Persiapan Serangan Balik dari Pihak Erwin

1295 Words

Hari Minggu itu, suasana Remboelan Plaza Senayan cukup ramai. Keluarga-keluarga muda menikmati akhir pekan sambil menyantap masakan Indonesia kekinian. Di pojok restoran, meja nomor 17, Erwin sudah menunggu. Ia mengenakan kemeja biru muda dan celana bahan abu-abu. Tak banyak aksesoris, hanya jam tangan kulit yang cukup lusuh. Menurut Erwin, barang lama, tapi bermakna. Beberapa menit kemudian, datanglah Abraham Manurung. Posturnya kekar, mengenakan kemeja batik coklat dan celana katun hitam. Di bahunya tergantung sling bag kulit, khas orang lapangan yang sewaktu-waktu bisa diminta pergi investigasi. Ia langsung duduk tanpa banyak basa-basi, seperti biasa. “Mukamu masih kayak dulu, Win,” ucapnya sambil membuka menu. “Cuma sekarang lebih banyak beban hidupnya.” Erwin terkekeh. “Gue udah ng

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD