Beware 9

1964 Words
Aku, Qiya Arl Peranto mengumumkan jika diriku sudah mulai bisa berdiri! Lily yang kini resmi jadi pelayan tetapku selalu menggandeng kedua tanganku dan membantuku berdiri. Tak jarang kadang aku berusaha melangkahkan kakiku. Dan hasilnya, tentu saja gagal. Aku terjatuh setiap kali kakiku melangkah. Hah, memang bukan waktunya bayi usia 9 bulan ini untuk berjalan. Lalu, mengenai percobaan pembunuhanku dua bulan lalu, tersangkanya adalah Count Agrid yang membalaskan dendam atas kehancuran kediaman Marquess Helius yang merupakan adik kandungnya. Tentu saja nasib Count Agrid pun sama dengan adiknya. Bedanya adalah kediamannya yang super megah itu masih berdiri tegak. Kaisar memberikan rumah itu untuk tempat bermainku. Rumah seluas 20 kali lapangan bola itu digunakan untuk tempat bermain bayi yang bahkan belum bisa berdiri sendiri. Lucu sekali! Lalu, kaisar kini menghilangkan lapisan pelindung di kamarku agar aku bisa leluasa merangkak di dalam kamar. Padahal, dengan lapisan pelindung itupun aku tetap bisa merangkak dengan bebas. Awan petir itu tak pernah mengenaiku sedikitpun. Bola angin itu terasa seperti hembusan nafas. Air itu tidak membasahiku apalagi sampai melukai. Tanah runcing itu tak pernah muncul ditempatku menapak. Kelima pangeran dan Linn ternyata punya kendali yang baik atas spiritnya. Dan, es itu, sama sekali tidak bisa kutembus. Sepertinya, kaisar sudah tahu jika bayinya selalu menyelinap keluar kamar. Sebagai gantinya, kaisar menempatkan lapisan pelindung di lorong kamarku. Tidak ada ksatria. Hanya lapisan pelindung. Sepertinya, akan ada banyak serangga malang yang mati. "Tuan Putri! Yang Mulia Kaisar memberikan mainan ini untuk Tuan Putri!" Lily memberikan mainan berupa permata yang digantung di atas kotak bayiku. "Itukan permata yang aku ambil 2 bulan lalu!" Aku ingin tau apa yang ada di pikiran kaisar hingga menjadikan permata yang bisa menghidupi satu keluarga selama setahun penuh menjadi mainan bayi. Rasanya aku ingin segera bisa bicara dan memprotes kaisar langsung di depan wajahnya. Lalu, tinggal menunggu ksatria menyiapkan tiang gantung dengan tenang. "Permata ini dilengkapi sihir. Jika permata berwarna biru disentuh. Maka, mainan ini akan berputar. Lihat!" Lily menyentuh satu-satunya permata biru. Mainan itu kemudian berputar. "Keren sekali, bukan?" Mata Lily menatap mainan itu penuh binar. "Sepertinya, kau yang lebih menyukai mainan ini daripada aku." Yah, mainan putar ini tidak buruk juga! Brak!!! Luca membuka pintu kamarku dengan bengis. Pangeran Kedua dengan level spirit paling lemah itu langsung berlari ke arahku yang sedang duduk sembari menatap mainan baruku. "Saya memberi salam pada Sang Bintang Kedua Kekaisaran." Lily menunduk penuh hormat. Luca melewatinya begitu saja. Kepala Luca menyembul di atas kotak bayiku. "Qiya!!! Kau mau lihat bunga peony di danau istana? Bunga itu sedang mekar dan warnanya sama dengan mata Qiya!" Luca terlihat bersemangat. "Bunga? Danau istana? Kalau aku ikut, berarti aku akan keluar dari kotak bayi ini." "Ahak! Gyu! Gyu! Gyu!" Kedua tanganku terbentang lurus di depan Luca sebagai tanda setuju. "Bagus! Ayo kita pergi!" Luca langsung menggendongku sebelum Lily melarangnya. Aku melambaikan tangan pada Lily sembari tertawa riang. ~~•~~ Istana kekaisaran ini memang sangat luas hingga kalian bisa menemukan danau, kandang kuda, taman, kebun bunga, hutan, bahkan rasanya kalian akan menemukan pasar malam di sini. Aku menatap taman istana yang hanya bisa kulihat melalui jendela istana. Ternyata, jika dilihat dari dekat taman ini sangat indah. Hamparan rumput hijau dengan tinggi yang sama. Semak yang dipotong rapi membentuk tembok alami dengan bunga kecil di atasnya. Pohon-pohon besar nan rindang yang berbaris rapi. Bunga-bunga cantik penuh warna yang sangat indah. Aku akan mengadakan pesta minum teh saja. Lupakan soal bunga Penoi atau apalah di danau itu. "Danau istana terlalu jauh untuk dilalui dengan berjalan kaki. Kita butuh tumpangan. Karena Qiya sudah bisa duduk. Bagaimana kalau kita naik Ash saja?" "Naik di atas punggung black panther raksasa?" "Ash!!! Antar kami ke danau istana!!!" "Hei, aku kan belum bilang setuju!" Ash yang tengah tidur di atas balkon lantai dua istanaku langsung melompat turun begitu namanya dipanggil. Black Panther setinggi 2 m itu nampak kontras dengan tinggiku dan Luca. Ash menunduk agar Luca bisa naik ke punggungnya dengan nyaman. Tapi, Ash yang menunduk sekalipun tetap terlalu tinggi bagi Luca. Luca menjetikkan jarinya. Beberapa tingkat tangga muncul dari balik tanah. Luca melangkah dengan nyaman. "Nah, Qiya duduk di sini!" Luca meletakkanku di atas punggung Ash yang diam tak bergeming. Kedua tangan Luca melingkar di pinggangku. Menjagaku agar tidak jatuh. Pangeran kedua itu akhirnya duduk di atas punggung Ash. Ternyata punggung Ash lebih lembut dibanding karpet bulu di kamarku. Sangat nyaman! Aku rasa Ash sering mandi dan merawat bulunya. Tangga mungil dari tanah itu langsung runtuh dan masuk ke dalam tanah. Hilang tanpa bekas. "Ash! Antar kami ke danau istana!" Ash langsung menggerakkan keempat kakinya. Kecepatan kucing besar ini setara dengan mobil balap. Aku bisa merasakan angin sepoi menimpa wajah dan rambutku. Di kanan dan kiriku terhampar taman yang luas. Beberapa kali kami melewati para ksatria dan tukang kebun. Tapi, Ash sama sekali tidak memperlambat lajunya. Toh, black panther ini tidak mungkin akan menabrak seseorang atau sesuatu. Lima menit kemudian laju kaki Ash melambat. Sepertinya, sebentar lagi kami akan sampai. Begitu keempat kaki dengan cakar besar yang tersembunyi di balik telapak itu berhenti, terhampar danau lebar dengan bunga berwarna biru di atasnya. Cantik sekali! Ash kemnali menunduk. Luca memeluk tubuhku erat kemudian melompat dari punggung kucing raksasa ini. Ash langsung pergi dari danau itu dan kembali menuju balkon istana. Tugas Ash adalah menjagaku sejak p*********n berdarah itu. Karena sekarang aku bersama Luca. Jadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Walau level spiritnya masih tingkat menengah. Tapi, kemampuan berpedangnya tidak perlu dikhawatirkan. "Cantik sekali kan, Qiya?" Aku mengangguk. Taman istanaku tidak ada apa-apanya dibanding danau ini. "Bunga Peoni ini hanya tumbuh di istana kekaisaran dan mekar setahun sekali hanya dalam waktu 24 jam." "Itu artinya aku beruntung bisa melihat bunga indah ini." Luca berjalan menuju tepi danau. Hamparan bunga biru itu terlihat semakin jelas dan semakin cantik. Ada perahu yang bersandar di tepi danau. Aku menatap Luca penuh harap. "Qiya mau mencoba naik perahu?" Aku mengangguk! Tumben sekali pangeran kedua ini peka. Luca melangkah menuju perahu. Dengan hati-hati ia menempatkan ku di kursi tengah perahu. Luca naik ke perahu dan duduk di kursi paling ujung. Tangan mungilnya meraih dayung yang tergeletak tak jauh dari tempatnya duduk. Perahu itu mulai bergerak membelah taman bunga Peoni. Bunga biru itu terlihat semakin indah dari jarak dekat. Luca berhenti mendayung ketika perahu itu mencapai tengah danau. Untuk anak berusia 7 tahun, kekuatan fisik Luca bagus juga. "Qiya! Coba lihat bunga ini! Masih menguncup!" Tubuh Luca condong ke bawah. "Ah, aku juga ingin melihat kuncup bunga Peoni!" Tubuhku ikut condong ke bawah. Aish, sulit sekali bergerak dengan tubuh kecil ini. Tanganku berpegangan pada tepi perahu. Sebentar lagi aku akan bisa melihat kuncup bunga peoni. "Qiya!!! Jangan!!!" "Kenapa kau berteriak begitu?" Ah, perahu ini licin. Tanganku terpeleset. Tubuhku terjatuh ke dalam danau. Kedua tanganku bergerak membuat suara gemericik pelan. Kakiku menendang-nendang air. Berusaha sebisa mungkin tetap berada di permukaan. Di kehidupan lamaku, aku payah dalam hal berenang. Dan, aku rasa di kehidupan kali ini pun tetap sama. Luca langsung berlari menuju ke arahku yang hampir tenggelam. Perahu itu bergoyang. Danau yang semula tenang itu kini membentuk gelombang pelan. Aku terus bergerak hingga tenagaku habis. Tepat ketika tangan Luca hendak menggapai tanganku, tubuhku tenggelam. Cahaya terang keluar dari tubuhku, menjulang 200 m di udara. Memberi tanda kepada keempat pangeran lain dan kaisar jika aku dalam bahaya. Luca terlihat panik. Jika ia harus menunggu sampai bantuan datang, paling tidak perlu waktu 10 menit untuk mereka datang. Mungkin nyawaku tidak akan bertahan sampai selama itu. Luca langsung menceburkan diri tanpa berpikir dua kali. Tangannya berusaha menggapaiku yang semakin jatuh ke dasar danau. Luca menahan napasnya sebaik mungkin. Jarakku dengan Luca sudah terlalu jauh. Wajah Luca terlihat sangat panik. Baru kali ini aku lihat dia memasang wajah seperti itu. Setelah berusaha cukup lama, akhirnya tangan Luca berhasil menggapai tanganku. Dengan sekuat tenaga Luca berenang menuju permukaan. Tapi, sehebat apapun kekuatan fisik Luca, berenang dengan membawa bayi setelah mendayung sejauh 100 m adalah hal yang sulit. Kalau begini, aku dan Luca bisa mati. "Kali ini aku akan mati karena tenggelam, ya? Tak apa. Tapi, Luca harus tetap hidup." Aku melepaskan genggaman tangan Luca. Luca terlihat bingung dan panik. Aku tersenyum. Senyuman tulus yang tidak pernah aku perlihatkan pada siapapun sebelumnya. Mataku terpejam. Air sudah mulai masuk melalui hidungku. Luca menjulurkan tangannya. Sebuah bola tanah membungkus tubuhku. Kemudian hancur karena air. Kelemahan spirit tanah level menengah adalah air. Luca harus mencapai level spirit tertinggi agar tanahnya kebal dalam air manapun. Dan untuk mencapai level spirit tertinggi dalam waktu singkat adalah hal yang mendekati mustahil. Tubuhku semakin jatuh ke dasar danau. Sepertinya, aku akan benar-benar mati kali ini. "Qiya!!!!!" Luca berteriak. Gelembung udara muncul di sekitar kepalanya. Sekali lagi bola tanah itu membungkus tubuhku. Tidak hancur. Level spirit Luca sudah mencapai level tertinggi dalam waktu 1 menit. Semua itu karena keinginannya yang kuat untuk menyelamatkanku. Bola tanah itu bahkan menyerap air yang ada di dalamnya. Luca menggerakkan tangannya. Bola tanah itu bergerak ke atas dan mendarat di atas perahu kemudian hancur. Menyisakan tubuhku yang tergeletak lemas. "Qiya!!!" Niel dan Kiel yang kebetulan berada di dekat danau dan melihat pancaran cahaya itu langsung berlari ke arahku. Kiel membentuk karpet dari angin. Keduanya naik ke atas karpet itu dan bergegas menuju ke arahku. Niel dengan cepat meletakkan kedua tangannya di atas tubuh kecilku. Cahaya hangat membungkus tubuhku. "Uhuk!!! Uhuk!!!" Aku terbatuk. Semua air yang mengisi paru-paruku keluar. Sekali lagi aku selamat dari kematian. Pangeran kembar memeluk tubuhku. "Dimana, Luca?" Kepalaku bergerak mencari Luca. Tidak ada Luca di perahu ini. Jangan bilang kalau Luca.... Aku langsung mencekal tepi perahu. Kepalaku menatap danau. "Qiya!!! Ada apa???" Niel mencekal tubuhku. "Enggg!!! Ua!!! Ua!!!" Aku menunjuk danau. Mataku berkaca-kaca. "Luca! Luca! Luca masih ada di bawah sana! Selamatkan Luca!" Air mataku mulai mengalir. "Apakah ada orang di bawah sana?" Niel menatapku bingung. Aku mengangguk. Kiel langsung menceburkan diri ke danau tanpa basa-basi. Tangannya bergerak. Sebuah bola angin muncul dan membungkus tubuh Luca. Bola angin itu bergerak, membawa Luca ke permukaan. Tubuh Luca tergeletak lemas di atas perahu. Kiel muncul dan naik ke atas perahu. Niel meletakkan tangannya di tubuh Luca. Cahaya lembut membungkus tubuhnya. "Luca!!! Bangun!!!" Cahaya itu semakin berpendar. Keringat mengalir dari dahi Niel. "Ayo, bangun! Kumohon! Jangan mati!" Tangisanku jadi semakin deras. "Kenapa aku selalu saja membuat semua orang dalam bahaya? Lily. Luca. Semuanya hampir mati karena aku. Kenapa aku sangat lemah?" Aku menggenggam tangan Luca. Dingin. Tangannya dingin. "Luca! Jangan pergi! Kumohon!" "Uhuk!! Uhuk!! Uhuk!!!" Air menyembur dari bibir Luca. "Luca!" Aku langsung memeluk Luca. Padahal, Luca bisa saja membiarkanku mati tenggelam di danau. Tapi, dia lebih memilih menyelamatkanku dengan kekuatannya hingga tenaganya habis. "Qiya!!! Maafkan kakakmu ini karena tidak becus menjaga Qiya!!!" Luca memeluk tubuh mungilku. Matanya berkaca-kaca menatap tubuhku yang basah kuyup. Aku menggeleng. "Tidak! Luca adalah penyelamatku. Luca adalah kakak yang terbaik!" "Kak Luca, kau harus kembali ke istana pangeran dan beristirahat. Ash sudah datang." Kiel mengangkat tubuhku. Aku memeluk Luca makin erat. Kepalaku menggeleng. Meski, Niel dan Kiel yang menyelamatkanku. Tapi, Luca lebih berperan penting. ~~•~~ Aku mencium pipi Luca sebelum Niel mengambil alih tubuhku. Pangeran kembar menatap Luca penuh rasa iri. Luca adalah orang pertama yang menerima ciumanku. Aku tersenyum. Aku mencium pipi Kiel dan Niel bergantian. Pangeran kembar itu tersenyum lebar. Aku melambaikan tangan pada Luca yang berdiri di depan istana pangeran. Ternyata, istana pangeran kedua sedikit lebih kecil dari istanaku. Lily langsung berlari ke arahku. Wajahnya terlihat sangat khawatir. "Ah, aku baru sadar akan satu hal. Semua orang di istana ini ternyata sangat menyayangiku." Kalau memang hal itu benar. Maka, ada yang salah dengan novel "Mask". Karena, jelas sekali, daripada membunuh, semua pangeran malah selalu menyelamatkanku. Lupakan saja perkara mengumpulkan harta dan kabur dari istana. Aku akan tinggal di istana ini dan tumbuh dengan baik dengan kelima kakakku dan ayahku yang gila. Lagipula, tinggal dengan keenam makhluk itu tidak seburuk yang aku bayangkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD