Awal Pertemanan
Irva bersenandung kecil sambil menenteng gitar di pundak saat melangkah melewati koridor sekolah menuju ke kelasnya yang terletak di gedung paling belakang sekolah. Suasana sekolah masih sepi karena sepertinya ia datang terlalu pagi.
Langkahnya terhenti tepat di depan pintu kelas. Di dalam kelas, ia melihat salah seorang teman sekelasnya ternyata ada yang sudah datang, duduk sendiri di bangkunya. Dia adalah Fazluna, satu-satunya gadis berkerudung yang ada di kelas Bahasa dan dia termasuk gadis yang aneh menurut teman-temannya. Memang Irva tak pernah tahu sendiri di mana letak keanehan gadis itu karena tak pernah sekali pun selama menjadi teman satu kelas, mereka saling bertegur sapa.
Sejujurnya, Irva sendiri merasa bersyukur jika tidak harus berurusan dengan perempuan berkerudung itu. Memang di kelas ini, dirinya adalah satu-satunya murid yang memiliki keyakinan berbeda dengan teman-temannya yang mayoritas muslim, tapi itu semua bukan masalah karena dirinya tetap berbaur akrab dengan mereka semua, kecuali Faz tentu saja. Dengan jilbab yang terlalu lebar dan baju seragamnya yang dijahit menyatu antara atasan dan bawahan seperti daster itu membuat Irva enggan bahkan untuk sekedar melirik Faz.
Irva mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam dan memilih duduk di bangku luar kelas. Sambil menunggu ada teman lain yang datang, ia bermain gitar dan bersenandung lirih.
Jreng! Jreng!
Kuingin saat ini
Kau ada di sini
Tertawa bersamaku
Seperti, dulu lagi
Hooo...
Postut Faz berubah kaku dan tegak mendengar ada yang bermain gitar di luar kelasnya. Tanpa menoleh pun Faz sudah tahu siapa yang berada di luar itu. Irva. Dia adalah siswa di kelas ini yang hampir setiap hari tak pernah absen membawa gitar. Selain merupakan gitaris terbaik di sekolah, Irva juga seringkali memenangkan festival musik di luar seekolah dan membuat harum nama sekolah.
Faz mendesah pelan karena sudah bisa menduga alasan mengapa Irva tak langsung masuk ke dalam kelas untuk meletakkan tasnya di bangkunya. Sudah pasti itu karena dirinya. Memang, kebanyakan murid di sekolah ini menghindari dirinya seperti penyakit mematikan saja. Namun, dirinya tak merasa tersinggung sama sekali. Malah sebaliknya, memang Faz sendiri tak ingin terlalu dekat atau berteman dengan siapapun.
Faz menutup buku yang sedang ia baca kemudian beranjak dari bangkunya. Ia memutuskan untuk pergi ke toilet saja supaya Irva bisa masuk ke dalam kelas dan meletakkan barang-barangnya.
Melewati Irva yang duduk di bangku panjang depan kelas, Faz hanya membungkukkan badan sedikit saat lewat tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia tahu Irva tak akan pernah merasa nyaman berada di dekatnya, selain memiliki keyakinan yang berbeda, selama hampir satu tahun menjadi teman satu kelas, mereka memang tak pernah saling bertegur sapa seperti orang yang tidak saling mengenali. Ditambah gaya berpakaiannya yang merubah setelan seragam sekolahnya menjadi gamis membuat dirinya selalu dipandang kampungan dan kolot. Ia tak keberatan dengan itu semua karena bagi Faz, tak penting bagaimana penilaian manusia, yang terpenting adalah bagaimana dirinya menjalankan syari'at dengan sebaik-baiknya.
Toilet sekolah letaknya tak jauh dari kelas Bahasa, hanya melewati satu koridor pendek di samping kelas ke arah bagian paling belakang sekolah.
Faz menutup pintu toilet kemudian menyandarkan punggungnya di sana.
Dahinya berkerut memikirkan banyaknya beban pikiran yang harus ia tanggung tanpa bisa membaginya dengan siapa pun. Masalah orangtua, pekerjaan dan tunggakan biaya sekolah yang seharusnya menjadi tanggung jawab kedua orang tuanya.
Orang tua Faz sudah berpisah sejak ia masih kelas satu SD. Perpisahan tidak baik-baik yang masih menyisakan dendam di antara keduanya. Dendam yang pada akhirnya berdampak pada kehidupan Fazluna. Keduanya saling lempar tanggung jawab untuk mengurus dan membiayai Faz.
Awalnya, masing-masing masih pulang sekali atau dua kali dalam sebulan untuk menjenguk Faz dan meninggalkan uang. Namun, semakin lama keduanya semakin jarang pulang hingga sekarang tak pernah lagi ada yang datang. Mereka seolah lupa jika memiliki anak yang seharusnya masih menjadi beban tanggung jawabnya. Namun, sudah sejak lama Faz tak pernah lagi berharap orang tuanya akan pulang. Dia bekerja untuk membiayai sekolah dan memenuhi kebutuhan sehari-harinya sendiri.
Saat ini, masalah yang begitu memberatkan hati dan pikiran Faz adalah tunggakan SPPnya. Beberapa Minggu lagi sudah ujian akhir dan kelulusan, sudah pasti dirinya harus bisa melunasi semua tunggakan itu jika ingin mengikuti ujian akhir.
Faz mendesah dengan berat. Pikirannya buntu memikirkan cara untuk menghasilkan uang dengan cepat sampai akhirnya bel tanda masuk berbunyi, menyadarkan Faz dari lamunannya. Ia bergegas keluar dari dalam toilet dan berlari kecil kembali ke kelasnya.
***
Faz menunggu sekolah sudah sedikit sepi untuk mengetuk pintu ruang kepala sekolah. Hari ini, dirinya berniat menemui kepala sekolah untuk meminta keringanan biaya sekolah. Dia akan menjelaskan segala permasalahannya dan berharap sang kepala sekolah bersedia memberikan keringanan.
"Masuk."
Faz mengucap syukur saat mendengar jawaban dari dalam ruang kepala sekolah. Ia pun membuka pintu dan masuk ke dalam. Ruangan depan yang biasa digunakan untuk menerima tamu kepala sekolah kosong. Sepertinya sang kepala sekolah masih berada di kantor pribadinya yang terletak lebih di dalam --- di balik lemari besar setinggi dinding yang berisi beragam piala dan penghargaan dari murid-murid di sekolah ini.
Selama beberapa saat, Faz hanya berdiri diam di tengah ruangan, tak tahu harus berbuat apa. Jadi, ia memutuskan untuk menunggu saja sampai kepala sekolah keluar menemuinya.
"Siapa di sana?" Beberapa saat kemudian, Faz mendengar pertanyaan dari dalam.
"Saya Fazluna dari kelas Bahasa, Pak."
"Masuk sini. Ada keperluan apa?"
Faz ragu di tempatnya. Ia merasa kurang etis saja jika dirinya harus masuk ke kantor pribadi kepala sekolah padahal ada tempat yang sudah disediakan untuk menerima tamu. Tapi kemudian dirinya tertawa dalam hati, bisa jadi kepala sekolah sedang banyak pekerjaan sehingga dirinya yang diminta masuk ke dalam.
"Permisi, Pak." Faz berdiri tepat di depan pintu ruangan pribadi kepala sekolah.
Sang kepala sekolah mengangkat kepalanya -- yang semula sibuk menekuri berbagai laporan di meja -- untuk melihat Faz. "Masuklah." Senyumnya kebapakan membuat keraguan Faz sirna seketika. "Ada yang bisa dibantu?"
Dengan langkah pelan, Faz masuk ke dalam dan berhenti di tengan ruangan. Faz mengucapkan doa dalam hati memohon agar lisannya dilancarkan saat berbicara dan supaya kepala sekolah memberikan keringanan untuknya. Setelah menghirup napas panjang, Faz mulai menyampaikan maksud kedatangannya dan juga segala permasalahan yang sedang ia hadapi saat ini. Faz tidak meminta dibebaskan dari kewajibannya membayar uang sekolah, ia hanya meminta kelonggaran waktu untuk membayar.
Kepala Faz menunduk dalam tak berani menatap langsung ke arah kepala sekolah. Apalagi sang kepala sekolah hanya diam dan terus mengamati dirinya membuatnya merasa pesimis. Bagaimana jika permohonannya untuk meminta keringanan ditolak?
Fazluna mengangkat kepalanya sedikit hanya agar bisa mengintip ekspresi sang kepala sekolah. Ia kembali menunduk saat mengetahui kepala sekolah masih terus mengamati dirinya dari ujung kepala sampai ujung kaki, tapi tetap belum menjawab permohonannya.
Beberapa menit sudah berlalu. Faz mulai merasa risih dipandangi dengan sedemikian rupa oleh kepala sekolahnya. Dirinya merasa seolah-olah tengah ditelanjangi oleh tatapan yang terlalu menyelidik itu. Akhirnya, ia pun memutuskan untuk undur diri saja dan berusaha mencari cara lain untuk membayar uang sekolahnya.
Baru saja Faz hendak mohon diri, sang kepala sekolah mengakhiri pengamatannya akan diri Faz dan mulai berbicara dengan nada pelan dan intim yang membuat Faz merasa tidak nyaman.
"Hmm... Sebetulnya itu bukan masalah besar. Kamu hanya butuh sumber pemasukan lain supaya bisa memenuhi semua kebutuhanmu."
Faz menatap sang kepala sekolah sebentar kemudian kembali menundukkan kepalanya. "Saya sedang berusaha mencari pekerjaan yang lain juga, Pak."
"Sebenarnya...," kepala sekolah berbicara lambat dengan nada dipanjang-panjangkan, "kamu punya aset yang bisa menghasilkan banyak uang, kalau kamu tahu cara menjualnya."
Faz tak menjawab. Instingnya mengatakan bahwa dirinya harus segera mengakhiri pembicaraan ini dan segera pergi meninggalkan ruangan kepala sekolah. Apalagi sekolah sepertinya sudah semakin sepi dan itu bukan pertanda baik. Sebagai seorang muslim dirinya juga tahu bahwa tidak dianjurkan berada berdua saja dengan kawan jenis tanpa adanya pendamping. "Ehm, saya akan berusaha, Pak. Terima kasih atas waktunya, saya permisi dulu."
Fazluna menatap Pak Bram-sang kepala sekolah sebentar kemudian membalikkan badan untuk meninggalkan ruangan Pak Bram. Namun, belum juga langkahnya mencapai pintu ketika ia merasakan pergelangan tangannya ditarik dengan kuat membuatnya terkejut. Refleks ia pun menoleh dan melihat Pak Bram sudah berada di belakangnya dan menatapnya dengan tatapan berkabut yang membuat Faz merinding tak nyaman.
"Mau kemana? Kan masalahnya belum selesai?"
Faz menarik napas panjang kemudian menatap Pak Bram dengan wajah tenang, "saya harus bekerja, Pak."
"Saya punya penawaran yang lebih baik dengan gaji yang lebih besar."
"Bisa tolong lepaskan tangan saya, Pak?" Faz melirik pergelangan tangannya yang masih dipegangi oleh Pak Bram.
"Maaf," Pak Bram meminta maaf sambil melepaskan tangan Faz. "Dengarkan dulu penawaran yang bisa kamu terima dan kamu bisa bebas dari semua masalahmu."
"Maaf, Pak. Saya harus bekerja. In syaa Allah saya akan tetap melunasi tanggungan saya. Permisi."
Baru beberapa langkah Faz berjalan, langkahnya kembali terhenti saat Pak Bram dengan kurang ajar memeluk tubuhnya dari belakang. Tanpa berpikir panjang, ia pun berontak dan berusaha membebaskan diri dengan menyikut rusuk Pak Bram membuat kepala sekolahnya itu mengaduh dan melepaskan pelukannya.
Jantung Faz memburu dengan cepat. Ia takut sekaligus merasa terhina. Belum pernah dirinya mengalami pelecehan seperti ini. Matanya memanas dengan bulir-bulir air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Tak ada kata yang sanggup ia ucapkan, ia hanya mampu menatap Pak Bram dengan wajah marah.
"Maaf," Pak Bram berujar pelan. "Saya salah." Tatapannya tak pernah lepas dari wajah khas oriental Fazluna. Cantik, putih dengan mata sipit dan hidung mungil yang membuat Fazluna semakin terlihat imut.
"Dengarkan dulu penawaran saya," Pak Bram mencoba berbicara dengan tenang seolah tak terjadi apa-apa. Pandangannya turun ke arah d**a Faz yang tertutup jilbab. Meski tertutup jilbab lebar, tapi Pak Bram tetap bisa melihat ukurannya yang lumayan di baliknya. Itulah yang membuat akal sehat Pak Bram seolah tidak berfungsi. Apalagi selama usia pernikahan bersama istrinya, Pak Bram belum pernah mendapat hak-nya sebagai suami karena memang pernikahan itu terjadi atas perjodohan dr orang tua.
"Saya bisa membayar kamu dengan jumlah yang jauh lebih banyak dari gajimu sekarang, asalkan kamu bersedia menjadi simpanan saya."
Mata Faz terbelalak lebar. Ia sungguh tak menyangka Pak Bram menghinanya sampai serendah ini. Ia marah dan pastinya merasa harga dirinya telah diinjak-injak oleh tawaran itu. Tapi Faz tetap berusaha menjaga sikap mengingat lelaki yang berdiri menjulang di hadapannya ini adalah kepala sekolah di sini. "Maaf, Pak. Saya kira bapak sudah menikah."
"Memang." Pak Bram menjawab pelan."Tapi saya tidak bahagia dengan itu. Jadi, wajar kan kalau saya butuh seseorang yang bisa menghibur saya? Seharusnya kamu bangga, karena kamu berhasil menarik perhatian saya."
Faz berjengit jijik mendengar ucapan terakhir Pak Bram. "Maaf, mungkin Bapak bisa mencari orang lain. Saya permisi."
Belum sempat Faz melangkah, Pak Bram sudah maju menyerangnya. Ia tidak siap tentu saja. Apalagi saat jilbabnya ditarik paksa dari kepalanya. "Jangan, Pak."
Faz tak bisa menjerit untuk meminta tolong. Semua teriakan seakan berhenti di tenggorokan. Ia juga terlalu terkejut untuk bisa melawan. Bukannya berlari ke arah pintu, ia justru menghindar semakin ke dalam ruangan yang tentu saja sangat menguntungkan Pak Bram yang sepertinya sudah gelap mata.
Faz tak menyadari apa persisnya yang terjadi selama beberapa detik yang lalu, yang jelas saat ini dirinya sudah dibaringkan di lantai dengan tubuh Pak Bram menjulang di atasnya. Kedua tangannya ditahan di atas kepalanya oleh Pak Bram, tapi sekuat tenaga Faz berusaha melawan dan memberontak. Ia tak bisa berteriak karena sebelah Pak Bram membungkam mulutnya.
Faz menolak dan terus berpaling ketika wajah Pak Bram mendekati wajahnya hingga ciuman Pak Bram terus meleset dan hanya mengenai pelipis atau rambutnya. Kakinya terus menendang hingga mengenai meja kecil dengan vas bunga hias di atasnya. Meja itu terguling, pot di atasnya jatuh dan pecah dengan suara keras.
Irva sedang mengamati piala yang berhasil ia dapatkan dari festival solo guitar beberapa bulan lalu yang saat ini dipajang di lemari kaca di luar ruang kepala sekolah. Saat itulah, ia mendengar suara keras seperti sesuatu pecah dari dalam ruang kepala sekolah. Ia menamatkan pendengarannya sekali lagi, tapi sudah tak terdengar suara apapun.
Pintu ruang kepala sekolah terbuka, Irva mencoba mengintip ke dalamnya. Kosong. Ia pun masuk ke dalam dengan langkah pelan -- hanya untuk memastikan saja bahwa memang tak ada yang terjadi. Siapa tahu kepala sekolah membutuhkan bantuan?
Irva melangkah masuk sampai ke dalam dan mendapati pintu kantor pribadi kepala sekolah dalam keadaan tertutup. Ia mencoba membukanya, tapi terkunci. Kemudian ia mencoba mengetuk pelan pintunya seraya memanggil sang kepala sekolah. "Pak Bram?"
Tidak ada jawaban, tapi Irva yakin dirinya seperti mendengar sesuatu di dalam. Sekali lagi ia mengetuk pintunya dan memanggil kepala sekolahnya itu dan masih tetap tak ada jawaban. Irva mendekatkan telinga ke arah pintu untuk mendengarkan dan dirinya yakin di dalam ada orang.
Saat itu, Irva sama sekali tak memiliki pikiran buruk. Ia hanya khawatir terjadi sesuatu dengan kepala sekolahnya itu. Meski masih muda, siapa tahu sang kepala sekolah terkena serangan jantung atau sejenisnya. Ia pun meletakkan gitarnya di lantai dan mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu itu. Dirinya sama sekali tak berpikir untuk mencari bantuan karena memang kondisi sekolah sudah sepi dan mungkin saat bantuan datang, Pak Bram sudah tidak tertolong lagi. Jadi, Irva memutuskan untuk mendobrak pintu itu sendiri. Dengan bekal sabuk hitam taekwondo yang ia miliki, tentu bukan perkara sulit untuk menendang pintu itu hingga terbuka.
Brak
Pintu menjebak terbuka. Irva terkejut melihat apa yang ada di dalam. Ternyata bukan Pak Bram yang membutuhkan bantuan, tapi entah siapa yang berada di bawah kungkungan Pak Bram-lah yang membutuhkan pertolongan. Dari seragam yang dipakai gadis itu, Irva yakin dia siswi di sekolah ini, tapi Irva tak bisa melihat wajahnya dengan jelas hingga tak bisa mengenali siapa gadis yang telah dilecehkan oleh Pak Bram.
Pak Bram pun tak kalah terkejut saat melihat Irva berdiri di ambang pintu. Ia buru-buru menyingkir dari atas tubuh Faz yang kondisinya sudah berantakan dan merapikan bajunya. Ia menatap Irva dengan memasang wajah bingung sambil berbicara, "jangan salah paham. Semua tak seperti yang kau lihat."
Dahi Irva mengerut dalam melihat Faz masih berbaring di lantai dengan tatapan kosong ke depan. Awalnya ia tak mengenali gadis itu sebagai Fazluna karena ia belum pernah melihat wajah Faz dengan teliti apalagi tanpa mengenakan jilbab.
"Apa yang terjadi?" Irva bertanya pada Pak Bram yang sudah kembali duduk di bangkunya.
"Entahlah," Pak Bram mengangkat kedua bahunya dan menjawab acuh tak acuh. "Dia tiba-tiba saja masuk dan berteriak-teriak seperti orang gila. Aku hanya berusaha menenangkannya sebelum kamu datang."
Irva berlutut di samping Faz. "Kau tak apa-apa?" Ia mendongak menatap sang kepala sekolah, "lalu, harus bagaimana ini, Pak?"
"Telpon saja orang tuanya dan minta mereka untuk menjemput. Dia sudah gila! Jadi lebih baik dibawa saja ke psikiater."
Irva melihat sudut mata gadis itu mengeluarkan air mata. "Kau tak apa-apa? Ayo kubantu berdiri?" Ia mengulurkan tangan untuk membantu gadis itu berdiri. Saat itulah baru Irva sadar jika gadis itu adalah Fazluna teman sekelasnya, tapi apa yang terjadi padanya, kenapa gadis itu tidak memakai jilbabnya?
Hatinya berdesir melihat Faz menggigil dengan tubuh mengayun ke depan dan ke belakang tanpa sadar. Sekali lagi ia melirik sang kepala sekolah dengan curiga, ia yakin sekali bahwa kepala sekolahnya itu tidak berkata yang sejujurnya, tapi dirinya tak memiliki bukti apa pun. Jadi, akhirnya ia memutuskan untuk mengantarkan Faz pulang untuk pulang. "Saya antarkan saja dia pulang."
"Baguslah. Tolong sampaikan pada orang tuanya supaya membawa dia ke spesialis kejiwaan. Dia tiba-tiba saja menyerangku sambil berteriak seperti orang gila."
Irva mengangguk pelan. "Baik, nanti saya sampaikan."
Irva melepas jaket yang ia kenakan kemudian menyampirkannya ke tubuh Faz. Ia tak tahu dimana jilbab gadis itu, jadi ia tak yakin harus menutupi kepalanya dengan apa. Ia memegang kedua lengan Faz dan setengah mengangkat gadis agar berdiri kemudian membimbingnya keluar dari ruangan kepala sekolah.
Irva tak tahu bagaimana ceritanya Faz bisa sampai berada di ruang pribadi kepala sekolah, tapi dirinya yakin sekali bahwa apa yang disampaikan oleh kepala sekolahnya tadi tidaklah benar. Meski tidak pernah bicara atau sekedar menyapa Faz, tapi Irva tahu Fazluna tidaklah gila atau bahkan gadis temperamen yang mudah emosi. Di kelas, Faz selalu bersikap tenang dan pendiam. Berbicara seperlunya dan hanya menjawab ketika ditanya. Jadi, mana mungkin gadis ini tiba-tiba masuk ke ruang kepala sekolah dan mengamuk di sana.
Di dalam mobil, Faz masih diam dan shock. Beberapa kali Irva menanyakan alamat rumahnya, tapi ia seolah tak mendengar itu. Faz masih tetap memeluk tubuhnya sendiri dengan tatapan kosong ke depan. Hingga Irva pun akhirnya memutuskan untuk membawa Faz pulang ke rumahnya. Pilihan apalagi yang ia punya saat ini? Mungkin ketika Faz sudah sedikit lebih tenang dan bisa diajak bicara, gadis itu bisa mengatakan di mana tempat tinggalnya dan ia bisa mengantarnya pulang.
***