Irva berdiri mematung di belakang panggung sambil memegang kotak yang dititipkan Faz pada salah seorang temannya. Tangannya gemetar saat membuka kotak itu. Jam tangan dan ponsel. Itu adalah benda-benda yang ia berikan untuk Faz dan gadis itu mengembalikan semua padanya. Lutut Irva menekuk dan ia jatuh terduduk. Air matanya tumpah. Ia tak lagi peduli jika saat ini di sekelilingnya banyak sekali orang-orang yang mengawasi dirinya. Separuh napasnya pergi. "Mungkin, dia belum jauh." Salah seorang teman Irva menghampiri dan ikut berlutut di sampingnya. "Jika kau ingin mengejar dia. Kejarlah! Biar aku ambil alih tugasmu untuk mengatur para peserta festival." Seperti mendapatkan angin segar, Irva mengusap air matanya dan menatap temannya dengan pandangan berterima kasih. Dirinya bahkan tidak

