4. Awas Ada Mantan

1091 Words
"Kenapa? Cemburu?" Kinara meletakkan tas besar yang dibawanya ke atas meja dengan mengehentak. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu menarik tangan Galang, membawanya ke tempat yang cukup jauh dari lalu lalang manusia. "Lang, mulut lo tuh ya!" Karena seringnya mendengar orang ber lo-gue, ia jadi ikut-ikutan sekarang. "Kak Diandra sudah berpesan hati-hati bersikap dan berbicara, karena semua gerak-gerik kamu dan orang-orang yang dekat denganmu, pasti akan selalu menjadi sorotan. Kamu malah ngomong gitu, kalo kedengaran orang-orang, gimana?" "Oke, oke." Galang malah tertawa. "Lain kali aku akan memilih tempat yang sepi, biar tidak terdengar orang-orang. Begitu, kan?" Galang mencondongkan badannya mendekat pada Kinara, yang membuat gadis itu spontan mendorongnya. Lagi, lelaki itu tertawa, misinya menggoda Kinara dan membuat gadis itu kesal, berhasil. "Nah, kalau begini, orang-orang mengira, kita sepasang kekasih yang sedang bertengkar." Kinara melotot mendengar ucapan Galang, yang setelah dipikir ada benarnya juga. "Jadi, jaga sikapmu, Nona!" bisiknya di telinga Kinara, kemudian berlalu begitu saja. Kalau tidak ingat dia itu artis yang sudah pasti diintai banyak pasang mata, rasanya Kinara sudah ingin melemparkan sandal jepit ke arahnya. "Syuting selanjutnya masih jam dua." Bang Joel berjalan mendekati Galang sembari melirik arlojinya. "Capek Bang, pijet dulu." Galang yang nampak lelah memijit-mijit pelipisnya. Tadi karena sesuatu hal, syuting sempat molor. Mana banyak adegan yang harus diulang karena ada artis figuran yang salah terus dalam mengucapkan dialog. "Oke, balik rumah dulu Pak," instruksi Bang Joel pada Pak Said. Begitu Galang masuk mobil, cepat-cepat Kinara mendekati Bang Joel. "Tukang pijetnya, cewek apa cowok, Bang?" Entah mengapa rasanya Kinara kepo sekali. "Cowok, udah ada tukang pijet langganan." Bang Joel tersenyum lalu membuka pintu mobil bagian depan. “Kamu, tenang aja.” Lah. Baru saja Kinara mau melangkah masuk ke mobil menyusul Galang, Amalya dengan cepat mendahului. "Lang, masih ada syuting?" tanya wanita tinggi semampai itu di ujung pintu mobil. "Iya, jam dua." “Ngopi-ngopi bentar, yuk!” tawar Amalya. Bibir tersenyum manis, jemari memainkan rambut ikal hitam pekatnya yang menjuntai sebahu. “Sungguh cantik.” Kinara menggumam dalam hati. "Nggak, Mal, lain kali. Gue mau pulang dulu juga." Amalya menunjukkan raut kecewa, bibirnya mengerucut, kedua tangan dilipat di depan d**a. "Bener lho, janji!" "Hem, atur aja sama asisten gue." "Bang Joel?" "Bukan, Kinara." Amalya menoleh mengikuti arah pandang Galang. Sementara yang dipandang hanya mematung, bingung juga mau bereaksi apa. Namun akhirnya ia menampilkan senyum canggung. "Urusan pekerjaan dengan Bang Joel, di luar itu silakan dengan Kinara," jelas Galang. "Flo, masuk!" titahnya kemudian. Kening Malya saling bertaut. Begitu melihat Kinara melangkah mendekati mobil, ia yakin yang dipanggil Galang dengan sebutan Flo itu adalah Kinara. Tadi dia bilang namanya Kinara, kenapa jadi Flo? Bukannya menyingkir memberi jalan untuk Kinara, Malya malah memasukkan sebagian badannya ke dalam mobil. "Oke, sampai jumpa besok ya, Lang." Diciumnya pipi kanan dan kiri Galang. Lelaki itu nampak terkejut dengan sentuhan bibir Malya, namun tak kuasa menghindar. Kinara yang menyaksikan pemandangan itu seketika merasa risih. "Cewek kamu?" tanya Kinara begitu Pak Said menutup pintu. Meskipun Kinara bukan penganut kalo pacaran boleh cium-cium, tapi menurutnya lebih tidak mungkin lagi kalau hanya teman sampai seintim itu. "Bukan." "Pake cipika-cipiki segala?" gumam Kinara yang tak terlalu ditanggapi oleh Galang. "Aku mau tidur. Bangunkan kalau sudah sampai." Galang memundurkan sandaran kursi lalu merebahkan badan. "Lang, bersihkan muka dulu." Kinara mengambil pembersih dari dalam tas. Diandra memberikan tugas yang begitu rinci pada Kinara. Bahkan kewajiban membersihkan muka setelah selesai syuting pun dicantumkan. Adiknya itu sering lupa atau mungkin malas melakukannya. "Lang!" Ketika Kinara menoleh pada Galang, lelaki itu sudah memejamkan mata. Kinara mengguncang pelan bahunya, namun Galang tetap bergeming. "Dibantu ya, Ra!" Bang Joel menoleh sekilas lalu kembali sibuk dengan tab-nya. "Biar Galang istirahat dulu, jadwalnya padat hari ini." Jadi, harus aku yang membersihkan wajahnya? Gadis itu membenarkan ikatan rambutnya seraya menghela napas panjang. Ingin rasanya menolak, tapi bayang-bayang Diandra yang berulangkali mengingatkan jangan sampai ada tugas terlewat, menari di pelupuk mata. Bukankah itu gunanya ia sebagai seorang asisten? Diambilnya selembar kapas. Setelah membasahi dengan beberapa tetes cairan pembersih, ia mulai mengulurkan tangan, mengusap wajah Galang. Mula-mula pelan, sampai kemudian ia melihat seberkas noda merah di pipi Galang. Lipstik perempuan tadi kah? Iapun mengusap bagian itu dengan lebih kuat. Najis! Galang yang tiba-tiba membuka mata membuat Kinara terkejut. "Kamu dulu kerjanya mandiin kudanil?" "Hah?" “Nggak bisa lembut dikit apa?” Menyadari apa yang dimaksud Galang, bukannya melembutkan usapan, tangannya yang masih menempel di pipi Galang malah mendorongnya kuat. "Bersihkan sendiri! Udah bangun, kan!" bentaknya. Galang berdecak. "Asisten macam apa!" gumamnya pelan tapi yakin Kinara mendengar. Ia bukan sedang menegur Kinara sebagai karyawan, hanya menggodanya saja. Membersihkan wajah tak sulit, ia tak keberatan melakukannya sendiri juga. Kinara mau mempersiapkan segala kebutuhan dan mengingatkan segala printilan kegiatannya saja sudah sangat membantu. Mobil berhenti di lampu merah. Kinara mengedarkan pandangan keluar dari balik jendela. Menikmati setiap sudut ibukota yang sudah lama tak dikunjungnya. Terakhir kali ia ke kota Jakarta saat piknik di Sekolah Menengah Pertama. Sudah lama sekali, sudah banyak perubahan yang terjadi. Lagipula saat itu, mana sempat jalan-jalan keliling kota seperti ini. Fokus mengunjungi beberapa objek wisata, nginap semalam lalu pulang. Lagi asik-asiknya mengenang masa lalu, tiba-tiba pandangannya terpaku pada sesosok pria yang sangat dikenalnya. Kinara sampai membalikkan badan, matanya terus mengikuti kemana sosok itu pergi. "Ada apa Flo? Apa ada yang tertinggal?" Galang cukup menyadari kegelisahan gadis itu. Saking seriusnya mengamati, Kinara tak menjawab pertanyaan Galang, jangankan menjawab, bahkan mendengar lelaki itu bertanya pun tidak. "Pak! Pak Said, tolong berhenti sebentar, ada yang mau saya beli di minimarket." Kinara mencari-cari alasan. "Oh, baik Mbak." Mobil menepi. Tanpa pamit, Kinara turun. Setengah berlari didatangi tempat dimana terakhir kali melihat sosok dikenalnya tadi. Ia masih penasaran, benarkah yang dilihatnya itu Jagad? Selama ini sudah berusaha mati-matian tak peduli pada mantan kekasihnya itu lagi, Tapi begitu melihat sosoknya yang nyata, Kinara tak dapat menahan diri. Ia belum bisa seratus persen move on. "Flo, kenapa? Mau membeli apa?" Suara Galang dari arah belakang mengejutkannya. Rupanya lelaki itu ikut turun dari mobil. "Nggak apa-apa. Nggak jadi. Ayo kembali." Kinara yang sudah kehilangan jejak merasa tak ada gunanya mencari lagi. Mungkin saja ia hanya salah lihat tadi. Galang sebenarnya masih penasaran, tapi ia merasa tak mungkin mendesak gadis itu sekarang untuk bercerita. "Flo, jangan seperti ini lagi. Tiba-tiba berlari, membuatku panik." Galang merasa perlu menegur Kinara. "Kau belum terlalu paham Jakarta, bagaimana kalau tersesat? Kau bekerja padaku, tentu saja jika sesuatu terjadi padamu aku yang bertanggung jawab." "Maafkan aku." Kinara jadi merasa bersalah. "Aku tadi melihat ...." Galang menatapnya dengan kening bertaut, menunggu kata selanjutnya diucapkan kawan masa kecilnya itu. “Lihat apa?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD