Fazluna berhenti melangkah saat berada tepat di depan lobi sekolah. Ia ragu. Apakah keputusannya ini sudah tepat? Jika dirinya melangkahkan kakinya kembali ke dalam sekolah, dirinya harus siap untuk kembali didatangi oleh petugas Tata Usaha untuk urusan tunggakan sekolahnya. Ia yakin sekali, jika urusan pembayaran itu belum juga ia selesaikan, maka terpaksa dirinya harus menghadap kepala sekolah sekali lagi. Padahal itu adalah hal yang ingin ia hindari untuk saat ini.
Kejadian kemarin siang di kantor kepsek cukup membuatnya terguncang dan merasa tak lagi berharga. Hal itu juga yang akhirnya membuat pikirannya berubah, tak lagi optimis seperti sebelumnya. Sekali miskin ya tetap miskin. Kesuksesan dan keberhasilan memang layak didapatkan oleh mereka yang berusaha dan bekerja keras, tapi tetap saja ada hal-hal yang juga mendukung kesuksesan itu yang ia tak punya.
Jika bukan karena Irva dan keluarganya yang terus memberi semangat dan memberi dukungan agar dirinya bisa terus bersekolah, mungkin saat dirinya lebih memilih meringkuk di dalam kamarnya sambil terus menangis dan menyesali nasib. Sungguh, dirinya tak sanggup lagi terus berjuang seorang diri.
Sentuhan di sikunya menyadarkan Faz dari lamunan. Ia menoleh dan melihat Irva tersenyum menyemangati dirinya.
"Ayok." Irva sedikit menarik lengan Faz dan menyeret gadis itu memasuki lobi sekolah. "Biasa aja, nggak usah takut." Irva melangkah dengan Tegal dan percaya diri sementara Faz tersaruk-saruk sedikit di belakangnya.
Beberapa mata memerhatikan dengan tatapan heran sekaligus tak suka. Meski Irva bukanlah cowok paling tampan dan tajir di sekolah, tapi tetap saja dia diidolakan banyak cewek karena kemampuannya bermain gitar dan bernyanyi dengan suara yang merdu membuat siapa pun yang mendengarnya meleleh. Sementara Faz, dia dianggap sebagai cewek paling aneh dan kolot di sekolah dengan pakaiannya yang menurut mereka kampungan. Sekarang, keduanya terlihat jalan berdua sambil bergandengan tangan.
Faz sedikit mendongak untuk melihat reaksi Irva, tapi cowok itu terlihat biasa-biasa saja tak mempedulikan tatapan orang-orang di sekitarnya. Tangannya masih tetap memegang siku Faz, memastikan bahwa gadis itu tidak takut untuk masuk sekolah. Sesekali, Irva berhenti untuk menyapa teman atau kenalan yang berpapasan dengannya, tapi masih tetap dengan memegang siku Faz membuat teman-temannya bertanya-tanya dalam hati ada apa gerangan antara dirinya dan Faz.
Sampai di kelas, barulah Irva melepas pegangannya di lengan Faz. Gadis itu mengucapkan terima kasih padanya sambil menundukkan kepala malu membuatnya tergelak dengan keras. "Kau lucu sekali saat malu-malu begitu."
Kelas bahasa masih sepi. Hanya Irva dan Fazluna yang sudah tiba. Irva memberi isyarat dengan mata agar Faz mau duduk di bangku panjang yang ada di depan kelas bersamanya.
Ia membawa gitarnya seperti biasa dan mulai memainkan beberapa lagu sambil bersenandung pelan.
"Kau mau lagu apa?" Irva bertanya sambil tersenyum miring ke arah Faz.
"Eh?" Faz menatap Irva bingung. Ia tak terlalu mengerti musik dan jarang mendengarkan musik. Jadi dirinya tak tahu judul dan lagu yang sedang trending saat ini. "Terserah saja, aku tak tahu apa-apa soal musik," jawabnya sambil tersenyum malu.
Lagi-lagi Irva terbahak sebelum akhirnya menjawab, "baiklah... Lagu terserah saja." Ia memetik gitarnya dan menyanyikan sebuah lagi untuk Faz.
Akhirnya... Ku menemukanmu
Saat hati ini mulai merapuh
Ku berharap... Engkaulah...
Jawaban segala risau hatiku
Dan biarkan...
Diriku mencintaimu hingga ujung usiaku
Jika nanti ku sanding dirimu
Miliki aku dengan segala kelemahan-ku
Dan bila nanti engkau di sampingku
Jangan pernah letih
Tuk mencintaiku
Faz duduk diam memperhatikan Irva bernyanyi sambil bermain gitar. Getar-getar halus ia rasakan di hati saat mendengar suara merdu Irva begitu pula dengan lirik yang entah mengapa seolah merasuk ke dalam jiwanya. Apalagi, saat Irva bernyanyi sambil terus menatap ke arahnya membuat dirinya setengah berharap bahwa lirik itu memang dinyanyikan khusus untuknya. Ya Tuhan, apa yang kupikirkan?
Faz dilanda kegelisahan saat menyadari bahwa sekali lagi dirinya melakukan kesalahan dengan membiarkan dirinya berduaan saja bersama Irva, saling berpandangan dan tidak mencoba melawan atau menghindar.
Irva tersenyum. Senyum yang sukses membuat jantung Faz berlompatan. Ia melanjutkan dengan lagu kedua setelah lagu pertama selesai ia nyanyikan. Kali ini, Irva sama sekali tak mengalihkan pandangannya dari wajah Faz yang ternyata begitu cantik. Bodohnya ia karena tak pernah menyadari ini sebelumnya.
Sejak jumpa kita pertama
Ku langsung jatuh cinta
Walau ku tahu kau ada pemiliknya
Tapi ku tak dapat membohongi hati nurani
Ku tak dapat menghindari gejolak cinta ini
Maka izinkanlah aku mencintaimu
Atau bolehkanlah ku sekedar
Sayang padamu
Memang serba salah rasanya
Tertusuk panah cinta
Apalagi ku juga ada pemiliknya
Tapi ku tak dapat menghindari
Gejolak cinta ini
Faz tersipu, tapi ia tak bisa mengalihkan pandangannya dari Irva yang juga terus memandangnya, membuat jantungnya seakan ingin melompat dari tempatnya. Bahkan ketika akhirnya lagu yang Irva mainkan berhenti, tatapan mereka masih tetap terkunci satu sama lain hingga sebuah suara membuyarkan itu semua.
"Busyeeeet... Apa pula yang terjadi di sini?"
Salah seorang teman sekelas mereka, Igor datang. Dia berlari menaiki beberapa undakan yang menuju ke kelas mereka dengan cepat. "Kalian pacaraaaan?" Teriak Igor lantang membuat beberapa siswa yang lewat menoleh. "Ketahuan ya sekarang?"
Irva meletakkan gitarnya kemudian buru-buru berdiri dan membungkam mulut ember si Igor. "Heh, Curut, ngomongnya jangan ngawur ya?"
Igor berontak untuk membebaskan diri. Matanya menyipit menatap bergantian Irva dan Fazluna kemudian menggelengkan kepala beberapa kali seakan tak mempercayai penglihatannya sendiri. "Jadi, ini alasan kalian berdua selalu datang lebih awal ke sekolah? Kalian pacaran diam-diam? Beda agama? Ohh my goshhhh..."
Faz menggeleng lemah. "Enggak kok," jawabnya lirih. Matanya melirik Irva berharap Irva mau menjelaskan kesalah pahaman yang ada. Namun, belum sempat Irva menjelaskan, beberapa teman sekelas mereka yang lain pun mulai berdatangan dan melihat kehebohan yang ada.
Igor senang menjadi pusat perhatian. Dirinya merasa penting karena saat ini semua teman-teman di kelas bahasa mulai merongrong dirinya untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi. Dengan bahasa yang hiperbola, Igor menjelaskan bagaimana saat dirinya memergoki Irva dan Faz sedang berduaan, saling berpandangan seakan dunia milik berdua. Bahkan, dirinya sampai berani bersumpah melihat Irva hampir mencium Faz jika saja saat itu dirinya tidak datang. Yang terakhir itu tentu saja sangat melebih-lebihkan.
Irva bersandar dengan santai di dinding kelas sambil mendengarkan Igor nyerocos seperti beo. Tak ada gunanya membantah, karena itu akan semakin membuat Igor bersemangat untuk menyelidiki, membuntuti dirinya dan Faz, mencari skandal mereka untuk kemudian dijadikan berita. Itulah mengapa Igor mendapat julukan wartawan gosip di sekolah.
Irva melirik Faz yang hanya bisa duduk diam sambil meremas kedua tangan di pangkuan. Nyata sekali gadis itu merasa tak nyaman dengan gosip yang ada mengingat gadis itu biasanya selalu menghindari keramaian dan perhatian.
"Nyerocooos teruuusss! Nggak takut kena adzab apa?" Irva menjitak kepala Igor sebelum menghampiri Faz. Ia setengah memaksa untuk menarik tangan Faz agar gadis itu mau mengikutinya pergi meninggalkan kelas. Tentu saja hal itu membuat semua yang ada di sana semakin heboh.
"Nah... Nah... Tuh, liat sendiri kan?"
"Iya nih."
"Faz kan muslim? Kok Irva mau sih?" yang lain menimpali.
Mendengar ucapan teman-teman sekelasnya, Irva mempercepat langkahnya membuat Faz harus setengah berlari untuk mengimbanginya. Ia baru menghentikan langkah saat sudah sampai tepi lapangan basket.
Ia duduk bawah ring kemudian menunjuk tempat di sebelahnya. Saat Faz sudah duduk di sebelahnya, tidak terlalu dekat, Irva menoleh dan menatap Faz dengan ekspresi tenang dan santai. "Aku tahu mereka membuatmu tak nyaman, tapi demi dirimu sendiri, sebaiknya kita meluruskan beberapa hal."
"Apa itu?"
"Kau keberatan tidak, jika membiarkan saja mereka mengira bahwa kita pacaran?"
Mata Faz membuka lebar, cukup terkejut dengan ucapan Irva. "Tapi..."
"Percayalah, itu jauh lebih mudah jika berurusan dengan Igor. Kau tak akan bisa tenang sebelum dia berhasil memergoki kita berdua membuat skandal. Ohh, dia bisa menciptakan skandal itu sendiri tentu saja."
"Aku tak mengerti, kenapa harus?"
"Jika sementara ini kita akan selalu terlihat bersama, kurasa biarkan saja mereka mengira begitu. Tapi tenang saja, yang terpenting kita berdua tahu hubungan kita tak lebih dari teman."
"Teman?"
Irva mengerutkan dahi saat menatap Faz, "apa di agamamu juga melarang untuk berteman denganku?"
"Tidak. Tentu saja tidak seperti itu. Tapi..." Faz menatap Irva bingung. "Aku hanya tak mengira kamu mau jadi temanku."
Irva mengangkat kedua bahunya sambil nyengir lebar. "Oke. Deal... Kita sekarang ketahuan pacaran."
Faz masih diam karena ada hal yang begitu menganggu pikirannya. Bukan soal gosip itu. Toh, dirinya sudah terbiasa menjadi bahan omongan orang. Ini soal Irva. Ia merasa tak enak hati untuk membiarkan Irva terus terlibat dalam masalahnya.
"Kenapa kamu melakukan ini?"
"Kan sudah kubilang tadi, lebih mudah seperti ini jika berurusan dengan Igor."
"Bukan itu. Maksudku, kamu tak harus merasa perlu repot begini hanya karena aku. Aku akan bisa mengatasi ini nanti."
Irva tak langsung menjawab. Selama beberapa saat ia mengamati Faz dengan ekspresi yang sulit diartikan. Ia sendiri tak tahu mengapa dirinya mau direpotkan dengan masalah orang lain, apalagi ini Faz, gadis yang terkenal aneh di sekolah. Tapi, apakah bisa jika dirinya membiarkan Faz menanggungnya sendiri?
Mata Faz yang sayu, wajahnya yang selalu terlihat mendung serta suaranya yang serak-serak rapuh membuatnya tak bisa membiarkan gadis itu menderita sendiri. Tapi apa alasannya dirinya melakukan itu, ia sendiri tak tahu.
"Aku tak tahu. Aku hanya merasa harus melakukannya saja." Irva akhirnya menjawab sambil mengangkat kedua bahunya berusaha bersikap cuek. "Dan aku sama sekali tak merasa terpaksa melakukan ini, oke?" Ia menambahkan sebelum Faz sempat protes.
Faz kehilangan kata-kata. Ia bisa melihat ketulusan itu di mata Irva yang jernih dan dalam saat menatapnya. Kehangatan yang menenangkan membanjiri seluruh tubuhnya. Belum pernah ada yang peduli padanya sampai seperti ini. "Makasih." Akhirnya hanya itu yang bisa Faz ucapkan.
"Masama." Irva tersenyum miring. "Oya, singkatan nama depanmu siapa sih? Kenapa hanya ditulis MC Fazluna? Semua pada penasaran."
Faz tersenyum malu. "Maria Christiana Fazluna."
"Sumpah lo, demi apa?" Irva terkejut mendengar nama lengkap Faz yang memang hanya selalu disingkat MC saja, baik itu di buku, di daftar absen dan di dokumen apapun. Nama itu bukan nama yang umum dimiliki oleh orang muslim. "Maria Christiana... Fazluna..."
"Ayah biologisku bukan muslim dan dia yang memberi nama itu, sementara Fazluna itu nama dari ibu."
"Ayah biologis? Memangnya kau punya berapa ayah?"
Faz mendesah pelan dengan tatapan nanar ke depan. Ia tahu, seharusnya dirinya tak menyinggung masalah ini pada siapa pun, karena bisa dibilang ini adalah aib keluarganya, aib kedua orang tuanya termasuk aibnya sendiri. Namun, entah mengapa meski baru sebentar mengenal Irva, ia merasa bahwa dirinya bisa mengatakan apa pun pada Irva tanpa merasa takut dihakimi atau dibenci. Jadi, akhirnya ia pun menceritakan masalah keluarganya pada Irva.
Irva mengamati wajah sendu Faz. Seperti yang ia perkirakan sebelumnya, Faz menyimpan banyak misteri dan permasalahan dalam hidupnya. Pernikahan kedua orangtuanya -- hasil perjodohan -- ternyata tak terlalu membahagiakan keduanya hingga ibu Faz memilih berselingkuh dengan pria lain. Faz adalah anak hasil dari perselingkuhan itu. Jadi, Faz memiliki dua ayah, yang satu adalah ayah biologisnya sementara yang satu lagi adalah ayah yang tercatat di akta kelahirannya.
Saat ini, ayah dan ibu Faz sudah berpisah. Semua memutuskan untuk mencari kebahagiaan sendiri-sendiri meninggalkan Faz di rumah dan jarang sekali pulang. Bahkan terkadang sampai hitungan bulan, baik ayah ataupun ibunya tak ada yang pulang ke rumah meski hanya untuk sekedar menengok keadaan Faz. Awalnya, Faz masih berharap, tapi sekarang gadis itu sudah menyerah dan memilih menerima kenyataan bahwa dirinya tak diinginkan dan harus bisa survive sendiri.
Faz harus mencari kerja demi memenuhi segala kebutuhan hidupnya termasuk biaya sekolahnya. Faz bekerja di sebuah rental komputer setiap pulang sekolah sampai malam setiap hari kecuali Minggu, ia libur. Dalam perjalanan pulang, Faz masih harus mampir ke beberapa toko untuk mengambil tempat kue yang ia titipkan pagi harinya. Kue itu buatan tetangganya, Faz hanya membantu menitipkan ke beberapa warung dan toko sekalian berangkat sekolah dengan imbalan sesuai jumlah kue yang berhasil terjual hari itu. Terkadang, ketika kuenya tak banyak yang laku, Faz hanya menerima imbalan berupa kue itu sendiri untuk mengganjal perut yang seharian kadang belum terisi makanan.
Irva akhirnya paham mengapa Faz jarang bisa berkumpul bersama teman-temannya selama ini. Semua karena keterbatasan waktu dan juga uang yang dimiliki gadis itu. Sama sekali tak ada kesempatan bagi gadis itu untuk bersenang-senang sedikit saja. Fakta itu, entah mengapa membuat Irva marah. Ia merasa bahwa seharusnya Faz masih menjadi tanggung jawab kedua orang tuanya, bukan malah menderita sendiri seperti saat ini. Tanpa sadar kedua tangannya sudah mengepal erat ingin sekali memukul sesuatu atau bahkan seseorang yang sangat layak untuk menerimanya.
"Nanti pulang sekolah, kau kerja?"
Faz mengangguk kemudian mendesah pelan untuk mengusir beban berat yang seakan berkumpul di dadanya. "Semoga Pak Burhan dan Bu Ayu, pemilik rental tidak marah karena kemarin aku tidak masuk tanpa ada keterangan."
"Aku antar ya? Nanti aku bantu menjelaskan.
"Nggak usah, nanti ngerepotin."
"Dibahas nanti aja, ayo masuk. Sudah bel." Irva mengalihkan perhatian Faz dari penolakan dan kebetulan saat itu bel masuk berbunyi.
Berdua mereka berjalan beriringan kembali ke kelas. Faz duduk bangkunya seperti biasa di depan tepat berhadapan dengan papan tulis, sementara Irva di bangku paling pojok belakang. Meski begitu, pandangan Irva tak pernah lepas dari tempat Faz duduk. Entah untuk alasan yang tak masuk akal apa, Irva berpikir bahwa dirinya harus mengawasi gadis itu setiap waktu seolah-olah bahaya bisa mendatanginya kapan saja dan hal itu terbukti saat ada petugas dari bagian Tata Usaha datang untuk memanggil Faz. Gadis itu diminta menemui kepala sekolah sekarang juga.
Seketika Faz menoleh ke belakang, matanya membulat lebar saat menatap Irva dengan ekspresi ketakutan. Namun, saat Irva mengangguk samar untuk menenangkan dan memberi isyarat agar dirinya mengikuti petugas Tata Usaha itu, ia tak punya pilihan lain lagi. Dirinya tahu, tak mungkin Irva tiba-tiba memaksa ikut menemui kepala sekolah, karena pastinya itu akan memberikan masalah pada Irva. Jadi, dengan mengumpulkan keberanian, Faz bangkit dari kursinya mengikuti petugas itu keluar dari kelas.
Irva tahu, Faz sedang gemetar ketakutan. Ia yakin seratus persen jika kepsek b******n itu tak akan berani berbuat yang aneh-aneh saat ini, tapi siapa yang tahu? Jadi, memang sebaiknya dirinya segera menyusul Faz.
Irva melihat guru Sastra dan Kebudayaan Indonesia tengah menulis di papan, ia pun menghampiri sang guru dan memohon ijin untuk pergi ke toilet. Namun, ia tidak ke toilet. Dirinya mengambil jalan pintas melewati bangunan masjid yang sedang direnovasi agar bisa sampai di depan ruang kepsek lebih cepat daripada Faz. Dari sana, ia bisa melihat Faz berjalan agak jauh di belakang petugas Tata Usaha yang tadi memanggilnya di kelas.
Irva bersembunyi di lorong kecil taman yang menghubungkan lapangan dengan koridor ruang guru. Ia menunggu Faz lewat. Setelah melihat petugas Tata Usaha itu lewat, Irva maju sedikit agar terlihat oleh Faz, tapi karena gadis itu terus berjalan sambil menunduk hingga tak melihatnya, ia akhirnya harus bersuara untuk memanggilnya. "Sstt..."
Faz terkejut dan menoleh. Ia melihat Irva di lorong taman sambil mengacungkan dua ibu jarinya. Wajahnya yang semula dihantui rasa takut perlahan mulai merekah dengan senyuman. Ada Irva, batinnya bersorak. Itu berarti tak ada yang perlu ia takutkan. Faz yakin, entah bagaimana caranya Irva akan terus mengawasi dan menjaganya.
***