37 Celaka Kurang Hati-Hati

1763 Words
“Awas!!!” Bima menarik napas lalu berlari menghampiri Anya yang terjerumus di dalam lubang. Anya hanya bisa meringis. Lututnya terasa perih. Bahkan kaki kirinya terasa ngilu saat digerakan. “Saya sudah kasih peringatan, Anya! “Tapi telat, Pak! Selalu telat. Nolongin saya telat, minta maaf juga telat!” Anya menangkis uluran tangan Bima dengan sekuat tenaga. “Udah! Jangan pegang-pegang saya! Saya bisa sendiri!” Anya menolak ketus. Dengan susah payah, dia mencoba berdiri. Mengeluarkan kaki kiri yang mengucurkan darah. “Ini berdarah, Nya! Pasti terkilir juga. Kamu nggak bisa sendiri! Biar saya bantu. Jangan keras kepala!” sentak Bima tak kalah nyaring. Napas Anya terengah. Dahinya mulai mengeluarkan keringat meski malam kian dingin. Hati-hati, Bima menggendong Anya. Lalu memapahnya sampai ke mobil. “Biar saya antar pulang. Kamu nggak mungkin pulang sendiri dengan keadaan seperti ini. Jangan keras kepala lagi!” titah Bima. Sepanjang jalan, Anya hanya menatap ke luar jendela mobil. Mengalihkan pandang pada bunga-bunga yang berjajar di sepanjang jalan. Tak butuh waktu lama, mobil Bima memasuki area rumah Anya. Gadis itu menatap garasi yang kosong. Tidak ada mobil Om dan Tantenya. Berarti rumah juga kosong. Asisten rumah tangga yang dipekerjakan Tante Shinta, sekarang tidak menginap di rumah. Tujuan utama, untuk menghemat budget, tujuan lainnya untuk membuat Anya mandiri. “Bapak mau ikutan masuk juga?” “Ya, terus kamu mau saya tinggal dengan kondisi seperti ini?” Bima menilik lutut Anya yang berdarah. Celana jeansnya sampai sobek. Sedangkan sepatunya sudah penuh lumpur. “Saya bantu obati dulu. Baru saya pulang.” “Nggak perlu, Pak! Saya bisa sendiri.” Sambil memapah tubuh Anya, Bima menjawab, “Sudah saya bilang, jangan keras kepala!” Pintu rumah Anya terbuka. Kali pertama Bima memasuki rumah Anya, tapi seperti tidak asing baginya. Dengan cekatan, Bima memapah tubuh Anya menuju sofa ruang tamu. Meletakkan beberapa bantal kursi lalu perlahan membaringkan Anya. “Saya mau bersihkan luka kamu. Enaknya bagaimana? Celana kamu bisa disingkap? Atau saya gunting sekalian?” “Eh, enak aja. Saya lagi pasang mode hemat sehemat hematnya, Pak. Masa celana main gunting-gunting aja,” tolak Anya. “Kan celananya juga sudah sobek. Sudah bolong begini. Kalau disingkap juga susah, Nya. Terlalu ketat.” Bima menggeleng, lalu berdiri. “Kotak P3K di mana?” “Di sebelah ruang makan, Pak. Dekat pintu samping. Ada kotak yang tergantung. Itu P3K.” Bima berjalan sesuai arah yang ditunjukkan Anya. Tak butuh waktu lama, Bima kembali dengan kotak P3K di tangannya. “Ya sudah, sini, celana kamu saya gunting dulu.” Pasrah, Anya menuruti permintaan Bima. “Nanti saya yang belikan celana baru,” ucap Bima saat menggerak gerakkan gunting di hadapan Anya. “Gitu, dong. Saya kan jadi tenang,” balas Anya. Diam-diam, Bima tersenyum. Dia mengambil mangkuk berisi air dan mengguyurkannya perlahan ke lutut Anya. Membersihkan lukanya terlebih dahulu sebelum mengobati. Anya terlihat meringis kesakitan saat Bima mengusapkan kasa steril dan mengoleskan obat merah pada lukanya. “Untung aja lukanya nggak terlalu dalam. Jadi nggak perlu dijahit,” ucap Bima. “Dibordir aja sekalian, Pak. Disulam kalau perlu,” balas Anya, kesal. “Sudah jangan marah-marah.” Dia mengembuskan napas berat beberapa kali lalu berkata, “Sekali lagi saya minta maaf. Semua kejadian yang menimpa kamu, memang karena keberadaan saya.” Bima berdiri setelah menyelesaikan pertolongan pertama pada Anya. Dia lantas duduk di sofa samping Anya berbaring. Anya membuang muka tanpa komentar. Jauh di relung hatinya, sungguh tak ingin menyalahkan Bima. “Sudah jam 8 malam. Kamu sudah makan?” tanya Bima lagi. Anya menggeleng. “Saya nggak ada nafsu makan dari siang.” “Saya buatkan makan malam, ya? Saya juga belum makan.” Tanpa menunggu persetujuan, Bima melangkah menuju dapur. “Eh, Bapak mau apa?” “Mau masak, Nya. Kan saya sudah bilang,” teriak Bima. Dia membuka kulkas. Mencari bahan makanan yang bisa digunakannya. “Udah nggak usah, Pak. Kita pesan makanan online aja. Mumpung banyak voucher diskonan awal tahun!” teriak Anya, mencegah Bima memakai dapurnya. “Kalau masak lebih hemat, Nya.” Dengan tertatih, Anya menghampiri Bima. “Emang bisa masak?” tanya Anya. Tak percaya. “Kamu duduk aja! Nggak usah jalan-jalan dulu,” sergah Bima saat melihat langkah Anya terseok-seok mendekatinya. “Bertahun-tahun saya hidup sendiri. Kalau Cuma masak, tentu saya bisa,” sambungnya. “Bisa masak sih, bisa. Tapi, enak, nggak?” Anya menatap Bima remeh sambil bersandar di meja marmer dapur. Setelah mencari-cari bahan makanan di kulkas, Bima berbalik menghadap Anya sambil memegang sekotak ayam potong dari dalam freezer. “Saya buatkan sup ayam, mau?” Sigap Anya menggeleng. Dia menolak mentah-mentah sambil bergidik. “Aduh, jangan sup, deh, Pak. Sumpah sejak kemarin, saya geli sama sup. Dengarnya aja sudah bikin mual. Mau muntah!” tolak Anya. Peristiwa memalukan yang terjadi di restorannya disebabkan karena semangkuk sup ikan kebanggaan Douillet resto. Nasfu makannya terutama pada sup seketika lenyap. “Ayam asam manis aja, ya. Di kulkas kamu Cuma ada ayam, Nya.” “Sudah, deh, Pak. Nggak usah masak. Kita pesan makanan aja, ya.” Anya mencoba meraih pisau yang baru saja Bima genggam. Karena terhalang meja, Anya mengambil langkah memutar. Semakin mendekat dengan Bima yang terpojok hingga kulkas. Dengan susah payah, Anya mencoba meraih pisau serta sebuah bawang bombai di tangan Bima. Namun, percuma. Bima meninggikan kedua tangannya agar jauh dari jangkauan Anya. Anya manyun karena kesal, sedangkan Bima malah tersenyum lebar. Saat Anya ingin berbalik, dia kehilangan keseimbangan karena kakinya yang mendadak nyeri. Spontan Bima menaruh pisau dan bawang bombai di sembarang tempat lalu menangkap tubuh Anya yang hampir limbung. Dengan posisi satu kaki berlutut, Bima berhasil mendekap Anya. Tarikan napas keduanya terdengar berat lagi untuk beberapa saat. Ada debar tak biasa yang menguasai dedup jantung mereka. Berkali-kali Anya meneguk ludah. Sampai ketika suara dehaman yang sangat Anya kenal memecah keheningan. “Eh, Tante,” ucap Anya salah tingkah. Begitupun dengan Bima. Dia langsung membantu Anya berdiri dengan hati-hati. Sedangkan Anya malah meringis karena kakinya kian perih. Dengan sedikit pincang, Anya menghampiri Tante Shinta dan om Dedy di ruang makan. “Ini, Tan, Om. Tadi Anya jatuh. Terus Pak Bima ngantar Anya pulang. Sekalian ngobatin juga. Terus tadi Pak Bima mau masak makan malam, karena Anya belum makan. Terus Anya malah terpeleset lagi,” terang Anya panjang lebar. Tante Shinta hanya tertawa sambil bersedekap. “Ya udah, sih. Lagian nggak ada yang nanya juga. Lagian kamu juga ada-ada aja. Sudah gede, masih aja suka jatuh-jatuh,” ucap Tante Shinta, masih diiringi tawa. Om Deddy menaruh dua papper bag di atas meja makan. “Jadi kalian berdua belum makan? Ayo, makan bareng aja. Kebetulan, Tantemu tadi beli banyak makanan.” “Oh, kalau gitu saya pamit aja, ya, Om, Tante,” ucap Bima sambil setengah membungkuk. “Loh, jangan pulang. Kita makan bareng dulu. Kan sebentar lagi kita jadi keluarga,” timpal tante Shinta. “Iya, kan, Pah?” “Iya betul. Ayo kita makan bersama, Nak Bima.” Anya mencebik dari balik punggung Bima. Bisa-bisanya Om dan Tante menjelma jadi malaikat baik hati. Penuh dengan keramahan serta senyum lebar seperti bintang iklan pasta gigi. Tante Shinta menghampiri Bima, menautkan lengan pada pergelangan tangan Bima. Menarik laki-laki itu dengan lembut menuju meja makan. Anya hanya bengong menatap dari belakang. Tak habis pikir, yang cidera siapa, yang dirangkul siapa. Anya mendesah, lalu berdeham pelan. Spontan Bima menoleh. Laki-laki itu melepaskan rangkulan Tante Shinta. Berbalik menuju Anya yang kepayahan berjalan di belakangnya. “Duh, romantisnya. Nak Bima ini calon suami yang baik untuk Anya,” puji Om Dedy. Tante Shinta menampilkan senyum lebar lagi. “Iya, dong. Siapa dulu yang pilih. Tante nggak salah pilih calon suami untuk kamu ‘kan, Nya?” Bima menarik kursi untuk Anya. Sepelan mungkin membantunya duduk. Walau dengan kasar Anya segera menarik tangannya dari genggaman Bima. “Nggak usah kebanyakan pegang-pegang deh, Pak,” bisik Anya. “Jangan cari kesempatan!” lanjutnya. “Jadi gimana restoran, Nya?” tanya Om Dedy tiba-tiba. Anya tersedak. Segera, Bima menuangkan segelas air untuk Anya. “Saya pastikan, Douillet Resto akan baik-baik saja, Om. Om dan Tante nggak perlu khawatir.” Bima mengambil alih jawaban. Membuat Anya mendelik dan melayangkan satu cubitan pada paha Bima. “Tuh, ‘kan. Tante bilang juga apa. Nak Bima ini paket komplit sekomplit-komplitnya. Laki-laki baik, berwibawa, bertanggung jawab, sopan, mengerti tentang bisnis, ganteng pula. Paket lengkap!” sanjung Tante Shinta tak ada habisnya. “Tapi tua!” celetuk Anya. “Hus! Nggak boleh ngomong gitu!” protes Tante Shinta. Anya mencebik kesal. Dia yakin, Bima pasti sudah besar kepala sekarang. Jika sudah begini, menolak perjodohan pasti akan semakin sulit diterealisasi. “Ya sudah, kita makan, yuk. Nanti makanannya keburu dingin.” Tante shinta meletakkan beberapa piring lengkap dengan sendok dan garpu di atas meja. Suasana kian hangat, meski Anya masih saja memaksakan senyum. Namun, diam-diam dia mencuri pandang pada Bima yang jadi pusat perhatian. Jika bukan karena Bima, sudah sangat jarang dia makan bersama Om dan Tantenya. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 9. Sebenarnya, dari 30 menit lalu mereka sudah menyelesaikan makan malam. Beberapa kali pula, Bima sudah berniat pamit duluan. Namun, usahanya sia-sia. Tante Shinta selalu punya bahan pembicaraan untuk menahan Bima. Untung saja, Om Dedy turun tangan. Dia mengajak Tante Shinta untuk istirahat duluan. Membiarkan Anya dan Bima menghabiskan waktu berdua. Namun, tentu saja hal itu dimanfaatkan Bima untuk segera pulang. “Saya pamit ya, Nya.” “Besok-besok jangan ke sini lagi!” ancam Anya dengan nada ketus, tapi terdengar bercanda di telinga Bima. Bima terkekeh. “Iya, iya. Saya juga nggak mau dapat pujian terus dari om dan tante kamu. Ya, walaupun semua yang mereka katakan memang benar.” Bima berjalan mundur menuju mobil. Senyum keduanya merekah karena mengingat hal-hal lucu saat di meja makan tadi. “Pak Bima!” seru Anya saat Bima hendak membuka pintu mobil. “Iya, kenapa?” Beberapa detik Anya terdiam. Seperti sedang mengatur kalimat yang ingin diungkapkan. “Terima kasih, sudah ngobatin luka saya. Terima kasih juga, karena masih mau bantu restoran saya.” Senyum Bima mengembang. “Its my pleasure, Anya.” “Dan juga ...,” sambung Anya. Langkah Bima langsung terhenti. Dia berbalik menatap Anya lagi. Kesepuluh jemari Anya saling menaut. Bibirnya komat-kamit tanpa suara sebelum berkata, “Pak Bima nggak salah apa-apa. Justru setelah saya pikir-pikir, hal-hal begini yang bisa buat mental bisnis saya terbentuk. Makasih atas motivasi dan semua bantuannya. Dan maaf juga, kalau saya sering ketus sama Pak Bima.” Anya menyelesaikan ucapannya tanpa menatap Bima sedikit pun. Bima terlihat tersenyum tulus saat Anya mendongak. “Saya tahu,” ucapnya. Lalu membuka pintu mobil. Meninggalkan Anya yang masih terdiam di terasnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD