Rasa Aman

2681 Words
Irva membuka pintu kamarnya sedikit dan mengintip ke dalam. Faz masih tertidur lelap, jadi ia pun menutup kembali pintu kamarnya. "Belum bangun?" Irva menggeleng pelan kemudian duduk di samping mamanya sambil menyalakan televisi. "Apa teman-temanmu tidak ada yang tahu alamat rumahnya atau nomor telpon rumahnya?" "Nggak ada, Mama. Kan Irva sudah bilang berkali-kali?" "Iya, tapi Mama masih nggak habis pikir, masak sih enggak ada yang tahu sama sekali?" Irva hanya menggelengkan kepalanya dengan mata terus tertuju ke arah televisi, tapi pikirannya jelas tidak ke arah sana. Ia terus memikirkan Faz dan mencoba mengingat kembali interaksi gadis itu di kelas sepanjang pengetahuannya. Faz memang selalu diam di kelas, tidak memiliki teman dan selalu sendirian. Saat ada tugas kelompok pun, sepertinya Irva tak pernah ingat gadis itu ikut dalam kelompok mana pun dan lebih memilih mengerjakan bagiannya sendiri. "Mama cuma khawatir orang tuanya nyariin. Kasihan, kan?" "Terus mau gimana?" Irva menjawab sekenanya sambil terus mengganti saluran televisi tanpa tahu harus menonton apa. Ia melakukan itu hanya untuk mengalihkan gelisah di hatinya yang terusik oleh bayangan Faz di ruang kepala sekolah tadi. "Mama juga bingung." "Mending Mama tidur, dah malam juga ini. Biar Irva tidur di sini." Mama Irva menatap sang putra curiga. "Kamu tidur sama Papa aja deh, Mama tidur sama Cika." "Ihh, Mama apaan sih?" Irva menolak usul sang Mama. "Nanti, kalau dia bangun terus kebingungan, terus kabur gimana, kalau nggak ada yang jagain?" "Iya juga sih, tapi kan..." Irva berhenti mengganti-ganti saluran televisi dan menoleh ke arah sang mama yang masih menatapnya penuh curiga. "Yaelah... Pikiran Mama jelek banget sih sama anak sendiri? Dia habis dapat musibah, Mama pikir Irva mau macem-macem gitu sama dia?" "Hehehe..." Mama Irva tersenyum keki ketahuan berpikiran negatif. " Ya sudah, Mama percaya sama kamu. Jagain tuh anak orang, kamu juga ada adik perempuan." Irva melengos dan tak menjawab perkataan sang mama. Tapi terus terang saja, Faz memang menarik ketika tidak memakai jilbab. Kulitnya yang biasa tertutup daster dan jilbab lebar yang kampungan itu menutupi kulit Faz yang putih mulus. Belum lagi saat Faz memakai piyama Cika tadi, ukuran dadanya terlihat mencolok sekali. Plak! Irva menampar pikiran kotornya sendiri. Memangnya kenapa kalau ukuran itunya Faz besar? Enggak apa-apa kok! Irva berbicara pada dirinya sendiri. Yah, sebetulnya bukan tidak ada apa-apa. Bahkan sampai detik ini, Irva masih terganggu dengan bayangan seragam Faz yang terbuka beberapa kancing teratasnya. Siapa sangka dibalik jilbab itu terdapat sesuatu yang menganggu ketenangannya sampai detik ini. Irva mendengar pintu kamarnya dibuka. Ia buru-buru berdiri dan berlari kecil ke arah kamarnya yang ditempati oleh Faz. Ia melihat Faz berdiri kebingungan di sana. "Kamu sudah bangun?" "Hmm," jawab Faz pelan. Ia risih melihat Irva terus menatapnya dengan pandangan nenelisik. Apalagi saat ini dirinya tak mengenakan pakaian yang pantas, hanya piyama tidur sutra yang dipinjamkan oleh Cika -- adik Irva. Sepertinya Irva bisa memahami kegelisahan Faz. "Sorry, jilbab kamu nggak ikut kebawa tadi, mungkin ketinggalan di kantor kepsek." Mendengar kata kepsek, wajah Faz berubah pias. Ia menatap Irva dengan mata terbelalak lebar. "Jangan dipikirin, besok Mama janji mau carikan jilbab buat kamu. Tapi untuk malam ini, ya mau nggak mau kamu harus cukup puas dengan baju adek itu dulu." Faz mengangguk pelan. Meski dirinya tahu bahwa tak seharusnya bertemu dengan lawan jenis tanpa memakai kerudung, tapi mau bagaimana lagi, ia tak ada pilihan. Apalagi Irva adalah orang yang sudah menolongnya tadi. Ia sungguh tak bisa membayangkan apa yang akan menimpanya jika saja Irva tidak segera datang. "Hmm, makasih." Irva menggaruk pelipisnya yang sebenarnya tidak gatal. Ia bingung harus membicarakan apa dengan gadis yang pendiam seperti Faz. "Ehh, mau ikutan nonton TV? Sekalian aku ambilkan makan, kamu kan dari tadi belum makan?" Faz menatap Irva ragu. Menonton TV masih tak masalah baginya, tapi jika harus makan... Faz tak sampai hati jika mengatakan yang sebenarnya, jadi ia hanya berkata bahwa perutnya sedang tidak merasa lapar. Padahal, alasan sebenarnya karena ia tahu Irva bukan orang muslim, jadi ia khawatir makanan yang diberikan padanya tidaklah halal. "Halal, kok." Irva seolah bisa membaca pikiran Faz. "Aku beliin ayam krispi di ujung jalan sana. Lengkap sama nasinya dan masih ada dalam kotaknya." "Ehh, iya, makasih." Faz menjawab malu. Akhirnya, ia pun mengikuti Irva ke ruang keluarga yang terletak tepat di samping meja makan dan dapur. Faz duduk di sofa sementara Irva duduk di lantai menghadap televisi. Sekotak nasi plus ayam krispi sudah tersedia di meja. Sebelum makan, Faz menggelung rambutnya terlebih dahulu agar tidak menganggu saat makan. "Kamu nggak makan?" Faz ragu untuk mengambil makanan yang sudah disediakan oleh Irva karena merasa tak enak hati jika harus makan sendirian. "Udah, tadi. Makan aja, gapapa." Irva menjawab santai tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar televisi membuat Faz akhirnya merasa nyaman dan mengambil makanan itu. Sambil makan, ia mengamati Irva yang sedang fokus menonton pertandingan bola. Ia tak menyangka, bahwa saat ini dirinya bisa menginap di rumah cowok itu. Padahal selama hampir satu tahun menjadi teman satu kelas, mereka tak pernah saling bertegur sapa bahkan bersikap selayaknya orang yang tak saling kenal. Tapi sekarang, dirinya malah berduaan dengan cowok ini bahkan tanpa mengenakan hijab. Wajahnya memerah dan buru-buru tertunduk malu ketika Irva tiba-tiba saja menoleh dan memergoki dirinya sedang menatap cowok itu. "Kenapa?"Irva tersenyum geli melihat tingkah Faz. Lucu sekali melihat gadis itu malu-malu kucing. Selama beberapa saat, ia masih mengamati Faz yang salah tingkah kemudian tatapannya berhenti pada tengkuk Faz yang putih bersih dengan beberapa helai rambut yang lolos dari sanggulnya. Ia menelan ludah dengan susah payah. Ya Tuhan, kenapa melihat tengkuk saja rasanya jadi panas dingin begini ya? batin Irva. Tak ingin terjadi hal-hal yang diinginkan, Irva pun buru-buru mengalihkan perhatiannya dari pemandangan leher belakang Faz dan kembali menonton pertandingan bola. Tiba-tiba saja jantung rasanya berhenti berdetak dan atmosfir di dalam ruangan itu berubah menjadi panas meski AC menyala di suhu terendah. "Ehmm ehem," Irva memutus kecanggungan di antara merek. "Ngomong-ngomong, sorry banget tadi aku bawa kamu pulang ke sini. Aku udah coba tanya sana sini, tapi nggak ada yang tahu rumahmu atau bahkan nomor telepon orang tuamu." "Gapapa, kok." "Kalau kamu mau kasih kabar ibumu, ini pake ponselku." Irva melemparkan ponselnya ke atas meja. "Siapa tahu mereka khawatir." Fazluna berhenti mengunyah makanannya. Kata-kata Irva sukses membuat selera makannya hilang. Orang tuanya khawatir? Itu hanya akan terjadi dalam mimpi saja. Saat ini, mereka sedang mencari kebahagiaannya masing-masing tanpa peduli bahwa mereka masih memiliki seorang putri yang seharusnya menjadi tanggung jawab mereka. Faz terus melamun memikirkan ketiga orang tuanya tanpa menyadari bahwa Irva terus mengamati dirinya. "Nggak enak ayamnya?" "Enak, kok." Faz gelagapan. "Kok nggak dimakan, malah ngelamun." "Kenyang." "Kenyang?" Irva mencondongkan tubuhnya ke arah Faz membuat gadis itu terkejut dan refleks bergerak mundur, tapi ia hanya ingin melihat makanan Faz di dalam kotak. "Yaelah, masih banyak tuh nasi ma ayamnya." "Iya, tapi udah kenyang, kok. Besok aja aku makan lagi." "Mana enak dimakan besok. Sini, aku habisin. Sayang amat dibuang." "Ehh, tapi ini bekas aku... Nggak usah deh, mend..." Kotak berisi ayam krispi lengkap dengan nasi dan sausnya itu pun sudah berpindah tangan bahkan sebelum Faz selesai bicara. Ia terkejut melihat Irva sudah lahap memakan bekas makanannya tanpa terlihat jijik sedikit pun. Setelah cuci tangan, Faz kembali duduk di sofa sambil melihat Irva yang juga sudah selesai makan dan kembali menonton acara pertandingan bola. Mereka berdua sama-sama diam, tak tahu harus mengobrolkan apa. "Hmm," Irva akhirnya mencoba membuka pembicaraan yang canggung. "Boleh tahu nggak, ngapain sih kamu tadi di ruang Pak Bram?" Tubuh Faz mengejang begitu nama itu disebut. Sejujurnya, ia berharap Irva tidak mengungkitnya, tapi saat melihat ekspresi wajah Irva yang penasaran sekaligus tulus, ia pun akhirnya menjelaskan alasannya datang ke kantor Pak Bram. Bagaimanapun juga, Irva yang sudah menggagalkan upaya Pak Bram untuk melakukan tindakan tak termaafkan padanya. Jadi, sudah sewajarnya Irva tahu apa yang sebenarnya terjadi. "Dasar b******n tengik!" Irva mengumpat begitu Faz selesai bercerita. "Nah, sepertinya keputusanmu memakai jilbab -- terlepas itu ajaran agamamu atau apalah... Menurutku itu sangat tepat, mengingat bencana apa saja yang mungkin kau timbulkan jika kau tidak memakainya." Faz menaikkan kedua alisnya heran mendengar ucapan Irva. Ia tahu Irva memiliki keyakinan yang berbeda dengannya dan lagi selama ini dirinya dianggap oleh sebagian murid di sekolah sebagai orang aneh yang kampungan dan kolot karena cara berpakaiannya. "Kau sumber bencana." Tatapan Irva turun ke d**a Faz sebentar kemudian buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah lain sebelum akal sehatnya ikut mati seperti Pak Bram. "Aku tak mengerti." "Memang. Ini antara kami saja kaum lelaki." Irva nyengir lebar ke arah Faz. Cengiran bersahabat yang pada akhirnya mau tak mau membuat Faz itu tersenyum -- senyum yang sekali lagi membuat jantung Irva berhenti berdetak selama beberapa saat. *** Keesokan paginya, Faz sudah bangun lebih pagi untuk membantu kesibukan Mama Irva di dapur. Sebetulnya bukan bangun lebih awal, tapi karena semalaman dirinya tak bisa tidur nyenyak. Jadi, saat adzan subuh berkumandang, Fazluna memutuskan untuk bangun dan menunaikan kewajiban sholat subuh. Karena kondisi yang terbatas, Faz hanya memiliki selimut yang bisa ia gunakan untuk menutup aurat saat melakukan sholat. Ia mengadukan segala permasalahannya pada sang pencipta sambil menahan isak tangis. Faz tak mau Irva atau keluarganya terganggu dengan suara tangisnya. Setelah merasa cukup lega, Faz pun keluar kamar dan langsung menuju dapur dimana Mama Irva sudah mulai sibuk di sana. "Pagi, Tante." Faz menyapa Mama Irva yang tak menyadari kehadirannya. Sudut matanya menangkap bayangan tubuh Irva yang masih bergelung di sofa dengan mata terpejam. "Pagi." Mama Irva menoleh menampilkan senyumnya yang ramah. "Nyenyak tidurnya?" Faz tersenyum malu dan mengangguk. "Ada yang bisa Faz bantu?" "Nggak usah, kamu duduk saja di situ. Biar Mama saja yang masak." "Ehm, maaf ya Tante, kalau Faz sudah merepotkan di sini." Faz merasa tak enak hati. Apalagi sambutan keluarga Irva semuanya baik meski dirinya berbeda keyakinan dengan mereka. Adik Irva dengan senang hati meminjamkan bajunya, Papa Irva bahkan sampai berniat melaporkan tindakan kepsek ke polisi, sementara Mama Irva yang kemarin menghibur dan memeluknya selayaknya putri kandung sendiri. Faz merasa begitu nyaman dengan keluarga ini. "Enggak kok, Sayang." Mama Irva tersenyum penuh pengertian. "Hmm, begini saja... Kamu bangunkan Irva dulu dan suruh dia cepetan mandi. Anak itu kalau sudah tidur, kayak kebo, sulit sekali dibangunkan." Faz tertawa mendengar ucapan Mama Irva. "Hmm, kalau gitu Faz coba bangunin deh." Faz berlutut di samping sofa tempat Irva tidur dengan posisi tengkurap. Wajah Irva miring ke samping tepat menghadap ke arahnya. Ia pun menoel pelan pundak Irva. "Irva, bangun." "Kalau cuma begitu, dia nggak akan bangun." Mama Irva berteriak dari dapur. "Tarik aja bulu matanya, baru bisa melek dia." Faz tersenyum sendiri mendengar teriakan mama Irva. Apa iya kalau bangunin Irva harus narik bulu matanya dulu? Tangannya terulur mendekati wajah Irva untuk menarik bulu mata cowok itu, tapi sebelum sempat tangannya menyentuhnya, tangannya terhenti di udara dan tatapannya terpaku pada buku mata Irva yang panjang dan lentik. Berbeda sekali dengan matanya yang sipit dengan bulu mata tipis pendek nyaris gundul. Untuk sesaat, Faz menahan napas tanpa sadar. Entah apa yang terjadi, tiba-tiba saja waktu terasa berhenti berputar. Ia terpukau menatap wajah Irva terlihat seperti bayi saat terlelap membuat Faz ingin sekali megusap lembut pipinya. Sementara tangannya masih menggantung di udara, teriakan mama Irva dari dapur kembali terdengar. Kali ini, mama Irva menyarankan untuk mengambil air di gayung dan menyiram wajah Irva dengan air tersebut. Mendengar suara lantang sang mama membuat Irva akhirnya terjaga. Selama beberapa saat, baik Irva maupun Faz hanya saling pandang dalam diam dan bingung. Faz panik karena tiba-tiba saja mata Irva terbuka dan langsung menatap ke arahnya, sementara Irva pun bingung melihat wajah Faz berada begitu dekat di hadapannya. Pikirannya masih bekerja untuk mengingat alasan mengapa gadis itu bisa sampai berada di sini. Irva langsung nyengir ke arah Faz dan menangkap tangan gadis itu yang masih terulur ke arahnya begitu ingat jika semalam memang Fazluna menginap di rumahnya. Seketika ia duduk dan berpura-pura menatap Faz curiga. "Mau ngapain, hayo?" "Eng-nggak ngapa-ngapain kok." Faz menjawab gugup. Aliran listrik mengalir di sekujur tubuhnya saat Irva menahan tangannya dan menggenggamnya dengan erat tapi lembut. Ia hanya bisa terpaku tanpa tahu harus bereaksi bagaimana. Rasa ini, semua sangat baru baginya. Faz tahu, bersentuhan dengan lawan jenis itu salah dan terlarang dalam keyakinannya, tapi sungguh saat ini dirinya tak kuasa menolak. Getar-getar halus di hatinya terasa begitu menggelitik dan menyenangkan membuat Faz tergoda untuk melalaikan semua aturan. Beruntung Mama Irva segera datang menghampiri, membuat kesadaran Faz kembali dan ia langsung menarik tangannya dari genggaman Irva. Ia berdiri dengan gugup kemudian pergi ke meja makan tanpa tahu apa yang akan ia lakukan. Dirinya hanya butuh menjauh sesegera mungkin dari Irva. Ya Allah... Ampuni segala kekhilafan ini, batin Faz. Setengah jam kemudian, seluruh anggota keluarga Irva ditambah Faz sudah berkumpul di meja makan. Papa Irva siap berangkat kerja selepas sarapan, adik Irva yang bersekolah di SMA yang berbeda dengan Irva juga akan berangkat bersama papa Irva. Selepas mengantar suami dan putrinya ke depan, Mama Irva kembali ke meja makan. "Tadi Mama sudah siapkan jilbab buat Faz. Maaf, itu bukan jilbab, hanya sisa kain seragam Cika dulu, tapi bisalah dijadikan jilbab." "Ehm, makasih, Tante. Sekali lagi, Faz mohon maaf sudah banyak merepotkan." Mama Irva tersenyun dengan sikap keibuan. Tangannya membelai puncak kepala Faz dengan lembut. "Enggak repot, kok." Irva yang sudah menghabiskan makanan di piringnya mendongak menatap Faz, "ini nanti, aku antar kamu pulang dulu atau langsung ke sekolah aja? Saranku sih, langsung aja ke sekolah, pelajaran hari ini dan kemarin juga sama kan?" "Sekolah?" Faz mengerutkan dahi dengan ekspresi takut. "Aku pikir, sebaiknya aku nggak usah kembali sekolah." "Apa?!" Irva terkejut mendengar jawaban Faz. "Kau gila ya? Bentar lagi kelulusan." Mama Irva seakan bisa memahami pikiran Faz. Ia mendelik ke arah Irva kemudian tersenyum menenangkan ke arah Faz. "Sayang, jangan jadikan kejadian kemarin sebagai halangan buat kamu terus melangkah ke depan." Faz diam. Pertimbangannya untuk tidak melanjutkan sekolah bukan hanya karena kejadian buruk yang ia alami di ruang kepsek kemarin, tapi saat ini dirinya sudah lelah dan ingin menyerah dan mulai menjalani hidup dengan apa adanya saja. Ia akan melupakan semua mimpinya untuk sukses dan mendapatkan kehidupan yang lebih baik karena ternyata itu tak mudah. "Tinggal dua atau tiga bulan lagi ujian kelulusan." Irva menatap tajam Faz. "Jangan hanya karena b******n itu, kau mengorbankan masa depanmu!" "Tapi..." "Apa yang dibilang Irva itu bener. Jangan sampai, kamu menghancurkan masa depanmu sendiri untuk menghindari orang seperti itu." Faz menatap bergantian Irva dan mamanya. Tiba-tiba saja tubuhnya menggigil mengingat apa yabg hampir saja menimpanya kemarin. Jika saat itu Irva tidak muncul, entah apa yang akan terjadi padanya. Bagaimana jika kepala sekolah kembali mendesaknya dengan hal yang sama jika ia belum juga bisa melunasi biaya sekolahnya? "Tapi," Faz berucap lirih. Suaranya serak menahan tangis. "Bagaimana jika terulang lagi?" "Itu mudah, Sayang." Mama Irva meraih tangan Faz dan mengusapnya dengan lembut mencoba memberi ketenangan. "Usahakan kamu tidak pernah sendirian dan selalu ada teman yang mendampingi di manapun." Ekspresi Faz begitu sedih saat menatap Mama Irva. Ia hendak berkata bahwa dirinya tak memiliki teman satu pun di sekolah, tapi bukankah itu terdengar terlalu aneh. Irva yang tahu bagaimana keseharian Faz di sekolah, merasa prihatin melihat kesedihan di wajah Faz. Huh! Bukan sifatnya untuk terlalu peduli dan terlalu ikut campur urusan orang lain, tapi sesuatu pada Faz seperti membangkitkan sisi posesif dalam dirinya. Kerapuhan Faz membuat Irva ingin sekali menjadi tameng gadis itu dari segala bencana dan kesedihan. "Nanti aku temenin deh, kemana-mana aku antar. Ke toilet sekali pun." Faz terkejut dan menggeleng beberapa kali. "Nggak usah. Itu akan sangat merepotkan." Irva melambaikan tangan cuek. "Jangan khawatir. Kalau aku bosan, aku akan mengundurkan diri," ujarnya seraya tersenyum lebar dengan ekspresi jahil. "Gimana?" Mau tak mau Faz akhirnya tersenyum juga. Kepalanya mengangguk samar karena tak ingin membuat Irva kecewa. Entahlah, mengapa dirinya merasa begitu nyaman dan percaya pada Irva. Mungkin ini efek dari pertolongan Irva yang tak akan pernah bisa ia lupakan seumur hidupnya atau mungkin karena memang sikap Irva yang santai dan cerita itu mudah sekali menularkan aura positif pada orang-orang yang berada di sekitarnya. Yang jelas, saat ini dirinya merasa aman karena mengetahui ada Irva yang akan menjaganya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD