Irva tidak menyentuh makanan yang sudah disediakan di atas meja yang diletakkan di samping tempat tidurnya. Seharian ini dirinya belum melihat Faz masuk ke dalam kamarnya. Biasanya gadis itu sudah menunggu dirinya bangun hingga pandangan pertama yang ia saksikan ketika bangun adalah senyum cantik yang selalu sukses membuat semangatnya meledak-ledak. Namun, tidak dengan hari ini, hingga saat ini sudah menjelang siang hari, gadis itu belum juga terlihat. Meski mamanya sudah menjelaskan jika Faz sedang pulang karena ada keperluan mendesak, tapi Irva tidak bisa menerima hal ini begitu saja. Seharusnya Faz pamit! "Irva, Sayang. Mau Mama suapin?" Irva memalingkan wajahnya ke arah luar jendela. Hatinya terasa gelisah dan tidak tenang karena terus memikirkan Faz. Seperti ada sesuatu yang tidak l

