Beware 8

1594 Words
"Qiya!!!" Suara itu. Aku kenal dengan baik suara itu. Suara Luca. Kelopak mataku perlahan terbuka. Luca dan keempat pangeran lain beserta kaisar berdiri di depanku. Wajah Luca dipenuhi darah. Dan tak jauh dari tempatku berdiri ada sebuah tubuh yang bermandikan darah. "Apa yang terjadi? Apa Luca juga mati sepertiku? Tapi, kakinya masih menapak tanah." "Qiya!!! Kau baik-baik saja?" "Kenapa Mith bisa melihatku? Apa Mith juga mati?" "Qiya!!! Wajah Qiya berdarah!" "Bahkan, kaisar juga mati? Ah, rasanya tidak mungkin kaisar mati. Kalau begitu, apa aku yang masih hidup?" "Qiya!!!" Kiel berseru. Aku masih terdiam. Berusaha mencerna apa yang terjadi. Ah, pelayan! Aku menggoyang tubuh pelayan itu. Denyut nadinya semakin pelan. "Ah, aku akan menyelamatkannya jika masih sempat!" Niel langsung jongkok. Kedua tangannya menyentuh tubuh pelayan itu. Cahaya hangat membungkus tubuh pelayan itu. "Ah, lukanya menghilang. Denyut nadinya juga semakin cepat! Dia masih hidup!" Pelayan bunga membuka matanya. Aku tersenyum. "Tuan Putri? Pangeran ketiga?" Aku memeluk tubuh pelayan bunga yang semakin hangat. Tangisku semakin menjadi-jadi. Aku sangat takut jika pelayan bunga mati karenaku. Tidak ada yang boleh mati hanya karena melindungiku. Tidak ada! Bahkan pelayan sekalipun! "Pangeran ketiga, terima kasih telah menyelamatkan saya. Tuan Putri juga. Terima kasih banyak!" Pelayan itu tersenyum hangat. "Tidak! Kau tidak boleh berterima kasih padaku! Karena aku, kau hampir mati!" Kaisar diam. Biasanya dia akan langsung memecat pelayan yang dekat dengaku. Sepertinya, kaisar tau jika pelayan ini punya peran penting dalam keberlangsungan hidupku. "Mith, bawa pelayan itu ke kamarnya! Luca, bawa Qiya kembali ke kamarnya!" Kaisar memberi perintah. Kedua pangeran itu langsung menurut. Mith menjetikkan jarinya. Api muncul dan membungkus tubuh pelayan itu dengan lembut. Sedangkan, Luca menggendongku yang masih menangis. Aku menatap pelayan bunga hingga ia menghilang di lorong istana. "Kiel, selidiki siapa dalang di balik kebodohan ini. Dan, kali ini pastikan kau membunuhnya dengan tanganmu sendiri!" Wajah kaisar terlihat menakutkan. Butiran salju turun lebih banyak dari sebelumnya. Sepertinya kaisar benar-benar marah. "Baik, Ayah!" "Niel, obati Qiya! Dia sepertinya ketakutan!" Niel mengangguk. Tangan kanannya menyentuh bahu mungilku. Cahaya lembut merambat ketubuhku. Ah, rasanya ketakutanku hilang. Aku baru tau kalau spirit penyembuh bisa digunakan seperti ini. "Qiya, kau baik-baik saja, kan?" Kaisar menatapku lembut penuh kasih sayang. Aku langsung memeluk tubuhnya. Pangeran lain menatap kaisar penuh rasa iri. Aku juga baru tau kalau memeluk kaisar ternyata terasa sangat nyaman. Aku tertidur lelap dalam pelukan kaisar. Dengan perlahan kaisar meletakkanku dalan kotak bayiku. "Bintang kekaisaran! Aku ingin kalian melakukan sesuatu!" ~~•~~ Aku terbangun lebih awal. Aneh, langit-langit kamarku hilang. Eh! Awan petir apa itu? Apa kaisar membuangku? Akhirnya, aku tahu jika kaisar membuat pelindung untukku. Para manusia bodoh itu harus menembus 6 lapis pelindung untuk bisa menyentuh tubuhku. Kaisar, kelima pangeran dan Linn-lah yang membuatnya langsung dengan kekuatan mereka. Hanya para pangeran, kaisar dan pelayan yang telah dipilih yang bisa menembus pelindung itu. Pelindung pertama adalah kubah es yang tipis. Namun, sangat kuat hingga butuh waktu 3 hari untuk memecahkannya. Pelindung kedua adalah kobaran api yang bisa mengubah besi menjadi abu dalam waktu 3 detik. Pelindung ketiga adalah tanah yang didalamnya berisi tanah runcing yang muncul ketika ada yang menyentuh lantai. Pelindung keempat adalah air yang menyembur dari bawah lantai. Air itu bisa memotong tubuh manusia menjadi dua dalam waktu satu kedipan mata. Pelindung kelima adalah bola angin yang akan mencincang apapun yang masuk kedalamnya. Pelindung keenam adalah awan petir yang akan membakar semua hal yang disentuhnya. Dan, jika ada manusia super hebat yang bisa menembus 6 lapisan pelindung itu. Maka, saat itulah kekuatan Niel yang ada ditubuhku akan jadi sangat berguna. Saat tubuhku merasakan sakit atau detak jantungku meningkat, spirit milik Niel akan meledak dan melontarkan cahaya setinggi 200 m ke udara. Saat itulah, kaisar dan para ksatria akan langsung datang menolongku. Awan petir itu bergerak di atas kepalaku. Petir itu beberapa kali menyambar semut yang bergerak di lantai. Bahkan, nyamuk yang terbang di atas kepalaku pun mati karena petir itu. "Bukankah pemandangan ini terlalu menakutkan untuk seorang bayi 8 bulan?" "Tuan Putri, waktunya makan!" Pelayan bunga tersenyum sembari membawa nampan berisi bubur bayi. "Apalah kau sekarang jadi pelayan nampan bubur? Lalu, kenapa kau sudah mulai bekerja?" "Saya sudah baik-baik saja karena Pangeran Ketiga sudah menyembuhkan luka saya. Bukankah pemandangan di atas sangat indah? Hohoho!" Pelayan bunga tertawa. "Kau hampir mati semalam dan kau masih bisa tertawa seperti itu sambil menyebut awan petir itu indah!" Pelayan bunga meletakkan bubur bayi itu di atas meja mungil tak jauh dari kotak bayiku. Tak lama kemudian pelayan bunga menggendongku dan meletakkanku di kursi. Tangan pelayan melingkarkan celemek di leherku. Aku duduk dengan tenang. Membuka mulut ketika pelayan bunga melayangkan sendok berisi bubur. Sesekali bersikap imut untuk menghiburnya. "Kyaaa!!! Tuan Putri memang sangat pintar!!!" Aku mengunyah bubur itu dengan gusiku. Gigiku masih bersembunyi di dalam gusi. "Menyuapi Tuan Putri lebih baik daripada para Pangeran!" Aku mengerti dengan jelas apa ucapan pelayan itu. Meskipun, dalam novel "Mask" tidak dijelaskan bagaimana sikap para pangeran saat masih bayi dulu. Pangeran pertama terlalu kaku hingga pelayan merasa takut menyuapinya. Pangeran kedua terlalu banyak tingkah hingga pelayan merasa lelah. Pangeran ketiga justru malah menyuapi para pelayan. Pengguna spirit penyembuh memang punya jiwa sosial yang tinggi, ya. Pangeran keempat yang punya kekuatan fisik besar menumpahkan mangkok kayunya hingga pelayan harus membuat 20 kali bubur bayi agar pangeran keempat merasa kenyang. Saat pelayan menggantinya dengan mangkok besi, pangeran keempat menangis dan tidak mau makan. Akhirnya, pelayan membuat dua mangkok. Satu mangkok kayu untuk ditumpahkan pangeran keempat dan satu mangkok besi untuk menyuapinya. Karena hal itu, pelayan harus membuat 60 porsi bubur bayi untuk pangeran keempat setiap hari. Aku rasa pangeran keempatlah yang paling menyusahkan. Sedangkan, pangeran kelima menangis sambil makan. Haha, jadi wajar jika pelayan bunga bahagia menyuapi bayi normal sepertiku. "Sudah habis! Tuan Putri memang sangat pintar!" "Ahahaha!" Aku tertawa. "Kyaaa!!! Manisnya!!!" Pelayan bunga menatapku gemas. Jika saja tidak ada tiang gantung dan mata pisau tajam itu, mungkin sudah lama para pelayan di istana ini meremas pipi tembamku. "Ehem!!!" "Wua!! Sejak kapan kaisar ada di sini?" "Saya memberi salam pada Sang Matahari Kekaisaran." Pelayan bunga menunduk hormat pada kaisar. Aneh, padahal biasanya tidak ada pelayan yang berani memberi salam pada kaisar karena terlalu takut salah bicara lalu mati di tiang gantung. Sepertinya, ada banyak hal yang berubah dalam waktu satu malam. "Lily, keluarlah!" "Baik, Yang Mulia Kaisar!" Pelayan bunga membungkuk sebelum akhirnya pergi. Jadi, nama pelayan bunga adalah Lily, ya? Kalau begitu, nama pemberianku pun tidak sepenuhnya salah. "Ahakha!" Aku tertawa sembari meluruskan kedua tanganku di depan kaisar. Rasanya aku ingin memeluknya lagi seperti kemarin. Padahal biasanya aku selalu berusaha menghindari kaisar dan kelima pangeran. Sepertinya, ada banyak hal yang berubah dari diriku. Kaisar langsung menggendongku. "Qiya, jangan sesekali tunjukkan wajah seperti itu di hadapan pria lain!" Perkataannya seolah aku adalah istri yang akan berselingkuh. "Nnggghhh!!!" Aku menjawab asal. "Qiya memang sangat pintar!" Aku diam. Malas menjawab pujian yang membuat telingaku muak. Kaisar membuka pintu kamarku dengan perlahan. Kaki panjangnya berjalan menyusuri lorong istana. "Mau kemana kita?" Kaisar berhenti di depan sebuah ruangan dengan pintu paling tinggi di antara ruangan lain. Begitu pintu terbuka, sebuah meja panjang dengan kursi di depannya mengisi ruangan itu. Aneh, ini nampak seperti ruang rapat. Tapi, kenapa meja itu hanya berisi karpet merah. Lalu, kenapa tiba-tiba Kaisar mengajakku ke ruang rapat? Kaisar langsung duduk di kursi paling ujung tanpa bicara apapun. "Yang Mulia Kaisar!!! Kami segera datang ke rapat darurat!!!" Sekumpulan orang-orang berpakaian resmi mendobrak pintu ruangan itu. Nafas mereka terengah-engah. Kalau dilihat dari pakaiannya, mereka adalah para bangsawan. Marquess, Count, Viscount dan Earl yang berada di wilayah ibukota kekaisaran. Memangnya apa yang akan dibahas di rapat darurat ini hingga kaisar menggundang bangsawan sebanyak ini? "Eh, siapa bayi perempuan yang ada di pangkuan kaisar?" "Apakah itu Tuan Putri?" "Matanya mirip dengan Yang Mulia Ratu." Aku menatap para bangsawan itu. Apakah mereka tidak tahu siapa aku? Ah, benar juga! Selama ini kan aku hanya berdiam diri di dalam kotak bayi. Wajar saja jika mereka tidak mengenaliku. "Ah, kalian lupa memberi salam!" Kaisar menatap para bangsawan tajam. Sejak kapan kaisar mempermasalahkan salam? Bahkan, para pelayan di istana pun jarang sekali memberi salam dan dia tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Jangan bilang kalau..... "Sa-sa-saya memberi salam pada Sang Matahari Kekaisaran dan Bulan Kekaisaran!" Kaisar tersenyum puas. Aku menatapnya datar. Rupanya dia hanya ingin mendengar para bangsawam memanggilku "Bulan Kekaisaran". "Duduklah!! Aku akan segera membahas rapat daruratnya!" Para bangsawan itu melangkah dan duduk di kursi. Sepertinya, mereka sudah punya kursi masing-masing. Satu dua bangsawan menatapku. Aku tersenyum. Bangsawan itu ikut tersenyum. Kaisar menatap mereka tajam. Senyum itu pun pudar. Haha, selalu saja begini! "Baiklah, mari kita mulai saja rapat ini!" Kaisar meletakkanku di atas karpet merah. Kenapa dia melakukan itu? Hei, karpet ini lembut juga. Tunggu sebentar! Meja rapat yang kosong. Karpet merah yang lembut. Jangan bilang kalau kaisar mengundang semua bangsawan hanya untuk memperlihatkanku yang bisa merangkak?!?!?! Kaisar tersenyum lebar. Rupanya dugaanku benar, ya. "Hah! Apa boleh buat!" Aku mulai merangkak di atas karpet. Semua mata bangsawan tertuju padaku. Kaisar sudah menunggu di ujung meja. Begitu aku sampai di sana, dia langsung menggendongku. "Bukankah Tuan Putri sangat pintar?" Kaisar menggosokkan pipinya. Aku menatapnya datar. "Itu hal yang wajar untuk bayi berusia 8 bulan, Yang Mulia." "Aku sudah bilang begitu,. Tapi, kaisar kalian ini terlalu keras kepala!" "Pangeran Rotzu, aku rasa aku bisa menambah satu Baron lagi di Ibukota ini." "Bukankah penurunan gelar bangsawan itu terlalu jauh?" "Ma-ma-ksut saya, Tuan Putri Qiya memang sangat pintar!" "Qiyaku memang sangat pintar!" Para bangsawan menatap kaisar dengan wajah heran. Baru kali ini mereka melihat kaisar tertawa seperti itu. Bahkan, saat menggendong kelima pangeran lain pun wajahnya seperti papan kayu. Sangat datar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD