Kutarik lagi kata-kataku semalam! Tinggal dengan kelima pangeran dan kaisar adalah hal terburuk di dunia. Mari kita cabut semua permata di mainan ini. Lalu, kabur dari istana dan hidup sebagai bayi pengangguran yang kaya.
Satu jam setelah peristiwa di danau terjadi, Kaisar langsung mengutus semua penyihir kontruksi kekaisaran untuk menguras air dalam danau itu. Lalu, membangun istana kecil di sana sebagai tempat bermain putri.
"Sebenarnya, kaisar ingin aku punya berapa banyak tempat bermain???"
Memangnya, kaisar sama sekali tidak berpikir soal mikroorganisme, ikan, udang dan bunga peoni yang ada di danau? Ah, bunga peoni kan hanya hidup di danau kekaisaran. Kalau danau itu menghilang. Apa bunganya juga mati? Padahal aku suka sekali dengan bunga itu. Kalau aku tahu hari itu adalah hari pertama sekaligus terakhirku melihat bunga peoni, aku akan meminta Luca memetik lalu mengawetkannya.
Berita bagusnya adalah Luca tidak mendapat hukuman karena mengajakku ke danau. Kaisar hanya menganggap hal itu sebagai kecelakaan biasa. Tapi, berita buruknya adalah Luca harus menghadapi hal terburuk bagi para manusia.
Berlatih dengan kaisar.
Kaisar bilang dia ingin melihat kemampuan spirit Luca yang telah mencapai level tertinggi. Tapi, alasan kaisar yang sebenarnya adalah rasa irinya pada Luca karena dia adalah orang pertama yang aku cium.
Lalu, aku juga mendapat hukuman karena melanggar aturan dimana putri tidak boleh baik perahu sebelum berusia 2 tahun.
Kaisar memintaku datang ke ruang kerjanya di istana kaisar setiap pagi selama 2 jam. Jadi, setiap 2 jam dalam sehari aku harus melihat tumpukan kertas yang membuat kepalaku pusing.
Dan, sekarang adalah hari ketujuh aku melihat tumpukan kertas setelah sarapan. Seminggu menatap tumpukan kertas itu membuat gusiku gatal. Hah, aku heran bagaimana bisa kaisar masih hidup setelah menyelesaikan semua tumpukan kertas itu selama hidupnya.
Aku tiba-tiba merasa kasihan pada pangeran mutra mahkota karena harus menggantikan kaisar saat usianya 18 tahun nanti. Untunglah, aku lahir sebagai anak bungsu yang tak mungkin naik takhta. Tugasku hanyalah menikmati kekayaan kaisar sebagai putrinya.
Kalau dipikir-pikir lagi, hidup sebagai putri kekaisaran lebih baik daripada pengangguran kaya. Tapi, masalahnya adalah kelima pangeran dan kaisar yang selalu bersinar seperti lampu ketika berada di dekatku.
"Saya memberi salam pada Sang Matahari Kekaisaran!" Linn muncul dari balik tumpukan kertas bersama Lily.
Ah, kalau dilihat begini, mereka berdua terlihat seperti pasangan kekasih. Lagipula, Linn hanya 2 tahun lebih tua daripada Lily. Mereka cocok sekali!
"Ada perlu apa, Linn?" Kaisar menjawab acuh. Matanya tetap fokus pada kertas. Sementara satu tangannya melingkar di pinggangku.
"Lily ingin memberitahu sesuatu."
"Aku sedang sibuk mengurus kekosongan pangeran. Kau bisa memberitahunya lain kali!" Kaisar masih tetap acuh.
"Tentang Tuan Putri Qiya!"
"Tentangku?"
Tangan kaisar berhenti menulis. Tangan kanannya langsung menggeser tumpukan kertas yang menghalangi wajah kedua tamunya.
"Cepat beritahu!"
"Yah, saya rasa anda memang sibuk. Ayo, Lily. Kita kembali lain kali saja!" Linn menarik tangan Lily yang diam dan menurut. Selama dia diam saja dan membiarkan Linn yang melakukan semuanya. Maka, kepalanya aman.
Tangan kaisar teracung ke depan. Sebuah tembok es mencuat dari dalam tanah, menghalangi langkah Linn dan Lily. Linn tersenyum licik. Badannya berputar. Sedangkan, tubuh Lily tersentak.
"Cepat beritahu aku sesuatu mengenai Putri!"
"Saya pikir kaisar tadi sibuk!"
Tubuh Lily bergetar hebat begitu mendengar ucapan Linn.
Apa pria muda itu tidak takut dengan tiang gantung? Bisa-bisanya dia berkata seperti itu pada kaisar.
"Linn Est Amareldo, gajimu selama satu tahun ke depan akan aku potong!"
"Anda bahkan tidak pernah menggaji saya!" Linn menatap kaisar datar.
"Apa susahnya memberi tahu kaisar?" Ucap suara hati Lily.
Linn memang tidak digaji. Sebagai gantinya, dia bebas mengambil barang apapun yang dia butuhkan selama berada di kekaisaran tanpa harus membayar. Yah, aku rasa itu lebih baik, mengingat sifat kaisar k**i yang hobi memotong gaji para pekerja itu.
"Cepat beritahu aku!!!" Kaisar menatap Linn tajam.
"Baik!!! Baik!!! Lily, cepat beritahu kaisar kepala batu ini!"
Padahal Linn yang berkata seperti itu. Tapi, kenapa Lily yang pucat setengah mati?
"A-i-i-itu, Tuan Putri sudah punya gigi!"
"Aku? Sudah punya gigi? Pantas saja gusiku gatal sekali akhir-akhir ini!"
Tapi, bukankah pertumbuhanku sedikit terlambat? Gigi bayi biasanya akan tumbuh saat berumur 7 sampai 9 bulan. Sedangkan, usiaku sekarang sudah 9 bulan 2 hari 3 jam 23 menit. Bukankah itu agak mengkhawatirkan?
"Benarkah?" Kaisar menatapku tak percaya.
Aku ganti menatapnya datar.
"Apa liat-liat?"
"Qiya! Coba bilang aaaa!"
Aku menurut. Bibirku terbuka lebar hingga rasanya istana ini bisa terhisap ke dalamnya.
"Wuah!!! Ada gigi kecil di atas!!! Putri ayah sudah besar!" Kaisar menggosokkan pipinya.
"Kenapa kau yang terlihat lebih senang?"
Bruak!!!
Kelima pangeran mendobrak pintu ruang kerja kaisar.
Aku rasa para pangeran memang punya masalah dengan semua pintu.
"Kami ingin lihat gigi Qiya!!!"
Aku menatap kelima pangeran datar. Cepat sekali beritanya tersebar.
"Kalian mendobrak pintu kaisar hanya untuk melihat gigi mungil ini?"
"Qiya!!! Coba bilang aaaa!!!" Pangeran kembar berkata bersamaan.
Aku kembali membuka mulutku. Kelima pangeran melihatnya penuh binar.
"Giginya kecil sekali seperti Qiya!!"
"Aku ingin mencabutnya!!"
"Hei! Aku baru punya satu gigi dan kau sudah ingin mencabutnya, Dego!!"
Sebenarnya, kenapa kalian selalu heboh hanya karena hal kecil? Apakah akan ada pesta perayaan tumbuhnya gigi putri?
"Mari kita lakukan pesta perayaan tumbuhnya gigi putri!"
"Eh?!?! Benar-benar dilakukan?!?!"
"Mari kita undang semua bangsawan!"
"Kita hias pestanya dengan tema gigi!"
Aku menggelengkan kepala dan mengibaskan tanganku sebagai tanda penolakan terhadap pesta bodoh itu.
"Eh, Qiya tidak setuju, ya?"
Aku mengangguk. Niel memang sangat peka.
"Kalau begitu, kita undang bangsawan di kekaisaran sebelah dan ganti temanya dengan Qiya saja. Bagaimana?"
"Bukan itu yang aku mau!!!"
Aku kembali menggelengkan kepalaku.
"Saya rasa Tuan Putri tidak ingin diadakan pesta!"
Semua kepala langsung menatap Linn tajam. Tangan kelima pangeran dan kaisar terangkat. Muncul elemen dari masing-masing spirit.
Aku mengangguk kencang
"Memang cuman Linn yang paling normal!"
"Benarkah? Qiya tidak mau pesta?"
Aku mengangguk penuh semangat. Kaisar dan kelima pangeran terlihat sedih. Rasanya, mereka terlihat seperti anak anjing yang sedang dimarahi. Aku bahkan bisa melihat telinga anjing di atas kepala mereka.
"Ekspresi kalian itu melukai hati nuraniku tahu!"
Hah! Apa boleh buat!
Aku tersenyum lalu menunjuk keenam makhluk itu bergantian.
"Aa ku!!!"
"Padahal aku ingin bilang "Kalian saja yang ikut!" Kenapa malah kata- kata aneh tanpa arti yang keluar???"
"Maksud Qiya, Qiya ingin mengadakan pesta dengan kakak-kakak dan ayah saja?" Niel menatapku penuh harap.
"Pangeran ketiga memang selalu bisa diandalkan meski terkadang dia ikut rusak!"
Aku mengangguk. Keenam makhluk itu langsung memelukku.
"Ayah akan membuat pesta keluarga paling mewah!"
Entah mengapa aku merasa akan menyesali keputusanku ini.
***
Akhirnya hari kiamat pun tiba. Hari dimana aku bersama kaisar dan kelima pangeran akan mengadakan pesta keluarga di rumah kaca istana putri.
Sebenarnya, wilayah istana putri memiliki fasilitas apa saja, sih? Apakah aku akan menemukan pasar di sini? Lalu, kenapa rumah kaca itu besar sekali. Rasanya, aku bisa membangun dua rumah di atasnya.
Lily menggendongku di kedua tangannya.
Mataku menangkap bunga berwarna-warni di dalam rumah kaca transparan itu. Bahkan dari luar sudah terlihat cantik. Aku ingin lihat bagian dalamnya! Lily kenapa lama sekali?!
"Aaaa ii at!!!" Aku meluruskan kedua tanganku dan merengek layaknya bayi normal.
"Aku kan ingin bilang Lily cepatlah! Kenapa kata aneh lagi yang keluar?!?!"
"Tuan Putri sudah tidak sabar, ya?"
Aku menatap Lily datar.
"Aku masih bisa menunggu seumur hidup untuk menghadiri pesta ini!"
Lily mempercepat langkahnya.
Wuah, rumah kaca ini seperti pelangi sejuta warna. Rasanya, aku bisa menemukan semua jenis dan semua warna bunga di tempat ini. Belum lagi pepohonan hijau rindang yang daunnya dicukur rapi itu. Benar-benar sangat cantik.
Eh? Bunga biru itu kan? Bunga Peoni! Tapi, bukankah bunga itu hanya tumbuh di danau? Kenapa bisa ada di sini? Apa mataku salah lihat?
"Ii iu!!!" Aku menunjuk Bunga Peoni yang berada tak jauh dari kami.
"Iya, bunganya berwarna biru! Tuan Putri sangat pintar!"
"Yang aku maksud itu Lily, kesitu!"
Aku menghembuskan nafas panjang. Memang tidak ada yang bisa memahami bayi usia 9 bulan di dunia ini.
Aku meluruskan tanganku dan berusaha menggapai Bunga Peoni.
"Tuan Putri, jangan banyak bergerak! Nanti Anda bisa terjatuh!" Lily mengeratkan gendongannya.
"Aku tidak akan melakukan itu jika kau peka sedikit saja!"
"Ia at tu!" Aku terus menunjuk Bunga Peoni. Lily terlihat bingung sebelum akhirnya ber-oh pelan.
"Tuan Putri ingin lihat bunga itu?"
Aku mengangguk. Lily berjalan menuju bunga Peoni dengan tangan menggendongku.
Lily membiarkanku duduk di dekat bunga peoni karena aku terus merengek.
Benar! Mataku tidak salah lihat! Ini memang bunga peoni! Apa yang bunga ini lakukan di sini? Aneh, bunganya kaku sekali. Terlihat seperti....
"Qiya!!! Kami sudah datang!!!" Kaisar dan kelima pangeran membuka pintu rumah kaca dengan kasar seperti biasa.
"Qiya sedang apa?" Luca langsung berlari ke arahku yang sedang duduk di depan bunga peoni tak jauh dari pintu.
"Oh, bunga peoni, ya? Ayah mengambil beberapa bunga lalu mengawetkannya. Luca bilang kalau Qiya suka bunga itu."
Luca membusungkan dadanya tanda bangga.
"Ima aih, Ua!" Aku tertawa.
Keenam makhluk itu menatapku tak percaya. Sedetik kemudian mereka sudah berkumpul di depan wajahku.
"Qiya baru saja memanggil nama kakak?" Luca menatapku penuh binar. Aku mengangguk.
"Coba panggil namaku!" Mith menunjuk wajahnya.
Aku menunjukkan wajah polosku. Kaisar langsung mengeluarkan batu sihir perekam dan memasangnya.
"It!"
"Aku!"
"Nel!"
"Sekarang aku!"
"Kel!"
"Aku! Aku! Aku!"
"Eo!"
"Coba bilang Ayah!"
"Aah!"
Mata hijau keenam makhluk itu berair.
"Apa serbuk bunga masuk ke mata kalian?"
Kaisar mengangkatku ke udara. Para pangeran menunduk hormat.
Rasanya, seperti berada dalam kartun "Leon King"
"Qiya sudah bisa bicara! Besok, Qiya pasti bisa berpedang!"
"Kau ingin aku segera mati, ya, kaisar?"