Beware 12

1076 Words
Usiaku sudah hampir 3 tahun sekarang. Ditengah kegilaan kelima pangeran dan kaisar yang tak ada habisnya, aku tetap bisa tumbuh dengan baik. Kaisar juga sudah memperbolehkanku keluar dari istana putri asalkan pergi bersama salah satu pangeran ketika aku ingin keluar. Jadi, di sinilah aku berada. Di taman istana putri, sedang bermain sepak bola bersama kelima pangeran dan kaisar. Aku menjadi ketua timku yang terdiri dari diriku sendiri. Sedangkan, keenam makhluk itu berada di tim yang sama. Anehnya, aku selalu menang. Skor saat ini adalah 5-0. Kaisar bilang aku sangat jago bermain sepak bola. Padahal, mereka yang bermain dengan payah. Mith berpura-pura tidak melihat bola. Dego sebagai penjaga gawang terjatuh saat berusaha menangkap bola yang tepat berada di depannya. Entah karena dia punya masalah pada mata atau karena dia memang aneh. Niel dan Kiel bertabrakan saat berusaha mengejarku. Luca justru menggelinding ketika aku mengambil bola darinya. Kaisar malah menendang bola ke gawangnya sendiri. Sebenarnya, apa yang salah dengan kepala keenam orang itu?? "Qiya! Lakukan tendangan penalti karena Ayah tidak sengaja menendang kaki Mith!" Kaisar meletakkan bola di depan kakiku. "Bukan seperti itu aturannya, kaisar bodoh!" Aku menghembuskan nafas. Membantah pun percuma. Yang ada kaisar malah menambah tendangan penaltinya dengan alasan tidak masuk akal lainnya. Aku mengambil ancang-ancang untuk menendang bola sekuat yang aku bisa. Dego sebagai penjaga gawang terlihat bersiap. Bersiap untuk membuat bolaku masuk gawang bagaimana pun caranya. Kaisar dan keempat pangeran lainnya menatap setiap pergerakanku dengan cermat tanpa berkedip sedikit pun. Setiap kali aku mencetak gol, keenam makhluk itulah yang berteriak heboh. "Ayah, para Kakak! Qiya akan menendang dengan kuat!" Aku berseru semangat. Lily dan pelayan nampan s**u yang ternyata bernama Mimy membawa spanduk bertuliskan "Putri Qiya! Ayo! Ayo! Ayo!" Lengkap dengan gambar kepalaku dipojok. Mith meletakkan batu perekam sihir di atas kepalaku. "Ayo, Qiya! Kami mendukungmu!" Aku menghitung dalam hati. Saat hitungan ketiga, aku berlari lalu menendang bola sekuat tenaga. Bola itu melambung, berhenti 2 m di depanku. Sedangkan, aku terjatuh berdebum di atas tanah. Dengan kepala mendarat terlebih dahulu. Untunglah, rumput taman ini cukup lembut. Tubuh kaisar dan kelima pangeran bergetar karena menahan tawa. Luca menggerakkan tangannya. Tanah tempatku tergeletak bergerak dan membantuku berdiri. "Jangan tertawa!" Aku menatap datar keenam makhluk itu. "Kami tidak tertawa, pffftt!" Mith yang kini berusia 11 tahun memutar wajahnya. Satu tahun lagi Mith akan memulai debutnya di kalangan atas sebagai calon pewaris tahta. "Qiya! Lututmu berdarah!" Niel yang melihat lututku berwarna merah langsung menghampiriku. "Jeli sekali matamu!" Tangan kanan Niel menyentuh lututku. Cahaya hangat menyelimuti tubuhku. Luka itu hilang tanpa bekas dalam sekejap. "Ayah!" Niel menatap kaisar serius. Kaisar mengangguk. "Bawa tukang kebun istana kemari!" Aku sudah lelah menangis selama 3 tahun ini! Entah sudah berapa banyak kepala dan gaji yang aku selamatkan. Tak lama dua pengawal muncul dengan membawa seorang tukang kebun di tangan mereka. Tukang kebun itu langsung menunduk dan memohon ampun. "Karena ketidak becusanmu ketika bekerja. Tuan Putri menjadi terluka!" Kaisar menggendongku lalu menatap tukang kebun itu tajam. Tukang kebun itu menatapku, "Tolong saya, Tuan Putri!" Begitu maksud tatapannya. Kaisar menatapku. Entah kenapa aku bisa melihat gambar api dan tiang gantung di samping wajahnya. Jadi, pilihan kematian kali ini adalah dibakar dan digantung, ya. "Ayah, jangan hukum dia." Aku menatap wajah kaisar dengan mata berkaca-kaca. "Kenapa? Apa Qiya menyukai tukang kebun itu?" Kaisar menatapku sedih. "Tidak! Qiya paling suka Ayah!" Para pangeran menatapku dengan mata sendu. "Dan para Kakak juga!" Senyuman mereka mengembang. "Ayah! Mari kita ajak makan siang bersama Qiya!" Luca berseru dengan semangat. Keempat pangeran mengangguk mengiyakan. "Baik! Minta koki istana untuk menyiapkan makanan kesukaan Qiya!" Kaisar memutar tubuhnya lalu melangkah pergi meninggalkan taman istana. Aku menatap tukang kebun lalu mengangkat ibu jariku. Tukang kebun itu menangis penuh haru. "Terima kasih, Tuan Putri!" Hari ini Qiya menyelamatkan satu kepala lagi! *** "Saya memberi salam pada Sang Matahari Kekaisaran, Bintang Pertama Kekaisaran dan Bulan Kekaisaran!" Linn membungkuk penuh hormat. Kaisar dan Mith duduk di aula utama tempat singgasana kaisar dan pangeran putra mahkota berada. Sedangkan, aku duduk di pangkuan kaisar. Ada tiara kecil di atas kepalaku. Begitu juga di kepala kaisar dan Mith. Tapi, ukurannya lebih besar dari milikku. Padahal, biasanya kaisar dan para pangeran jarang sekali memakai mahkota. Aku rasa ada hal penting yang terjadi di aula utama. "Ada apa, Linn?" "Nyonya Lace Din Angelo sudah datang dan ingin bertemu Tuan Putri!" "Siapa dia? Aku tidak pernah mendengar namanya disebut dalam novel." Tuk! Tuk! Tuk! Seorang wanita dengan pakaian mewah dan langkah yang anggun berjalan di antara hamparan karpet beludru berwarna merah. "Siapa dia, Kakak?" "Dia adalah Duchess Angelo. Dia adalah guru tata krama terbaik di kekaisaran." "Apa dia akan mengajari Qiya?" "Saya memberi salam pada Sang Matahari Kekaisaran, Bintang Pertama Kekaisaran dan Bulan Kekaisaran!" Nyonya Lace membungkuk penuh hormat. Bahkan, saat memberi salam pun dia sangat anggun. Kaisar menggendongku berjalan mendekati Nyonya Lace. Nyonya Lace menatapku. Tatapannya nampak seperti pelayan bunga. "Apakah kau mau mengajar Qiya, Nyonya Angelo?" Bunga-bunga itu menghilang dari dekat Nyonya Lace. Tatapan matanya kini nampak serius. "Yang Mulia Kaisar juga pasti tahu jika saya punya kriteria khusus dalam mengajar." Nyonya Lace membungkuk penuh hormat. Bahkan, kalimat penolakannya pun terdengar sangat anggun. "Qiya! Tunjukkan pada Nyonya Angelo!" Kaisar menurunkanku. Aku menatap Nyonya Lace. Lalu kemudian menundukkan kepalaku. Anggota kekaisaran tidak membungkukkan badan di hadapan para bangsawan manapun karena gelar kami lebih tinggi. Kedua tangan mungilku mengangkat gaunku sedikit ke atas. "Saya memberi salam pada Nyonya Angelo!" Bunga-bunga itu kembali muncul. "Salam anda sangat anggun, Tuan Putri!" Aku tersenyum puas. Itu karena aku suka sekali bermain pura-pura menjadi tuan putri ketika masih kecil. Ternyata hal itu akan berguna di kehidupan keduaku. "Tapi, saya akan menguji kemampuan Tuan Putri!" Lagi-lagi bunga itu menghilang. Nyonya Lace mengeluarkan mainan kubus yang dibawa pelayan di sampingnya. "Saya sudah menyiapkan mainan puzzle untuk anak usia 3 tahun." Aku melihat tumpukan puzzle itu. Lalu mengotak-atiknya. "Mainan ini..." "Selesai!" Nyonya Lace menatapku ternganga. Pelayan itu lagi-lagi mengeluarkan kotak puzzle. "Baiklah, ada mainan puzzle untuk anak usia 4 tah...." "Selesai." Lagi-lagi Nyonya Lace ternganga. Kaisar dan Mith tersenyum bangga. Mainan  puzzle itu terus keluar hingga akhirnya Nyonya Lace menyerah. "Tuan Putri bisa menyelesaikan mainan puzzle untuk anak usia 16 tahun. Saya rasa Tuan Putri memang jenius!" "Eh, aku ini aslinya sudah 18 tahun tahu!" "Aku sudah bilang begitu! Tapi, kau tidak percaya!" "Maafkan saya, Yang Mulia!" Nyonya Lace menunduk. "Saya setuju untuk mengajar tata krama dan mengurus pendidikan Tuan Putri!" "Terima kasih banyak atas kemurahan hati Nyonya Angelo!" Aku kembali memberikan salam penuh hormat. Nyonya Lace menatapku gemas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD