Gareng mengangguk pelan sambil tersenyum miring. Senyum khas preman tua yang sudah tahu seluk-beluk dunia bawah, penuh rencana gelap dan intrik. “Besok saya kirim orang buat nangkep satu temannya Indra. Ada satu cewek, anak kos di daerah Lenteng Agung, yang dulu sering barengan sama Indra. Namanya Marlina. Anak ini gak kuat mental. Gampang banget panik. Kita bisa buat dia ngaku kalau barang itu sebenernya milik Erwin atau Gloria.” Koh Yudi terkekeh, “You gila. Tapi I suka sama kerjaan you punya. Kayak sinetron azab aja, you bikin ini semua." Ferdi Welly menepuk bahu Gareng. “Bagus. Kita ubah medan perang dari ruang sidang jadi media sosial dan opini publik. Orang zaman sekarang lebih percaya cuplikan video t****k daripada fakta persidangan.” Ia berjalan ke sisi gudang, membuka sebuah k

