Hari-hari damai tanpa kehadiran Kaisar dan Lima Pangeran telah lenyap.
Selamat tinggal, kebahagiaan yang fana!
Padahal perlu waktu setidaknya 2 hingga 3 bulan untuk mengurus semua tumpukan dokumen dan 4 bulan untuk mengejar ketertinggalan pelajaran. Kenapa mereka bisa menyelesaikannya dalam waktu 1 bulan?!?!?! Apa kalian mengacungkan pedang pada penyihir lagi?
"Qiya!!! Kami rindu Qiya!!!" Kaisar dan kelima pangeran memelukku.
"Aku sama sekali tidak rindu kalian! Lepaskan aku! Ugh, bau apa ini?! Lalu, apa-apaan penampilan kalian itu?"
"Kami menyelesaikan semua perkerjaan dengan cepat tanpa henti demi Qiya!"
Keenam makhluk itu kompak menangis.
Genre novel ini adalah percintaan tahu! Bukan tragedi!
"Kenapa kalian menangis? Itu kan tugasku!"
Aku menatap lantai acuh. Sama sekali tidak tertarik dengan keenam makhluk ini.
"Kakak bahkan belum sempat mandi selama sebulan!"
"Ugh, jadi kau sumber bau ini."
Aku menatap Mith. Pantas saja dia terlihat sangat lusuh. Kupikir tadi ada pengemis yang menyusup ke istana dengan pakaian putra mahkota.
Ah, tidak, maafkan aku, tuan dan nyonya pengemis. Penampilan kalian lebih baik daripada penampilan calon kaisar ini.
"Kakak bahkan tidak tidur selama seminggu karena mengejar ketertinggalan pelajaran!" Luca menunjuk kedua matanya. Ada lingkaran hitam besar yang mengelilingi mata hijau zamrudnya.
"Darimana datangnya panda ini?"
"Kami berdua bahkan tidak sempat makan!"
"Ah, astaga! Pangeran kembar! Kenapa kalian berdua terlihat seperti tengkorak berjalan?"
"Kakakmu ini mandi, makan dan tidur dengan teratur karena kakak mu ini bisa membagi waktu dengan baik!" Dego menepuk dadanya dengan bangga.
"Aku meragukannya!"
"Ayah bahkan tidak sempat melakukan apapun selain bekerja!"
Aku hampir mati karena serangan jantung lagi begitu melihat penampilan kaisar. Rambut pirangnya seperti habis terkena badai. Mahkota berlapis emas di atas kepalanya miring. Tubuh tegap dan kekarnya kehilangan banyak daging. Pakaiannya sama seperti orang yang habis berkubang dalam lumpur.
"Aku sarankan jangan melihat cermin, kaisar. Kau akan mengira ada pengemis yang bersembunyi di dalamnya!"
"Qiya, kami merindukan Qiya! Qiya pasti selalu menangis setiap malam karena merindukan kami!"
"Kami berjanji tidak akan meninggalkan Qiya sedetik pun!" Mith menggenggam kedua tangan mungilku.
"Aku justru merasa bahagia karena tidak ada kalian!
"Perintahkan kepada semua pelayan untuk memindahkan kasur kaisar dan para pangeran di kamar putri!" Kaisar memberi perintah kepada para pelayan yang langsung pergi.
"HehKalian serius soal tidak meninggalkanku sedetik pun?"
***
Beginilah nasib kotak bayiku sekarang. Dikelilingi 6 kasur besar lengkap dengan manusia aneh yang terbaring di atasnya. Kaisar dan Pangeran Pertama berada di samping kotak bayiku. Pangeran kembar berada di atas. Dan, pangeran kedua juga pangeran kelima berada di bawah setelah kalah telak dari pangeran pertama dan kaisar untuk memperebutkan dua tempat yang strategis itu.
"Haha! Linn! Kumohon datanglah dan usir keenam makhluk ini!"
"YANG MULIA KAISAR DAN LIMA PANGERAN!!!" Linn datang dan mendobrak pintu kamarku dengan kasar.
"Apakah kau juga punya masalah dengan pintu kamarku, Linn Est Amareldo?"
Pangeran kedua melambaikan tangan begitu melihat Linn. Sedangkan, sisanya tak acuh.
"Apa-apaan semua kasur ini?"
"Kami akan tidur bersama Qiya mulai sekarang!" Mith menjawab dengan semangat.
Linn menepuk jidatnya.
"Wajah anda terlihat seperti pakaian lusuh, Tuan Linn!"
Linn menatap kaisar. Meminta penjelasan atas tindakan bodohnya.
"Aku hanya ingin menjaga putri kecilku!"
"Anda sudah menempatkan semua ksatria di istana Tuan Putri. Belum lagi ksatria terbaik kekaisaran yang membeku di kamar Tuan Putri. Ditambah Ash yang merupakan 'mesin pembunuh'! Bukankah itu sudah cukup untuk menjaga Tuan Putri!"
"Hanya untuk berjaga-jaga jika ada bahaya yang tidak bisa dihentikan para ksatria dan Ash datang!" Kaisar menjawab asal.
Wajah Linn jadi semakin berkerut.
"Satu-satunya bahaya itu adalah kalian tahu!"
"Saya yakin Tuan Putri akan baik-baik saja tanpa kalian!"
"Benar sekali!"
"Dan para ksatria juga Ash akan melakukan yang terbaik untuk menjaga Tuan Putri!"
"Yap, kau benar, Tuan Linn!"
"Jadi, kalian semua tidak perlu tidur di sini! Cepat kembali ke istana kalian masing-masing!"
"Pangeran pertama! Anda harus berendam di air bunga selamanya! Pangeran kedua! Anda harus berhibernasi seperti beruang! Pangeran kembar! Kalian berdua harus makan sebanyak mungkin! Pangeran kelima! Anda harus banyak belajar karena anda sangat tertinggal! Dan, Kaisar! Anda harus makan, mandi, tidur dan menyelesaikan tumpukan kertas untuk hari ini! Cepat!"
Wuah, jika aku jadi Linn. Aku tidak akan berani berteriak seperti itu pada anggota keluarga kekaisaran. Kecuali jika aku punya kemampuan untuk menumbuhkan kembali kepalaku setelah dipenggal.
"Yah, akan kami lakukan nanti!" Kaisar membalik tubuhnya. Sama sekali tak peduli pada Linn yang sudah mencapai batas.
"LA...KU...KAN...SE...KA...RANG!!!!" Linn mengangkat tangannya. Sebuah angin tornado muncul dan menyapu keenam makhluk itu beserta kasur dan bantal mereka. Hebatnya, aku sama sekali tidak tersapu angin itu. Bagiku, angin itu hanyalah angin sepoi. Tapi, kurasa tidak begitu bagi keenam makhluk yang berteriak itu. Sekarang, aku jadi tahu bagaimana Linn membawa mereka sekaligus.
"Terima kasih, Tuan Linn! Tolong bawa mereka sejauh mungkin dari istanaku!"
Linn mengangkat tangan kirinya. Pintu kamarku terbuka lebar. Angin tornado itu berubah bentuk menjadi gumpalan angin berbentuk bola. Kaisar dan kelima pangeran berontak. Berusaha melepaskan diri dari angin itu. Tapi, percuma.
"Linn!!! Lepaskan kami!!!"
"Linn Est Amareldo! Kau dipecat!"
"Syukurlah, kalau begitu tolong beri gaji saya selama 12 tahun ini!" Linn menjawab acuh. Sama sekali tidak berniat menurunkan keenam makhluk itu. Toh, mustahil kaisar akan memecatnya. Memangnya, dimana kaisar bisa mendapatkan tangan kanan yang berbakat dan berani berteriak pada keluarga kekaisaran.
Kamarku akhirnya lengang. Para ksatria yang sudah mencair hanya diam. Sama sekali tidak tahu apa yang terjadi. Juga tidak tahu jika kaisar sudah membekukan mereka selama 2 kali.
Malang sekali nasib mereka. Kehadiran mereka bagi kaisar dan pangeran kedua saja seperti crayon putih. Hanya sekedar ada. Tapi, jarang sekali digunakan. Bahkan, mendekati tidak berguna. Wajar sih, singa kan tidak butuh penjagaan dari 50 ekor anak kucing. Aku benci mengakuinya. Tapi, kaisar dan pangeran mahkota itu sangatlah kuat.
"Grrr!!!"
Ah, suara gerungan ini.
Ash!!!
Kepala black panther itu muncul di atasku. Aku ingin tahu darimana pangeran kedua mendapatkan hewan buas ini. Dan, kenapa dia bisa sejinak ini. Padahal, menjinakkan hewan buas terutama black panther adalah hal yang sulit. Mendekati mustahil. Sebenarnya, apa yang dilakukan Pangeran Luca pada kucing besar yang malang ini.
Dalam novel "Mask" yang aku baca sama sekali tidak ada info mengenai Ash. Itu karena tokoh utama pria yang merupakan calon kaisar di Kekaisaran sebelah sama sekali tidak tertarik dengan Ash.
"Argh, tuan penulis! Kenapa kau harus membuat novel itu dalam sudut pandang Carl?!?!?! Aku jadi tidak punya banyak info mengenai kekaisaran ini!"
Ash menatapku tajam kemudian tersenyum. Menunjukkan gigi taringnya yang tajam. Jika aku yang dulu melihat senyuman Ash, mungkin aku akan mengira Ash tersenyum karena bahagia bisa memakan daging bayi yang lembut. Lalu mati untuk kedua kalinya dengan alasan yang sama.
Tapi, sekarang aku tidak lagi takut pada Ash. Karena aku tahu Ash tidak akan menyakitiku.
"Gyu!!! Gyu!!! Gyu!!! Ahak!!!"
"Nah, Ash! Nikmatilah kelucuan bayi yang dibuat khusus untukmu ini!"
Senyum Ash makin lebar. Sedetik kemudian black panther itu menginjak-injak karpet di samping kotak bayiku. Lantas tertidur.
Haha!!! Kucing besar tetaplah kucing!
"Tuan Putri, saatnya minum s**u!!!" Pelayan bunga membuka pintu kamarku dengan perlahan. Hanya pelayan bunga dan pelayan nampan s**u saja yang memperlakukan pintuku dengan penuh perasaan.
"Eh, dimana pelayan nampan s**u?"
Pelayan bunga terlihat sumringah. Sepertinya, ada yang berpapasan dengan Tuan Linn dan 6 perusuh yang menderita.
"Hua!!! Ash!!!" Pelayan bunga nampak terkejut begitu melihat kucing besar itu tertidur di sampingku.
"Ma-maafkan saya karena tidak melihat anda di sini!" pelayan bunga menunduk penuh hormat. Senyumnya menghilang. Berganti dengan tubuh yang bergetar hebat.
"Kamu terlihat seperti diriku yang dulu!"
Ash terbangun. Bola mata kuningnya menatap pelayan itu. Sedetik kemudian black panther itu kembali tertidur.
"Tolong, maafkan Saya Tuan Ash!" Pelayan bunga terus menunduk.
"Hei, berhenti meminta maaf! Ash sama tidak peduli tahu. Lagipula, apa yang kamu takutkan dari kucing yang ramah itu?"
Apa? Aku kan tidak tahu jika Ash ternyata seramah ini. Jika tahu dari awal, aku tak akan takut padanya!
"Kapan kamu akan memberiku makan? Hah, baiklah! Mari kita gunakan k*******n!"
"Hua!!! Hua!!! Hua!!!" Aku menangis dengan kencang. Pelayan bunga tersentak. Ash yang merasa terganggu dengan nyanyianku langsung pergi dari kamarku. Kelima puluh ksatria nampak santai. Tetap berjaga seperti biasa.
"Kau itu tuli, ya?"
"Ah, maafkan saya Tuan Putri! Anda pasti sudah sangat lapar!"
"Kalau sudah tahu cepat beri susunya!"
"Nyot!!! Nyot!!! Nyot!!!" Aku menghisap botol s**u dengan lahap. Menghadapi 6 makhluk aneh dan bertahan dalam badai adalah hal yang sangat menguras jiwa dan raga.
"Anda sama sekali tidak takut pada Tuan Ash, Tuan Putri?" Pelayan itu menatapku.
"Tidak! Memangnya apa yang harus aku takutkan?"
"Tuan Ash adalah black panther yang ditemukan Yang Mulia Pangeran Kedua 4 tahun lalu saat terjadi perang antar Klan Serigala dan Klan Black Panther. Kedua klan dari klan pengubah wujud itu memang tak pernah akur."
Ah, Klan Pengubah Wujud, klan yang mempunyai wilayah mereka sendiri di antara perbatasan Kekaisaran Peranto dengan Kekaisaran Terium. Mereka tidak terikat dengan kekaisaran manapun.
Sesuai namanya, klan pengubah wujud memang bisa berubah wujud. Bisa dibilang, mereka adalah setengah manusia dan setengah hewan.
Kalau Ash berasal dari sana, apakah Ash juga salah satu dari mereka? Tapi, aku tidak pernah melihat wujud manusia Ash
"Tuan Ash bukan kaum pengubah wujud."
"Kau bisa membaca pikiranku, ya?"
"Tuan Ash adalah black panther biasa yang telah diubah hingga menjadi 'Mesin Pembunuh'. Saya dengar, Tuan Ash membunuh semua klan serigala. Saat ditemukan Yang Mulia Pangeran Kedua, tubuh Tuan Ash dipenuhi luka cakar dan gigitan. Bisa dibilang Tuan Ash diambang hidup dan mati. Yang Mulia Pangeran Kedua membawa Tuan Ash ke istananya dan merawatnya tanpa bantuan Yang Mulia Pangeran Ketiga."
"Nyot! Nyot! Nyot!" Aku terus menghisap botol s**u sembari mendengarkan cerita pelayan bunga.
"Sebulan kemudian, kesehatan Tuan Ash membaik dan berangsur sembuh. Begitu Tuan Ash tau bahwa Yang Mulia Pangeran Kedua merawatnya, Tuan Ash langsung melakukan sumpah setia padanya. Walau hanya hewan biasa, Tuan Ash sangat mengerti bahasa manusia."
"Apa itu sumpah setia?"
"Sumpah setia berarti hidup dan mati Tuan Ash berada di tangan Yang Mulia Pangeran Kedua. Jika Yang Mulia Pangeran Kedua meminta Tuan Ash untuk menusuk jantungnya sendiri, Tuan Ash harus melakukannya."
"Kau benar-benar bisa membaca pikiran, ya?"
"Tuan Ash sepertinya menyukai Tuan Putri."
"Ash menyukaiku?"
"Nah, Tuan Putri! Saatnya sendawa!" Pelayan bunga menggendong dan menepuk punggungku.
"Burp!"
Entah mengapa aku tidak lagi merasa malu dan mulai terbiasa melakukan hal memalukan ini.
"Ngomong-ngomong, berapa usia Ash saat Luca menemukannya? Lalu, apa yang dilakukan Luca di wilayah klan pengubah wujud?"
"Ah, saya lupa menceritakan ini. Usia Tuan Ash saat itu baru 1 tahun. Dan, Yang Mulia Pangeran Kedua sedang melakukan kunjungan ke Kekaisaran Terium yang kebetulan melewati wilayah klan pengubah wujud."
"Kau mulai membuatku takut, Pelayan Bunga!"
"Walau Tuan Ash terlihat ramah pada Tuan Putri. Saya harap Tuan Putri tetap berhati-hati karena Tuan Ash adalah mesin pembunuh klan black panther!" Pelayan bunga menepuk bokongku pelan.
"Bagiku, Ash terlihat seperti kucing besar yang jinak."
"Hoam!!"
Aku tertidur lelap.