Anya menghela napas panjang sembari berkacak pinggang, menatap lemari pakaian gantungnnya, yang isinya sudah berkurang banyak. Sebagian isinya sudah dia keluarkan dan sudah dia coba pakai, satu per satu. Tidak ada yang cocok.
Di dalam lemari gantungnya, Anya biasa menyimpan gaun-gaun resmi, gaun semi formal atau setelan ala-ala eksekutif muda wanita. Pakaian-pakaian yang cantik, versi Anya, karena Anya memilihnya langsung dan dia merasa cocok dengan modelnya.
Namun, pakaian cantik versi Anya saat itu, kini justru terasa tidak cantik dan menarik lagi versi Anya saat ini. Gaun-gaun resminya, terkesan sangat kaku dengan model kebaya biasa dan rok batik yang dijahit model lurus layaknya sedang memakai jarit atau dibuat sedikit mekar.
Begitu juga gaun semi formal koleksinya. Anya merasa itu justru seperti pakaian seragam dan Anya baru menyadarinya. Ini karena model dan bahannya, hampir serupa. Bahan brokat dengan model gaun terusan selutut, dengan potongan leher bulat, berlengan panjang sampai sebatas siku, dan gaun ke bawah lebar seperti huruf 'A'. Yang membedakan hanya motif brokat dan warnanya saja.
Sedangkan pakaian setelan ala-ala eksekutif, hampir tak beda jauh dengan gaun semi formalnya. Serasa mengumpulkan seragam lagi. Ada dalaman berbahan katun, blazer, dan celana kain lurus. Hanya begitu saja.
Semua pakaiannya terasa sederhana dan membosankan.
Perasaan yang tidak biasa yang Anya rasakan. Dia biasanya tidak terlalu peduli tentang bagaimana orang memandang dirinya berpakaian atau tentang bagaimana dia memilih pakaiannya sediri. Aya terlalu tidak acuh. Yang terpenting baginya, pakaian yang dia kenakan adalah pilihannya sendiri dan dia suka.
Anya yang merasa lelah, duduk di tepi tempat tidur, masih dengan tatapan tak beralih dari dalam lemari pakaian gantungnya. Di sekitarnya, pakaian-pakaian yang sudah dia coba, berserakan.
"Kenapa jadi pusing begini milih baju? Padahal kan nanti juga ada demo masak, bakal pakaiannya kusut," keluh Anya pada dirinya sendiri.
Tiba-tiba dia teringat akan pembicaraan terakhirnya dengan Alden. Sahabatnya itu mengingatkannya akan kemungkinan perasaan benci berubah menjadi cinta. Anya langsung geleng-geleng kepala dengan keras.
"Ah, nggak mungkin. Buat apa juga jatuh cinta sama cowok modelan begitu. Sebentar begini, sebentar begitu. Mana mukanya galak. Di bumi yang bulat ini, laki-laki gak hanya dia seorang. Jadi, adalah kemustahilan kalau seorang Anya bakal jatuh cinta sama orang modelan begitu."
Emangnya Pak Bima modelannya bagaimana? Ganteng dan maskulin begitu. Kan tipemu, Anya.
Anya tersentak mendengar suara hatinya yang seolah menentang pikiran Anya yang sudah terlontar di bibir. Dirinya jadi gemas dan berdiri lalu menuju ke cermin di meja rias. Bagini lebih baik. Anya jadi memiliki lawan tanding untuk bicara, meskipun itu dengan bayangannya sendiri.
Anya menatap gemas bayangannya di cermin, yang seolah sedang tersenyum menggodanya. Anya lupa jika cermin adalah sebuah pantulan, yangan hanya akan memberikan bayangan serupa aslinya. Bukan kloningan yang bisa berbeda sikap.
"Hei! Dengar ya, kamu." Anya menunjuk dengan jari telunjuk ke arah bayangannya sendiri di cermin. "Si Bima itu memang ganteng. Memang juga maskulin. Tapi...tapi, ya, yang namanya Bima, tidak akan pernah masuk ke dalam hati saya. Never and ever. Camkan itu!"
Tapi kenapa kamu ribet sendiri perihal urusan baju? tanya hati Anya.
Anya langsung menggigit bibir bawahnya. Dia tadi pun keheranan, kenapa dirinya harus bingung perihal pakaian? Toh, ini hanya mengenalkan restorannya pada beberapa relasi baru yang dibawa Bima juga mengumumkan bahwa mulai hari ini, restoranya akan berada di bawah naungan restoran Bima. Sebuah kerja sama.
"Ya..., itu..., nggg..., karena kan mau bertemu dengan..., nggg..., orang-orang baru."
Jawaban yang meragukan. Anya sendiri tidak begitu yakin jika itu alasan sebenarnya, tetapi Anya juga tidak tahu kenapa dia begitu.
Di tengah kebingungannya, ponsel Anya yang berada di atas meja nakas, di sisi lain tempat tidur, berdering. Bagai seorang pendekar, Anya melangkah lebar ke tempat tidur, melompat, berguling, dan menjulurkan tangan mengambil ponselnya tanpa turun dari tempar tidur. Anya tak peduli siapa yang menelepon, dia asal menerima saja panggilan teleponnya.
"Halo," sapa Anya dengan suara manis tetapi menyisakan napas yang naik turun karena gerakan gesit yang dia lakukan saat mengambil ponsel.
Hening tak ada jawaban. Anya pun mengernyit heran. Anya memeriksa ponselnya dan seketika itu juga, kedua mata Anya membeliak. Nama Bima tertera jelas di layar ponsel-nya. Penyesalan yang terlambat, karena terlalu bersemangat, sampai tidak memeriksa dulu siapa yang menelepon.
Sayang sekali nyapa manis-manis, keluh Anya dalam hati. Dia kembali menempelkan ponselnya ke telinga.
"Halo." Kali ini suara Anya tak lagi manis. Ada kesengitan yang disengaja agar yang di seberang telepon tidak kegirangan mendengar suara manisnya. "Udah nelepon duluan, udah juga disapa duluan, jawab kek. Gak pernah diberitahu bagaimana adab menelepon, ha?"
"Saya mau jawab, tapi masih menebak-nebak."
Kening Anya langsung berkerut bagaikan gelombang air. Suara santai Bima, membuat Anya gemas. Ditambah, pernyataan Bima justru membuat penasaran.
"Apa yang ditebak? Kan saya tidak memberi pertanyaan ke Pak Bima," ucap Anya sewot.
"Karena...."
Anya meringis gemas karena Bima tak melanjutkan kalimatnya.
"Karena apa?" tanya Anya kesal.
Di seberang telepon, Bima denga kaos putih dan celana olahraga, duduk bersandar di atas tempat tidur, dengan salah satu kaki menumpu di atas kaki satunya, dan kedua telapak kaki yang bergoyang-goyang. Bima tersenyum-senyum dan membayangkan reaksi Anya saat mendengar jawabannya.
"Karena apa? Atau saya tutup saja teleponnya. Nggak penting banget menerima telepon dari orang nggak jelas."
Bima menggaruk pelipisnya dan sedikit mengernyit dengan omelan Anya. Namun, karena Bima penasaran , bagaimana reaksi Anya jika dia mengucapkan alasannya.
"Karena..., tadi kamu manis." Setelah mengucapkannya, Bima menunggu sembari menahan tawa. Sesekali menggoda gadis itu sebagai selingan menghadapi acara malam ini. Karena tidak ada jawaban, suasana jadi kikuk, dia Bima akan langsung mendapat omelan lagi.
DI kamarnya, Anya justru termangu. Wajahnya perlahan-lahan menampilkan semunya yang khas jika merasa malu. Tak lama, kedua mata Annya mengerjap-ngerjap, meyakinkan diri sendiri bahwa apa yang didengar adalah benar. Lagi pula mau meminta si Kaleng Biskuit mengulang kalimatnya adalah kekonyolan yang hakiki. Akan terlihat sekali jika Anya tertarik dengan pernyataan tersebut.
"Kenapa jadi sepi?"
Suara maskulin Bima, justru membuat jantung Anya berdebar tidak keruan. Suatu perubahan perasaan dari kesal menjadi tersipu-sipu.
"Pasti lagi bercermin dan memastikan diri sendiri apakah manis atau nggak ya?"
Dan Anya terkesiap dengan kalimat Bima selanjutnya. Kesadarannya pulih dalam sekejap dan dirinya menjadi Anya yang biasanya jika berhadapan dengan Bima. Ada kekesalan yang menggelegak menyadari jika dirinya sedang dipermainkan dengan pernyataan manis.
"Nggak perlu ngacai, ih. Dari lahir saya udah sadar diri kalau manis dan menawan. Banyak orang mengakuinya. Hanya segelitir orang saja yang sulit mengkui. Biasanya mereka adalah para pria dari golongan lemah. Seseorang yang bisanya hanya mengejek di luar, tetapi memuji di dalam. Ya..., sekumpulan kaum munafiklah," ucap Anya dengan jumawa. Seyumnya melebar karena sangat yakin telah menjatuhkan telak Bima.
Itu benar. Bima yang tadi bersandar dan kemudian melorotkan tubuh saat menggoda Anya, seketika bangun dan duduk bersila.
"Tunggu dulu. Kayaknya kamu yang berlebihan menanggapinya. Pertama, saya kan mengira-ngira apa yang kamu lakukan setelah saya memujimu. Kedua, saya kan tidak sedang mengejekmu. Nyatanya saya tadi nggak ada meralat ucapan saya jika kamu manis tadi saat menyapa saya."
Mungkin karena terlalu emosi, saat mengulang kata manis untuk Anya, Bima tidak lagi berniat bercanda dengan gadis itu. Kebalikannya dengan Anya. Gadis itu justru kembali tersipu malu untuk kedua kalinya. Kali ini karena dia salah sasaran melakukan penilaian terhadap Bima.
"Halah, sama aja. Pak Bima lagi ngejek saya. Hanya kata-katanya saja dipermanis," sahut Anya tidak mau kalah.
"Kok, jadi keras kepala?"
"Ah, udahlah. Sekarang Bapak menelepon saya mau apa? Saya harus siap-siap nih untuk nanti."
"Oh, baguslah. Saya nelepon kamu untuk memastikan bahwa kamu udah bangun. Oke, itu aja. Karena sepertinya kamu segar bugar, saya tunggu kamu di restoran. Pastikan penampilanmu nanti bagus. Karena sebagai rekanan, saya tidak mau terlihat salah pilih. Oke, saya tutup sambungannya."
Telepon ditutup sebelum sempat Anya membalas. Anya pun jadi emosi, ia meremas HP-nya dengan membayangkan dirinya meremas wajah Bima. Setelahnya dia melempar ponselnya ke sembarang arah, tetapi masih di tempat tidur.
"Lihat aja, Bima. Saya akan buat kamu melongo sampai menetes air liurmu!"
Anya turun dari tempat tidur, menghampiri lemarinya lagi, dan menatap beringas isi lemarinya. Kedua matanya bergulir ke semua pakaian tersisa yang digantung. Sampai kemudian mata Anya bergulir ke bawah. Ada beberapa tumpukan karton. Salah satunya karton berwarna abu-abu yang terlihat elegan.
Anya tersentak dan baru ingat jika dia memiliki hadiah pakaian dari seorang teman yang desainer. Perlahan Anya mengeluarkan kotak panjang berwarna abu-abu dengan pita merah. Dibawanya ke tempat tidur.
Dengan hati-hati, Anya membuka kotak kardusnya. Seketika senyum manis terukir di wajah cantiknya.
***
Acara demi acara terus bergulir dengan lancar. Sesuai dengan susunan acara yang sudah disusun bersama tim. Dimulai dengan sambutan-sambutan. Pengumuman dari Bima perihal kerjasamanya dengan Anya. Penandatanganan kontrak dan pemotongan pita sebagai simbolisasi bahwa kesepakatan sudah dibuat adil.
Anya terlihat yang paling sibuk juga yang paling bersinar. Hampir setiap mata memandanginya dengan kekaguman, baik terang-terangan ataupun sembunyi-sembunyi. Satu di antaranya Bima.
Bima duduk bersama beberapa koleganya di meja bulat yang sudah disiapkan untuk dirinya. Dia terlihat duduk tenang, sesekali menyahuti obrolan, sesekali hanya tersenyum dan mengangguk-angguk saja. Tetapi, meskipun Bima bisa mengimbangi pembicaraan, sebenarnya fokus Bima adalah kepada Anya.
Sejak dia pertama kali melihat Anya, saat kedatangannya ke restoran. Bima langsung terdiam tak berkutik. Dia tak bisa mengalihkan pikiran dan tatapannya dari Anya, walaupun itu dengan cara yang tidak kentara, dengan sesekali mencuri-curi pandang.
Anya terlihat sangat berbeda dan menjadi sangat cantik. Gadis itu mengenakan atasan kemeja brokat dengan model Hanbok—pakaian khas Korea—modern, berwarna hitam. Tersemat bros mutiara dengan ornamen bunga di bagian tepi lipatan kemeja. Bagian bawahnya adalah rok batik dengan lukisan burung phoenix, yang makin membuat Anya seperti seorang Dewi. Tidak panjang sampai ke mata kaki, tetapi hanya sampai ke lutut.
Anya terlihat anggun dan manis. Kecantikkannya semakin menonjol dengan rambut yang disanggul cepol dan hanya menyisakan sedikit di bagian tepi. Seolah-olah Anya sedang menggoda dengan memberikan uarian yang menawan dari rambutnya.
Saat acara demo memasak, Anya benar-benar menghinoptis semua tamu, terutama Bima. Mata tak lepas dari segala pergerakan Anya bersama para juru masak lainnya. Gerakannya gemulai sekaligus lincah. Bagai penari yang bergerak ke sana kemari dengan senyuman yang tak lepas dari wajah cantiknya.
Salah satu kolega yang duduk di dekat Bima, berbicara lirih, "Kalau dia belum ada jodoh, mau saya jodohkan sama anak saya aja."
Beberap yang mendengar tertawa dan menyetujui. Termasuk sang istri si kolega yang tadi bicara.Hati Bima menjadi panas. Ia merasa harus meluruskan sesuatu.
"Maaf. Dia calon istri saya. Anya adalah tunangan saya." Senyuman manis penuh kesombongan mengembang dibarengi dengan anggukan sopan Bima.
"Wah, telat. Kemana itu anak saya mainnya, ya. Kok, sampai gak tau ada wanita secantik dia dan seorang yang mandiri. Wanita langka, idaman ibu mertua. Ya, kan, Ma?"
Si istri kolega mengangguk meng-iya-kan.
Demo memasak selesai. Masakan yang dimasak Anya, semua terlihat menggiurkan. Ada tiga piring yang diatasnya tersaji makanan pembuka, makanan utama, dan makanan penutup. Ini adalah sajian yang dikhususkan nantinya untuk tamu terpilih.
"Wah..., dari aromanya saja sudah menggiurkan. Apalagi rasanya. Tampilannya juga benar-benar bersih, rapi, juga estettik. Jadi penasaran bagaimana rasa yang sesungguhnya. Tapi..., pasti bukan saya yang mencicipi. Nanti dikiranya saya memberikan penilaian karena dibayar atau karena lapar."
Ucapan sang pembawa acara wanita, membuat semua yang hadir jadi tertawa dan bertepuk tangan.
"Nah, bagaimana kalau Bu Anya, menunjuk salah satu tamu, untuk mencicipi hidangan yang sudah dibuat dengan sangat cantik ini. Kira-kira pada siapa, Bu Anya akan memberikan hidangan pertama ini?"
Anya mengedarkan pandangan pada semua tamu. Dia tidak yakin pada siapa dia akan mempersilakan untuk menjadi yang pertama mencicipi masakannya. Pada Om Dedy dan Tante Shinta, rasanya kurang tepat karena masih kerabat. Anya jadi bingung.
"Silahkan Bu Ros yang pilihkan. Saya bingung," ucap jujur Anya pada sang pembawa acara. Kembali tawa renyah terdengar dari banyak orang yang melihat bagaimana Anya yang kebingungan justru makin membuatnya menarik.
"Saya, nih, yang pilih?"
Anya mengangguk.
"Baik. Mmm...., siapa, ya...." Ros pun mengedarkan pandangannya untuk bisa memilih yang tepat maju ke depan. Sudut matanya menangkap adanya seorang pria berperut tambun dan terlihat berumur, melambaikan tangan.
"Oh, Bapak mau mencoba menjadi yang pertama?" tanya Ros untuk meyakinkan.
"Bukan saya. Ini aja, Pak Bima. Kan calon suami harus tahu bagaimana rasanya masakan calon istrinya."
Pria tersebut adalah kolega Bima yang tadi ingin menjodohkan putranya dengan Anya.
Sontak wajah Bima dan Anya bersemu merah, sedangkan wajah om Dedy dan tante Shinta justru sumringah. Sebuah pengumuman tanpa perlu menambah-nambah biaya lagi. Para tamu pun sebagiannya bergumam meyetujui usulan yang disampaikan, sebagiannya bergumam tak menyangka jika Bima dan Anya memiliki hubungan lebih spesial.
Ros selaku pembawa acara, meminta Bima untuk mau ke depan. Bima pun menurut. Dia tidak mau terlihat kekanak-kanakan dengan menolak maju. Dia pun melangkah tegap dan berusaha santai, maju ke depan, berdiri di sisi Anya.
Keadaan menjadi kaku bagi keduanya. Untung ada Ros yang selalu bisa mencairkan suasana.
Masalahnya, Anya tidak bisa cair. Tubuhnya menjadi kaku dan tegang. Terlebih kemudian Ros meminta Anya menyuapkan makanan ke Bima. Dia menjadi gelisah sekaligus gugup. Itu di luar bayangannya. Anya melihat sekeliling, ke wajah-wajah tamu yang sumringah dan ikut mendorong Anya untuk mau menyuapi Bima.
Bima melihat keresahan gadis itu. Dia menjadi tidak tega melihatnya. Dia mengambil salah satu piring yang tersaji makanan pembuka buatan Anya. Mengabaikan permintaan Ros dan langsung memotong kecil kue manis yang dibuat. Bima menyendokkan ke dalam mulutnya sendiri.
Makanan itu meleleh di dalam mulut Bima. Lelaki itu benar-benar kagum dengan cara memasak Anya yang ternyata sangat berbakat. Wajah Bima sangat jujur menyampaikan bagaimana nikmatnya masakan Anya.
Anya terus memandanginya dengan tatapan penasaran. Dia terus mengamati bagaimana Bima mengunyah. Jantungnya berdebar menunggu tanggapan Bima perihal masakannya. Dan saat Bima menoleh ke arahnya, segera Anya bertanya dengan gerak bibir, "Bagaimana?"
Bima tersenyum tipis dan mengedipkan mata.
Adegan itu tak luput dari amatan Ros.
"Wah, sepertinya kode-kode romantis. Sang juru masak menunggu dengan debar-debar, eh calon suami malah ngedipin mata. Pasangan hangat, romantisnya bikin ketularan, ya."
Kembali suara-suara tawa geli terdengar.
"Bagaimaa kalau Pak Bima menyuapi Bu Anya. Biar Bu Anya juga merasakan masakannya sendiri. Sepertinya bakal lebih enak, karena sempat dikedipin makanannya sama Pak Bima."
Kali ini Bima pun terkekeh geli dengan cara Ros bercanda dan Anya pun hanya tersipu malu. Belum juga reda rasa malu Anya, tiba-tiba Bima sudah berdiri lebih dekat lagi di hadapan Anya. Tangan kanannya menyorongkan sepotong kue buatan Anya sendiri.
"Buat orang yang sudah bekerja keras malam ini, dan yang jadi spesial hari ini"