Beware 3

1439 Words
"Apakah aku harus memecat semua pelayan dan mencari pelayan baru?" "Gantung kepala pelayan itu di alun-alun kota!" "Bolehkah aku memotong kedua tangannya lagi?" "Luca, selidiki siapa dalang di balik kebodohan ini!" Mataku mengerjap. Ugh, berapa lama aku tertidur? Kepalaku sakit. Dan, suara berisik apa itu? "Qiya Bangun!!" Aku tersentak. Separuh nyawaku menguap karena terkejut. Bisa-bisa aku mati karena serangan jantung lagi. "Hai, Qiya!" "Kau baik-baik saja?" "Apa Qiya masih sakit?" "Mau s**u?" "Kau lapar?" Tunggu dulu! Sejak kapan atap ruangan itu kembali? Seingatku atap itu hancur karena pertarungan kedua pangeran gila. Dan, sejak kapan ruangan ini jadi tempat penitipan anak usia 5 sampai 8 tahun? Sebenarnya, apa yang dilakukan kelima pangeran di tempat ini? Dua pangeran saja sudah sangat menyebalkan. Apalagi lima! "Qiya! Ayah langsung kesini setelah rapat!" Kaisar datang dan mendobrak pintu. Wajahnya terlihat sedih. Bahkan, sepertinya jika aku pingsan lagi dia akan menangis. Tapi, wajah muram itu langsung berubah garang begitu kaisar melihat para ksatria di dalam ruanganku. "Apakah Tuan Putri baik-baik saja?" Tanyanya penuh wibawa. Cepat sekali dia berubah. "Saya memberi salam pada Sang Matahari Kekaisaran. Yang Mulia Tuan Putri baik-baik saja. Beliau hanya terkejut." Wanita separuh baya yang memakai daster putih itu menjawab dengan takzim. Baru kali ini aku mendengar seseorang memberi salam pada kaisar. Biasanya, para pelayan memilih pergi dari tempat yang memuat kaisar di dalamnya. Atau, kalaupun tidak sengaja bertemu. Mereka terlalu takut untuk bicara. Pantas saja selama ini pelayanku hanya menunduk ketika bertemu kaisar. Para pangeran pun hanya memberi salam saat acara formal. "Ewin, apakah kau sudah memeriksa dengan benar? Tidak ada luka memar? Jantung bocor? Gagal ginjal? Atau lainnya?" "Itu yang kau inginkan, ya?" Tunggu! Kaisar gila itu bilang "Ewin"? Maksutnya, Ewin Bosc Ringer? Sang Saintess? Dia mengirim Saintess hanya untuk memeriksa keadaanku? Apakah dia tidak tahu jika putranya bernama Niel Inx Peranto memiliki spirit penyembuh level tertinggi di kekaisaran? Kenapa harus Saintess?!?!?! Argh, aku bisa gila!!! "Apakah Anda meragukan para saintess, Yang Mulia?" "Kalian kan juga manusia!" Aku benar-benar sudah gila. Kenapa kau menjawab begitu, kaisar bodoh? Kau ingin memulai perang dengan kuil suci? Ewin menghembuskan nafas panjang. Jika menggarami laut adalah perkara yang sia-sia. Maka, berdebat dengan kaisar adalah perkara yang lebih sia-sia. "Saya pertaruhkan nyawa jika pemeriksaan saya salah, Yang Mulia!" "Lebih baik kau pertaruhkan saja kepala kaisar!" "Baiklah, kalau begitu!! Kau bisa pulang. Penyihir istana akan mengantarmu!" "Dimana kata "Terima Kasih"nya?!" "Kalau begitu saya pergi dulu. Salam pada Sang Matahari Kekaisaran dan Kelima Bintang Kekaisaran." Ewin sekali lagi menunduk dengan penuh hormat. "Qiya, syukurlah kau sudah bangun setelah tertidur selama 3 hari. Ayah takut kau tidak bangun lagi." Kaisar mengambil tubuhku dan menciumi pipiku. "Ugh, dimana perginya kaisar yang penuh wibawa tadi?" Tunggu, kamar ini terasa sesak. Kenapa semua ksatria kaisar ada di sini? 50 ksatria terbaik di seluruh benua yang bertugas menjaga keamanan kaisar dan putra mahkota kenapa berada di kamar putri? Pasti ada yang salah. "Oh, mulai hari ini mereka akan menjaga Qiya!" Apa?! Apa kaisar ini sudah gila? Tidak! Dia tidak gila! Dia itu sangat gila! "Kami juga akan bergantian menjagamu!" Luca berseru dengan semangat. "Tidak! Cukup para ksatria saja!" "Apakah aku ikut juga?" Dego mengacungkan tangannya. "Tentu saja! Level spiritmu kan lebih tinggi dari Luca." Niel memeluk pundak adik terkecilnya. Luca mengepalkan tangan. Dia sebenarnya ingin sekali memukul Niel. Tapi, percuma saja. Toh, mau dipukul berapa kali pun Niel akan segera sembuh. "Ash! Duduk di atas Niel!!" Luca berteriak. Satu detik kemudian, seekor black panther muncul dari balik jendela dan duduk di atas Niel sesuai yang diperintahkan. Niel yang tak punya cukup waktu hanya pasrah. Aku menatap Luca datar. Tidakkah dia sadar jika black panthernya itu setara dengan 4 ekor gajah? "Luca! Singkirkan kucingmu ini dariku! Bulunya bau!" Niel menepuk p****t Ash. "Bukan bulunya yang bau. Tapi, hanya keberuntunganmu yang buruk. p****t Ash tepat berada di atas wajahmu! Hahahahaha!" Luca tertawa nyaring. Sihir penyembuh Niel memang hebat hingga bisa menyembuhkan wabah. Tapi, tidak bisa menghilangkan bau p****t black panther. Kaisar hanya menghembuskan nafas melihat kelakuan kelima putranya. Selang sedetik kemudian dia menatapku. "Apa? Kau mau mencium p****t black panther juga?" "Memang cuman Qiya yang normal di sini!" Kaisar menempelkan pipinya di pipi bulatku. "Baguslah kalau kau sadar akan hal itu." "Qiya! Maafkan Ayah karena sudah asal merekrut pelayan. Mulai sekarang semua pelayan akan Ayah pecat dan diganti yang baru!" Dipecat? Semuanya? Pelayan bunga dan pelayan nampan s**u itu juga? Ah, aku memutuskan untuk memanggil kedua pelayan yang terancam dipecat itu dengan panggilan "Pelayan Bunga" dan "Pelayan Nampan s**u". Itu karena aku tidak tahu nama mereka berdua. Kaisar dan kelima pangeran kan memanggilnya dengan 'Kau' atau 'Hey, kalian berdua' Mataku berkaca-kaca. Bibirku bergetar. Sebentar lagi bendungan itu akan jebrol. "Ayo ucapkan!" "Baiklah, Ayah tidak akan memecat mereka semua!" "Gyu! Gyu! Gyu!" "Nah, nikmatilah kelucuan ini sebagai hadiah." Para pangeran kembar yang mendengar tawaku langsung berhenti bertengkar. "Aku juga mau melihat Qiya tertawa!" "Aku juga!" "Kami berdua juga!" "Aku juga mau lihat!" Sejak kapan kelima pangeran ini berada di belakang kaisar? Bahkan, Ash juga? Baiklah, karena kalian sudah menyelamatkanku waktu itu. Terimalah ini! "Ahak! Gyu! Gyu! Gyu!" Hei, kenapa ruangan ini jadi seperti taman bunga?! "Bagaimana dengan kamar barumu Qiya? Apakah kau menyukainya?" "Kamar baru apanya?! Hanya atapnya saja yang diperbaiki tahu!" "Atap kamarmu hancur. Jadi, Ayah mengirim penyihir kontruksi untuk membuat istana putri yang baru. Kamar baru Qiya dibangun sama persis dengan kamar lama agar Qiya merasa tidak asing." Oh begitu rupanya. Kaisar membangun istana putri yang baru. Apa?! Istana putri baru?! Apa kedua pangeran gila itu tidak hanya menghancurkan kamarku tapi juga seluruh istana ini? "Apakah Qiya suka?" Ugh, pancaran cahaya apa ini? Oh, rupanya kaisar. Apa yang dia mau sebagai balasan atas wajah melasnya itu? Jangan bilang.... Baiklah. "Gyu! Gyu! Gyu!" "Qiyaku memang yang terlucu!" "Aku rela mati demi Qiya!" "Kalau begitu mati saja!" "Untunglah penyihir kontruksi hanya perlu waktu 5 menit untuk membangun istana baru." Tunggu sebentar! Sehebat apapun penyihir konstruksi. Butuh waktu setidaknya 1 hari untuk membangun istana baru. Penyihir konstruksi mana yang membangun istana putri hanya dalam waktu 5 menit? Jangan bilang kalau.... "Yak, Ayah menyuruh penyihir kontruksi di seluruh benua dengan sedikit acungan pedang! Hahahaha!" "Bunuh saja aku!" Bisa-bisanya dia tertawa mengucapkan itu. Mengancam penyihir? Apa dia ingin memulai perang dengan para penyihir? Para penyihir kontruksi kan termasuk penyihir bebas. Sebenarnya apa yang ada dipikiran kaisar ini? Padahal kekaisaran ini punya penyihir konstruksi sendiri. Kenapa dia harus mengancam para penyihir lain?? Kriet! Terdengar suara pintu berderit pelan. Seorang pria muda muncul dari balik pintu lantas menunduk hormat. "Saya memberi salam pada Sang Matahari Kekaisaran, Lima Bintang Kekaisaran dan Sang Bulan Kekaisaran." Bulan Kekaisaran? Maksutnya aku, ya? "Ada apa, Linn?" Kaisar menatap pria itu tajam. Suasana hati kaisar ini cepat sekali berubah, ya. Linn Est Amareldo, tangan kanan kaisar yang diambil kaisar di negara musuh saat terjadi perang perebutan wilayah 12 tahun lalu. Linn adalah pengguna spirit petir yang sangat langka. Pengguna spirit ini bisa mengendalikan cuaca. Kudengar Linn adalah salah satu ksatria yang berada di garis depan saat perang. Dan, makhluk itu menyapu ratusan tentara musuh dengan badai petirnya. Haha, siapa yang menduga kalau pria muda itu ternyata sangat menakutkan. "Ini sudah saatnya bagi baginda untuk kembali bekerja! Tumpukan dokumen itu tidak bisa mengurus dirinya sendiri! Para bangsawan juga menunggu Yang Mulia Kaisar untuk kembali ke rapat!" Wuah, jika aku jadi Linn, aku tidak akan berani berteriak seperti itu pada kaisar. Sepertinya, Linn punya banyak nyawa. Tunggu! Kembali ke rapat? "Kau yakin datang kesini setelah selesai rapat, Yang Mulia Kaisar?" "Baik! Baik! Aku akan segera kembali bekerja!" Kaisar mengibaskan tangannya tak peduli. "Kalau begitu saya pamit undur diri." Linn menunduk penuh hormat lantas pergi. "Lima Pangeran! Kalian terlambat menghadiri kelas pedang. Sir Alex meminta kalian untuk segera datang!" Kepala Linn muncul dari balik ambang pintu. Sepertinya, satu-satunya manusia yang berani berteriak seperti itu pada kaisar dan lima pangeran hanyalah Linn. Ugh, awan hitam apa ini? Kenapa rasanya aura di kamarku ini sangat suram? "Qiya, kami pergi dulu! Jangan menangis! Kami akan segera kembali!" "Siapa yang menangis? Lalu, apa-apaan aura suram kalian itu?" "Qiya!!! Kakak ingin bersama Qiya saja!" Mith menyentuh kakiku layaknya orang yang sedang memohon. "Hei! Lepaskan kakiku, Pangeran Bodoh!" "Kami juga tidak ingin pergi!" Keempat Pangeran lain juga kaisar ikut merengek. "Kenapa kalian memasang tampang seperti itu? Memangnya, kalau kalian memohon seperti itu, aku bisa apa? Aku ini hanya bayi tau!" Kriet! Pintu itu kembali berderit, kali ini pelayan bunga dan pelayan nampan s**u yang datang. Akhirnya, penyelamatku tiba! "Maaf, Yang Mulia Kaisar dan Yang Mulia Pangeran. Ini saatnya bagi Yang Mulia Putri untuk minum susu." Pelayan itu menunduk penuh hormat. "Tapi, sepertinya Qiya masih kenyang!" Kaisar dan kelima pangeran kompak menatap tajam kedua pelayan itu. "Apa-apaan kalian ini?!" "Gyu! Gyu! Gyu!" Aku menggerakkan tanganku dan tersenyum menatap kedua pelayan yang balas tersenyum. Tatapan mata itu semakin tajam. Senyum itu pudar. Sepertinya, tanpa harus dipecat pun, pelayan itu akan mengundurkan diri. "Gyu! Gyu! Gyu!" Aku terus menatap pelayan itu sembari tersenyum. Di dalam hati kaisar dan kelima pangeran, ada kedua pelayan yang memukul hatinya lalu menculik Qiya yang bersemayam di sana. "Baiklah! Ayah pergi dulu!" Kaisar menyerahkanku pada pelayan. Pria itu lantas pergi sembari menyeret kakinya. Begitu pula kelima pangeran yang juga nampak lesu. Ruangan ini kembali lengang. Hanya ada aku, kedua pelayan dan 50 ksatria terbaik kekaisaran. Sepertinya, kaisar tidak bercanda soal penjagaan itu. Baiklah, tak masalah. Toh, para ksatria hanya diam dan tidak berisik sepertu 6 makhluk itu. Benar juga, daritadi kan ada 50 ksatria di kamarku. Kenapa mereka diam saja saat kaisar dan kelima pangeran bertindak memalukan seperti itu? Oh, rupanya kaisar membekukan mereka. Apa?! Membekukan?! "Dasar kaisar gila!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD