Dengan santai Damar berjalan melewati gerbang sekolah. Kini dirinya telah biasa jika ada puluhan pasang mata di sekitaran sekolah memerhatikan pesona yang ada pada dirinya. Tambahan kemarin dia melakukan hal yang menurut para perempuan itu ‘gentleman banget!’, makin tak terhitung penggemarnya saat ini.
Ckrek!
Damar menoleh, ternyata ada seorang perempuan―mengenakan cardigan merah―yang baru saja memotret dirinya diam-diam. Tapi sayangnya Damar tidak sempat melihat jelas siapa perempuan itu. Hanya sekelebat, lalu dia berlari dengan sangat cepat.
“Huh.” Dengan napas tersengal, akhirnya gadis kacamata itu sampai juga di kelasnya.
Setelah melepaskan cardigan merah itu, buru-buru Kanayna melipatnya dan ia masukkan ke dalam ranselnya.
“Hampir aja ketahuan,” gumam Kanayna seraya mengeluarkan sebuah ponsel dari saku kemeja putihnya. “b**o banget sih, Nay! Pake lupa di-silent segala,” rutuknya pada diri sendiri.
Iya, ponsel yang sengaja ia bawa khusus untuk memotret wajah Damar. Senyumnya surut ketika menyadari kalau dia hanya mendapat satu jepretan foto Damar, dan itupun nge-blur. Posenya juga tidak sesuai dengan yang dia inginkan, yaitu tersenyum.
Kanayna tidak tahu, apakah semua yang dia lakukan ini menandakan kalau dia mulai suka pada Damar? Atau malah jatuh cinta? Yang jelas semenjak kejadian kemarin, dia jadi memiliki hobby baru, berpikir tentang Damar. Bukan hanya itu, tiba-tiba dia juga ingin sekali menyimpan foto Damar dan menggambar sketsa wajah Damar.
“Yaudahlah, besok gue dateng pagi-pagi lagi,”
Kanayna kaget, juga heran ketika Rini tiba-tiba sudah berdiri di samping mejanya. “Nay, lo nggak gila kan, pagi-pagi ngomong sendiri?”
“Eh? Nggak, kok. Ini gue lagi senam mulut,” jawab Kanayna ngaco.
“Gilang mana Gilangg???” Suara cempreng Sera yang tidak merdu itu baru saja memasuki ruang kelas dan memekakkan telinga.
Suara Sera yang mampu memecahkan gendang telinga, membuat Kanayna dan Rini serta-merta menutup kuping.
“Ini lagi, kenapa sih lo, Ser? Baru dateng udah teriak-teriak nggak jelas gitu. Masih pagi, nih!” Rini mengoceh sambil melanjutkan piket.
“Buku fisika gue sama dia, belum dipulangin!” gerutu Sera sambil menaruh ranselnya di atas meja.
Sambil mengeduk sampah, sempat-sempatnya Rini menanggapi, “Lah kok bisa? Emang dia minjem buat apaan?”
“Buat nyalin tugas katanya. Udah jam berapa nih, belum nongol juga tuh anak!” jawab Sera seraya celingak-celinguk.
Rini diam sejenak, kemudian bertanya dengan mata terbuka lebar-lebar. “Murid model macem Gilang ngerjain tugas???”
Sera menggedikkan bahu.
“Itu sih, impossible bangett!” tutur Kanayna ikut nimbrung sambil geleng-geleng kepala.
Hal itu benar-benar buat Sera panik tidak tertolong. Dia berdiri di depan pintu menunggu Gilang, tengok kanan kiri mencari Gilang yang batang hidungnya belum kelihatan, sambil sesekali mengecek jam tangannya.
“Sera? Kenapa kamu masih di luar? Nggak dengar bel?” tanya seorang pria paruh baya seraya menepuk bahunya.
Merasakan tepukan di bahunya, Sera terhenyak, dan perlahan Sera membalik badan. Dilihatnya Pak Hengki, yang sedang berdiri tegap membawa berbagai Jens buku matematika, dengan tatapan yang tajam. Matanya yang bulat selalu membuat para murid enggan untuk menatapnya, ditambah kumisnya yang tebal ia semakin mirip dengan pemeran-pemeran antagonis di teve.
Sambil nyengir Sera menjawab, “Ii ... iya Pak. Bapak ke mana aja? Ini saya lagi cariin Bapak.”
“Ngapain kamu cari saya?” Pak Hengki malah makin meninggikan suaranya, lagi-lagi membuat Sera tersentak.
“Ehm ... ya mau bilang kalau sekarang bapak ada jam di kelas saya,”
“Ngeles aja kamu kayak bajaj. Ya sudah, cepat masuk!”
Tanpa pikir panjang Sera duduk di kursinya, sebelum Pak Hengki berubah pikiran. Terlebih dia salah satu guru matematika yang amat killer. Sekalipun rasa panik masih tetap melanda dirinya.
“Duh, gimana nih? Itu anak kunyuk belum dateng juga, mati gue mati!” bisiknya pada Kanayna yang sedang mempersiapkan alat tulisnya.
“Astaga Serr, lo nggak inget sekarang hari apa???” Kanayna langsung membekap mulutnya sendiri yang baru saja mengeluarkan suara yang volume-nya tidak terkontrol.
“Ssssttt. Berisik lo, Nay!” desis Sera yang memposisikan jari telunjuknya di tengah bibir.
Ketika melihat sekeliling kelas, seluruh pasang mata tertuju pada Kanayna dan Sera. Termasuk Pak Hengki.
“Mampus kita, Nay!” Sera menepuk jidatnya. “Lo sih, bisa abis kita sama Pak Hengki!” lanjutnya.
Dengan intonasi yang menyentak, Pak Hengki bertanya, “Apa yang sedang kalian bicarakan?!”
Kali ini bukan cuma tatapannya yang membuat Sera dan Kanayna menegang, tapi nada tinggi suaranya juga.
“Ini Pak, ehm...” Sera berpikir. “kami lagi ngomongin soal nomor satu. Kami masih belum paham.” Untuk kedua kalinya, Sera berhasil ngeles dari pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari mulut bapak tua itu.
Beruntung Kanayna mempunyai teman yang paling jagonya ngeles. Malah Kanayna sendiripun bingung harus jawab apa.
“Kalau ada yang belum paham tanya saja ke Saya. Jangan ke yang lain!”
“Iya Pak, maaf.” Kanayna menjawab diiringi dengan senyuman yang tergolong sok manis.
Keduanya bernapas lega, karena Pak Hengki tidak mempermasalahkan ini dan dia kembali menulis di papan tulis sambil menjelaskan apa yang ditulisnya.
“Alhamdulillah, masih selamat kita. Makanya lo kalau ngomong pelan-pelan aja, jangan terlalu kenceng. Gue nggak b***t kok,”
Kanayna tersenyum. Dari senyumnya menunjukkan sebuah rasa bersalah. “Iya maaf nggak sengaja.”
“Btw, emang kenapa kalau hari ini hari Kamis, Nay??” Sera menilik dua bola mata Kanayna. Mendekatkan wajahnya dengan Kanayna.
“Hari Kamis itu hari keramat. Masa lo lupa?? Jadi kemungkinan Gilang masuk itu cuma 0,01 persen!” pekik Kanayna yang berusaha mengingatkan Sera.
Hari Kamis yaitu hari yang paling horor dan menyeramkan yang pernah ada dalam satu minggu dibanding hari-hari lainnya. Di mana semua pelajaran yang memusingkan, disertai dengan guru-guru killer, dan adanya jam kosong kemungkinannya sangat kecil.
“Eh iyaa, kenapa gue bisa lupa sih, ya ampun! Terus nasib gue gimana, nih???” tanya Sera makin gusar.
“Yaudah lo tenang aja, jam fisika abis istirahat kan?”
Sera mengangguk.
“Nanti pas istirahat kita telepon aja.” Sebagai teman yang baik, Kanayna berusaha menenangkan Sera.
“Iya sih. Yaudah, deh,”
***
Bel masuk sudah berbunyi, tapi Gilang belum sampai juga di sekolah. Bu Tania masuk, Sera kembali panik. Lima menit berlalu, Bu Tania masih menjelaskan apa yang ada di buku paket.
Tok tok tok
Tiba-tiba terdengar ketukan pintu. “Permisi Bu.” Gilang hanya menyembulkan kepalanya dari balik pintu.
“Hebat sekali kamu, jam segini baru datang. Hari ini kamu tidak diizinkan mengikuti jam pelajaran Saya. Jadi, silahkan kamu keluar!” bentak Bu Tania.
“Tenang, Bu. Saya cuma mau balikin buku tugasnya Sera doang kok,” ketusnya. “nih, Ser buku lo gue balikin.” Gilang menyerahkan sebuah buku, lalu kembali keluar.
“Kurang ajar anak itu. Tidak ada kapoknya.” Bu Tania menggelengkan kepalanya disertai dengan decakkan kecil.
***