan Ratu. Bima merasa dirinya perlu waktu untuk menyusun kata-kata yang tepat untuk meminta maaf. Dengan menunggu Anya di rumahnya, sedangkan Anya masih berjalan, Bima berpikir bisa menggunakan sedikit waktu untuk menyusun kata-kata. Karenanya dia mendahului Anya dan hanya membunyikan klakson ringan sekali, sebagai tanda kalau dirinya ada. Kemudian Bima yang keheranan. Anya tak memberikan respons layaknya orang pada umumnya yang saling kenal. Anya tentunya tahu kalau yang melewatinya adalah mobil Bima. Anehnya gadis itu bahkan tidak menoleh ke arah mobilnya. Dia juga tidak terkejut dengan suara klakson mobilnya. Kepala gadis itu, sedikit tertunduk dan tatapannya terarah ke bawah. Ada sesuatu yang berat dipikirkan Anya, begitulah kesimpulan Bima. Langkahnya begitu gontai hingga membuat dirinya merasa khawatir. Saat di taman, Bima berputar dan kembali ke jalur semula. Dia memutuskan akan berhenti, lalu mengajak Anya masuk ke dalam mobilnya dan berbicara. Namun, Bima sudah mendapati Anya masuk ke dalam taman. Bima memarkirkan mobilnya. Masih di dalam mobil, dia mengamati Anya, sampai gadis itu duduk dengan lesu. "Ngapain dia di sana sendirian kayak orang linglung begitu?"tanya Bima pada dirinya sendiri. "Kalau diapa-apain gimana?" Bima melihat sekitar taman yang didominasi pria. Ada pun beberapa perempuan, tetapi mereka bersama teman, tidak benar-benar sendiri. Merasa khawatir, Bima memutuskan keluar dari mobil dan menghampiri Anya. Desir angin yang berembus, terasa dingin bagi Bima yang bahkan jasnya belum dilepas. Kini Bima melihat Anya memejamkan mata dengan kepala mendongak ke atas. Bima langsung mendelik dan bergegas mendekati Anya. Di mata Bima, leher Anya yang ramping dan putih, dengan posisi mendongak itu berbahaya. Apalagi, beberapa laki-laki memperhatikan Anya dan mulai saling bicara dengan rekannya. Leher Anya menggundang orang berpikir m***m. Dirinya saja, berdesir ngilu melihat leher Anya yang putih dan bebas dari segala pernak-pernik perhiasan. "Arghhh.... Gila, gila, gila!" Tiba-tiba Anya menghentakkan tubuhnya. Tak lagi mendongak, tetapi memajukan tubuh dengan kepala digeleng-gelengkan cepat. Anya merapatkan mata, hingga terlihat kerutan dalam di bagian alis dan kelopak mata. "Gila, gila, gila..., konyol itu semua. Itu nggak akan mungkin." Anya terus menggumamkan sesuatu yang tidak dimengerti Bima sedikit pun. Kekhawatiran tak bisa lepas. Bima langsung duduk di sebelah Anya, dengan cepat memutar tubuh gadis itu agar menghadap ke arahnya, dan Bima langsung menangkup wajah Anya dengan kedua telapak tangannya yang langsung menguasai kedua pipi Anya. Anya pun terkesiap. Kedua matanya terbuka lebar karena tiba-tiba ada seseorang memegang kedua pundaknya dan kini membuatnya berhadapan dengan seorang laki-laki yang sedang tidak diharapkannya. Namun, sialnya lelaki itu seperti sebuah refleksi dari permintaannya. Muncul tiba-tiba dan memegang kedua pipinya dengan hangat. Telapak tangan yang sangat hangat. Terasa menenangkan. Sekejap saja, Anya menikmatinya, sebelum kemudian dia sadar bahwa laki-laki di hadapannya itu; Bima, bukanlah orang yang dia ingink lihat malam ini. "Anya..., kamu nggak apa-apa?" tanya Bima yang was-was melihat bagaimana semakin melebarnya kelopak mata Anya terbuka. Wajar jika Anya makin mendelik. Bahkan pertanyaan yang dilontarkan Bima adalah pertanyaan yang sedang dia harapkan sebelumnya. Masak iya Bima adalah lelaki yang dikirimkan Tuhan atas permintaan tadi? tanya Anya dalam hati. Tidak! Tidak bisa! Si Kaleng Biskuit adalah lelaki paling menyebalkan sedunia! Anya yang sudah kembali menjadi dirinya sendiri, menepis kedua tangan Bima, dan memundurkan tubuhnya. Kesia-siaan karena ada sandaran bangku yang menghambat Anya mundur lebih jauh. Juga, ada hati yang meronta karena terlanjur nikmat dalam tangkupan hangat telapak tangan Bima. "Ngapain ke sini?" bentak Anya kesal. Dia memalingkan wajahnya yang masih terasa hangat. Anya khawatir jika ada semburat merah muda yang akan bisa dilihat Bima. Bima yang mendapatkan bentakan, tiba-tiba bingung sendiri. Dia tidak tahu harus jawab apa pada Anya. Rasanya akan lucu jika Bima mengatakan yang sebenarnya. "Nggak sengaja lewat, terus lihat kamu kejang-kejang. Ya udah saya samperin." Anya menoleh cepat dan memberikan tatapan sengit. "Kejang-kejang? Maksudnya apa? Mau ngejek saya?" "Enggak. Buat apa ngejek kamu. Nggak ada manfaat juga." "Terus tadi maksudnya apa?" "Memang begitu. Saya lihat kamu geleng-geleng kayak orang kesurupan, takut kamu kenapa-napa, ya saya ke sini." Anya memicingkan matanya. Tatapannya belum lepas dari Bima. Ini bukan posisi nyaman bagi Bima. Cara Anya memicingkan mata seolah-olah sedang menyudutkannya. "Hooo.... Perhatian sekali Bapak Bima ini. Jangan-jangan Bapak yang kesusupan sesuatu, bukan saya." Bima menghela napas lelah. Dia menduga ini akan menjadi perdebatan yang panjang, yang akan berakhir pada kesalahpahaman berulang. "Kamu ngapain ke sini?"Bima menyandarkan tubuhnya dengan salah satu tangan terentang di belakang Anya. "Eh, Om genit mau ngapain?"Anya memajukan tubuh menghindari agar tubuhnya yang sedianya mau ikut bersandar, tidak bersentuhan dengan tangan Bima. Bima menoleh dengan malas. "Menurutmu mau apa? Saya cuma nyandarin tangan aja. Gak ada mau apa-apain kamu, apalagi mau peluk kamu. Kurang kerjaan sekali,"dumel Bima yang kembali menatap ke sekitar. Anya menggigit bibir bawah karena malu. Kesannya dia terlalu percaya diri bakalan disentuh-sentuh Bima. Agar rasa malunya tak ketara, Anya menegarkan diri untuk duduk bersandar serupa Bima. Lengan Bima terasa di bagian belakang pundak Anya. Hati Anya kembali berdesir. "Saya tadinya mau ke rumahmu,"ucap Bima kemudian. "Ke rumah saya? Mau ngapain Om ke rumah saya?" "Hhh..., bisa gak kamu berhenti panggil saya Om?" "Gak bisa. Itu sudah paten,"tegas Anya. "Kita ini dua orang dewasa. Kamu manggil Om ke saya di keramaian begini, orang akan mengiranya saya sudah uzur." Anya menyipitkan mata dengan sinis. Sama sekali tidak peduli dengan protes Bima. Kata uzur membuat Anya membayangkan Bima sebagai seorang kakek-kakek tua. "Ya..., memang uzur, 'kan? Usia Bapak aja jauh dari saya." "Usia itu hanya angka."Bima mendesah malas. Sebuah idiom kuno yang terasa sangat basi. "Ya, ya, ya."Anya tak tega meneruskan demi melihat wajah Bima yang lesu. "Jadi, Bapak ke rumah saya tadinya mau apa?" Bima membasahi bibirnya dan menelan air liurnya dengan kasar hingga jakunya terlihat naik turun. Anya yang memerhatikan dari samping, merasa kalau yang akan disampaikan Bima pastilah sesuatu yang berat bagi pria itu diungkapkan. "Saya mau minta maaf sama kamu,"ucap Bima akhirnya. "Bapak minta maaf? Minta maaf karena apa, Pak?" "Karena yang terjadi kemarin." Kening Anya mengernyit. Rasanya ada banyak kejadian yang terjadi di seputar dirinya dan Bima. Beberapanya memang kurang atau bahkan sangat tidak mengenakkan. Namun, sebenarnya Anya bukanlah seorang pendedendam, jadi dia tak mudah ingat akan apa-apa yang tidak mengenakkan jika sudah lewat harinya. Hanya biasanya yang tersisa kesal saja. Merasa tidak mendapat tanggapan, Bima menoleh ke Anya. Ekspresi tidak paham di wajah Anya dipahami Bima dengan baik. Dirinya memang tidak spesifik menjelaskan. "Masalah yang terjadi di restoranmu. Yang berkaitan dengan Ratu." Seketika itu juga Anya paham. Langsung saja wajah Anya melengos. Sesuatu yang sedang dilupakan lalu diingatkan kembali itu rasanya tidak enak. "Buat apa Bapak minta maafnya sekarang? Kemarin Bapak ngapain aja? Bengong begitu. Senang melihat Ibu Ratu bentak-bentak saya sedemikian rupa? Lumayan buat Bapak karena mendapat tontonan gratis. Begitu?"tanya sengit Anya. "Bukan begitu. Saya kan tidak mungkin mengambil tindakan yang mengesankan melakukan pembelaan tanpa bukti. Masak iya saya bela belas sini, sedangkan saya masih belum memahami apa-apa,"bela Bima. "Apanya yang tidak bisa Bapak pahami, hah? Kan saya sudah menjelaskan sejelas-jelasnya." "Tapi ada tuduhan yang dilayangkan. Bagi saya, semua tuduhan harus memiliki bukti. Bukan sekedar pembelaan." "Halah! Bapak terlalu banyak teori. Manusia itu nggak harus menggunakan akal, tapi juga hati." Anya yang mulai gerah, karena pembahasan kejadian yang sudah lewat, langsung berdiri. Ia memutuskan pulang saja ketimbang ribut dengan Bima. "Kamu mau ke mana?" tanya Bima yang ikut berdiri dan memegang pergelangan tangan Anya. Mencegah gadis itu pergi. "Bukan urusan Bapak! Lepasin!" Anya menghentak tangannya yang langsung terlepas. Anya merasa sedikit aneh pada dirinya, yang untuk sesaat merasa menyesal karena Bima tak memegang pergelangan tangannya dengan kuat. Seolah dilepaskan begitu saja. Tidak ditahan. Dih! Ngapain mikir ditahan-tahan. Emangnya dia siapa. Ihhh, amit-amit. Anya bergidik sesaat karena perasaannya menjadi aneh. Dia bergegas melangkah, keluar dari taman. Bima tetap mengikuti dari belakang dan Anya merasa risi. Dengan tetap berjalan cepat, Anya menoleh ke belakang. "Nggak usah ikutin saya! Bapak per...." "Awas!" Peringatan Bima terlambat. Anya sudah terlanjur jatuh ke semacam lubang yang sepertinya dibuat untuk menanam pohon.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD