5

1379 Words
“Jangan berisik, ada Bu Rania!” Terdengar komando dari Angga. kontan kelas menjadi senyap dalam hitungan detik. Tanpa sapa, Bu Rania langsung berbicara ke inti, “Begini anak-anak, karena untuk belajar sejarah kita nggak bisa cuma pakai satu buku, jadi hari ini ibu mau kita ke perpus untuk mempelajari buku sejarah Indonesia dari beberapa sumber. Satu orang wajib membaca satu buku yang berbeda. Waktunya 45 menit.” Ini nih, yang paling disuka dari gaya belajar Bu Rania. Santai dan tidak menegangkan. Menurutnya, pelajaran sejarah akan menjadi obat tidur bagi para murid jika tidak dibawa santai. Sebelum ke perpus, Kanayna menyempatkan diri untuk mengambil ponsel khususnya terlebih dulu. Siapa tahu di perpus dia bisa mendapat kesempatan untuk mengambil foto Damar. Tanpa blur sekaligus dengan pose senyum yang menawan. Dari jarak kejauhan, Kanayna memerhatikan Damar yang tengah mengitari jajaran rak yang isinya khusus kumpulan buku sejarah Indonesia. Merasa dirinya seperti sedang diperhartikan, beberapa menit sekali Damar celingak-celinguk ke sekelilingnya. Setiap Damar menoleh, Kanayna langsung memalingkan badannya―berpura-pura sedang mencari buku layaknya yang dilakukan teman-teman sekelasnya. Setelah mengambil buku tebal yang berjudul “Indonesia Pada Masa Lampau”, Damar memilih duduk di samping Angga untuk membaca buku tersebut. Tanpa memilih lagi, Kanayna asal mengambil buku sejarah. Apa saja judulnya, yang penting isinya tentang sejarah Indonesia, pikirnya. Kemudian gadis itu juga sengaja duduk bersebrangan dengan Damar. Baru sepuluh menit berlalu, tapi rasanya seperti berjam-jam jika berada di perpustakaan. Melihat kacamata Angga tergeletak, tiba-tiba ide gila muncul di kepala Damar. Sesudah mengucek matanya sebentar, tangan Angga meraba meja di hadapannya. Aneh, kenapa kacamatanya tidak ada? Padahal dia ingat betul kalau barusan dia menaruh kacamatanya tepat di dekat bukunya. Dengan sok polos, Damar bertanya. “Lo nyari apa, Ga?” “Kacamata gue,” Angga menjawab. Tangannya meraba meja hamparan meja kayu di depannya. Damar tersenyum geli sekaligus kasihan melihat Angga mengerjap-ngerjapkan sambil meraba meja. Itu cowok bisa ketawa juga? Biasanya kan datar. Kanayna membatin. “Wah Mar, kacamata gue lo umpetin, ya?” tanya Angga curiga. “Jangan fitnah lo, Ga. Nggak baek!” ucap Damar sambil terkekeh. “Nih, gue balikin kacamata lo. Biar lo sadar, kalau ada Justin Bieber di samping lo.” “Nggak beda jauh lo Mar sama Nata. Iseng!” Bukannya membaca buku yang terbuka lebar di hadapannya, lagi-lagi Kanayna malah asyik sendiri memerhatikan tingkah Damar. Kemudian gadis itu mengambil ponselnya. Tap! Tap! Tap! Berkali-kali Kanayna menjepret wajah Damar saat sedang menertawakan Angga. Senyumnya aja suka. Apalagi ketawanya? Yes! Gadis itu berhasil mengambil lima foto Damar sekaligus. Foto pertama; masih agak nge-blur. Pose kedua; jernih. Tapi sayang posenya tidak pas. Di foto kedua, Damar terlihat sedang tertawa dengan mata tertutup. Tidak oke. Sedangkan di foto ketiga; pose Damar sudah bagus, jernih pula. Namun ada sosok Angga nampak jelas di sampingnya. Baru mau mengambil foto lagi, tanpa kompromi orangnya menoleh ke arah Kanayna. Sontak gadis itu hampir mati gaya! Untung saja di hadapannya ada buku. Jadi dia bisa berpura-pura baca. Lima menit kemudian Bu Rania meminta semua murid kelas X lima kembali ke kelas.Di dalam kelas, Yoga berjalan ke meja Angga sambil bertanya, “Eh Ga, jam pertama Bu Sofie, kan?” Angga mengangguk, “Iya, jam pertama BK.” “Asyik, jadi semangat belajar, nih!” seru Yoga yang langsung berkontak mata dengan Gilang dan Nata. Bel masuk berbunyi, guru mungil itu memasuki ruang kelas X lima. Nata, Yoga, dan Gilang terperangah melihat tampilan Bu Sofie hari ini. Mengenakan baju bahan berwarna putih tulang, dibalut blazer yang sangat pas menempel di tubuhnya, dan dengan bawahan rok span yang panjangnya selutut. Warna rok, blazer, dan heels-nya serasi. Makin cantik karena rambut panjangnya terikat setengah. “Jangan berisik jangan berisik! Pacar gue dateng,” kata Gilang dengan percaya diri yang optimal “Ngaku-ngaku! Mending Bu Sofie mau sama lo!” Yoga menghardik, seraya menoyor kepala Gilang. Nata menanggapi dengan rasa percaya diri yang jauh lebih besar dibanding Gilang, “Iya, nggak apa sekarang dia jadi pacar lo. Tapi nanti jodohnya sama gue, kok!” “Huu!” teriak Gilang dan Yoga tidak terima dengan pernyataan Nata barusan. “Selamat pagi semua,” sapa hangat Bu Sofie. “Pagi juga sayang, ehh ....” celetuk Yoga seraya menutup mulutnya agar terkesan seperti keceplosan. Padahal itu pasti mengandung unsur kesengajaan. “Yoga, kamu mau saya kasih surat panggilan lagi?!” tanya Bu Sofie tegas. “Boleh Bu, boleh,” jawabnya santai. “Modus lo modus, k*****t!” hardik Gilang yang duduk di belakangnya Yoga, melempar gumpalan kertas ke arah Yoga. “Gila lo Ga, itu si Sera mau lo ke manain?” tanya Nata diiringi dengan gelengan kepala sambil berdecak. “Sera nggak peka ah, males,” tanggap Yoga memasang wajah cemberut. Mereka bertiga memang selalu seperti itu. Makanya kalau ada mereka suasana kelas tidak pernah sepi. Walaupun ada guru, mereka sering nyeletuk tidak jelas. Terutama di jamnya Bu Sofie. Sesering apapun diberi surat panggilan ke ruang BK, namun mereka tidak pernah jera. Bagi mereka, surat panggilan dari Bu Sofie itu seperti surat cinta. Diintrogasi empat mata di ruang BK itu seperti kencan. Sakit jiwa memang. “Tuh Ser, lo mah nggak peka sama si Yoga,” ledek Kanayna sambil menyikut Sera. “Apa sih lo, Nay, geli gue sama tukang tidur kayak dia. Madesu, ew!” “Jangan gitu lo, cinta mah datengnya suka terlambat. Ati-ati aja,” ujar Kanayna disertai dengan lirikan dan senyuman maut. Sera memutar bola matanya. “Buka halaman 37. Di bab ini, kita akan belajar mengenai Motivasi dalam diri,” jelas Bu Sofie. Selama pelajaran Bu Sofie berlangsung, semua murid memerhatikan dengan serius. Sementara tiga kunyuk itu malah senyam-senyum kasmaran. Untung saja Bu Sofie sudah tidak asing melihat tingkah laku mereka seperti itu. Setelah bel istirahat, Kanayna bangkit dari kursinya berniat untuk mengembalikan jaket Damar. “Nih jaket lo, makasih ya,” ucap Kanayna hanya sekedar untuk basa-basi, seraya menyerahkan sebuah jaket biru dongker miliknya. “Iya, sama-sama,” balas Damar, seperti biasa Damar selalu sibuk dengan games di gadget-nya. *** Bel pulang sekolah menjerit dua menit yang lalu. Langkahnya terhenti ketika secara tidak sengaja melihat sosok Damar tengah bersiap untuk latihan basket. Keinginannya yang kuat membuat gadis itu tidak bosan untuk mengambil foto Damar. Pikir Kanayna, Kalau fotonya bagus, nanti hasil sketsanya juga pasti bagus! Seragam basket SMA Tunas yang berwarna kuning biru, ditambah bulir-bulir keringat yang mengalir di dahi Damar mampu menambah kadar ketampananya seribu, eh salah, tapi sejuta persen. Dengan cekatan Kanayna mengeluarkan ponsel khususnya. Tap! Tap! Tap! Tap! Tap! Tap! Tap! Gadis itu melihat sebentar hasil jepretannya. Tap! Tap! Tap! Tap! Tap! Tap! Tap! Tap! Yap, kali ini Kanayna berhasil menjepret wajah Damar lima belas foto sekaligus dalam menit yang sama. Setelah melihat keseluruhan hasil jepretannya, ada dua foto yang menurutnya sesuai sekali dengan apa yang dia inginkan. Gadis itu memandangi layar ponselnya sambil tersenyum. Tidak peduli dengan beberapa orang di sekelilingnya yang menganggapnya aneh. “Damar!” Tiba-tiba seorang perempuan meneriakkan nama Damar dan membawakan handuk dan sebotol air mineral untuk cowok itu. Telinga Kanayna peka sekali begitu mendengar suara seorang perempuan meneriaki nama Damar. Meski perempuan itu berseragam sama seperti Kanayna, tapi dia terlihat sangat cantik, rambutnya yang berwarna hitam pekat tergerai panjang, roknya lebih pendek dari Kanayna pastinya. Bahkan seragam sekolahnya sepertinya telah dia rombak agar terlihat modis ketika dikenakan. Perfect! Satu kata yang mampu menggambarkan tentang dia secara keseluruhan. Kanayna merasa kesal, lalu dia berjalan pulang dengan menghentakkan kakinya. Saat di kamar, Kanayna langsung membanting tubuhnya ke ranjang. Ingatannya mulai menerawang kembali kejadian tadi. Terlalu banyak pertanyaan-pertanyaan yang melayang di pikiran Kanayna. Siapa dia? Kelihatannya deket banget sama Damar? Apa dia pacarnya? Selama sekolah di SMA Tunas  gue belum pernah lihat cewek itu sebelumnya. Apa dia anak baru juga? Kanayna meraih sketch book-nya di atas meja. Dengan posisi tengkurap di atas ranjang, jari jemari Kanayna mulai mengarsir. Tetapi di sisi lain pikirannya tak henti bertanya-tanya soal ‘dia’. Setelah hampir satu jam, arsiran itu sudah membentuk sketsa wajah Damar hampir sama di foto. Dalam waktu yang cukup lama, Kanayna menatap sketsa di hadapannya. “Do you think about me as much as I think about you?” tanya Kanayna pada sketsa wajah Damar. Hening. Sampai kapanpun Kanayna tidak akan pernah mendapat jawaban jika yang ia tanya hanyalah sebuah sketsa yang merupakan benda mati. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD