"Makan." Irva meletakkan dua mangkuk soto ayam ke atas meja, kemudian duduk. Ia mendorong mangkuk soto ayam dengan porsi normal ke arah Faz, sementara ia sendiri memesan dengan porsi jumbo.
"Kebiasaan," Faz cemberut. "Lain kali tanya dulu kenapa sebelum memesan." Saat ini mereka sedang berada di kantin sekolah yang tidak terlalu ramai karena kebetulan kelas Bahasa sedang jam kosong sehingga Irva mengajak Faz untuk menemaninya makan di kantin.
"Nggak perlu karena kamu pasti nolak dengan alasan kenyang," sungut Irva.
"Ya, emang kenyang." Faz tak mau kalah.
Irva mendesah keras kemudian membanting sendoknya ke atas meja. "Makan kurma lagi?!" Ia menjawab dengan nada sedikit dinaikkan.
Faz diam tak menjawab. Ia mengaduk-aduk soto ayamnya yang masih panas sambil mengamati ekspresi wajah Irva. Entah apa yang terjadi pada sahabatnya itu karena sepagian ini Irva terlihat tidak biasa. Seperti ada yang sedang mengganggu pikirannya. "Kamu kenapa sih, kok kayaknya uring-uringan terus dari tadi?"
Irva mengusap wajah dengan kedua tangannya. "Nggak tahu deh kenapa," jawabnya pelan.
"Aku ada salah ya sama kamu?" tanya Faz.
"Enggak kok, ini kok bukan soal kamu. Masalah lain." Irva menarik napas panjang untuk menenangkan diri. Ia kemudian meminta maaf pada Faz karena telah menjadikan gadis itu sasaran emosinya. Yah, meski masih berhubungan dengan Faz, tapi bukan gadis itu yang membuatnya emosi. Ia hanya merasa kesal karena saat ini cowok-cowok di kelasnya terus merongrongnya dengan pertanyaan seputar Faz. Dimana tempat tinggal Faz, nomor telepon bahkan makanan kesukaan gadis itu. Ohh, tentu saja hal itu membuat Irva geram, karena mereka baru menyadari keberadaan Faz dan fakta bahwa gadis itu menarik setelah Faz dekat dengannya. Kenapa tidak sejak dulu-dulu saja mereka penasaran dengan Faz, kenapa baru sekarang?!
"Nggak mau cerita sama aku?" Faz bertanya kalem.
"Nggak penting kok." Irva memaksakan sebuah senyum untuk Faz kemudian mengambil sendoknya dan memakan soto ayamnya dengan lahap. "Makan gih, keburu dingin."
Faz masih terus mengamati wajah Irva. Dari raut mukanya, Faz tahu Irva sedang menahan marah, tapi entah marah pada siapa atau karena apa. "Kamu beneran nggak apa-apa?"
"Beneran." Irva nyegir lebar seperti biasa untuk meyakinkan Faz bahwa dirinya sedang baik-baik saja. Namun, sesungguhnya hatinya sedang bergejolak. Ada setitik ketakutan yang terus menghantui bahwa suatu saat Faz akan pergi bersama cowok lain mengingat saat ini cowok-cowok di sekolahnya mulai memperhatikan Faz.
Awalnya, mungkin mereka hanya merasa heran mengapa gadis itu bisa dekat dengannya, tapi lama-lama mereka menyadari daya tarik gadis itu yang memang selama ini selalu tertutup oleh hijab lebarnya. Beberapa di antaranya bahkan menyatakan ketertarikannya pada Faz dan meminta Irva membantu untuk mendekatkan mereka dengan Faz. Hah! Yang benar saja?!
Faz mengangguk saja mendengar jawaban Irva. Ia tak ingin membuat sahabatnya itu merasa tak nyaman. Jadi, dirinya tidak memaksa Irva untuk berbicara lebih jauh lagi. "Makasih ya, soto ayamnya. Kapan-kapan gantian aku yang traktir, ya?"
Irva tersenyum jahil. "Boleh, tapi harus aku yang pilih tempatnya. Kalau cuma di kantin sini aja males ahh..."
Faz membulatkan matanya dengan lebar. "Dimana? Kenapa nggak di sini aja?"
"Tenang aja. Aku nggak akan pilih tempat yang mahal kok." Irva tergelak melihat ekspresi wajah Faz. Ia tahu gadis itu pasti gelisah memikirkan tempat makan yang akan ia pilih. Takut mahal dan tidak ada cukup uang untuk membayar. Tangannya gatal sekali rasanya saat melihat pipi Faz merona karena malu. Ya Tuhan, ingin sekali ia membelai pipi itu sekali saja, tapi jika hal itu nekat ia lakukan, maka saat itu juga dirinya harus bersiap kehilangan Faz dan dirinya belum siap untuk itu. "Bolos yuk?"
Faz mendelik mendengar ajakan Irva. "Apa?"
"Bolos." Irva mengulangi sambil nyengir lebar. "Bu Titik juga lagi ada Diklat kan katanya, jadi bakal kosong terus nih."
Faz menggeleng. "Kamu aja, deh."
"Yah, nggak asyik ahh... Ayoklah."
"Nanti kalau ketahuan gimana?"
"Nggak bakal, aku tahu jalan pintas buat keluar."
" Mobilmu?"
"Tadi, aku parkir di rumah sakit," jawab Irva sambil tersenyum licik. Kebetulan memang sekolahnya letaknya berhadapan dengan sebuah rumah sakit swasta dengan lahan parkir yang cukup luas.
"Tapi, Irva..."
"Udah, gapapa... Sekali-kali." Irva tergelak sambil menarik pergelangan Faz agar mengikutinya berlari kecil ke arah gerbang samping sekolah yang memang tidak digunakan lagi.
Beberapa menit kemudian, Irva dan Faz sudah duduk di dalam mobil Irva sambil tertawa berdua. Faz masih gemetar karena ini pengalaman pertamanya kabur dari sekolah, tapi tak bisa dipungkiri hatinya merasa senang melakukan ini.
Sementara Faz mengatur napas dan menenangkan debaran jantungnya yang berdetak cepat, Irva terus mengamati wajahnya dengan ekspresi yang tak bisa dijelaskan. Terpukau bercampur bingung.
Senyuman Faz dan wajahnya yang berbinar membuat jantung Irva berdebar.
"Faz, kamu beneran cantik, ya?" Irva berkata tanpa sadar. Untungnya Faz tidak mendengar apa yang ia ucapkan. Saat Gadis itu menoleh dan bertanya apa yang baru saja ia katakan, Irva hanya menggeleng dan menjawab, "nggak. Nggak ada apa-apa."
Faz tertawa lebar dan bertanya akan pergi kemana mereka sekarang. Senyumnya sedikit memudar ketika melihat Irva terus diam menatapnya. "Kenapa? Ada yang aneh di wajahku?"
"Heem." Irva menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah bingung dan merona Faz. "Ada merah-merah."
"Dimana?" Faz menyapu wajah dengan telapak tangannya. "Irva, dimana merah merahnya?" Ia kembali bertanya.
"Diam dulu." Irva mencondongkan wajahnya mendekati Faz dan ketika jarak mereka semakin dekat, jantungnya pun berdebar semakin cepat. Mata jernih Faz terlihat lebih jelas, hidung mungil Faz, matanya yang sipit dan dagunya yang runcing. Irva menahan napas tanpa sadar. Dirinya menyukai semua yang ada di wajah Faz dan berpikir dengan posesif bahwa itu semua adalah miliknya. Namun, saat ia teringat perbedaan besar yang ada antara dirinya dan Faz, ia pun tersentak.
Dirinya bukan orang yang akan diinginkan gadis itu untuk menjadi kekasih. Bersabar, oke. Namun, untuk lebih dari itu, sepertinya Faz tak akan mau. Bisakah dirinya membiarkan Faz bersama cowok lain? Tidak! batin Irva berseru nyaring. Ia tidak akan memikirkan nanti, yang terpenting adalah saat ini, meski hanya berstatus sebagai sahabat, dirinya adalah satu-satunya cowok yang bisa dekat dengan Faz. Senyumnya kembali mengembang saat bergerak maju.
Faz diam mematung. Matanya berkedip beberapa kali melihat Irva semakin mendekat ke arahnya, tapi seluruh sel di tubuhnya seakan mati dan tidak berfungsi hingga ia pun tak bisa bergerak untuk menghindar. Sebagai gantinya, Faz meneguk ludah melihat wajah Irva yang hanya berjarak beberapa senti saja darinya. Hembusan napas Irva bahkan terasa hangat menyapu wajahnya. Pikirannya macet saat matanya bertemu pandang dengan Irva. Saat, dirinya tergoda untuk mengulurkan tangan dan memainkan bulu mata Irva yang panjang dan lentik, cowok itu tersenyum jahil. Dengan ibu jari menyapu lembut pipinya~membuat detak jantungnya berhenti sesaat~cowok itu berkata, "ada cabe di pipimu."
"Apa?"
Irva menjauh dari Faz sambil terbahak kemudian menyalakan mobilnya. Senyumnya terus mengembang dengan berjuta kupu-kupu seakan beterbangan di dalam perutnya. Akhirnya, keinginannya untuk bisa menyentuh pipi Faz pun kesampaian. Ternyata lebih halus dan lembut dari bayangannya. Ahh, semoga ada kesempatan lain lagi, batinnya culas.
Sementara itu, Faz masih terpaku di tempat dengan wajah merah padam. Kemudian, saat Irva menoleh dan menyengir lebar ke arahnya, ia buru-buru mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Malu. Bagaimana bisa ada cabe di wajahnya?
Alamak! Irva pasti akan berpikiran bahwa dirinya gadis yang jorok, Faz mengerang dalam hati.
***