Ah, aku baru tahu kalau ada 7 kursi di meja panjang berisi banyak sekali makanan di tengah rumah kaca. Karena terlalu sibuk memperhatikan bunga, aku jadi tidak melihatnya. Bahkan ada kursi kecil seukuranku di ujung meja. Aku rasa, kaisar memperhatikan semua detailnya dengan baik. Lalu, aku rasa ini hanya pesta perayaan biasa yang jauh dari kata mewah. Sepertinya, kaisar hanya membual kemarin.
"Nah, Qiya duduk di sini!" Kaisar meletakkanku di kursi kecil di ujung meja.
Kaisar duduk di kursi sampingku. Kelima pangeran langsung menatap satu sama lain. Lantas, dengan cepat berlari menuju kursi di sampingku.
"Ini giliranku! Aku kan pangeran putra mahkota!" Mith berseru galak.
"Ini giliranku! Qiya paling suka denganku!" Luca berseru tak kalah galak.
"Siapa yang bilang begitu?"
Ah, sejak peristiwa di danau itu aku memang jadi makin dekat dengan Luca. Tapi, bukan berarti aku menyukainya!
"Aku kan berperan penting dalam menyelamatkan nyawa Qiya!"
"Sejak kapan kau meminta balasan atas perbuatanmu, Niel?"
"Aku yang menyelam dan menyelamatkan Qiya di danau tahu! Bahkan Luca juga!"
"Yah, Kiel tidak salah juga!"
"Aku kan pangeran terakhir. Harusnya kakak mengalah pada adiknya!"
"Siapa yang membuat aturan seperti itu? Tapi, bagus juga!"
Kaisar menatap kelima putranya datar. Sedetik kemudian dia menghembuskan nafas panjang.
"Anda ternyata sangat tertekan ya, Kaisar!"
Aku ingin tahu kenapa kaisar tidak mencari istri baru. Padahal, aku yakin ada banyak putri bangsawan yang mengincar kedudukan ratu yang kosong. Apalagi wajah kaisar kan sangat tampan. Ditambah, ketika usianya menginjak 30 tahun nanti, penuaan tubuhnya akan berjalan sangat lambat. Itu adalah berkah dari dewa yang diberikan hanya pada kekaisaran peranto yang gila ini. Aku sendiri tak tahu kenapa dewa memberikan berkah seperti itu.
Kelima pangeran semakin bertengkar hebat memperebutkan kursi kosong di sampingku. Bahkan, beberapa kali ada serpihan tanah dan api yang lewat disebelahku. Hanya Niel yng diam dan tidak ikut melawan. Itu karena spirit milik Niel hanya bisa menyembuhkan. Tipe spirit ini tidak bisa digunakan untuk menyerang ataupun melindungi diri. Pertengkaran itu berhenti ketika salju turun di rumah kaca itu.
Pada akhirnya, Mith yang duduk di sampingku. Lalu menyusul Luca, pangeran kembar dan Dego yang duduk di ujung meja lain. Sangat jauh dariku.
Pangeran juga membuat kesepakatan soal siapa yang duduk di dekatku setiap harinya. Hari Senin adalah giliran Mith. Selasa adalah giliran Luca. Rabu dan Kamis giliran pangeran kembar. Jum'at giliran Dego. Dan sabtu juga minggu, kursi di sampingku kosong. Hanya kaisar yang duduk di sampingku setiap hari. Haha, licik sekali pak tua ini!
Wajah kaisar dan Mith nampak berseri. Sedangkan wajah keempat pangeran lain nampak suram.
Di depan meja terpampang makanan yang nampak sangat lezat. Hah, sayang sekali aku tidak bisa memakannya. Yang bisa aku makan hanyalah bubur bayi yang lengket ini. Tapi, sepertinya ada yang salah dengan alat makan di meja ini. Mereka berkilau-kilau seperti emas.
"Alat makannya sangat cantik Ayah!"
"Sejak kapan kau peduli pada hal seperti ini, Mith? Apa duduk di dekatku membuat otakmu terguncang?"
"Hahahaha! Ayah menggunakan alat makan dari emas! Makanya sangat cantik!"
Mith dan Kaisar tertawa kencang! Keempat pangeran menatap mereka tajam.
"Kalian berdua rusak, ya?"
"Nah, Qiya! Coba buka mulutmu!"
Aku menurut. Kaisar menyuapiku dengan bubur bayi.
Hei! Bubur bayi ini rasanya sangat enak. Penuh cita rasa dan sangat lembut! Berbeda sekali dengan bubur bayi yang biasa aku makan.
"Enak bukan? Ayah meminta koki untuk menambahkan telur ikan arapagus di dalamnya!"
Aku ingin membuka mulutku selebar mungkin. Tapi, aku tidak ingin menumpahkan setetes pun bubur ini.
Ikan arapagus kan sangat langka. Bahkan, saking langkanya, telur ikan itu dijual perbiji dengan harga 100 keping emas. Itu setara dengan gaji rakyat biasa selama satu tahun. Dan, kaisar membuang uang sebanyak itu hanya untuk telur ikan sebesar ujung kuku? Kaisar ini pasti sudah sangat gila!
Trang!Trang!
Keempat pangeran memotong daging dengan kasar. Pelajaran tata krama di istana ini memang sangat buruk, ya.
"Nah, Qiya! Coba makan daging ini!" Mith menyodorkan garpu berisi potongan daging kecil.
Aku menatap Mith datar. Mana mungkin bayi usia 9 bulan mengunyah daging!
"Kau ingin aku mati tersedak?"
"Qiya tidak mau, ya? Padahal ini daging sagyu, lho!"
Mulutku kembali ternganga. Daging sagyu, daging sapi yang hidup liar di alam bebas. Sapi jenis ini sangat agresif dan akan menyerang apapun yang bergerak di dekatnya. Ditambah ukurannya yang sebesar indukan gajah Maka dari itu, berburu sapi ini sama seperti mempertaruhkan nyawa. Harga daging sapi ini pun fantastis. 200 keping emas untuk setiap potong tubuhnya. Setara dengan gaji para ksatria selama setengah tahun.
Sebenarnya, apa yang disajikan kaisar di meja makan ini?! Dan, berapa banyak keping emas yang dia habiskan??? Bukankah lebih baik memberikannya pada rakyat yang kelaparan.
Seorang pria berpakaian seperti seniman masuk ke dalam rumah kaca. Ada tas besar yang ia pikul di punggungnya. Siapa pria itu?
"Saya memberi salam pada Sang Matahari Kekaisaran, Lima Bintang Kekaisaran dan Bulan Kekaisaran!" Pria itu menunduk penuh hormat.
"Bagus! Kau sudah datang! Cepat lukis aku dan keenam anakku. Jika lukisannya jelek, itu akan jadi lukisan terakhirmu!" Kaisar melewatkan ibu jarinya di atas leher sebagai kode penggal kepala. Haha....
"Ba-ba-baik, Yang Mulia Kaisar!" Tubuh pelukis itu bergetar.
Kupikir dia pemberani. Ternyata penakut juga, ya.
Kaisar menggendongku. Lalu berjalan menuju hamparan bunga peoni. Kelima pangeran mengekor di belakangnya. Pelukis itu mengikuti.
Kedua tangan pelukis itu sibuk menyiapkan alat lukisnya. Sementara, kaisar dan kelima pangeran mengatur pose mereka. Kaisar menggendongku. Mith dan Luca berdiri di samping kaisar. Pangeran kembar di depan Mith dan Luca. Sedangkan, Dego berada di depan kaisar. Sekarang, hanya tinggal menambahkan dua pedang bersilang. Dan, pose ini akan jadi mirip lambang kekaisaran.
Pelukis itu mulai mengayunkan tangannya. Keringatnya mengalir deras. Ini pertarungan antara hidup dan mati.
Lima belas menit kemudian pelukis itu berhenti mengayunkan tangannya. Sepertinya, lukisannya sudah selesai.
Kaisar dan kelima pangeran berjalan mendekati lukisan yang langsung diselimuti kain ungu itu. Pelukis itu menunduk penuh hormat. Kaisar menyibak kain itu.
"Wuah! Lukisannya cantik sekali. Terlihat sangat nyata! Ah, jadi wajahku seperti ini, ya? Rambutku berwarna pirang seperti kaisar. Mataku berwarna biru dan berkilau seperti berlian. Cantik seka...."
"Jelek!"
Eh?! Kau punya masalah pada kedua matamu ya, Kaisar?!?!
"Kenapa Qiya terlihat bulat?"
"Itu karena aku memang gendut tahu!"
"Qiya terlihat seperti anak gajah!"
"Kau menghinaku atau lukisan itu, Dego?"
"Pengawal, penjarakan pelukis ini!"
Kedua pengawal yang berdiri di luar rumah kaca langsung datang dan menyeret pelukis malang itu.
"Hah! Lagi-lagi Qiya harus beraksi!"
"Ik! Iya ka!" Kedua tanganku berusaha meraih lukisan yang berada tak jauh dari kaisar.
"Tunggu! Qiya suka lukisan ini?" Kaisar menatapku penuh kasih.
Aku mengangguk semangat.
"Iya ka ali!"
"Maksudku itu Qiya suka sekali."
"Baiklah, Pengawal! Lepaskan dia. Kau boleh pergi! Minta bayaranmu pada Tuan Linn!"
Pelukis itu menunduk penuh hormat. Kemudian pergi setelah menatapku penuh terima kasih.
***
Aku menatap langit-langit kamarku yang sangat tinggi. Seharian ini aku sibuk sekali. Setelah acara melukis itu selesai, kaisar mengadakan rapat darurat dengan alasan wilayah perbatasan. Padahal aslinya dia hanya ingin memamerkanku yang mulai bisa bicara pada para bangsawan. Aku harus menirukan ucapan kaisar selama satu jam. Para bangsawan bertepuk tangan setiap kali aku selesai bicara. Lalu memujiku. Padahal, yang keluar dari bibirku hanyalah kata kata aneh tanpa arti.
"Hah!!! Aku jadi tidak bisa tidur karena terlalu lelah."
Ah, karena terlalu larut dalam kegilaan para makhluk di istana ini aku jadi lupa kalau novel "Mask" tidak berakhir bahagia untuk semua orang. Terutama bagi rakyat kekaisaran ini.
Nymph, sang tokoh utama wanita adalah putri angkat baron yang berasal dari kekaisaran ini. Dia selalu mendapat ejekan dan hinaan dari orang orang karena dianggap sebagai anak haram Baron Eradlo yang masih perjaka itu. Kehadiran anak haram memang sangat tabu di kekaisaran ini.
Akhirnya, Nymph melakukan penjelajahan dan saat ia sampai di Kekaisaran Terium. Dia bertemu dengan Carl saat pesta topeng di alun-alun ibukota sebagai perayaan kemenangan perang.
Lalu, Carl sendiri merupakan seorang putra mahkota dari kekaisaran Terium. Ibunya meninggal karena racun yang diberikan selir raja yang ingin agar putranyalah yang menjadi kaisar.
Namun, adik tiri Carl sama sekali tidak peduli soal tahta. Malahan, setiap kali selir mengunci Carl di kamar yang lebih mirip gudang, Nero, adik tirinya selalu memberikan makanan kepada Carl. Bahkan, dengan alasan ingin memberi pelajaran pada Carl, Nero membawa buah-buahan segar untuk Carl.
Selir pun tidak curiga karena setiap kali ia masuk ke kamar Carl. Tubuh Carl selalu lebam. Padahal, itu hanyalah buah blum berwarna ungu yang diambil Nero dari dalam hutan.
Tapi, tanpa sepengetahuan Nero, selir sudah memberikan racun pada semua makanan di dapur. Racun dalam dosis yang sangat kecil hingga Carl tidak merasakan apapun. Carl baru merasakan efek racun itu ketika ia dewasa.
Setiap malam ia merasakan sesak nafas yang menyiksa dirinya. Untunglah, saat itu Nymph yang kebetulan lewat pun menghampirinya. Lalu, mengobati Carl. Carl yang dingin pun jadi semakin jatuh cinta pada Nymph.
Ah iya, selir selalu berusaha membunuh Carl. Saat usia Carl beranjak 5 tahun, selir mengutus Carl untuk datang ke Kekaisaran Peranto sebagai utusan kekaisaran.
Berita tentang kegilaan kaisar dan kelima pangeran yang tak segan membunuh utusan manapun yang dianggap menyebalkan membuat selir yakin Carl akan datang dalam bentuk abu kremasi. Tapi, nyatanya Carl tiba dengan selamat walau mendapat hinaan dari keempat pangeran dan rakyat kekaisaran ini yang menganggap Carl sebagai calon kaisar yang tidak kompeten. Hanya Dego yang menyukai Carl.
Mungkin hal itu karena mereka menganggap Carl tidak punya kekuatan spirit apapun. Padahal, Carl hanya menyembunyikan kekuatannya. Karena, sekali Carl menggunakannya, satu kekaisaran akan hancur.
Saat usia 17 tahun, selir mengutus Carl untuk memimpin sebuah perang melawan para iblis yang masih tersisa di perbatasan. Selir berharap Carl tewas dalam perang tersebut. Nyatanya, Carl pulang dengan membawa kemenangan. Dan disambut kesenangan dari rakyat.
Pada akhirnya, Carl berhasil naik tahta lalu mengeksekusi ibunya di tiang gantung. Nero sendiri diturunkan dari jabatannya sebagai pangeran. Namun, tentu saja Carl tidak sejahat itu. Nero dijadikan Duke dan memimpin wilayah kekuasannya sendiri.
Saat pesta perayaan itulah, Nymph dan Carl bertemu lalu saling jatuh cinta.
Lalu, Carl pun membalas semua orang yang pernah merendahkannya. Termasuk para pangeran dan rakyat kekaisaran peranto. Tanpa pemberitahuan, Carl langsung menyerang kekaisaran. Dalam sedetik, kekaisaran itu hancur.
Kaisar dan kelima pangeran tidak bisa menghalangi hal itu karena jenis spirit milik Carl sangat hebat dan sudah mencapai level 8. Bahkan, jika keenam makhluk itu bekerja sama meyerang Carl pun hasilnya percuma. Carl membiarkan para pangeran dan kaisar hidup agar mereka hidup dalam kesengsaraan. Jahat sekali!
Awalnya Carl hanya menghancurkan kekaisaran tanpa membunuh rakyat. Tapi, ketika Carl tahu bahwa para rakyat juga menghina Nymph. Bahkan, melemparinya dengan tomat busuk dan telur. Carl langsung membunuh para rakyat.
Aku tahu Carl memang berhati dingin. Tapi, dia tidak mungkin melakukan hal sekejam itu. Apa semua itu terjadi karena rasa dendam yang sudah lama ia simpan?
Maka dari itu, aku harus menahan para pangeran dan rakyat menghina Carl. Mari kita lakukan pendekatan pada Carl kecil. Jika aku memperlakukan Carl kecil dengan baik. Maka, dia pasti akan melakukan yang sebaliknya dengan novel.
Ah, tapi kan umur Carl saat ini masih 1 tahun.
Tapi, tidak ada salahnya menyusun rencana mulai sekarang, kan!