38 Ditraktir Es Krim

1739 Words
Hari sudah hampir tengah malam ketika Bima melangkah memasuki apartemennya. Sebenarnya dia sudah ingin pulang setelah mengobati kaki Anya yang terluka. Namun, makan malam bersama keluarganya tidak bisa ditolak dengan mudah. Bima berdiri di depan jendela yang memperlihatkan langit perkotaan dengan gemerlap lampu bewarna putih dan kuning. Dari lantai sepuluh, masih terdengar bisingnya kendaraan. Jakarta yang sibuk. Kota tanpa tidur. Di tempatnya berdiri, Bima dapat melihat pantulan dirinya di jendela kaca. Apa jadinya jika Anya yang berada dalam posisinya? Sebelumnya dia berpikir akan memaksa diri bersabar dalam perangkap makan malam yang penuh kepalsuan, memaksanya bersikap senang dan sopan. Namun, sekali ini, karena gadis itu tersenyum, Bima menikmati makan malamnya. Bima melepaskan sweternya dan menyampirkannya di lengan kursi meja dapur. Dia berjalan ke arah kulkas dan mengambil air dingin. Bibirnya mengerecut ketika mendapati isi kulkasnya tinggal sedikit. Perlahan menyadari bahwa memang dia tidak pernah berbelanja. Bima menutup pintu kulkas menggunakan kakinya. Memutuskan untuk membuat jadwal berbelanja nanti. Tubuhnya terasa lelah menjalani hari ini. Bahkan sulit dipercaya dia bertengkar seperti itu dengan Ratu. Senyum miring terukir di bibirnya membentuk seringai sinis. Orang bilang, saat mabuk atau sedang marah sifat asli seseoang akan terlihat. Tidak ada yang perlu diperbaiki. Besok dia akan meminta penasehat hukum untuk mempertimbangkan pemutusan hubungan kerjasama bisnis mereka. Bima melangkah masuk ke kamar dan mandi. Air dingin yang mengguyur tubuhnya terasa menenangkan pikiran. Selesai mandi, saat mengeringkan rambutnya, layar ponselnya menyala. Bima memeriksa pesan yang dikirim Anya. Om ... Om udah sampai? Seulas senyum langsung menarik bibir Bima. Gemas rasanya ingin menyentil dahi Anya setiap memanggilnya Om, padahal jelas-jelas dia belum terlalu tua untuk sebutan itu. Bima mengetikkan balasan kalau dia sudah sampai. Lalu menanyakan kondisi kakinya, apakah ada memar. Anya membalas pesannya hanya dalam hitungan detik. Masih sakit. Semoga nggak bengkak segede gajah besok. Kali ini Bima terkekeh. Ponselnya berdenting lagi. Makasih sekali lagi buat hari ini. Selamat malam, Pak. Tidur yang nyenyak. Diakhir pesan Anya mengirimkan emot wajah tersenyum. Bima duduk di tepi ranjang sambil membaca pesan itu dan tersenyum. Selamat tidur. Semoga mimpi indah, ketiknya. Setelah mengirim pesan itu, Bima menyentuh lambang emoji memilih emot tertidur, tetapi yang terkirim malah emoji tersenyum dengan penuh cinta berbunga-bunga. *** Anya meletakkan ponsel bersandar ke guling di depannya dan menarik selimut sampai ke dagu. Dia meringkuk nyaman di atas ranjang sembari menjaga kakinya yang sakit agar tidak tertindih guling. Setelah mengucapkan selamat malam kepada Bima, dia menunggu laki-laki mengetik balasan. Anya mengulum bibir ketika Bima balas mengucapkan selamat tidur. Namun, emot yang diberikan Bima setelahnya membuat Anya melebarkan mata. Dia langsung mengetik balasan, Ih, Om-Om genit. Udah tua ngapain pakai kirim emot love-love begitu? Belum sempat Anya menekan tombol kirim, emoji itu tiba-tiba ditarik pesannya. Maaf, salah tekan emot karena tidak terbiasa. Haha. Anya hanya membalas dengan emoji tertawa. Lalu menaruh ponselnya di nakas. Dia menarik selimut sampai menutupi kepala. Malu, malu banget kalau tadi pesan keGR-annya sampai dikirim. Sudah terlalu banyak hal memalukan yang dilakukan karena salah paham kepada Bima. Ya, ampun! *** Ketika alarmnya berbunyi, Anya menggeliat dan duduk di ranjang sembari mengumpulkan energi kehidupan untuk membantu mendorong turun dari ranjang. Dia mengaduh ketika kakinya yang luka yang pertama menginjak lantai. Rasa sengatan nyeri sepenuhnya membuat Anya tersadar. Dengan susah payah Anya mandi dan berganti pakaian pagi ini. Lukanya masih basah, meskipun tidak dibalut semalaman, untungnya tidak ada infeksi atau bengkak. Anya beberapa kali mengerang setiap menuruni tangga karena kulitnya tertarik dan meregang dalam setiap gerakan. Ini sungguh menyiksa. Sial, memang! "Anya, sini sarapan dulu!" panggil Tante Shinta sembari mengolesi roti dengan selai kacang. Sebenarnya Anya enggan untuk mengambil sarapan, terutama duduk bersama tantenya di pagi seperti ini. Namun, tenaganya yang seketika terkuras hanya karena menuruni satu lantai tangga membuatnya menarik kursi dan duduk di seberang tanteny. "Gimana sama Bima? Hubungan kalian Tante lihat makin dekat." Tantenya menaruh roti di piring dan mengelap pisau selai. "Sering-sering dong kamu ajak ke sini. Biar makin dekat. Kamu juga mesti sering ke rumahnya, bawain makanan atau aja jalan-jalan." Anya memutar bola mata, tetapi tidak disadari tantenya yang kini sibuk menuangkan teh. "Fokus sekarang masih urusin resto yang penjualannya masih turun karena masalah lalat kemarin." Anya kehilangan selera makannya. Seharusnya dia menuruti hatinya untuk langsung pergi kerja dibanding duduk sarapan dengan tantenya yang selalu menanyakan hubungannya dengan Bima. Anya berdiri dari kursinya. "Lagian aku sama Pak Bima udah nggak ada apa-apanya. Kemarin murni dia nolongin Anya habis jatuh. Aku udah nolak perjodohan itu." Lengannya menyampirkan tas di bahu. "Tante tunggu aja, Pak Bima yang bilang bakal batalin perjodohan nggak jelas ini." Anya tidak mempedulikan omelan tantenya. Dia langsung keluar rumah dengan langkah tercepat yang dia bisa. Sepanjang perjalanannya, mood Anya berubah muram. Begitu turun dari ojek online, Hani yang sedang memasukkan tisu di wastafel wajib cuci tangan sesuai protokol kesehatan segera menghampiri. "Bu Anya kakinya kenapa?" "Nyium got," jawab Anya sembari tersenyum, lalu meringis ketika Hani mengulum bibir menahan tawa. "Ya udah, Bu, Hani bantuin ke ruang ibu." Dengan canggung, Hani mengaikatkan lengannya ke lengan bosnya. Tetap teguh mengantar meski bosnya merasa hanya terluka ringan. Segera, setelah Anya duduk di ruang kerjanya, Hani langsung berpamitan untuk kerja lagi. Anya mendesah dan mulai memeriksa laporan. Tak berapa lama, Pak Azka mengetuk dan masuk ke ruangannya dengan membawa amplop cokelat. "Pagi, Bu," sapa Pak Azka. "Pagi," sapa Anya sembari terang-terangan menunjukkan minatnya pada amplop cokelat yang dibawa Pak Azka. Pak Azka duduk di depan Anya. "Saya dengar Bu Anya luka." Tangan Anya langsung mengibas ke udara. "Cuman jatuh karena nggak lihat lubang pas malam keluar rumah. Luka kecil aja kok." Tatapan Anya mengikuti amplop yang dibawa Pak Azka ke atas meja. "Apa itu, Pak?" Pak Azka menyodorkan amplop itu dengan penuh kehati-hatian dan kesopanan. "Ini, Bu, dari Pak Bima. Kemarin saya minta ke sana dan diberi surat kerjasama ini." Pak Azka menjelaskan kembali apa yang sudah dibahas kemarin mengenai akuisisi perusahaan dengan batas waktu tertentu dan tidak beralih kepemilikan. Anya membuka perekat amplop. Lama dia membaca isi surat kerja sama itu tanpa suara atau melontarkan pertanyaan apa pun. Karena di dalam benaknya hanya berputar pertanyaan 'Kenapa laki-laki itu sampai melakukan hal sejauh ini untuk membantunya?' "Bu,ini daftar blogger, setting tempat, dan rundown acara event kita selanjutnya." Anya mengalihkan pandangan kepada Pak Azka. "Apa ini juga ide dari Pak Bima?" "Untuk ide dari saya, tapi Pak Bima dan marketingnya membantu. Saya mau minta approval dari Bu Anya." Pak Azka terlihat penuh harap. Anya membaca sepintas rincian yang diberikan. "Lakuin semuanya sesuai rencana saja." "Makasih, Bu." Pak Azka mengulum bibirnya sebelum mantap berkata, "Untuk masalah karena Bu Ratu kemarin, saya minta maaf dan akan bekerja keras menaikkan imej restoran kita lagi." Anya tersenyum, mengatakan tidak ada yang perlu dipermasalahkan lagi. "Kita fokus buat terus majuin resto ini sampai seperti dulu lagi." Setelah tidak ada pembahasan lagi, Pak Azka keluar ruangan. Helaan napas berat terempas dari bibir Anya. Kepalanya jtuh ke meja dan tangannya mulai mengacak rambut hingga terlepas dari ikatan rambut. Anya merengek sendiri. Bantuan itu tentu saja sangat membantunya. Bahkan banyak restoran yang berharap bisa bergabung dalam naungan perusahaan Bima. Ini melegakan sekaligus menyebalkan. Di sisi lain, dirinya malah semakin terhubung dan bergantung pada laki-laki itu. Masih berbaring di meja, kepala Anya berbalik menghadap jendela dan matanya melebar begitu melihat wajah Alden mengintip di jendela. Pandangan mereka bertemu, yang satu kaget, yang lainnya malah cengengesan. Alden membuka pintu ruangan Anya tanpa permisi. "Kamu mulai sinting ya?" Tawa sahabatnya itu terdengar ringan. "Gundulmu! Datang-datang ngatain orang sinting." Anya melepas ikatan dan merapikan rambutnya. "Ngapain ke sini? Nggak ada numpang makan gratis," ucap Anya cuek. Bibir Alden mencebik. "Kamu sakit kepala?" tanya Alden gara-gara melihat Anya yang sepertinya sedang stres. "Nggak. Yang sakit tuh kakiku." Anya menunjukkan perban di kakinya. Tanpa aba-aba, Alden langsung mengeplak lutut Anya yang ditutupi perban. "Awww!" Spontan Anya balas mengeplak bahu Alden "Sakit, sinting!" "Berarti luka beneran," jawab Alden cengengesan. "Ya bener lah. Emang kamu pura-pura sakit." Anya menjauhkan lututnya dari Alden. "Drama King!" tambahnya dengan bersungut-sungut. Alden terkekeh. "Ya udah, aku traktir makan es krim deh biar cepat sembuh." Anya menggigit bibir sembari menatap Alden dengan seringai licik. Kapan lagi morotin sahabat miskinnya. Dia berdiri, lalu berpura-pura kesakitan. "Gendong!" Alden merinding dan melangkah mundur dengan cepat. "Ogah! Buruan, aku keluarin motor dulu." "Dasar nyebelin!" *** Motor Alden berhenti di depan kedai es krim favorit mereka. Dari luar jendela, terlihat spot tempat duduk yang biasa mereka tempati kosong. Siang ini juga cuacanya sedang panas-panasnya. Anya berjalan ke pintu masuk sementara Alden memarkirkan motor. "Ya ampun, Nenek, ringkih banget jalannya," ejek Alden yang sudah menyusul Anya. Tas selempang yang dibawa Anya hampir mengenai bahunya, tetapi dia lebih dulu masuk, alhasil tas itu membentur pintu. Lidahnya memelet dengan ekspresi penuh ejekan. Dalam hati Anya berjanji akan membalas Alden nanti, tunggu beberapa detik lagi sampai mereka duduk. "Kamu yang traktir kan?" Mata Anya menyipit begitu mendapat balasan satu anggukan mantap dengan garis arogan di wajah Alden. Oke, balas dendamnya dimulai. "Aku pesan waffle sama es krim raspberry strawberry duo jam ini, pakai oreo dan maple syrup juga," ucap Anya dengan senyum manis yang sangat lebar. "Nggak tanggung-tanggung malaknya pas dikasih gratisan." Alden berdecak, tetapi tidak ada kekesalan di wajahnya. "Ini nih, kalau kata pepatah dikasih hati, merogoh jantung." Anya tertawa. "Kalau aku sekalian minta ampela, usus, paru, sama otak." Alden selesai mencatat pesanan mereka dan memberikannya kepada pelayan. "Untung aja aku udah kerja, jadi isi dompet nggak bakal kayak jeruk." "Kok jeruk?" "Iya, nipis." Mereka tertawa. Anya menegakkan punggung. "Kamu keterima kerja di mana?" "Di bank swasta, masih trainee tiga bulan." "Aku senang dengarnya. Semoga cocok kerjaannya dan sesuai harapan." Anya berhenti bicara sejenak ketika pesanan mereka datang dan disajikan di meja. "Makasih loh teraktirannya. Entar pas udah gajian, traktir lagi." Kepala Alden menggeleng-geleng. "Benar-benar, ya, valak tukang malak!" Anya tertawa kecil dan mulai menyendok es krimnya. Sembari menikmati es krimnya, rasa penasaran mulai melingkupi Alden. "BTW, emang kenapa bisa sampai jatuh gitu?" Anya enggan menceritakannya, tetapi Alden yang penasaran tidak akan berhenti menanyainya. "Awas jangan ketawa!" ancamnya penuh peringatan. "Semalam pas mau pulang dari taman komplek gak lihat ada lubang." Tawa Alden langsung menyembur. "Mangkannya itu mata kaki dipakai." Anya mengemplak dahi Alden dengan sendok es kirim. "Eh, itu mata kaki nggak bisa lihat. Kalau ngomong mikir dulu sih." Alden mengelap dahinya dengan tisu sembari tetap tertawa. "Kalau bukan gara-gara si Kaleng Biskuit, aku nggak bakal buru-buru pergi. Kesel banget pokoknya!" Alis Alden terangkat, lalu tangannya bertopang dagu. Memperhatikan raut wajah sahabatnya sekali lagi. "Hati-hati, antara benci dan cinta itu perbedaannya tipis."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD