Rivo hanya berdiri diam. Mulutnya terkatup rapat, tapi matanya menyala marah. Ia bukan tipe orang yang mudah dihina, apalagi soal profesionalitasnya. Namun ia tahu tempat dan waktu. Tak ada gunanya berdebat dengan dua pengusaha licik ini sekarang. Mereka bisa membeli segalanya, kecuali integritas. Rivo, dengan segala kekurangannya, untungnya masih memiliki integritas.
Ia membalikkan badan, mengambil map-nya, dan berjalan keluar ruangan tanpa mengucap sepatah kata pun. Namun sebelum benar-benar keluar, ia sempat menatap Ferdi dan Koh Yudi. Tatapan kosong, tetapi menyimpan sesuatu yang lebih berbahaya dari amarah.
“Akan ada waktunya aku balas semuanya,” bisik Rivo dalam hati. "Kubongkar nanti kedok kalian. Cina-cina k*****t!"
*****
Sementara itu, di kantor Sanputra Siagian Associate, Mordekhai baru saja menerima paket kecil yang aneh. Itu sebuah amplop cokelat lusuh dengan cap pos luar kota dan tulisan tangan kasar di bagian depan bertuliskan: "Untuk Tuan Erwin Sanputra Lukmansyah."
Ia membuka pelan-pelan amplop tersebut, dan menemukan secarik foto hitam-putih berukuran 4R.
Foto itu memperlihatkan seorang pria muda yang wajahnya sangat mirip Erwin hanya saja, mengenakan seragam tahanan dan dikelilingi oleh dua polisi. Di bagian bawah foto, terdapat tulisan dengan spidol merah:
“Semua orang bisa jatuh. Bahkan kamu, Win.”
Mordekhai langsung meraih ponsel, menelepon Erwin yang sedang bersama Gloria di rumah persembunyian.
“Win, lo harus lihat ini. Sekarang juga. Gue kirim fotonya via WA.”
Tak lama, Erwin membacanya.
Erwin langsung tegang. Nafasnya memburu.
“Glo, kita harus siap-siap pindah tempat.”
“Loh, kenapa?”
“Ferdi mulai main kotor. Dia gak cuma pengen menangin kasus, dia pengen ngehancurin hidup gue. Bahkan, kayaknya dia tahu, yang entah gimana caranya, dia tahu soal kasus kamu. Aku takut kamu kenapa-napa."
Gloria mengernyitkan dahi. "Overthinking lagi? Belum tentu, Win."
Erwin belum berani bilang tentang kemampuan indra keenamnya kepada Gloria.
*****
Di sebuah gudang kosong di daerah Marunda, Ferdi Welly bersama Koh Yudi menggelar rapat terbatas. Hadir pula seseorang yang sampai sekarang menjadi algojo keluarga Welly: Antonius Ponidi--alias Gareng--mantan anggota kesatuan angkatan darat. Konon Ponidi atau Gareng desersi karena ketahuan menghamili pacarnya.
“Ini data-datanya, Gareng,” ujar Koh Yudi sambil menyerahkan map besar berisi jejak digital Erwin: aktivitas media sosial lama, catatan akademik, histori transaksi, hingga dokumen perjalanan luar negeri.
Gareng membuka lembar demi lembar dengan teliti. Sesekali ia mengangguk, sesekali menyipitkan mata.
“Si Erwin ini anak bau kencur, Koh. Tapi, saya ada kabar menarik. Dia punya beberapa mata di Kejaksaan atau BIN. Tapi ada satu yang menarik…”
“Apa?” tanya Ferdi.
“Waktu dia masih magang di kantor hukum milik lawyer yang lebih kondang, dia pernah ngurusin kasus pelecehan seksual yang pelakunya akhirnya bunuh diri. Gue duga, Koh, bisa, lah, kita mainin.”
Ferdi tersenyum miring.
“Pancing emosi masyarakat. Buat dia kelihatan seperti pembela yang nggak netral. Kalau bisa, munculin korban baru yang mengaku pernah dicuekin sama Erwin. Bikin opini sesat soal Erwin. Terus, you tahu nggak soal Gloria?"
"Selebgram itu, Koh?"
"Kayaknya ada hubungan spesial antara Erwin sama si selebgram itu. Dan, kayaknya si selebgram lagi kesandung kasus. Tau Indra?"
"Gembel itu, Koh? Yang katanya kepergok lagi bakar paket heroin? Gimana yang itu, Koh? Gak gampang mata-matain Indra itu."
"You punya kerjaan bagus-bagus. I puas bener."
*****
Di hari yang sama, sebuah akun X anonim bernama @LupinJakarta m
posting utas panjang tentang “pengacara kontroversial yang pernah menyelamatkan pelaku kekerasan seksual”. Tak disebutkan nama langsung, tapi beberapa inisial dan petunjuk jelas mengarah ke Erwin.
Dalam hitungan jam, topik itu trending. Banyak yang mengutip ulang, memperdebatkan, dan membenci.
Erwin yang membaca semua itu di layar ponsel, terdiam cukup lama.
“Kamu baik-baik aja, Win?” tanya Gloria pelan.
Erwin memandang Gloria. Senyumnya miris.
“Aku tahu mereka bakal pakai cara ini. Tapi tetap aja, rasanya... b*****t!”
Gloria menggenggam tangannya erat. “Kalau kamu goyah, mereka menang. Tenangin diri kamu."
Spontan Gloria mencium bibir Erwin.
*****
Malam itu, Erwin, Mordekhai, dan Abraham menggelar pertemuan daring dengan dua jurnalis independen: Wilsen dan Kenneth. Keduanya dikenal punya jaringan kuat dan keberanian tinggi.
“Kami siap bantu,” kata Wilsen. “Tapi kamu harus siap juga kalau semua ini meledak.”
“Aku sudah siap,” balas Erwin.
Kenneth menambahkan, “Aku tahu siapa di balik akun @LupinJakarta. Mantan anak magang kantor PR-nya Koh Yudi. Aku bisa tarik jejak digitalnya, tapi butuh waktu.”
“Lakuin aja, Bro. Dan mulai kumpulin testimoni dari orang-orang yang tahu siapa sebenarnya Ferdi Welly."
*****
Di hari berikutnya, muncul video viral berjudul “Pengakuan mantan supir Ferdi Welly”. Video itu memperlihatkan seorang pria tua yang menceritakan bagaimana Ferdi sering memerintahkan pengiriman barang gelap melalui mobil-mobil mewahnya yang lolos dari pemeriksaan karena punya stiker anggota kehormatan klub golf.
Reaksi netizen pun mulai terbagi. Tidak semua percaya video @Lupin Jakarta. Bahkan muncul tagar: #KamiPercayaErwin.
Namun, suasana belum benar-benar aman. Sore itu, ketika Gloria hendak keluar membeli makanan ke minimarket terdekat, ia merasa diawasi. Benar saja, di spion mobilnya, tampak dua motor mengikuti.
Dengan cepat, Gloria menelepon Erwin.
“Ada dua motor ngikutin aku. Gimana ini?”
“Langsung ke parkiran basement Hotel Ritz. Aku dan Deka udah otw ke sana. Jangan panik, Glo”
*****
Malam itu, pertemuan di Ritz-Charlton tidak hanya membahas keselamatan Gloria, melainkan juga rencana selanjutnya. Mordekhai meletakkan beberapa lembar dokumen di atas meja.
“Ada info baru. Ternyata tanah Cipayung itu gak cuma buat mal. Di bawahnya, ada saluran pipa gas yang dulunya bekas proyek Pertamina. Ferdi udah kerja sama sama anak perusahaan gas internasional. Nilai proyeknya triliunan.”
Erwin mengangguk. “Jadi itu sebabnya mereka ngotot banget buat menangin kasusnya. Bukan cuma soal tanah. Tapi soal kuasa atas energi gas bumi nasional.”
Elina menimpali, “Dan kalau kita bisa buktiin yang itu, kalau CV Anugerah Prima pakai data palsu buat dapat hak kelola, mereka bisa kena pasal pidana juga.”
Erwin berdiri. Pandangannya penuh tekad.
“Kita bongkar semua. Sampai ke akar-akarnya. Kalau Ferdi Welly mau perang, kita kasih perang yang nggak bisa dia menangin. Gue nggak sabar mau ganyang taipan Cina resek itu."
Malam itu, di bawah lampu hotel yang redup dan dengung samar AC tua, rencana perlawanan terhadap kekuasaan busuk mulai disusun dengan rapi.
Erwin tidak lagi hanya membela klien. Ia kini membela harga diri. Membela harapan. Membela masa depan.