Sahabat

2362 Words
"Kapan kamu akan melunasi tunggakan Spp-mu?" "Secepatnya, Pak," jawab Faz sambil menundukkan kepalanya tak berani menatap Pak Bram. "Awal bulan depan sudah mulai ujian, sekolah butuh tanggal yang pasti kapan itu akan dilunasi. Ini peraturan sekolah, Faz." Pak Bram berbicara dengan nada tegas dan berwibawa seolah tak pernah ada kejadian yang tidak mengenakkan antara dirinya dan Faz. Matanya mengamati ekspresi wajah Faz yang dilanda kebingungan. Ya Tuhan, wajah cantik yang terlihat kalem sekaligus rapuh itu begitu menggetarkan hatinya. Persetan dengan usia, batinnya menjerit. Bukankah cinta tak pernah memandang usia? Ohh, entahlah... Ia sendiri bingung. Awalnya, ia merasa kejadian kemarin adalah luapan dari rasa kesalnya pada sang istri yang tak pernah sekali pun memberikan haknya sebagai suami, tapi detik ini, saat dirinya berhadapan lagi dengan Faz, perasaannya menjadi semakin yakin bahwa ia menginginkan gadis itu bukan hanya karena nafsu. "Saya akan usahakan Minggu ini." Faz akhirnya bisa bersuara. Dari wajahnya tersirat betapa berat kata-kata yang ia ucapkan itu. Karena ia sendiri tak terlalu yakin apakah bisa mendapatkan uang dalam jumlah yang lumayan banyak untuk melunasi tunggakan SPP-nya selama delapan bulan ini dengan cepat? Pak Bram menarik napas panjang kemudian membuangnya perlahan. Jika bukan karena profesionalitasnya sebagai Kepala Sekolah di sekolah ini, dirinya tak akan sampai hati untuk menagih uang pembayaran itu pada Faz, tapi ini tuntutan pekerjaan yang harus dijalankan -- aturan sekolah mengatakan bahwa menunggak lebih dari tiga bulan maka konsekuensinya adalah tidak diperbolehkan mengikuti kegiatan belajar mengajar termasuk mengikuti ujian. Dan sekolah ini sudah cukup memberikan keringan pada Faz dengan tetap mengizinkan gadis itu untuk tetap bersekolah meski sudah menunggak iuran bulanan selama kurang lebih delapan bulan. Jika saja Faz bersedia menerima tawarannya, tentu dirinya akan merasa senang sekali. Namun, dirinya juga menyadari bahwa tawarannya kemarin mungkin sangat merendahkan gadis itu. Entahlah, ia sendiri tak tahu mengapa tiba-tiba saja menawarkan hal itu pada Faz. Padahal, dirinya tak pernah berencana untuk mencari simpanan atau berpoligami. Mungkin-- dan hanya kemingkinan-kemungkinan ini yang bisa ia pikirkan sebagai alasan untuk membenarkan sikapnya-- karena wajah dan gestur Faz yang kalem dan lemah lembut memang menarik perhatiannya hingga dirinya hilang akal. Suaranya yang serak-serak merdu saat berbicara, wajahnya yang terlihat memohon pun gerak-geriknya saat gugup, itu semua seakan membangkitkan sisi yang paling primitif dalam dirinya. Hal yang tak pernah terjadi saat dirinya berhadapan dengan istrinya sendiri di rumah. Seketika itu juga ia memutuskan ingin memiliki gadis itu, mengklaim Faz sebagai miliknya. Namun, semalam ketika dirinya merenungi apa yang sudah ia perbuat pada Faz-- menyerang gadis itu dan memaksa untuk m*****i kesuciannya-- Bram menyadari bahwa apa yang ia rasakan pada Faz bukanlah nafsu semata. Tentu bukan cinta, karena cinta tak mungkin datang sedemikian cepat. Ia pun menyimpulkan bahwa tindakannya itu mungkin saja merupakan pelampiasan dari ketidak berdayakan dirinya untuk menolak perjodohan dan menentang pernikahannya dengan gadis yang sama sekali tak ia cintai beberapa tahun yang lalu. Pernikahan yang tidak normal karena meski tinggal satu atap dengan sang istri, mereka tak pernah saling bertegur sapa dan selalu tidur di kamar terpisah. Istrinya sibuk mengejar karir begitu juga dirinya. Itulah mengapa sampai detik ini, pernikahan mereka belum juga menghasilkan keturunan seperti yang telah dinanti-nanti baik oleh kedua orang tua dan juga mertuanya. Hal itu sangat menguntungkan tentu saja, karena selama beberapa minggu ini, Bram sudah bertekad untuk mengajukan gugatan cerai dan berniat untuk memulai hidup baru-- mencari pasangan hidup yang lebih bisa saling memahami dan bahagia bersama. Calonnya belum ada tentu saja, tapi setelah keputusan cerai ia dapatkan, dirinya akan mencoba untuk membuka diri. Usinya masih tiga puluh enam tahun ini, belum terlalu tua untuk kembali memulai. Dan tiba-tiba saja, saat ini, bayangan Faz yang hidup bersamanya terus menganggu pikiran. "Apa kamu tak ingin mempertimbangkan tawaran kemarin?" Irva yang saat ini tengah duduk di sofa tempat menerima tamu di ruang kepala sekolah mengepalkan kedua tangannya mendengar ucapan Pak Bram. Hampir saja dirinya menerobos masuk ke kantor pribadi Pak Bram dan menyeret Faz keluar dari sana jika saja dirinya tak ingat bahwa ini di sekolah dan sebentar lagi kelulusan. Dirinya tak bisa membuat masalah pada masa-masa seperti ini atau itu hanya akan merugikan dirinya sendiri dan juga Faz. "Sebagai simpanan Bapak?" "Tidak, Fazluna. Sebagai istri sah-ku." Pak Bram tersenyum tipis, "tolong maafkan sikapku kemarin yang begitu merendahkan dirimu. Aku khilaf." Faz tertegun mendengar ucapan Pak Bram. Selama beberapa detik dirinya mengira Pak Bram sudah gila. "Itu tidak mungkin. Anda sudah menikah." Faz menjawab dengan nada tersinggung. "Apa Bapak pikir saya mau menjadi perebut suami orang?" "Aku akan menceraikan istriku." Pak Bram menjawab mantap. Dan ia mencoba melepaskan bahasa formal antara dirinya dan Faz agar bisa lebih akrab. "Jangan dijawab sekarang. Pikirkan saja dulu. Aku berjanji, jika kau bersedia menjadi istriku, bukan hanya uang sekolahmu, tapi aku akan menanggung seluruh hidupmu. Kau tak perlu bekerja banting tulang ." "Tapi... Itu..." Faz tak bisa lagi berbicara. Dirinya terlalu terkejut dengan apa yang baru saja Pak Bram sampaikan. Menikah? Ya Tuhan... Irva sudah berdiri dari sofa. Otot-otot rahangnya mengeras karena emosi. Sungguh, dirinya merasa begitu jijik mendengar penawaran Pak Bram pada Faz. Bisa-bisanya b******n itu memanfaatkan kondisi Faz demi keuntungan pribadi? Sebagai kepala sekolah, bukankah sudah seharusnya dia mengayomi murid-muridnya, bukan malah bersikap b******n seperti ini. Tanpa pikir panjang, Irva melangkah cepat melewati ruang tamu Kepala Sekolah kemudian menerobos masuk ke dalam kantor pribadi Pak Bram tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu. Tatapannya penuh kebencian saat berbicara, "maaf, Pak, apa belum selesai? Saat ini ada ujian conversation dan pasangan saya adalah Faz." Pak Bram cukup terkejut Irva menerobos masuk ke dalam ruangannya, tapi tentu saja Pak Bram bisa mengatasinya dengan baik. Dengan tetap menjaga wibawa, ia menatap Irva sambil tersenyum, "tentu. Kami sudah selesai di sini. Silahkan, jika kalian ingin presentasi." Irva menarik pergelangan tangan Faz-- tanpa menyentuh langsung kulit gadis itu ke arah kantin di belakang sekolah dengan langkah cepat. "Irva..." Faz setengah berlari untuk mengimbangi langkah Irva yang panjang dan cepat. "Jangan cepat-cepat..." Suara Faz yang memohon akhirnya membuat langkah Irva berhenti. Tubuhnya berbalik menghadap gadis itu dengan wajah yang masih kaku. "Kau, jangan dengarkan omong kosong b******n itu. Kau tak harus mempertimbangkan apa pun!" Irva berkata cepat dengan napas memburu. "Ada apa denganmu?" Faz bertanya dengan nada pelan yang lembut membuat Irva akhrinya malu sendiri karena sudah berteriak padanya. Sungguh tak pantas sosok rapuh seperti Faz mendapat perlakuan yang kasar. Irva tak menjawab. Ia hanya memejamkan matanya sambil menengadah ke atas dan mengatur napas. Saat matanya kembali terbuka, ia akhirnya menarik kembali tangan Faz dan membawa gadis itu ke kantin. "Nanggung, sebentar lagi juga bel istirahat." Faz menurut saja saat Irva menariknya ke arah sudut kantin dan menarikkan sebuah kursi untuknya. "Kamu mau apa?" "Nggak usah." "CK!" Irva terlihat tak sabar. "Oke, aku jus alpukat." "Gitu dong." Irva nyengir kemudian pergi untuk memesan makan dan minum. Selama Irva pergi untuk memesan, Faz kembali memikirkan tawaran Pak Bram. Jika dirinya mau berpikir secara logika, tawaran itu memang merupakan solusi yang tepat untuk semua permasalahannya. Dengan menikah, dirinya tak perlu lagi memikirkan biaya sekolah, tak perlu lagi kerja banting tulang demi memenuhi kebutuhannya sehari-hari termasuk membayar listrik dan PDAM. Tapi, meskipun itu solusi terbaik yang saat ini ia punya, tetap saja itu bukan hal yang ia harapkan. Banyak hal yang harus ia pertimbangkan jika ingin menerima tawaran Pak Bram. Pikirannya menerawang membayangkan dirinya membangun sebuah kehidupan pernikahan bersama Pak Bram sampai tak menyadari Irva sudah kembali membawa pesanan mereka. "Hei!" Faz gelagapan dan buru-buru minta maaf. "Ngelamunin apa sih?" "Nggak ngelamun, kok." Faz meminum jusnya sedikit. "Makasih, ya." Matanya membulat melihat porsi mie ayam jumbo di atas meja. Bisa dibilang itu tiga porsi dijadikan satu. "Jangan bilang kamu lagi mikirin tawaran si Brambang tadi." "Brambang?" Faz pura-pura tak mengerti maksud ucapan Irva, tapi ia tetap tersenyum saat melihat wajah kesal Irva. "Jangan paksa aku untuk sebut namanya, oke?" "Iya... iya..." Faz tersenyum geli melihat tingkah Irva yang seperti anak kecil sedang ngambek. "Tapi, bukankah menurutmu itu tawaran yang menarik?" "Kau sudah ingin menikah?" Irva mendongak menatap Faz tak percaya. Mie ayam yang masih separuh masuk mulut kembali jatuh ke mangkuk. Faz mendesah pelan. "Bukan itu poinnya, tapi jujur saja itu solusi terbaik dari semua masalahku." Irva meletakkan garpu di tangannya kembali ke atas mangkuk mie ayam kemudian mendorong mangkuk itu menjauh darinya. Selera makannya seketika hilang mendengar Faz bahkan mempertimbangkan untuk menerima tawaran konyol dari si Brambang itu. "Nggak jadi makan?" Faz heran melihat Irva mendorong mangkuk ke tengah meja. "Males." Irva bersedekap sambil menatap ke arah samping. Enggan menatap Faz. "Kok gitu?" "Ya, kamunya ngapain ngomong kayak itu tadi?" "Yang mana?" Faz bingung karena memang tak tahu apa yang menjadi masalah Irva. "Kau berniat menerima tawaran si Brambang itu kan?" Faz terdiam cukup lama sambil mengamati wajah keruh Irva. "Jika aku punya banyak pilihan, aku tak akan memikirkan tawaran itu." Faz menunduk menatap lantai di bawah kakinya. Andai saja kedua orangtuanya tidak harus berpisah, andai saja ayah biologisnya mau bertanggung jawab penuh atas dirinya, tentu semua tak akan membuatnya begini susah. "Kamu tak tahu rasanya jadi aku." Irva mengamati Faz cukup lama. Ia sendiri tak tahu apa yang terjadi padanya. Kemarin semua masih baik-baik saja, Faz bukan siapa-siapa baginya, tapi kenapa sekarang semua seolah berbalik seratus delapan puluh derajat. Tiba-tiba saja dirinya tak bisa lagi mengabaikan gadis itu. Membayangkan Faz menikah dengan Pak Bram saja sudah membuatnya begini marah. Jika Bram bisa menjadi solusi bagi Faz, dirinya juga bisa meski dengan cara yang berbeda. Tapi, Faz seorang muslim! Apa yang bisa ia tawarkan pada Faz?! Ingatan Irva kembali memutar kejadian beberapa waktu lalu saat kakak sulungnya mengabarkan bahwa ia sudah menjadi mualaf dan akan menikahi seorang gadis muslim. Hal itu merupakan pukulan berat bagi kedua orangtuanya. Mamanya menangis hampir setiap hari menyayangkan keputusan Kakaknya. Meski saat ini kedua orangtuanya sudah bisa menerima keputusan kakaknya dan menerima istrinya di keluarganya, tapi tetap saja hal itu tak bisa mengobati rasa kecewa dan duka di hati orangtuanya. Apalagi, saat itu papanya bahkan berpesan padanya dan juga Cika agar menjaga keimanan baik-baik. Keluarga mereka tidak membutuhkan mualaf yang lain lagi. Sekali lagi Irva mengamati Faz yang masih menundukkan kepalanya. Ia yakin sekali gadis itu sedang menangis. Kemudian, tanpa berpikir lagi, dirinya mengeluarkan dompet dari saku belakang celananya, menarik sebuah kartu ATM dan mengulurkannya ke seberang meja. "Ini. Pakai ini untuk bayar Spp-mu." Faz mendongak. Benar dugaan Irva bahwa gadis itu tengah menangis. Matanya sembab dan merah meski tak ada air mata di sana. "Apa?" "Meski tak banyak, tapi kurasa isinya cukup untuk melunasi tunggakan itu." Irva menyodorkan kartu ATM itu ke hadapan Faz. "Tidak Irva. Aku tak bisa." "Jadi, si Brambang itu boleh menawarkan solusi, sementara aku yang merupakan sahabatmu tak boleh membantu, begitu?" "Sahabat?" "Anggap saja begitu." Irva menjawab kethus. "Jangan bilang, kau lebih suka menikah daripada menerima bantuan dariku!" Faz terharu dan masih setengah tak percaya bahwa Irva menganggapnya sebagai sahabat. Tadi pagi status mereka masih teman, dan kemarin masih orang lain. "Sahabat?" Ia mengucapkan kata itu lirih. "Terima saja." Irva berkata setengah memaksa. "Itu uang halal, hasil jerih payahku sendiri. Hadiah dari juara festival." "Bukan seperti itu Irva, aku hanya... Bagaimana aku mengembalikannya nanti?" "Tak usah dikembalikan. Pakai saja." "Tidak. Aku sudah cukup banyak berhutang budi padamu, aku tak..." "Begini saja," Irva memotong ucapan Faz. "Anggap saja itu gajimu. Kau bekerja padaku dengan gaji di muka." "Gaji? Kerja?" Irva mengangguk mantap kemudian tertawa lebar saat sebuah ide tiba-tiba melintas di kepalanya. Menurutnya itu ide yang sangat bagus dan seharusnya Faz tak menolak. "Ya, kau sudah lihat kamarku kan? Banyak barang berantakan di sana. Aku tak pernah sempat merapikan atau membersihkannya. Bukan tak sempat, tapi aku kurang pandai dalam urusan kebersihan dan kerapihan. Kau lihat tumpukan sepatu di belakang pintu kamarku? Atau buku-buku di tak begitu juga baju-bajuku di lemari uang amburadul itu?" "Ya. Aku lihat semua." Faz tersenyum geli mengingat kondisi kamar Irva yang memang berantakan sekali. "Nah," Irva nyengir lebar. "Aku butuh jasamu untuk mengerjakan itu semua. Keluargaku bukan orang kaya raya yang bisa membayar pembantu untuk mengerjakan semua itu, tapi aku cukup malas untuk melakukannya sendirian. Jadi, apa salahnya memanfaatkan hasil kerja kerasku untuk mempermudah hidupku sendiri. Bagaimana?" Faz menggeleng pelan. "Kamu lupa, aku harus kerja setiap pulang sekolah sampai malam? Aku tak ada waktu untuk mengerjakan itu semua." "Hari Minggu saja. Yang penting selesai, terserah kapan kau sempat." "Setiap Minggu aku ada Kajian di Masjid." "Seharian?" "Nggak juga, tapi..." "Kalau begitu bisa sepulang Kajian, kan?" Irva tak bisa dibantah. Kali ini memang dirinya bertekad untuk tidak membiarkan Faz memilih opsi untuk menikah dengan si Brambang. Tidak untuk saat ini. Dalam hatinya menyimpan sejuta harapan jika saja suatu saat dirinya bisa membawa Faz pada keyakinannya dan mereka bisa... "Kamu yakin?" "Tentu saja. Nanti kita bisa mencatat gaji-mu setiap jam?" "Apa aku boleh menolak ini?" Faz tersenyum menggoda. Irva menggerakkan jari telunjuknya ke kiri dan ke kanan beberapa kali. "Kecuali kau memang sudah tak ingin bersahabat denganku." Senyum Faz merekah membuat wajahnya yang biasa mendung terlihat begitu bersinar membuat Irva terdiam seketika. "Kau cantik saat tertawa seperti itu," ujar Irva tanpa sadar. "Kenapa aku tak pernah menyadari ini sebelumnya?" Fazluna tertawa semakin keras dengan wajah tersipu malu. "Ohh, sudahlah. Jangan merayu seperti itu. Aku menerima tawaranmu." Tepat saat itu bel tanda istirahat berbunyi. Kantin pun mulai penuh dengan makhluk-makhluk yang kelaparan. "Tunggu apalagi? Ayo kita bayar tunggakan SPP sialan itu." Irva seketika bangkit berdiri. "Tunggu. Habiskan dulu mie ayam itu. Sayang sekali kan jika harus dibuang?" Irva tergelak kemudian kembali duduk dan menyantap mie ayamnya dengan lahap sementara Faz menghabiskan jusnya. Tak sampai sepuluh menit kemudian mereka sudah berada di depan kantor Tata Usaha untuk melunasi SPP Faz. Baik Faz maupun Irva sama-sama dibuat terkejut saat petugas itu mengatakan bahwa SPP Faz sudah lunas dan tidak ada tanggungan. "Tapi... Saya tidak merasa membayarnya." "Seseorang sudah membayarnya tadi dan konfirmasi via web sekolah." "Atas nama siapa?!" Irva bertanya setengah berteriak. Biar saja jika dirinya dianggap kurang sopan. "Kurang tahu, tidak mencantumkan nama. Lagipula apa itu penting?" Petugas itu mulai jengkel dengan sikap Faz dan Irva, "yang terpenting saat ini semua Spp-mu sudah dibayarkan sampai akhir tahun ajaran nanti beserta semua biaya ujian, wisuda dan rekreasi kelulusan." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD