Dian masuk kamar dengan kesal. Orang yang dicinta ternyata berkhianat. Padahal ia sudah menentang kedua ortunya untuk tetap mempertahankan hubungan ini.
Tapi setelah melihat yang terjadi tadi sepertinya hanya iya yang berusaha mempertahankan hubungannya.
Dian tak menangis sama sekali berbeda dengan perempuan lain yang akan menangis ketika putus atau melihat pasangan mereka dengan wanita lain.
Tidak Dian tidak seperti itu, hanya membuang waktu dan air mata saja. Lebih baik memikirkan apa yang harus dilakukan setelahnya.
Dian keluar kamar Dan segera menuju dapur karena ia merasa lapar.
"Mas gk keluar? " tanya Dian pada Diego.
"Nunggu Ibu dulu, klo kamu ditinggal sendiri takut kalau kamu nekat bawa pria tak bermasa depan itu kerumah " jawab Diego.
Dian tak menghiraukan kakaknya dan lanjut makan. Diego yang melihat adik tersayangnya cuek dan tidak secerewet tadi pagi sedikit heran.
"kamu kenapa dek? " Diego.
"mas gk liat klo aku lagi makan? " jawab Dian.
"Iya liat, tapi ngak biasanya kamu diem aja! " sanggah Diego
"Terus mas ngarepnya aku gimana? Salto gitu?" tanya Dian.
" ya tidak begitu juga, biasanya kamu belain kan? " tanya Diego lagi.
"yah, tapi akunya lagi malas". jawab Dian lagi.
"Eh, Memang kenapa dek?" tanya Diego
"ya males aja. "jawab Dian "Dah ah aku mau balik kamar lagi". Dian pergi meninggalkan Diego dengan rasa penasaran.
*****
Dua hari kemudian Dina keluar untuk merefresh pikiran. Dia ingin pergi dengan Diego.
"Mas ayo antarin aku jalan!" anak Dian.
"Tumben ajakin mas? lagi minta sesuatu ini pasti? " tebak Diego, dia belum tahu mengenai hubungan Dian dengan Andika.
Setelah melakukan negosiasi yang cukup alot, akhirnya Diego menuruti Dian.